
...🌷Selamat Membaca🌷...
Sudah tiga hari berlalu, Fadhil masih bungkam. Ia enggan berbicara pada siapapun yang ada di rumah, bahkan Kei pun turut menjadi korban kebungkaman sang ayah.
Maya yang mulai muak menghadapi tingkah suaminya pun memilih untuk turun tangan. Siang ini, Maya akan menjemput Kei di sekolah, sekalian dia juga akan menjumpai mantan istri suaminya, yang tak lain adalah Disa. Ada sesuatu yang perlu dibahasnya dengan wanita itu.
.......
"Mama..." Kei bersorak begitu keluar dari ruang kelas. Ia berlari dan langsung menubruk tubuh Maya yang setia menunggunya di halaman sekolah.
"Bagaimana sekolahnya, sayang?" tanya Maya sembari mengusap kepala putri sambungnya.
"Seru, Ma. Tadi Kei menggambar dan mewarnai," jawabnya senang. "Tapi Kei sedih juga, Ma. Qilla nggak sekolah di sini lagi, kata bu guru dia sudah pindah." Tiba-tiba Kei mendadak lesu.
Maya kaget, niatnya ingin bertemu Disa tak dapat terwujud. Namun, wanita itu tidak kehilangan akal, tekadnya sudah bulat. Bagaimana pun caranya, hari ini ia harus menemui wanita masa lalu Fadhil itu.
"Sayang, sini mama bisikan sesuatu." Maya berjongkok menyamakan tinggi dengan putrinya, kemudian membisikkan sesuatu di telinga Kei.
.......
Maya dan Kei pergi menemui kepala sekolah, mereka ingin meminta alamat tempat tinggal Disa dan Aqilla.
"Maaf, Bu. Kami tidak bisa memberikan alamat anak-anak kami di sini ke sembarang orang," jawab kepala sekolah yang merupakan seorang wanita berumur 40-an.
Maya mengangguk paham, ia sudah menduga jawaban seperti ini akan didapatkannya dari kepala sekolah. Makanya dari itu, ia sudah menyiapkan strategi jitu untuk mengatasinya. Diliriknya sang putri yang sedang tertunduk lesu di kursi sebelahnya.
"Kei, Bu guru tidak bisa memberikan alamat Qilla. Maaf ya, Nak. Kei tidak bisa bertemu dengan Qilla lagi," ujar Maya mengandung provokasi. Ia sudah merencanakan hal ini.
"Huaaaa......." Tak lama setelah Maya selesai berujar, semua orang yang ada di sana dikejutkan dengan suara tangisan Kei yang tiba-tiba.
"Kei... kenapa menangis, sayang?" Maya berakting panik, seolah ia terkejut dengan tangisan sang putri yang bergema memenuhi ruangan.
"Huaaaaa, Mama...." Suara tangisan Kei semakin menjadi. Air mata mengalir deras dari kedua mata bulatnya.
"Aduh, Nak. Cup... cup... cup..." Maya mengangkat tubuh Kei dan mendudukkannya di pangkuan. Disembunyikannya wajah bersimbah air mata sang putri di dadanya.
"Mama, Kei kangen sama Qilla, hiks. Kei sedih karena Qilla nggak sekolah di sini lagi, hiks... hiks." Di dekapan sang ibu, Kei terisak.
"Sabar ya, sayang. Kita tidak bisa melakukan apa-apa. Ibu Kepala Sekolah tidak mau memberikan alamat Qilla pada kita," balas Maya, seolah mengatakan jika kepala sekolah bersalah karena tidak mau memberikan alamat Aqilla.
Kepala sekolah yang mendengar namanya disebut sebagai tersangka penyebab tangisan Kei langsung mendadak panik. Ia merasa bersalah karena secara tidak langsung sudah membuat anak didiknya itu sedih dan menangis.
"Mama... Kei mau bertemu dengan Qilla, hiks. Kei mau mengucapkan salam perpisahan, hiks... hiks."
"Sabar ya, sayang. Nanti kita minta bantuan papa, ya..." bujuk Maya.
"Hiks... hiks..." Hanya suara isakan yang terdengar.
Maya perlahan bangkit sembari menggendong putrinya. "Kalau begitu saya permisi dulu ya, Buk..." pamitnya. Maya pun berbalik, pergi.
Melihat Maya dan Kei akan pergi, Kepala Sekolah langsung berdiri dan menahannya. "Tunggu sebentar, Bu!"
Maya tersenyum puas begitu menyadari jika rencananya berhasil. Dengan memasang wajah pura-pura sedih, Maya berbalik kembali menghadap si Kepala Sekolah. "Iya, Bu?" tanyanya.
