
...🌷Selamat Membaca🌷...
8 bulan kemudian...
Saat ini Ajeng berada di ruang operasi. Mempertaruhkan nyawa untuk melahirkan keturunannya ke muka bumi ini. Cakra ada di sampingnya dengan setia menemani.
Oekkk.... oekk.... oekk...
Akhirnya setelah penantian panjang, lahirlah anak ketiga dari pasangan Cakra-Ajeng yang berjenis kelamin perempuan. Dokter menunjukkan bayi kecil itu pada kedua orang tuanya.
Cakra menangis bahagia, kini rumahnya kembali ramai dengan kehadiran anggota baru. "Terimakasih sayang, kau kembali memberiku seorang putri yang cantik ." Cakra mengecup kening istrinya.
Ajeng tersenyum, ia turut merasa bahagia karena telah berhasil melahirkan bayi pertamanya di kehamilan ketiga ini. Dan kini, di bawah sana dokter masih berusaha untuk mengeluarkan anak keduanya.
"Oekkk.... oekkk... oekk..."
"Selamat, Pak, Bu. Anak kedua kalian berjenis kelamin laki-laki." Dokter kembali menunjukkan seorang bayi merah ke hadapan Cakra dan Ajeng.
Tangisan itu kembali pecah, siapa orang tua yang tidak akan menangis bahagia kala dianugerahi sepasang bayi kembar, perempuan dan laki-laki.
"Terima kasih sayang, kali ini kau sudah memberikanku pangeran yang sangat tampan." Cakra mengecup seluruh permukaan wajah istrinya sebagai bentuk rasa terima kasihnya yang tak terkira.
...****************...
Kediaman Cakra dan Ajeng saat ini ramai dengan tamu yang datang untuk menyambut kepulangan Ajeng dari rumah sakit, sekaligus untuk melihat bayi kembar mereka.
"Adik..." Aleeya terus menempel pada Cakra sambil mata bulatnya memperhatikan sang adik yang berada di dalam gendongan sang ayah.
"Eya sayang adik?" tanya Cakra sembari memandang putri gembulnya yang saat ini hampir berusia dua setengah tahun.
"Ayang.. " jawab si kecil Eya.
"Pintarnya putri papa ini." Cakra merangkul sayang putrinya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya masih menggendong putri lainnya.
"Sudah berapa bulan, Tan?" tanya Ajeng saat melihat Tania datang dengan perut buncitnya.
"Enam bulan..." jawab Tania dengan senyum bahagianya. Akhirnya, pasangan Bagas-Tania mendapatkan anugerahnya kembali tak lama setelah pembicaraan mereka pada malam itu.
"Dedek Dira, main yuk!" ajak Reyhan pada sang adik yang sedang duduk manja di atas pangkuan sang ayah, Radi. Saat ini Reyhan sudah berusia lima setengah tahun dan hampir selesai dengan pendidikan di taman kanak-kanaknya.
"Ayuuk..." balas Dira. Ia turun dari pangkuan Radi dan pergi bersama kakaknya ke halaman belakang. Mereka hanya berdua karena Rayyan saat ini tengah tertidur lelap di dekapan ibunya.
"Ma, boleh aku ikut adik-adik itu?" tanya seorang bocah lima tahunan pada ibunya.
"Boleh, Nak. Pergilah!" kata ibunya, yaitu Tania. Bocah itu tak lain adalah Arka.
__ADS_1
"Makasih, Ma." Arka tersenyum dan bersiap mengejar dua bocah yang sudah pergi terlebih dahulu itu, tapi suara cempreng Eya menghentikan langkahnya.
"Tatak Ata, ituttt...." pekik Eya. Ia segera menghambur turun dan mengejar Arka dengan kaki mungilnya yang berisi. Ajeng tersenyum gemas melihat tingkah putri manisnya itu.
"Arka, jagain adik-adiknya, ya?" pinta Ajeng.
"Iya, Tante." Arka mengangguk lantas menggandeng tangan Eya pergi menyusul Reyhan dan Dira.
Kembali ke para orangtua yang sedang duduk manis di ruang tamu.
"Oh ya, sudah sedari tadi kami di sini, tapi belum tahu siapa nama anak kembar kalian yang cantik dan tampan ini," celetuk Bagas.
Cakra tersenyum dan menjawab. "Anak perempuan kami bernama Arsyilla Quinn Adibrata, panggilannya Arsy."
"Dan anak laki-laki kami bernama Arshaka Malik Adibrata, panggilannya Arsha," sambung Ajeng.
