2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 27. Bahagianya Punya Banyak Anak


__ADS_3

...🌷 Selamat Membaca🌷...


Minggu pagi di kediaman Adibrata, Ajeng yang saat ini tengah hamil 5 bulan tampak sedang memasak sarapan untuk suami dan anak-anaknya di dapur. Di kehamilan yang keempat ini, ia lebih santai karena tidak mengalami mual yang berlebihan. Namun, mengidamnya kali ini membuat si kembar sedikit kewalahan. Pasalnya, setiap hari Arsha dan Arsyi harus memakai baju kembar jika berada di rumah. Sebenarnya itu bukanlah hal yang berat untuk dilakukan, tapi bagi si kembar yang sering ribut, hal itu membuat mereka geli sendiri saat melihat satu sama lain mengenakan baju yang sama.


"Masak apa, Sayang?" Saat sedang asyik mengaduk nasi goreng di wajan, sebuah bisikan disusul dengan pelukan dari belakang membuat Ajeng berjengkit kaget.


"Mas!" protesnya ketika menyadari jika itu adalah ulah sang suami. "Jangan ganggu aku masak, Mas. Nanti bakal lama selesainya!"


Bukannya mendengar keluhan sang istri, Cakra justru mulai mengganggu kegiatan masak istrinya dengan memberikan kecupan-kecupan ringan di sepanjang leher wanita itu.


"Mas! Ku pukul dengan spatula, ya?" ancam Ajeng yang mulai kesal.


"Satu ciuman dan mas akan melepaskanmu!" Cakra memberi penawaran.


Ajeng berdecak malas, dengan cepat ia menolehkan kepala dan melayangkan satu kecupan kilat di pipi suaminya. Lalu kembali melanjutkan acara masaknya yang tertunda.


Cakra yang tak puas dengan kecupan singkat di pipi langsung membalikkan tubuh sang istri. Tidak lupa ia turut mematikan kompor agar makanan yang dimasak Ajeng tidak gosong. Kemudian diraihnya leher istrinya itu dan mulai melu-mat bibirnya tanpa aba-aba. Ajeng ingin berontak, tapi ia telanjur terbuai dengan ciuman memabukkan suaminya. Keduanya hanyut dalam gelora ciuman panas di pagi hari.


"Ingat, saat ini istrimu sedang hamil. Jangan sering-sering menggodanya!"


Deg


Cakra dan Ajeng langsung melepas tautan bibir mereka ketika kegiatan yang tidak tahu tempat itu dipergoki oleh Tyas yang semalam menginap di rumah mereka. Tidak hanya Tyas, Eya juga menyaksikannya, namun gadis itu dengan cepat mengalihkan pandangan dari aksi tidak senonoh kedua orang tuanya.


"Keluarlah! Biarkan istrimu memasak dengan tenang!" titah Tyas.


Cakra hanya bisa pasrah menuruti perintah ibunya. Sementara Tyas dan Eya membantu Ajeng memasak.


...****************...


"Mau ke mana, Cantik?" Ajeng yang sedang mematut dirinya di depan cermin lagi-lagi diganggu oleh Cakra. Pria itu tidak pernah bosan untuk memeluk istrinya dari belakang, karena kalau dari depan sudah susah, terhalang perut buncit Ajeng.


"Mas, siang ini aku mau ke mall bersama ibu dan anak-anak, boleh, kan?" izin Ajeng.


"Mas ikut, ya?" pinta Cakra manja. Lihat saja posisi kepalanya saat ini yang bertumpu pada pundak Ajeng, sementara tangannya sibuk mengelus si jabang bayi yang masih bersemayam dalam kandungan istrinya itu.


"Nggak usah, Mas. Ada Arsha kok yang menemani kami." Ajeng menolak karena ia tahu Cakra tidak akan betah berlama-lama di mall, apalagi kalau harus menunggu para wanita berbelanja.


"Anak itu sudah seperti anak ayam yang selalu mengekori induknya." Cakra menggerutu pelan, namun masih bisa didengar Ajeng karena jarak mereka yang sangat dekat.

__ADS_1


"Arsha bukan anak ayam ya, Mas! Dia anakku!" protes Ajeng tak terima ketika Arsha dikatai seperti anak ayam oleh ayahnya sendiri.


"Iya, Sayang. Dia anak kita berdua."


"Ya sudah, lepaskan aku, Mas! Aku mau melihat ibu dan anak-anak dulu, mereka pasti sudah lama menunggu."


Walaupun tak rela, Cakra terpaksa melepaskan pelukannya. "Satu ciuman sebelum pergi, ya?" pintanya.


Ajeng memutar mata malas. "Satu ciuman sekarang, atau sepuluh ciuman, tapi nanti malam?" Ia memberikan pilihan. Karena kalau kini mereka berciuman, itu pasti akan lama, apalagi ia tidak ingin dandanannya jadi rusak.


"Ok. Sepuluh ciuman plus olahraga malam," putus Cakra seenaknya.


