2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 5. Gadis Cupu


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Cklek


Setelah pembicaraannya dengan sang putra usai, Cakra langsung masuk ke dalam kamar menyusul istri tercinta.


Sampai di dalam, ia melihat ibu dari anak-anaknya itu tengah duduk di depan cermin sembari mengaplikasikan skincare pada kulit wajahnya. Cakra pun menghampiri dan berdiri di belakangnya.


"Tanpa semua itu kamu tetap cantik, sayang..." bisik Cakra. Ia memeluk tubuh Ajeng dari belakang dan menumpukan dagunya di pundak wanita itu.


"Tapi tanda penuaan di wajahku sudah muncul loh, Mas. Nanti mas malu punya istri tua kayak aku," sahut Ajeng.


Cakra terkekeh. Dengan gerakan cepat, ia mencuri satu kecupan di pipi sang istri. "Aku lima tahun lebih tua dari kamu loh, Yang. Lihatlah! Rambutku sudah ada ubannya."


"Iya sih, tapi biasanya pria itu semakin berumur semakin terlihat hot. Pasti banyak wanita muda yang tergila-gila padamu, Mas," sungut Ajeng.


"Tapi suamimu yang hot ini hanya tergila-gila pada istrinya yang cantik ini. Jadi jangan risau! Tak usah pikirkan hal-hal yang tidak penting itu, karena sekarang ada hal yang jauh lebih penting dan mendesak," bisiknya lirih yang sukses membuat bulu kuduk Ajeng berdiri.


"Apa ini menyangkut masalah putra nakal kita itu?" tebak Ajeng.


Cakra menggeleng. "Oh... kalau itu sudah aman. Putra kita tidak bersalah, kok. Dia hanya memberi pelajaran pada orang yang memang pantas mendapatkannya."


Ajeng mengernyit bingung. Ia berniat bertanya lebih lanjut, tapi tangan Cakra di bawah sana sudah menjalar ke mana-mana. Membuatnya kehilangan fokus.


"Mas..." panggil Ajeng dengan suara tertahan.


"Kita ke ranjang." Cakra yang sudah tidak tahan langsung membopong istrinya ke peraduan. Dibaringkannya tubuh ramping itu di atas ranjang secara perlahan.


"Mas, tadi aku sudah menghubungi Dira, katanya..."


Cup


Cakra membungkam mulut istrinya dengan sebuah kecupan singkat. "Haruskah kita membahas itu sekarang?" tanya Cakra tak habis pikir. Dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya sang istri malah membahas masalah lain.


"Kita bahas itu nanti, sekarang waktunya untuk..."


Cakra tidak melanjutkan ucapannya, ia lebih memilih untuk mencium sang istri yang berada di bawah tubuhnya. Bibir merah penuh itu sudah memanggilnya sedari tadi, minta dinikmati.


"Mas..." Ajeng mend**ah disela ciuman panas mereka.


"Baby... you look so sexy, tonight!" Cakra terpesona menatap tubuh indah istrinya yang kini hanya ditutupi oleh lingerie hitam transparan. Semakin bertambah umur, Cakra merasa jika istrinya semakin cantik dan menggairahkan.


"Touch me with all your love, Darl!" Ajeng mengalungkan tangan di leher suaminya, kemudian berbisik merdu di telinganya.


"As your wish, Baby."


Malam indah itu kembali terulang. Sudah belasan tahun bersama, tapi keduanya tidak pernah bosan untuk mereguk surga dunia.


...****************...


SMP Pelita Bakti


BRUKK


"Heh, kalau jalan lihat-lihat dong!" hardik seorang siswi dengan name tag Siska. Ia menatap tajam siswi di depannya yang telah menghalangi jalannya hingga tabrakan pun terjadi.


"Ma-maaf..." siswi yang mendapat hardikan itu hanya bisa meminta maaf dan berjongkok untuk memungut buku-bukunya yang berserakan, jatuh akibat tabrakan tadi.