"Begini, Bu... Saya akan memberikan alamat Aqilla karena saya kasihan melihat Kei yang terus saja menangis," ucap wanita itu pada akhirnya. Ia menyerah karena tak tega melihat muridnya bersedih.
"Benarkah, Bu? Terima kasih banyak..." ucap Maya senang.
Setelah itu, Ibu Kepala Sekolah menuliskan sebuah alamat di atas secarik kertas dan memberikannya pada Maya.
"Yeayy..." Sampainya di halaman, Maya dan Kei bertos ria. Rencana mereka berhasil dan sekarang tinggal berangkat ke alamat yang tertulis di kertas.
.......
Maya dan Kei sampai di sebuah rumah kontrakan kecil yang diduga sebagai tempat tinggal Disa beserta suami dan anaknya. Mereka berdua mendekat ke arah pintu dan tangan Maya perlahan terangkat untuk mengetuk pintu berbahan kayu tersebut.
Tok... tok... tok...
Beberapa kali ketukan, pintu pun terbuka. Seorang wanita dengan pakaian rapi muncul dari dalam. Kedua matanya terbelalak melihat tamu yang datang.
"Selamat siang, maaf mengganggu..." sapa Maya.
Disa terdiam, ia tidak menyangka jika istri dan anak dari mantan suaminya akan datang bertandang ke rumahnya.
"Kei!" Suara cempreng khas anak kecil terdengar dari balik tubuh Disa. Aqilla datang berlari menyambut kedatangan teman sekolahnya itu.
"Qilla!" Kei bersorak senang melihat kemunculan temannya yang sudah dua hari ini tidak bertemu dengannya.
"Ayo masuk!" Qilla meraih tangan Kei dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Sementara dua wanita dewasa yang ada di sana, hanya memerhatikan tingkah dua bocah perempuan itu dalam diam.
__ADS_1
"Ah, maafkan aku." Disa tersadar dari keterdiamannya. "Silakan masuk!" ajaknya kemudian.
.......
Saat ini Maya sudah duduk di kursi sederhana yang terdapat di ruang tamu rumah kontrakan Disa. Sementara si tuan rumah, izin ke belakang untuk membuat minum. Di samping tempat duduknya, Maya bisa melihat sebuah koper besar dan dua kardus kecil yang siap diangkut. Sepertinya memang benar jika keluarga Disa akan pindah.
"Mama..." Kei keluar dari sebuah ruangan diikuti oleh Aqilla di belakangnya. Kedua bocah tersebut menghampiri Maya yang tengah duduk seorang diri.
"Ada apa, sayang?" tanya Maya heran begitu mendapati Kei langsung memeluk tubuhnya dan menyembunyikan wajah di perutnya.
"Qilla benar mau pindah, Ma. Kei jadi tidak punya teman lagi," kadunya dengan suara serak.
Aqilla yang berdiri di belakang Kei hanya bisa menunduk sedih. Sebenarnya ia juga berat meninggalkan sekolah dan teman-temannya termasuk Kei, tapi ia tidak berdaya, karena harus kembali ke kampung halamannya, tempat di mana seharusnya ia berada.
"Sabar, sayang. Nanti Kei bisa 'kok menghubungi Qilla kalau Kei rindu. Dan juga, nanti mama akan membujuk papa agar kita bisa pergi berlibur dan berkunjung ke tempat Qilla tinggal," ucap Maya mencoba memberi pengertian.
Kei mengangkat kepalanya. "Mama tidak bohong, kan?" Ia meminta kepastian.
Maya menggeleng dan tersenyum. "Janji jari kelingking," katanya sambil mengangkat tangan dan mengacungkan jari kelingkingnya.
Mata Kei berbinar. Ia segera menautkan kelingking kecilnya pada kelingking sang ibu. "Janji. Kalau mama bohong, nanti hidungnya akan panjang seperti Pinocchio. Hihihi..."
Maya terkekeh kecil, ia mengusap kepala Kei dengan sayang. "Sebelum kita pulang, Kei bisa bermain dengan Qilla sampai puas."
"Siap!" Kei berbalik dan menemukan Qilla sudah berada di hadapannya. "Ayo, Qilla... Kita main!"
"Ayo!"
Selepas dua gadis kecil itu pergi, Disa datang membawa nampan berisi dua cangkir teh dan juga sepiring kue kering. Untuk Kei dan Qilla, Disa tadi sudah memberikan masing-masing dari mereka sekotak susu dan sebungkus roti coklat.
"Silakan diminum," ucap Disa.
Maya meminum tehnya sebelum memulai pembicaraan. Sementara di tempatnya, Disa sudah bisa menebak maksud kedatangan dari Maya.
"Maaf ya, Mbak, kedatanganku ini mendadak." Maya mengawali.
"I-iya, tidak apa-apa, kok." Disa tersenyum canggung.
