
...🌷Selamat Membaca🌷...
Sudah dua jam Radi berkendara menuju kampung halaman Rina. Kata gadis di sampingnya itu, sebentar lagi mereka akan sampai.
Radi melirik Rina yang duduk di sampingnya. Sedari tadi wanita itu tak berhenti menangis sembari terus menatap layar ponsel jadulnya. Entah apa yang telah terjadi di kampung gadis itu, Radi penasaran sementara Rina tidak meberitahukannya masalah itu.
Mobil Radi terlonjak-lonjak saat mereka mulai memasuki jalanan kampung yang belum diaspal, dan penuh bebatuan.
"Maafkan saya, Tuan." Rina terisak. Ia merasa telah sangat merepotkan majikannya itu.
"Ah, berhentilah menangis! Kau membuatku tidak bisa berkonsentrasi!" hardik Radi. Jalanan yang buruk ini membuatnya kesal ditambah harus mendengar tangisan Rina.
Rina terdiam, ia menutup mulutnya agar suara tangisannya tak lagi terdengar dan mengganggu sang majikan.
"Di sini saja, Tuan."
Kepala Radi melongok ke luar jendela, ternyata sudah tidak ada jalan untuk mobilnya. Di depannya sekarang hanya ada jalan kecil yang diapit oleh sawah di kanan dan kirinya.
"Rumah saya ada ujung sana, Tuan. Harus melintasi persawahan dulu," kata Rina.
Mata Radi menajam ke arah yang ditunjuk Rina, di ujung sana memang ada sebuah pencahayaan remang-remang, mungkin di situlah tempat tinggal asisten rumah tangganya ini.
"Terima kasih karena sudah mau mengantrakan saya, Tuan. Kalau begitu saya permisi." Rina menjinjing tasnya dan bersiap keluar.
"Tunggu!" Suara Radi seketika menghentikan pergerakannya.
"Iya, Tuan?"
"Kau tahu jam berapa sekarang?" tanya Radi dengan wajah dinginnya.
Rina langsung melirik jam digital yang ada di atas dashbord mobil. "Jam 12 kurang lima, Tuan..." jawabnya polos.
Radi berdecak. "Dan kau akan membiarkan majikanmu ini kembali ke kota di tengah malam begini? Kau pikir aku tidak lelah setelah berkendara lebih dari dua jam?"
Deg
Rina tersentak, kepanikan justru membuatnya melupakan majikan yang sudah berbaik hati mengantarkannya sejauh ini.
"A-apa Tuan mau istirahat semalam di rumah saya?" tawar Rina.
"Lalu kau pikir aku harus tidur di mobil sempit ini?" ketus Radi.
"Maafkan saya, Tuan."
"Sudahlah, sekarang ayo kita pergi!" Radi keluar dari mobilnya.
Mereka berdua menyusuri jalan setapak di persawahan yang suasananya gelap gulita. Untung saja ada senter di ponsel Radi hingga bisa menjadi penerangan untuk mereka berjalan. Sepanjang jalan, suara kodok sawah saling bersahut-sahutan, dan baru kali ini Radi mendengarnya. Biasalah, orang kota pertama kali masuk desa.
"Ini rumah saya, Tuan."
Kini mereka telah berdiri di sebuah bangunan kecil dari kayu. Walaupun bangunan itu terlihat tak layak disebut sebagai rumah dimata Radi, tapi setidaknya lingkungan di sekitar rumah itu tidaklah kotor.
"Ayo, Tuan!" ajak Rina.
Radi mengekor di belakang Rina. Suasana di tempat itu cukup menyeramkan. Hanya ada tiga rumah yang letaknya tak berjauhan, selain itu lampu yang menerangi ketiga rumah itu hanya lampu led classic bercahanya kuning yang mulai redup.
Tok... tok... tok...
Tak berselang lama, seorang pria tua muncul dari balik pintu yang terbuka.
"Bapak!" Rina langsung menghambur memeluk pria yang dipanggilnya bapak itu.
"Rina, kau pulang, Nak..."