__ADS_1


Siska dengan dua temannya saling berpandangan, mereka seperti merencanakan sesuatu.


"Siapa nama lo?" tanya Siska selaku ketua geng.


"S-shakila, Kak..." jawab siswi bernama Shakila itu. Ia tahu jika ketiga siswi yang sedang berhadapannya dengan itu adalah kakak kelasnya.


"Lo berasal dari desa, ya? Dandanan lo kampungan banget?" tanya salah satu anggota geng Siska.


"E-enggak, Kak." Kila menjawab.


"Gue nggak percaya. Lihat deh penampilan lo! Lo pikir ini zaman dulu apa, rambut pakai di kepang dua kayak segala, udik tahu nggak, kayak orang kampung!" hina siska. Soalnya penampilan Kila sedikit berbeda dari siswi lainnya di sekolah itu, yakni rambutnya dikepang dua, lalu ia menggunakan kacamata dengan bingkai lebar dan juga rok panjang di bawah lutut.


"Mungkin nenek gue lebih gaul daripada lo. Haha..." Siska tertawa mengejek bersama kedua temannya.


Sementara itu, si siswi yang menjadi bahan ledekan itu hanya bisa diam dengan kepala tertunduk. Tangannya meremas kuat roknya di bawah sana. Ini sudah sering terjadi, tapi rasanya tetap saja menyakitkan.


"Eh, kemarin gue lihat lo pulang sama seorang cowok naik motor, siapa tuh?" tanya Siska.


"I-itu..." Dengan gugup dan terbata, Kila coba menjawab pertanyaan itu.


"Itu, itu apa? Yang jelas dong kalau bicara!" bentak Siska. Dia adalah salah satu siswi populer yang sombong dan suka menghina orang lain yang ia rasa berada di bawah dirinya.


"I-itu kakakku..." cicit Kila pelan.


"Hah? Kakak lo? Yang benar aja, masa kakak lo keren, tapi adiknya cupu gini?" Salah seorang teman Siska, menyanggah.


"Ma-maaf..." Kepala Kila semakin tertunduk. Ia merasa lelah berada di situasi seperti ini. Ingin menghindar, tapi ia yakin jika ketiga cewek itu tidak akan membiarkannya.


"Kenapa lo minta maaf, lo nggak salah. Yang harusnya minta maaf itu adalah mereka!" Sebuah suara terdengar diiringi dengan sosok tubuh meringsek masuk di antara para sisiwi tersebut.


"Eh? Arsha? Kamu ngapain di sini?" tanya Siska dengan wajah semanis mungkin.


Siska dan teman-temannya merengut tak suka. "Kenapa kami yang harus minta maaf, harusnya dia. Kamu tahu, dia tadi nabrak aku karena jalan nggak lihat-lihat, padahal matanya ada empat. Hahaha..." Ketiga cewek itu tertawa, entah apa yang ditertawakannya, sementara Arsha sendiri merasa tidak ada hal lucu yang patut ditertawakan.


"Udah selesai ketawanya?" Mendengar suara bernada dingin dari Arsha, ketiga gadis itu sontak terdiam.


"Minta maaf sekarang, atau video perundungan lo akan gue sebar di sosial media. Lo tahu 'kan, apa yang akan terjadi jika netizen sudah bertindak? Mereka nggak akan membiarkan lo hidup tenang!" ancam Arsha. Ia memperlihatkan video di saat Siska dan teman-temannya menghina Kila.


"Jadi gimana? Mau minta maaf sama Kila sekarang atau..."


"I-iya..." sahut Siska cepat. Ia tak ingin menjadi bulan-bulanan netizen Indonesia yang terkenal kejam dalam berkomentar dan menghujat.


"Hei, cupu! Gue minta maaf!" ucap Siska terpaksa.


