2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 35. Ajeng Siuman


__ADS_3

...🌷 Selamat Membaca🌷...


Cakra telah memesan kamar VIP untuk perawatan Ajeng ketika ia sudah bisa keluar dari ruang HCU nanti. Selain itu, ia dan Arsha yang memutuskan untuk tetap tinggal di rumah sakit, akan menginap di sana untuk malam ini.


"Pa..." Arsha memanggil Cakra yang sedang asyik menatap bayinya melalui dinding kaca.


Cakra menoleh dan menemukan Arsha berjalan ke arahnya sambil menenteng sesuatu di tangannya.


"Ada apa, Nak?" Cakra bertanya hati-hati, ia yakin jika putranya itu masih memendam rasa kesal terhadapnya.


"Sebaiknya kita makan dulu, aku sudah membeli makanan untuk kita," ucap Arsha seraya mengangkat kantong kresek yang ditentengnya.


"Baiklah. Kita makan saja di ruang perawatan yang sudah papa sewa untuk mama," ajak Cakra. Arsha mengangguk dan berjalan mengekori Cakra yang sudah melangkah terlebih dahulu.


.......


Selama makan, tidak ada satu orang pun yang bersuara. Ayah dan anak itu menyantap makanan dalam diam, sementara pikiran keduanya terus tertuju pada Ajeng yang saat ini berada di ruang perawatan intensif seorang diri.


Cakra menyudahi acara makannya. Ini adalah proses makan terlama yang pernah ia lalui, kenapa? Karena nafsu makannya sama sekali tidak ada, tapi tetap harus makan agar kondisinya tetap fit dan bisa terus menjaga sang istri.


Hal yang sama juga terjadi pada Arsha, remaja itu sebenarnya juga tidak berselera makan, tapi tetap harus menghabiskan makanannya karena Cakra akan marah kalau anak-anaknya membuang makanan.


"Pa..." Saat Cakra ingin bangkit dari duduknya di sofa, panggilan Arsha mengentikan pergerakan bapak lima anak itu.


"Ya, Nak?" Cakra memutuskan untuk duduk kembali dan mendengarkan dengan seksama apa yang ingin dikatakan oleh putranya.


Arsha menatap wajah ayahnya yang kuyu bercampur lelah dengan perasaan bersalah. Beberapa saat yang lalu, ia sudah merenung dan memikirkan semuanya di taman rumah sakit. Tak seharusnya ia menyalahkan sang ayah, dan memusuhinya. Bukan hanya dirinya saja yang sedih di sini, tapi ayahnya juga tak kalah terpuruk, melihat istri yang dicintainya terbaring tak berdaya di ranjang pesakitan.


"Maafkan aku, Pa!" ucap Arsha bergetar, berusaha menahan tangis.


Cakra beranjak dan duduk tepat di sebelah putranya. Ia mengusap pundak remaja itu yang terlihat turun naik.


"Tidak apa-apa, Nak. Papa mengerti bahwa kamu begitu mengkhawatirkan keadaan mama..." balasnya lembut.


"Maafin aku, Pa..." Sekali lagi Arsha mengucap maaf. Mungkin itu tidaklah cukup untuk bisa menebus kesedihan yang sudah ia berikan pada sang hero di keluarganya.


"Sudah lah, Nak. Papa sungguh tidak apa-apa..." Cakra memeluk putranya yang mulai terisak.


.......

__ADS_1


Dira dan Arsyi memilih untuk menginap di kediaman sang nenek. karena kalau hanya berdua di rumah, mereka akan merasa kesepian.


"Nek, lihat! Ini cucu baru nenek..." Arsyi dengan semangat memperlihatkan foto adik barunya pada sang nenek yang duduk di sampingnya.


Tyas menatap lekat potret yang ditunjukkan oleh cucunya. Sesosok bayi mungil yang dibedong dengan kain berwarna biru.


"Melihatnya membuat nenek teringat saat pertama kali menatap wajah papamu sesaat setelah dilahirkan. Wajah mereka bagai pinang dibelah dua..." Jelas Tyas, bernostalgia.


"Iya, Nek. Kalau aku perhatikan adik bayi memang sangat mirip dengan papa..." pungkas Arsyi, membenarkan.