"Hm... sedikit banyaknya, Mbak pasti sudah tahu apa maksud dan tujuanku datang kemari," lanjut Maya.
"Ya, maaf... sudah membuat keributan di rumah kalian tempo hari." Kepala Disa menunduk. "Apa ini berkaitan dengan masalah itu?"
"Hm, apa ada yang ingin kau tanyakan, May?" tanya Disa begitu melihat keraguan di wajah tamunya.
"Mbak..." Maya menatap Disa dengan lekat. "Mengenai masalah waktu itu, bisakah Mbak ceritakan kembali kepadaku," pintanya.
Disa langsung paham apa yang dimaksud oleh Maya. Wanita yang sudah melahirkan dua anak itu, menghirup napas sejenak baru setelah beberapa detik kemudian, menghempaskannya perlahan.
"Sebentar, ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan." Disa bangkit dan berjalan menuju kardus yang tergeletak di lantai. Ia membongkarnya dan mengambil sesuatu dari dalamnya.
"Ini..." Setelah duduk kembali, Disa mengangsurkan sebuah album foto cukup tebal ke hadapan Maya. "Bukalah!" pintanya.
Perlahan, Maya membuka album foto tersebut. Di halaman pertama, terlihat gambar seorang bayi mungil yang sedang tertidur. "Ini..." Ia mengalihkan pandangan dari foto ke arah Disa.
"Ya, dia adalah putraku, Haikal."
Maya kembali memerhatikan foto di pangkuannya. Ternyata album itu berisi semua foto Haikal, yang tak lain adalah anak pertama Fadhil yang tidak pernah diketahui kehadirannya. Di halaman pertama, terpampang foto Haikal yang baru lahir, di halaman berikutnya, foto memperlihatkan Haikal yang mulai bertumbuh. Dimulai dari umur 1 bulan sampai Lima tahun. Maya meneliti wajah tampan putra Disa, dilihat dari gambar saja, jelas sekali jika Haikal memiliki wajah tampan sang ayah, Fadhil. Ia seperti versi mini dari ayahnya itu. Entah seberapa hancur hatinya Fadhil begitu mengetahui jika ia memiliki seorang putra, tapi tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi. Maya sekarang paham dengan sakit yang dirasakan suaminya itu.
"May, kau boleh membawanya..." ucap Disa ketika Maya ingin menyerahkan kembali album foto itu padanya.
"Ma-maksud Mbak, aku boleh membawa album foto ini?" tanya Maya memastikan.
Disa mengangguk. "Sampaikan maafku pada Mas Fadhil. Aku mengaku salah karena telah menyembunyikan kebenaran ini darinya."
"Kenapa tidak kau sampaikan langsung saja, Mbak?" Maya merasa jika Disa harus meminta maaf langsung pada Fadhil, bukan malah melalui perantara dirinya.
"Tidak, May. Saat ini aku tidak sanggup bertemu dengannya." Disa menggeleng, bagaimana mungkin ia mempunyai muka untuk berhadapan lagi dengan pria yang saat ini pasti sangat membenci dirinya.
"Baiklah, Mbak. Aku akan mencoba berbicara dengan Mas Fadhil. Aku juga akan menunjukkan foto-foto ini agar bisa mengobati sedikit kerinduan Mas Fadhil pada putranya."
"Terima kasih, May."
.......
Maya sudah rapi dengan piyama tidurnya, malam ini ia memutuskan untuk memakai piyama saja. Malam-malam sebelumnya, ia selalu menggunakan gaun tidur yang seksi untuk menggoda suaminya yang tengah bersedih, tapi tidak berhasil. Pria itu tetap bertahan dengan diamnya. Malam ini ia menyerah, selain itu, ia juga akan memberikan hadiah yang semoga dapat mengobati luka di hati suaminya. Wanita itu melirik jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.
"Kenapa Mas Fadhil belum pulang juga, ya?" gumam Maya.
Cklekk
__ADS_1
Tak berselang lama, terdengan suara pintu kamar terbuka. Maya melirik dan menemukan suaminya masuk.
"Sudah pulang, Mas?" Maya menghampiri dan mengambil alih tas kerja suaminya.
"Hm..." Fadhil hanya berdehem sebagai jawaban. Biasanya, sebelum kejadian itu, Fadhil akan selalu meminta ciuman panjang setelah pulang bekerja, tapi kini... huh, Maya merindukan masa itu.
"Mandi dulu, Mas. Aku akan menyiapkan makanan," kata Maya.
"Aku sudah makan," jawab Fadhil kemudian berlalu masuk ke kamar mandi setelah mengambil pakaian gantinya.
Maya menghempaskan napas kasar, sampai kapan suaminya akan bersikap seperti ini. Lama-lama menjengkelkan juga.
