
...🌷Selamat Membaca🌷...
Cakra terdiam ketika Rama menyebut nama putri sulungnya, yakni Dira. Ia tidak menyangka jika Arjuna menyimpan perasaan pada Dira mengingat interaksi antar keduanya jarang terlihat jika keluarga besar sedang berkumpul.
"Hm, begini Mas ... aku tidak bisa memutuskannya sendiri, apalagi mas tahu kalau Dira adalah anak sambungku, dia masih memiliki Ajeng dan Radi sebagai ayah kandungnya, kurasa mereka berdua lebih berhak memutuskan apa yang baik untuk Dira," jelas Cakra.
"Selain itu, dengan siapa Dira ingin dekat, itu tergantung pada keinginannya sendiri. Aku sebagai orang tua, tidak ingin memaksa..." sambungnya.
Rama mengangguk paham. "Kamu benar, Dik. Makanya mas membicarakan ini berdua dulu denganmu, nanti kamu bisa menyampaikannya pada istri dan juga putrimu. Bagaimana kelanjutannya, mas akan terima..." jelas Rama.
"Baiklah, Mas."
.......
Saat ini Dira sedang duduk di ayunan yang ada di depan rumahnya, seorang diri. Gadis itu nampak asyik teleponan dengan sang kekasih yang sudah dua bulan terpisah kota dengannya.
"Bee, kalau ada libur, kamu pulang, ya? Aku kangen banget sama kamu..." rengek Dira.
Pemuda di seberang telepon terkekeh kecil. "Iya, Bee... aku pasti pulang. Aku juga kangen banget sama kamu, pengen peluk."
"Benar kata Dilan, ternyata rindu itu berat ya, Bee..." celetuk Dira.
"Iya. Sabar ya, Bee... Setelah sekolah selesai, aku janji... kita akan selalu bersama."
"Hm..." Dira hanya berdehem. Jujur, saat ini ia sedang berusaha menahan agar tidak menangis.
"Bee, aku tutup teleponnya dulu, ya? Malam ini aku harus mengerjakan sesuatu bersama teman-teman asrama..." pamit Lingga.
"Iya, hati-hati ya, Bee..." ucap Dira.
"Ya, bye... Love You..."
"Love you too..." balas Dira
Setelah mengucapkan tiga kata itu, Dira segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan setengah hati. "Padahal masih ingin bicara sama kamu, Bee..." lirihnya sedih.
Dira menyandarkan tubuhnya dan mulai berayun. Wajahnya menengadah ke langit yang malam itu dihiasi bulan penuh yang sangat terang. Mulutnya mulai bersenandung kecil.
"Sendirian aja?"
Deg
Dira terperanjat saat sebuah suara mengagetkan dirinya yang sedang menggalau. Ia menoleh ke asal suara dan menemukan sesosok pemuda tampan penuh karismatik.
__ADS_1
"Mas Juna..." ucap Dira yang langsung bangkit dari duduknya. "Mas ngagetin aja, ku pikir tadi ada hantu yang iseng menyapa," lanjutnya.
Juna terkekeh geli. "Maaf, mas nggak ada maksud buat ngagetin kamu."
"Iya, nggak apa-apa kok, Mas. Santai aja!" Dira kembali duduk di ayunannya. "Duduklah, Mas!" ajaknya. Kebetulan ada dua ayunan di sana yang saling berhadapan.
"Kenapa sendirian di sini? Ada masalah? Wajahmu terlihat murung?" tanya Juna perhatian. Soalnya, dari siang tadi ia melihat jika Dira ceria dan bahagia, tapi kenapa malam ini justru sebaliknya.
"Eh? Aku nggak apa-apa kok, Mas. Cuma lagi ingin sendiri aja..." elak Dira. Tak mungkin ia mengatakan jika dirinya sedang galau memikirkan kekasih nan jauh di sana.
"Oh, begitu." Juna tak lagi berkomentar, walau sebenarnya ia tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Dira.
"Kuliahnya aman, Dek?" tanya Juna berusaha untuk mencari topik pembicaraan.
