
...🌷Selamat Membaca🌷...
Dua bulan sudah Dira menjalani kehidupan di bangku perkuliahan. Sekarang ia sudah memiliki dua orang teman baru. Sedangkan Hanna dan Luna, mereka mulai jarang ketemu karena jadwal yang berbeda, tapi setiap minggu selalu diusahakan untuk berkumpul.
"Ra, pulang dari kampus aku dan Decha berniat untuk mencari buku yang disarankan oleh Pak Rafli tadi. Kamu mau ikut sekalian, atau titip aja?" tanya Jia. Teman baru Dira yang memiliki wajah oriental.
"Aku ikut aja, kebetulan mau cari buku yang lain juga," balas Dira.
"Oke. Nanti kita pesan taksi online aja ke toko bukunya," saran Decha.
"Nggak usah, pakai mobil aku aja. Aku 'kan bawa mobil," ucap Jia.
"Oh, iya. Boleh deh, jadi hemat ongkos. Hehe..." Decha terkekeh senang, sebab ia merupakan anak perantauan dan berkuliah di universitas mengandalkan beasiswa, jadi sebisa mungkin ia harus berhemat.
"Hm, udah jam 1 nih. Kita ke kelas, yuk! Mata kuliah selanjutnya akan segera dimulai?" ajak Dira.
"Iya, ayo!" Decha dan Jia bangkit dari duduknya mengikuti Dira, lalu mereka berjalan beriringan menuju kelas.
Sesampainya di kelas, mereka memilih duduk di bangku paling depan agar bisa mendengar dengan jelas materi yang disampaikan oleh dosen.
...****************...
Dua jam kemudian, Dira dan dua temannya memutuskan untuk langsung ke toko buku. Mereka berangkat menggunakan mobil Jia. Sampai di tempat yang dituju, Dira memilih beberapa buku dan juga novel. Kebetulan ia melihat beberapa novel baru dari pengarang favoritnya.
Selesai dengan urusan di toko buku, Dira pamit pulang terlebih dahulu. Sedangkan Decha dan Jia ingin ke supermarket untuk membeli beberapa keperluan.
Dira pulang menggunakan taksi online. Andai ia sudah diperbolehkan menyetir, pasti saat ini ia akan membawa mobil sendiri. Apalagi mobil pemberian sang ayah pada hari jadinya ke-17 belum pernah dipakai sama sekali. Sayang kalau harus disimpan terus di dalam garasi.
Sesampainya di rumah, Dira tidak menemukan seorang pun di sana, hanya ada para pelayan hilir mudik membersihkan rumah. Dilihat dari jam yang sudah menunjukkan pukul 4 sore, kedua adiknya pasti sudah pulang dari sekolah satu jam yang lalu. Akhirnya ia memilih untuk melihat si kembar di kamar masing-masing.
Tok... tok... tok...
Pertama yang dikunjunginya adalah kamar Arsyi. Selang beberapa detik setelah ia mengetuk pintu, si empunya kamar pun membukanya.
"Lagi apa?" tanya Dira sembari menelisik ke dalam kamar adiknya.
"Bikin tugas. Kakak baru pulang?" Arsyi balik bertanya.
"Iya. Arsha mana? Apa dia ada di kamar?" Dira menengok ke pintu kamar Arsha yang tertutup.
__ADS_1
"Iya, kayaknya molor deh, Kak."
"Hm, biarkan saja, mungkin dia capek. Oh ya, mama di mana?" tanya Dira lagi. Pasalnya ia tidak menemukan keberadaan sang ibu yang biasanya selalu berada di rumah ketika anak-anaknya pulang.
"Ka ta Mbok Tin, siang tadi mama ke kantor papa buat nganterin makan siang," balas Arsyi.
"Oh, kalau begitu ya sudah. Kakak ke kamar dulu, lanjutkan tugasmu!" pamit Dira.
Drrtt... drrtt... drrtt
Baru saja Dira berbalik, getar di ponsel menghentikan langkahnya. Ia menatap layar dan tertulis Papa sebagai ID si penelepon. Dengan cepat ia mengangkat panggilan itu.
"Halo Pa..."
"Nak, ke rumah sakit sekarang, mama mau melahirkan!"
"Apa!" pekik Dira.
Arsyi yang belum sempat menutup pintu kamarnya pun terkejut mendengar teriakan kakaknya.
"Di rumah sakit mana, Pa!" tanya Dira.
"Dek, cepat ganti baju! Kita harus ke rumah sakit karena mama akan melahirkan," suruh Dira.
"Apa? Baiklah, Kak." Tanpa membuang waktu lagi Arsyi masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya.
Sementara Arsyi ganti baju, Dira menerobos masuk ke kamar Arsha. Untungnya pintu kamar adik laki-lakinya itu tidak dikunci.
"Arsha!"
Benar saja, Arsha sedang tidur sembari memeluk guling kesayangannya. Dira langsung saja membangunkannya dengan cara menggoyangkan badan adiknya itu.
"Enghh..." Arsha menggeliat lalu mengubah posisi tidurnya.
"Arsha! Kita harus ke rumah sakit, mama mau melahirkan!" ucap Dira dengan nada tinggi tepat di telinga Arsha.
"APA?!" Arsha langsung terlonjak bangun. Matanya yang semula tertutup kini terbuka semua.
"Cepat ganti bajumu! Kakak dan Arsyi tunggu di bawah."
__ADS_1
Dira langsung meninggalkan kamar Arsha. Saat keluar, ia bertemu dengan Arsyi. Sama-sama mereka turun ke bawah, karena harus mencari sopir untuk mengantar ke rumah sakit.
...****************...
Sekarang, ketiga putra-putri Ajeng sudah sampai di rumah sakit. Mereka melihat Cakra sudah berdiri di depan ruang operasi.
"Pa, bagaimana keadaan mama?" tanya Arsha khawatir.
Cakra yang melihat kemunculan ketiga anaknya lantas memeluk mereka semua.
"Do'akan agar mama bisa berjuang untuk melahirkan adik kalian." Suara Cakra terdengar lirih dan wajahnya pun pucat.
Deg
Mata Arhsa membola begitu menyadari ada noda darah di kemeja ayahnya. "Itu darah mama ya, Pa? Kok banyak sekali, mama tidak apa-apa 'Kan, Pa?" Remaja itu menjadi semakin khawatir.
"Maafkan papa, Nak. Papa lalai menjaga mama hingga dia harus jatuh dan pendarahan," aku Cakra terisak.
Arsha mengepalkan kedua tangannya. "Makanya, Pa... aku tidak mau mama hamil lagi karena ini. Aku tidak ingin kehilangan mama, Pa!" teriak Arsha. Tubuh remaja itu merosot ke lantai ubin yang dingin.
"Tenang, Sha. Jangan seperti ini. Kita harus ber'doa agar mama dan adik baik-baik saja.
"Argghh... kalau mama sampai kenapa-napa, lebih baik aku mati saja!" pekik Arsha, asal.
PLAK
Telapak tangan Dira langsung mendarat di pipi putih adiknya.
"Jangan sembarang bicara kamu, Sha. Kakak nggak suka dengernya," protes Dira, marah.
"Maaf..." Arsha tertunduk dalam menunggu operasi Ajeng selesai dilakukan.
...Bersambung...
Terima kasih sudah membaca😊
Jangan lupa Like, Vote dan Comment 🙏🏻
Berikan juga
__ADS_1