Arsha yang mendengar permintaan maaf yang tidak tulus itu merasa kesal. "Gue upload di mana, ya? Faceb**k, Ins**gram, atau... ah iya, lebih baik gue upload ke T*k T*k aja, di sana responnya lebih cepat." Arsha pura-pura mengutak-atik ponselnya.


"Iya-iya, jangan di upload dong, Arsha. Aku akan meminta maaf dengan benar," kata Siska panik.


"Lakukan!" suruh Arsha.


"Shakila, gue sama teman-teman minta maaf karena udah ngehina lo. Lo mau 'kan maafin kita?" Siska berusaha keras berujar setulus mungkin.


"I-iya, Kak. Kila maafin."


"Ya udah, sekarang kalian pergi sana! Sumpek gue lihat muka sok cantik kalian itu!" usir Arsha.


"I-iya..." Ketiga cewek itu ngacir meninggalkan Arsha dan Kila.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa 'kan, Kil?" tanya Arsha. Ia membantu Kila untuk memunguti buku-bukunya yang masih berserakan di lantai. Kebetulan itu buku latihan teman sekelas dan ia diminta mengantarnya ke ruang guru.


"Aku nggak apa-apa kok, Ar. Makasih ya udah nolongin aku," ucap Kila.


"Hm, iya. Aku pernah janji sama Om Bagas buat jagain kamu selama di sekolah. Jadi jangan khawatir! Aku jamin mereka nggak bakal berani ganggu kamu lagi."


"Iya, Ar. Sekali lagi terima kasih. Kalau gitu aku duluan, ya?" pamit Kila.


"Mau ku bantu bawakan buku-bukunya ke ruang guru?" tawar Arsha.


"Nggak usah, Ar. Aku sendiri aja." Kila menolak. Ia tidak ingin merepotkan Arsha lebih jauh lagi.


"Ya udah, hati-hati."


"Ya."


Arsha menatap kepergian Kila dalam diam. "Gue harus melakukan sesuatu," gumamnya.


...****************...


"Kila, kamu belum pulang?" tanya Arsyi saat melihat Kila masih berdiri di depan gerbang sekolah.


"Belum, Syil. Aku lagi nunggu Kak Arka buat jemput."


"Oh. Arsha, lo duluan gih masuk mobil, gue mau temani Kila sampai Kak Arka datang," pinta Arsyi.


"Ogah, gue mau di sini juga. Panas kalau harus nunggu di dalam mobil," tolaknya.


"Terserah lo."


Tak lama kemudian, sebuah motor gede berhenti di depan mereka. Dia adalah orang yang sedang ditunggu. Siapa lagi kalau bukan Arka, anak pertama Bagas dan Tania.


"Ayo, Dek!" Arka membuka kaca helmnya.


"Ar, Syil, aku duluan, ya. Makasih udah nemenin," pamit Kila.


Arsha dan Arsyi mengangguk.


"Kak Arka, Kila, hati-hati yang pulangnya," ucap Arsyi.


"Iya, Dek. Kalau gitu kami duluan, ya." Setelah pamit Arka langsung melajukan motornya.


"Kak Arka keren banget ya, pantas kalau *** *** menyukainya," celetuk Arsyi.


"Hah? Lo bilang apa tadi? Siapa yang menyukai Bang Arka?" tanya Arsha. Ia tadi tidak terlalu mendengar nama yang disebutkan Arsyi.


"Upps..." Arsyi menutup mulutnya. Ia keceplosan.


"Hei... gue tanya, siapa yang menyukai Bang Arka?" Arsha yang kepo kembali bertanya.


"Rahasia!" Arsyi segera berlari masuk ke dalam mobil, menghindari pertanyaan saudara kembarnya.


"Gue harus cari tahu," batin Arsha.


...Bersambung...


Jangan lupa Like, Vote & Comment

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊


Kalau banyak yang komen, jadi semangat buat lanjut😁


__ADS_2