"Arsyi dan Arsha, nama yang sangat bagus..." ucap Radi dan dianggukki yang lainnya.
"Ada niat buat nambah anak lagi, nggak?" goda Bagas pada Cakra.
Dengan cepat Cakra menggelengkan kepalanya. "Tidak, kasihan istriku jika harus hamil lagi. Empat anak sudah cukup bagi kami. Sekarang tugas kami hanya memastikan jika keempatnya mendapatkan kasih sayang berlimpah dan kami juga akan mengantarkan mereka semua menuju masa depan yang cerah."
...****************...
"Ibu, apa lagi ini?" Cakra tepuk jidat melihat berbagai macam hadiah dibawa masuk oleh ibunya.
Tyas cemberut. "Apa kau tidak bisa lihat? Ini semua adalah hadiah untuk cucu kembar ibu," balasnya.
"Tapi waktu di rumah sakit ibu juga sudah memberikan hadiah, kenapa harus hadiah lagi? Bisa penuh rumah kami dengan semua hadiah-hadiah ini," gerutu Cakra. Semenjak memiliki cucu darinya, ibunya sering bertingkah berlebihan.
Tyas yang kesal mencubit lengan bungsunya. "Ah, cerewet sekali anakmu ini Pak Guntur!" Diliriknya sang suami dengan tatapan sinis.
"Iya, Bu. Keturunanmu itu..." Guntur tak mau kalah, ia membalas ucapan istrinya.
"Keturunanmu juga..." sambung Tyas yang juga tak mau kalah.
"Kakek, Nenek, jangan berdebat!" Anjani menghentikan perdebatan unfaedah kakek neneknya.
Setelah kedua orang berumur itu terdiam, baru Anjani berujar kembali. "Paman, di mana adik-adik baruku? Saat di rumah sakit waktu itu, aku tak sempat melihatnya?" tanya bocah perempuan yang sudah duduk di bangku sekolah dasar itu.
"Ada di kamar, ayo kita ke sana!" ajak Cakra pada dua keponakannya.
"Ayo, Paman." seru Anjani dan Arjuna bersamaan.
"Kami juga ikut!" ucap dua pasangan, Guntur-Tyas dan Rama-Sinta.
__ADS_1
...**************** ...
Malam ini Cakra menatap bintang dari atas balkon kamarnya. Tiba-tiba sepasang lengan menyusup dan melingkar di perutnya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan istrinya tercinta.
"Kemari!" Cakra menarik tubuh Ajeng ke depan. Bergantian, kini ia yang memeluk wanitanya dari belakang.
"Anak-anak sudah tidur?" tanya pria itu.
"Sudah." Ajeng bersandar nyaman di dada bidang sang suami.
"Ah...aku sangat bahagia." Cakra berbisik lirih di telinga Ajeng.
"Aku juga sangat bahagia." Ajeng menimpali.
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku dan memberikan empat malaikat yang lucu-lucu. Kini, rumahku tidak akan sepi lagi."
"Ya, aku juga berterima kasih. Kau sudah membuatku menjadi wanita paling beruntung di dunia ini. Memiliki suami yang tampan, pengertian, setia dan juga begitu mencintaiku."
"Aku mencintaimu, Ajeng..."
"Aku juga mencintaimu, Mas Cakra..."
Cakra membalik tubuh istrinya, kini mereka saling berhadapan.
Cup
Dikecupnya kening Ajeng sangat lama, menyalurkan buncahan rasa bahagia yang memenuhi rongga dadanya.
Mereka bertatapan dengan mesra, Cakra mengelus pipi Ajeng yang masih terlihat gembil pasca hamil beberapa waktu lalu. Setitik air mata lolos dari manik hitam sekelam malam miliknya.
"Jangan menangis!" Ajeng mengusap air mata Cakra. Wanita itu ikut menangis saat melihat suaminya menitikkan air mata.
"Kau kenapa ikutan menangis juga?" tanya Cakra terkekeh.
"Aku terharu..."
"Ini tangis bahagia, sayang."
Cakra mendekap Ajeng dalam dadanya. Malam itu mereka habiskan waktu berdua dengan mengenang semua hal bahagia yang terjadi di dalam hidup, melupakan semua kenangan pahit yang menyertainya.
...The End...
Terima kasih sudah setia membaca kisah pasangan-pasangan yang tertukar ini. Jangan lupa Like, Vote dan Comment.🙏🏻😊
Nantikan Extra Partnya, ya....
__ADS_1