"Sebaiknya mas saja yang olahraga sekarang, lihatlah perutmu yang buncit itu, mengalahkan perutku yang sedang mengandung ini."


"Iya-iya, nanti mas akan nge-gym lagi..." sahut Cakra malas.


"Baiklah, aku berangkat dulu." Ajeng meraih tangan Cakra dan menyalaminya. Sebelum melangkah, ia membisikkan sesuatu di telinga suaminya.


"Aku akan membeli baju dinas baru untuk nanti malam." Setelah mengucapkan itu, Ajeng berlalu.


Wajah Cakra yang awalnya kusut langsung berbinar cerah. Ia sudah tidak sabar menunggu malam datang.


...****************...


Saat ini Ajeng, ibu mertua dan anak-anaknya tengah istirahat di sebuah restoran Jepang, setelah puas berbelanja, lapar pun datang.


"Aku mau pesan ramen!" ucap Arsha dan Arsyi berbarengan.


"Cie... yang bajunya kembar pesanannya pun ikut sama," goda Eya jahil.


"Apaan sih lo, kenapa harus pesan ramen juga?" Arsha mendelik pada Arsyi yang duduk di seberangnya.


"Idih... emang gue lagi pengen makan ramen. Lo tu, yang ikut-ikutan... setahu gue lo kan nggak terlalu suka ramen," protes Arsyi.


"Berisik lo, gue lagi ngidam ini. Si dedek pengen abangnya makan ramen," balas Arsha asal.


"Jago banget lo ngeles, bawa-bawa nama si adek yang nggak tahu apa-apa," sahut Arsyi tak mau kalah.


"Arsha, Arsyi!" panggil Ajeng dengan suara cukup tegas. "Jangan berdebat di meja makan. Dari pada ribut menentukan pesanan, sebaiknya kita pesan shabu-shabu saja. Satu untuk bersama."

__ADS_1


"Baiklah, Ma..." Si kembar mengangguk pasrah.


Eya menahan tawa melihat ekspresi adik-adiknya yang menggemaskan itu. Sembari menunggu pesanan, iseng Eya membuka akun sosial media miliknya. Ternyata ada beberapa postingan baru di akun kakaknya.


"Foto siapa itu?" tanya Ajeng kepo.


"Ini Ma, foto liburan Kak Dira dan teman-temannya." Eya menunjukkan foto yang baru diposting Dira.


Ajeng memerhatikan foto yang berlatar belakang pantai itu. Ada delapan orang di dalam foto.


"Cowok yang berdiri di samping kakakmu ini siapa?" tanya Ajeng. Ia seperti tidak asing dengan wajah itu.


"Ini 'kan Kak Lingga, anaknya Om Satria," jawab Eya.


Ajeng memperbesar foto tepat pada bagian putrinya dan Lingga. Pose mereka terlihat seperti sepasang kekasih. "Memangnya Dira dan Lingga seakrab itu, ya?" tanya Ajeng lagi.


"Nggak tahu juga sih, Ma. Kayaknya baru dekat beberapa bulan ini, deh..." jawab Eya tak pasti.


Ajeng terdiam, melihat Dira dan Lingga, ia jadi teringat kenangan belasan tahun silam. Bagaimana teganya Radi yang lebih memilih Lingga daripada dirinya yang saat itu sedang mengandung Dira. Lalu, nama Lingga yang harusnya menjadi nama anaknya justru diberikan pada anak wanita yang sudah menghancurkan rumah tangganya.


"Kenapa aku harus mengenang masa lalu..." Ajeng menggelengkan kepala demi mengusir kenangan menyakitkan itu dari benaknya. Lagi pula, saat ini mereka sudah bahagia dengan pasangan masing-masing, termasuk dirinya.


"Nanti malam Kak Dira sampai di rumah, nggak sabar nunggu oleh-olehnya..." celetuk Arsha.


"Berdo'a semoga kakak kita pulang dengan selamat, bukan malah mengharapkan oleh-oleh," sindir Arsyi.


"Anak-anak, makanan kita sudah tiba, jadi jangan berisik dan makanlah dengan tenang!" Kini Tyas yang berujar.


"Iya, Nenek..."


Tak jauh dari sana, ada seorang wanita yang duduk sendiri sambil memerhatikan interaksi Ajeng dan anak-anaknya.


"Enaknya jadi Ajeng, punya banyak anak. Tiga putri dan satu putra, dan sekarang dia akan mendapatkan anak kelima..." lirih wanita itu sedih.


Dia adalah Silvia, istrinya Satria. Tuhan hanya memberikan seorang putra padanya. Sampai saat ini, ia tidak pernah hamil lagi walaupun sudah program beberapa kali. Ia pikir, mungkin itu adalah balasan dari Tuhan karena dulu ia pernah membunuh calon anaknya. Penyesalan memang selalu datang di akhir.


...Bersambung...


Jangan lupa like, vote dan comment🙏🏻

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗


__ADS_2