"Sejauh ini masih aman. Mas sendiri bagaimana? Betah kerja di kantor papa?" Dira pun balik bertanya. Tidak enak rasanya kalau berbincang hanya satu arah saja.
"Betah. Paman Cakra adalah contoh pemimpin yang baik dan bijaksana. Mas banyak belajar dari beliau..." balas Juna.
"Oh, syukurlah..." Dira tersenyum tipis.
Deg
Juna terdiam, ia terpaku menatap senyuman Dira yang di matanya tampak begitu manis.
"Mas Juna..."
"Mas Arjuna!"
Di panggilan Dira yang ketiga, baru lah Juna yang awalnya terkesima jadi tersadar.
"Kenapa?" tanyanya linglung.
"Mas melamun? Itu... Tante Shinta menyuruh kita untuk masuk. Saatnya untuk makan malam..." Dira yang sudah berdiri menunjuk pada Shinta yang melambai di depan pintu masuk.
"Mama?" Juna mengikuti arah tunjuk Dira, dan benar saja, ibunya sudah memanggil sedari tadi.
"Ayo masuk, Mas!" Dira langsung menarik tangan Juna setelah melihat jika pria muda itu masih sedikit linglung.
Deg
Dada Juna berdebar. Ini adalah kali pertama terjadinya sentuhan antara ia dan Dira. Kulitnya terasa seperti dialiri arus listrik hingga tubuhnya menjadi kaku dan hanya bisa pasrah saat Dira menariknya masuk ke dalam rumah.
.......
__ADS_1
Cakra sedang memerhatikan bayinya yang tertidur lelap di dalam box. "Selamat tidur, Nak. Jangan keseringan menangis, ya. Kasihan mama, dia butuh istirahat," pesannya.
"Mas!" panggil Ajeng yang sudah sedia di atas pembaringan.
"Iya, sayang? Kenapa? Butuh sesuatu?" tanya Cakra seraya menghampiri istrinya.
"Nggak kok, mau ngajak mas tidur aja!" sahut Ajeng.
Mata Cakra melotot. "Ngajakin tidur? Yang benar aja, sayang. Kamu 'kan habis lahiran!" ucapnya tak percaya.
Ajeng berdecak. "Apa sih, Mas! Otaknya ke sana mulu, deh. Aku itu mau tidur sambil dipeluk oleh kamu, Mas. Bukan ngajakin kamu untuk bercinta!" protes Ajeng.
Cakra tertawa cengengesan. "Hehe, mas kira kamu mau mesra-mesraan..."
"Nggak mungkin lah, Mas. Kamu itu harus puasa minimal tiga bulan sampai kondisiku pasca persalinan dan operasi benar-benar pulih..." jelas Ajeng.
"Iya, sayang. Mas paham. Ayo kita tidur, katanya tadi mau dipeluk?" ajak Cakra yang sudah berbaring lebih dulu.
Ajeng merebahkan tubuh dan langsung merengsek masuk ke dalam pelukan suaminya.
"Lama juga ya mas harus puasa..." kata Cakra.
"Mas harus sabar, aku aja sabar, kok!" sahut Ajeng.
"Pria dan wanita itu beda, sayang..." Cakra mencium gemas pipi gembil istrinya.
"Jangan mulai, Mas! Nanti ada yang berdiri!" Ajeng memperingatkan.
Cakra tertawa. "Nanti kalau mas udah nggak tahan, kamu mau bantu, kan?" tanya Cakra berharap.
"Iya, Mas. Sekarang kita tidur, ya. Aku lelah."
"Tidurlah!" Cakra mengecup lembut puncak kepala istrinya.
Awalnya dia berniat memberitahukan tentang Arjuna yang menyukai Dira, tapi karena Ajeng sudah mengantuk. Cakra mengurungkan niatnya.
...Bersambung...
Like, Vote dan Comment...🙏🏻
Terima kasih sudah membaca 😊
Hadiahnya jangan lupa loh, ya...
__ADS_1
Biar aku tambah semangat ngetiknya...🤭