__ADS_1
Radi melihat pria itu mengelus sayang surai Rina, sejauh ini ia menduga jika beliau adalah bapaknya Rina.
"Pak, bagaimana keadaaan Reyhan? Apa panasnya sudah turun?" tanya Rina sarat kekhawatiran.
Pria tua itu menggeleng lemah, wajahnya tampak putus asa. "Panasnya masih tinggi, Nak."
"Reyhan!" Rina langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Radi terdiam, ia merasa canggung saat bapak Rina memandangnya penuh telisik.
"Maaf, Tuan siapa, ya?" tanya bapak Rina sopan. Ia sengaja memanggil Radi dengan sebutan tuan karena melihat penampilan pria itu yang gagah seperti orang kaya di kota.
"Ah, maaf atas tidak kesopanan saya. Perkenalkan saya Radi, majikan Rina di kota." Radi mengulurkan tangan.
Wajah tua yang terlihat letih itu tersenyum. "Ah, maafkan kami, Tuan. Rina pasti telah merepotkan anda, sampai anda harus mengantanya kemari malam-malam begini," ucapnya tak enak hati. "Dan perkenalkan, saya Dadang, bapaknya Rina." Disambutnya uluran tangan Radi dengan canggung.
"Ah, iya." Radi dapat merasakan jika tangan pak Dadang yang bersalaman dengannya terasa kasar dan keras. Terbayang sudah kehidupan seperti apa yang sudah dilalui oleh pria tua itu. Radi merasa iba.
"Silakan masuk, Tuan. Maaf rumah kami kecil dan sempit," kata pak Dadang segan.
"I-iya, Pak. Tidak masalah." Radi memperhatikan bagian dalam rumah tersebut. Kalau boleh bilang, rumah ini hanya sebesar kamar tidurnya di rumah, atau mungkin lebih kecil.
"Silakan duduk, Tuan! Saya akan ke belakang sebentar."
Radi mengenyakkan tubuhnya ke atas kursi rotan yang ada di ruangan itu, terasa keras dan tidak nyaman.
Samar-samar, Radi mendengar suara tangisan dari ruangan sebelah. Itu seperti suara Rina. Penasaran, ia bangkit hendak menuju asal suara, tapi pak Dadang muncul dan menghentikannya.
"Mau kemana, Tuan?" tanya pak Dadang. Ia datang membawa segelas air putih untuk tamunya. Diletakkannya air itu di atas meja.
"Ah... tidak." Radi memilih duduk kembali.
"Silakan diminum, Tuan. Maaf, cuma ada air putih." Pria tua itu lagi-lagi meringis malu, karena kehidupannya yang serba kekurangan hingga tak bisa menjamu tamunya dengan baik.
Pak Dadang terharu menyaksikan kerendahan hati majikan putrinya. Ia pikir, orang kota itu akan angkuh dan memandang orang miskin seperti mereka dengan sebelah mata. Namun, nyatanya masih ada yang memiliki budi baik seperti pria gagah yang ada di hadapannya ini.
"Oh ya, Pak. Kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Rina terlihat sangat khawatir?" Hal yang membuat Radi penasaran, akhirnya ia tanyakan juga.
"Itu, Tuan... Reyhan sudah dua hari ini demam. Panasnya tinggi sekali, kami sudah membawanya ke puskesmas dan memberinya obat, tapi panasnya tidak turun-turun juga."
"Reyhan? Apa dia adiknya Rina?" tanya Radi.
Pak Dadang menggeleng. "Reyhan adalah anaknya Rina."
Deg
"Anak?" pekik Radi tak percaya. Ia sama sekali tidak tahu kalau Rina sudah menikah dan memiliki anak. Wajar saja sih, saat ia meminta wanita itu untuk bekerja padanya, ia sama sekali tidak melihat latar belakangnya terlebih dulu. Hanya mengiyakan, saat agen menyodorkan Rina padanya.
"Iya, Tuan. Anak Rina saat ini sudah berumur dua tahun."