Seperempat jam kemudian, Fadhil keluar dengan keadaan segar. Rambut pria itu masih terlihat basah. Ia sudah mengganti pakaian dengan baju kaus tipis dan celana pendek selutut.
Maya sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Ia hanya memerhatikan suaminya yang tengah sibuk mengeringkan rambut dengan handuk di depan cermin. Biasanya lagi, Fadhil akan selalu merengek manja meminta Maya mengeringkan rambutnya, kini... ya seperti itu.
"Mas, kemarilah!" panggil Maya. Ia menepuk sisi kosong tempat tidur di sebelanya.
Fadhil menatap sekilas, lalu kembali sibuk dengan kegiatannya. Sementara Maya hanya bisa mengelus dada, sabar. Ia setia menanti suaminya selesai dengan aktivitasnya.
Lima menit kemudian...
"Mas..." panggil Maya yang mulai bosan menunggu.
"Sebentar, cerewet sekali!" sahut Fahdil. Pria itu melempar handuknya ke atas sofa, baru setelah itu menghampiri istrinya.
Sudut bibir Maya berkedut, jika Fahdil bukan suaminya, pasti ia sudah akan menendangnya.
"Cepat katakan maumu, aku mengantuk!" kata Fadhil, sedikit ketus.
Maya menghela napas pelan, kemudian tersenyum semanis mungkin. "Sebentar ya, sayang..."
Wanita itu kemudian bangkit dan mengambil beberapa barang dari dalam lamari.
"Ini aku punya sesuatu untukmu, Mas!" Maya menyerahkan salah satu dari barang yang dibawanya ke hadapan Fadhil.
Fadhil menatap barang yang disodorkan Maya padanya, sebuah album foto. "
"Bukalah, Mas." Karena tak kunjung mengambilnya, Maya terpaksa menaruh album itu di atas paha suaminya.
"Untuk apa laptop itu?" tanya Fahdil penasaran kala melihat Maya menghidupkan laptop.
"Mas kepo, ya?" Mata Maya mengerling jahil.
Wajah Fadhil memerah, daripada meladeni kejahilan istrinya, ia lebih memilih membuka album foto di pangkuannya.
Deg
Jantung Fadhil langsung berdebar begitu matanya melihat potret seorang bayi mungil yang masih merah, seperti baru lahir. Ia sangat penasaran akan sosok bayi itu, karena sepertinya itu bukanlah foto Lingga semasa kecil, tidak ada kemiripan sama sekali. Ingin bertanya, tapi gengsi. Ia memilih untuk membuka halaman berikutnya.
Perasaan Fadhil campur aduk, semakin ia membalik halamannya, semakin berdebar cepat jantung di dadanya. Ia seperti tidak asing saat melihat potret bocah berumur lima tahun di dalam gambar.
Maya melirik ekspresi suaminya, ia yakin pasti saat ini pria itu bertanya-tanya, foto siapa yang saat ini tengah dia pandangi.
"Itu album foto milik Haikal, Mas."
Deg
Jawaban Maya membuat mata Fadhil seketika memanas. "Ha-haikal... putraku?" tanyanya, menatap Maya dengan berkaca-kaca.
Maya tersenyum sendu. "Iya, Mas. Dia putramu, Haikal."
Air mata Fadhil langsung membasahi pipinya. "Haikal, anak papa..." Pria itu memeluk album foto di tangannya, seolah-olah sedang memeluk tubuh putranya.
"Maafkan papa, Nak. Papa bodoh karena tidak pernah mengetahui jika dirimu ada di dunia ini. Papa rindu, papa ingin sekali bertemu dan memelukmu. Papa ingin sekali mendengar dirimu memanggilku papa. Kenapa kau pergi secepat ini, Nak." Fadhil menumpahkan semua kesedihan yang menyesakkan dadanya.
Di sampingnya, Maya ikutan menangis. Ia merasakan kesedihan yang dirasakan suaminya itu. Bagaimanapun juga ia adalah orang tua, dan pasti bisa memahaminya.
"Sabar, Mas. Kirimkan dia do'a agar dia tenang di sana." Maya memeluk suaminya.
"May, aku ingin bertemu dengan putraku, May. Kenapa dia meninggalkan aku secepat ini, bahkan aku tidak pernah bertemu dengannya. Apakah dia tahu kalau aku ini adalah ayahnya..." Fadhil terisak di pelukan Maya.
Maya hanya bisa mengelus punggung Fadhil, berharap setelah ini suaminya itu bisa mengikhlaskan segalanya.
...To be Continued...
Maaf ya, sebulan aku nggak update😣
Semoga masih ada yang menunggu cerita ini...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Comment dan Vote, ya please.... 🙏🏻😊