"Nenek sudah tidak sabar untuk segera menggendongnya, besok kita ke rumah sakit, ya?" ajak Tyas.


Arsyi terdiam, neneknya sama sekali belum tahu bagaimana kondisi ibunya.


"Iya, Nek. Besok kita pergi ke rumah sakit..." Dira yang menjawab.


"Nenek sudah tidak sabar..." Wajah Tyas berbinar.


Dira tersenyum, ia berharap esok hari ibunya sudah siuman. Tadi Radi juga sudah diberitahu mengenai kondisi Ajeng, besok dia juga akan menjenguk adiknya itu ke rumah sakit.


.......


Cakra memberitahu sekretarisnya bahwa hari ini ia tidak bisa datang ke kantor dan meminta kakaknya Maya itu untuk menghandle semua pekerjaannya. Sementara Arsha sudah pulang terlebih dahulu karena hari ini ia harus masuk sekolah.


"Apa saya sudah boleh masuk, Dok?" tanya Cakra tak sabaran. Ia tak hentinya berucap syukur di dalam hati.


"Kita tunggu dokter keluar dulu ya, Pak."


"Baik, Sus."


Tak lama kemudian, dokter keluar. Cakra langsung menghampirinya.


"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?"


"Kondisi istri bapak sudah membaik, tidak terjadi masalah pasca operasi. Sebentar lagi Bu Ajeng sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan," jelas si dokter.


"Terima kasih, Dok..."


"Sama-sama, Pak. Kami akan menyiapkan kepindahan Bu Ajeng berserta baik bapak ke ruang rawat..."

__ADS_1


.......


Ajeng sudah berada di ruang rawat, Cakra dengan setia menggenggam tangan ibu dari anak-anaknya itu.


"Mas, kenapa bayi kita belum dibawa kemari?" tanya Ajeng seraya terus memerhatikan pintu masuk.


"Sabar, sayang. Sebentar lagi perawat akan membawanya masuk."


Tak sampai satu menit setelah Ajeng bertanya, perawat pun masuk sambil mendorong ranjang bayi.


"Ini bayi bapak dan ibu. Bayinya sudah bisa diberi ASI ya, Bu..." ucap si perawat.


"Baik. Terima kasih banyak ya, Sus."


Perawat itu pun keluar dan membiarkan keluarga itu menikmati waktu mereka.


"Mas, bawa bayiku kemari. Aku ingin menyu suinya..." pinta Ajeng.


"Iya, sayang..."


Dengan hati-hati Cakra menggendong bayinya dan menyerahkannya pada Ajeng.


Ajeng menatap haru wajah putranya. Ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa wajahnya harus mirip kamu lagi sih, Mas!" protes Ajeng. Pasalnya, semua anaknya bersama Cakra, selalu memiliki kemiripan dengan pria itu.


Cakra terkekeh. "Dia 'kan baru lahir, sayang. Nanti kalau udah besar, mungkin lebih mirip kamu..." terangnya. Soalnya, ketika Arsha dan Arsyi lahir, mereka berdua juga lebih mirip dengan Cakra, tapi semakin bertambah besar, wajah keduanya mulai menunjukkan perpaduan sempurna antara wajah kedua orang tuanya.


"Kamu benar, Mas..."


Tanpa banyak kata lagi, Ajeng segera menyu sui bayinya. Bayi tampan itu tampak rakus meminum sumber makanannya.


"Kita beri nama siapa bayi kecil ini, sayang?" tanya Cakra.


Ajeng terdiam sejenak. "Mas, bagaimana kalau kita minta ibu untuk memberinya nama?" usul Ajeng.


Cakra tersenyum dan mengangguk. "Boleh, nanti kita tanya ibu..."


Ajeng kembali memerhatikan bayinya, sementara Cakra mulai larut dalam pemikirannya. Saat ini ia sedang memikirkan cara bagaimana cara memberitahukan pada Ajeng bahwasanya wanita itu sudah tidak memiliki rahim lagi.


...Bersambung...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 😊


Jangan lupa Like, Vote dan Comment🙏🏻


__ADS_2