2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 38. Boncengan


__ADS_3

...🌷 Selamat Membaca 🌷...


Eya menggerutu sebal karena saat ini taksi online yang ditumpanginya terjebak macet. "Kalau tahu begini, mending tadi naik ojek aja..." batinnya.


Gadis remaja itu mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil demi bisa melihat keadaan di jalan raya, dan ternyata jauh di depan sana ada truk yang muatannya jatuh dan berserak di jalanan.


"Aduh..." Saat kembali masuk seutuhnya ke dalam mobil, Eya tiba-tiba merasakan perutnya melilit. Setelah diingat, ternyata ketika jam istirahat tadi, ia menyantap seblak super pedas.


"Aduh, mules banget, pengen ke WC!" Eya mencoba menekan perutnya agar rasa mules itu hilang, tapi yang terjadi justru sebaliknya, keinginannya untuk ke WC semakin menjadi.


"Pak, saya turun di sini aja, ya!" ujar Eya pada driver taksi.


"Ba-baik, Nak..." jawab si driver yang seorang bapak-bapak. Ia terheran melihat gelagat Eya yang sedikit aneh.


Sebelum keluar, Eya mengutak-atik ponselnya sebentar, lalu berujar kembali pada si driver. "Sudah saya bayar pakai aplikasi ya, Pak."


"Iya, Nak..." angguk si driver.


"Terima kasih, Pak. Saya keluar dulu." Eya melongok sebentar untuk memastikan tidak ada motor yang lewat, baru setelah itu ia keluar dari dalam taksi.


Eya berlari melintasi jalanan mencari di mana ada toilet umum. Setelah berlari kian kemari, akhirnya ia memilih untuk masuk ke dalam mall.


.......


"Ah... akhirnya lega juga." Eya keluar dari mall dengan perasaan lapang pada perutnya. Ia berdiri di depan bangunan mall dan hendak memesan ojek online, tapi belum sempat ia membuka aplikasi, sebuah motor gede berhenti tepat di hadapannya.


"Kak Arka..." Eya memerhatikan motor tersebut, dan langsung mengenali siapa pemiliknya.


Si pengendara membuka helm, dan benar saja, itu adalah Arka.

__ADS_1


"Aleeya!" sapanya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya kemudian.


"Hm, tadi singgah di mall sebentar, Kak..." jawab Eya seadanya. Tak mungkin ia bilang kalau ia numpang buang air besar di toilet mall. Itu sangat memalukan, apalagi jika harus mengatakannya di depan pemuda tampan seperti Arka. "Kalau kakak dari mana, mau ke mana?" Giliran Eya yang bertanya.


"Baru keluar dari mall juga, selesai membeli barang titipan Mama." Mata Arka melirik bungkusan yang dibawanya, Eya pun ikut mengarahkan pandangan ke sana.


"Oh..." Eya terdiam, ia kehabisan topik yang perlu dibicarakan.


"Jadi sekarang kamu mau ke mana?" tanya Arka.


"Mau ke rumah sakit, Kak. Mau lihat mama dan adik bayi," jawab Eya.


"Oh, sama dong. Kalau begitu kita bareng aja, kakak juga ingin ke rumah sakit mengantarkan langsung titipan mama sekalian melihat Tante Ajeng dan adik baru kamu..." jelas Arka.


"Boleh Kak, kalau nggak merepotkan..." Eya tersenyum senang.


"Tapi tunggu di sini sebentar, ya!" Arka memarkirkan kembali motornya kemudian berlari masuk ke dalam mall. Eya hanya menunggu dengan perasaan bingung, kenapa Arka justru masuk mall, bukannya langsung berangkat saja.


"Ini dipakai helmnya!" Arka menyerahkan sebuah helm berwarna putih yang baru saja dibelinya kepada Eya.


Eya menerimanya dengan tidak enak hati. "Ya ampun, gara-gara aku kakak jadi sampai membeli helm baru segala, nanti aku ganti uang beli helmnya ya, Kak..." ucapnya.


"Tidak apa-apa, lagi pula kakak memang berniat membeli helm baru..." ucap Arka sembari menaiki motornya.


"Oh gitu..." Eya mengangguk dan langsung memakai helmnya.


"Naiklah!" pinta Arka.


"Iya, Kak." Dengan hati-hati Eya menaiki motor gede milik Arka.

__ADS_1


"Kita langsung jalan, ya?" tanya Arka.


"Iya, Kak."


Arka langsung menggas motornya, karena terbiasa di atas motor seorang diri, pemuda itu lupa dan menggas motonya dengan cukup kuat. Alhasil, Eya yang duduk di belakangnya otomatis terdorong ke depan, bahkan helm mereka saling bertubrukan hingga menimbulkan bunyi yang cukup kuat.


"Maaf, ya..." kata Arka.


"Iya, nggak apa-apa kok, Kak..." jawab Eya.


"Kalau gitu kita berangkat..." Arka kembali melajukan motornya dengan pelan.


Deg


Eya tersadar jika kini tangannya telah melingkar di pinggang Arka. Ia tidak tahu pasti kapan itu terjadi, tapi sepertinya pas Arka menggas motornya tadi.


"Lepas atau nggak, ya?" batin Eya bergejolak.


Di lepas, tapi ia merasa sayang. Kapan lagi bisa berboncengan sembari memeluk Arka. Pemuda yang diam-diam ia kagumi. Namun, kalau tetap dipeluk, takutnya Arka risih. Akhirnya, Eya memilih untuk melepaskan tangannya perlahan.


"Peluk aja, Aleeya. Kakak takut nanti kamu jatuh," ucap Arka saay Eya ingin melepas pelukannya.


Deg


"Baiklah, Kak.


Dira tersenyum sembari mengeratkan pelukannya di perut Arka, sementara si pemuda yang membelakanginya menyungginggkan senyuman manis.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan comment 🙏🏻


Terima kasih sudah membaca 😊


__ADS_2