
...🌷 Selamat Membaca🌷...
Dira masuk ke dalam ruang inap ibunya setelah sebelumnya menerima telepon dari Lingga yang berada di Semarang, menempuh pendidikan kepolisiannya.
"Udah selesai teleponannya, Nak?" tanya Cakra seraya menepuk tempat duduk di sebelahnya, meminta Dira untuk duduk di dekatnya.
"Iya, Pa." Dira mendudukkan tubuhnya dengan mata terarah pada sang ibu yang sedang memberikan ASI untuk adiknya. Padahal ia ingin sekali menggendong bayi mungil itu, tapi sepertinya harus ditunda dulu untuk beberapa saat.
Setelah Ajeng selesai memberikan ASI, ia meminta Cakra untuk menaruh bayinya yang tertidur ke dalam ranjang bayi. Lagi-lagi, Dira harus menahan keinginannya karena tidak ingin menganggu tidur sang adik.
Beberapa menit kemudian, pintu ruangan Ajeng diketuk dari luar. Setelah Cakra membukakkan pintu, masuklah Radi dan Rina. Mereka datang membawa beberapa bingkisan sebagai kado untuk kelahiran anggota baru di keluarga Adibrata. Radi sebagai kakak Ajeng turut berbahagia, karena sang adik memberinya satu keponakan lagi.
"Selamat, Jeng..." ucap Radi sembari memeluk Ajeng.
Cakra melotot melihat bagaimana istrinya dipeluk oleh pria lain, tapi ia tidak bisa berkomentar karena ia tahu bahwa hubungan di antara Radi dan Ajeng adalah murni hubungan kakak dan adik, walau mereka dulu pernah hidup bersama sebagai pasangan suami-istri.
"Apa kabar, Bu?" Radi dan Rina tak lupa bersalaman dengan Tyas selaku orang yang lebih tua.
"Bai mk, Nak Radi. Ibu perhatian Nak Radi dan istri semakin kompak saja, pakaiannya serasi terus..." puji Tyas.
"Haha iu bisa saja..." Radi tersenyum segan mendengar pujian itu.
__ADS_1
"Ayah, Bunda..." Dira menghampiri dan menyalami kedua orang tuanya yang lain.
"Nggak kuliah, Nak?" tanya Radi sambil mengelus kepala putrinya.
"Nggak, Yah. Dosen yang mengajar hari ini berhalangan hadir, jadi kelas ditiadakan," jawab Dira.
Radi mengangguk paham. Ia dan istrinya langsung menuju ke ranjang bayi untuk bisa melihat malaikat kecil yang baru lahir itu.
"Lihatlah pria kecil ini, dia begitu mirip denganmu, Cakra!" Radi memberi pendapat.
"Oh, iya dong. Kan aku papanya..." pungkas Cakra pongah.
Dira berdiri di dekat ranjang adiknya. Ia melihat si bayi yang sebelumnya tidur mulai membuka mata. Dira bersorak senang karena ini waktunya ia untuk menggendong sang adik.
"Ma, boleh aku gendong adik?" tanya Dira. Kebetulan saat ini yang berada di ruangna itu hanya Radi, Ajeng dan si bayi, sedangkan Cakra dan ibunya pergi makan siang. Dira malas pergi, jadi ia minta dibungkuskan makanan saja.
"Boleh, Nak. Apa kamu bisa?" balas Ajeng.
"Aku mau coba dulu, Ma..." Dengan hati-hati Dira mengambil sang adik untuk masuk ke dalam gendongannya. Rasanya sangat aneh, karena baru kali ini ia mencoba menggendong bayi baru lahir. Ada sedikit rasa cemas, kalau-kalau ia menyakiti tubuh lunak adiknya.
Ajeng tersenyum melihat Dira yang sedang mengayun-ayunkan Athar. Terlihat seperti seorang ibu yang meninabobokan anaknya.
__ADS_1
"Oh ya, Nak. Nenek sudah memberikan nama yang bagus untuk adik kamu..." ucap Ajeng.
"Siapa, Ma?" tanya Dira sekilas kemudian kembali fokus pada wajah menggemaskan adiknya.
"Atharrazka, bagaimana menuturmu?"
"Nama yang bagus, Ma. Nanti kita bisa memanggilnya dengan Azka..." jelas Dira.
Ajeng terkekeh. Ternyata ia punya pendapat yang sama soal panggilan untuk si kecil.
"Papa mau kalau adik kamu dipanggil Athar saja..." kadu Ajeng.
"Athar juga bagus, tapi Azka lebih cocok..." pendapat Dira.
Ajeng bersorak, ia akan membuat semua anak-anaknya memanggil Atharrazka dengan panggilan Azka.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, vote dan comment 🙏🏻
Terima kasih sudah membaca 😊
__ADS_1