"Lalu suaminya?" tanya Radi kemudian.
"Mereka sudah berpisah." Kepala pak Dadang tertunduk saat mengatakannya.
"Jadi Rina adalah seorang janda? Tak ku sangka, dengan tubuh mungil dan wajah khas anak remaja itu, ku pikir dia masih gadis..." batin Radi shock.
Akhirnya malam itu, Radi tidur di rumah Rina bersama dengan bapaknya wanita itu.
.......
"REYHAN!"
Paginya Radi tersentak bangun saat mendengar suara teriakan Rina yang memanggil nama anaknya. Pria itu langsung bergegas menuju ruangan di mana wanita itu berada.
__ADS_1
"Reyhan..." Rina meraung melihat kondisi putranya yang semakin memprihatinkan. Tubuh kecil putranya menggigil dan ruam merah mulai muncul di kulitnya.
"Pak, kita harus membawa Reyhan ke rumah sakit." Seorang wanita paruh baya bicara pada pak Dadang.
"Bagaimana cara kita membawanya, Bu. Rumah sakit sangat jauh."
Melihat semua orang yang mulai panik, Radi yang semula hanya berdiri di ambang pintu, merangsek masuk.
"Ayo, Rin. Kita bawa anakmu ke rumah sakit." Tanpa membuang waktu, Radi segera menggendong Reyhan keluar. Ia akan mengantarkan putra Rina itu ke rumah sakit menggunakan mobilnya.
Melihat itu, Rina dan kedua orang tuanya menyusul di belakang.
Radi berlari menyusuri jalan kecil itu sembari menggendong tubuh lemah Reyhan. Beberapa warga sekitar yang melihat hal itu mulai bertanya-tanya.
.......
Bu Tuti selaku ibunya Rina tak henti-hentinya mengusap punggung putrinya yang tak henti menangis sedari Reyhan dibawa masuk ke ruang UGD sebuah rumah sakit.
"Tenanglah, Nak. Reyhan pasti baik-baik saja."
Tak la ma kemudian, dokter yang memeriksa Reyhan keluar.
"Bagaimana keadaan cucu saya, Dok?" tanya pak Dadang.
"Setelah diperiksa, cucu anda mengalami gejala demam berdarah. Untung segera dibawa ke rumah sakit, jadi kami bisa menanganinya dengan cepat sebelum bertambah parah."
Pak Dadang terduduk lemas. Ia pikir ia akan kehilangan cucu satu-satunya itu.
"Jadi, Dok?" tanya Radi.
"Pasien harus dirawat inap di rumah sakit, saat ini dia sedang diinfus karena dehidrasi. Apakah sebelumnya pasien sempat muntah?" tanya dokter.
"Iya, Dok. Semalam dia muntah-muntah," jawab Bu Tuti.
"Baiklah, sepertinya pasien harus dirawat dua sampai tiga hari kedepan. Sama-sama berdo'a agar pasien cepat pulih."
"Terima kasih, Dok..." ucap Radi.
Dokter pergi meninggalkan mereka. Lima belas menit kemudian, beberapa perawat memindahkan Reyhan ke ruang rawat inap.
"Suster, tolong pasien diberikan ruangan yang bagus!" kata Radi pada suster yang membawa Reyhan.
"Baik, Pak. Silakan urus administrasinya terlebih dahulu."
"Baik." Radi segera menuju bagian administrasi dan menyelesaikan segala hal yang berhubungan dengan keuangan.
Siang harinya, Radi pamit pulang. Rina dan keluarganya mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuan Radi kepada mereka.
"Rin, simpanlah ini untuk berjaga-jaga." Radi menyelipkan beberapa helai uang merah ke tangan Rina.
"Tapi, Tuan..."
"Terimalah atau aku akan marah!"
"Terima kasih banyak, Tuan."
...Bersambung...
Terima kasih sudah baca😊
Jangan lupa Like & Comment...
Bagi yang menunggu momen Ajeng dan Cakra harap bersabar ya, kita ikuti saja alurnya dulu...
__ADS_1