
...๐ทSelamat Membaca๐ท...
Silvia duduk termenung di ruang kerjanya, ia tengah memikirkan hubungannya dengan Cakra yang mulai membosankan. Suaminya berubah drastis, yang dulunya sangat romantis kini menjadi apatis. Ia sadar jika semua ini adalah kesalahannya sendiri, tapi bukankah Cakra sudah memberinya kesempatan kedua, lalu kenapa ia justru diperlakukan seperti seseorang yang tak lagi dibutuhkan, kecuali untuk menghasilkan anak sesuai dengan keinginan pria itu.
Jenuh, pernikahan yang sudah berjalan lebih tiga tahun itu akhirnya membuat Silvia bosan. Ia muak diperlakukan dengan seenaknya saat Cakra memaksa bercinta hanya untuk membuat dirinya hamil. Tidak ada kehangatan maupun kemesraan yang didapatnya, hanya ada luka dan nestapa.
Lalu, saat ada seorang pria datang, menawarkan diri untuk mengobati lukanya, memberinya apa yang tidak lagi ia dapatkan. Tidakkah terlalu naif dirinya jika menolak semua itu?
"Apa yang sedang kau pikirkan, hm?" Sebuah lengan kekar merangkulnya dari belakang, dilanjutkan dengan satu kecupan mesra di pipi.
Wanita cantik yang hanya mengenakan pakaian dal*m itu tersenyum sembari menatap pria yang tengah merengkuhnya. "Aku tidak apa-apa." Silvia, dialah wanita itu.
Si pria tidak percaya begitu saja mendengar ucapan Silvia setelah melihat ruat wajah wanita itu yang terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal. "Apa kau menyesal setelah apa yang kita lakukan barusan?" tebaknya.
Wanita itu menggeleng, ia mengubah posisinya menjadi menghadap si pria. Dilingkarkannya kedua lengan di leher pria yang bernama Satria itu.
"Aku tidak menyesal sama sekali. Justru, tadi itu adalah pengalaman yang sangat mendebarkan. Sudah lama aku tidak diperlakukan dengan begitu lembut seperti tadi. Kau berhasil membuatku merasa diinginkan lagi," jelas Silvia dengan suara rendah, mendayu.
"Aku akan memujamu sebanyak yang kau inginkan."
Satria mengangkat tubuh Silvia dan membaringkannya di ranjang. Mengulang kembali apa yang sudah mereka lakukan beberapa saat yang lalu.
"Jika suamimu tidak lagi menginginkan dirimu, jangan khawatir, akan selalu ada aku yang setia menunggu kehadiranmu di sini."
Itu adalah saat di mana untuk pertama kalinya Silvia mengkhianati janji suci pernikahannya dengan Cakra dengan membawa masuk pria lain ke dalam kehidupan rumah tangganya.
.......
"Ternyata kau lemah sekali, ditonjok Cakra bukannya melawan, malah meringkuk di kakinya seperti pengecut."
"Argghh, jangan mengomel terus. Lukaku terasa semakin sakit!" protes Satria pada Silvia yang tengah mengobati bibirnya yang pecah akibat pukulan tunggal Cakra.
"Iya... iya."
Selesai mengobati luka Satria, Silvia menyimpan kembali kotak obat yang tadi diambilnya dari dalam lemari.
"Mulai sekarang aku akan tinggal bersamamu di apartemen ini," putus wanita itu.
Satria mendelik tak suka. "Jangan memutuskannya seenak hatimu. Aku tidak akan membiarkanmu tinggal di sini," tolaknya.
"Ck, ternyata benar apa yang dikatakan Cakra. Kau hanyalah seorang pengecut, berani berbuat tapi tak berani bertanggung jawab."
"Diamlah! Lebih baik sekarang kau kembali ke rumah suami sialanmu itu, ish." Satria sedikit meringis di akhir kalimat karena bibirnya yang luka akan terasa perih jika dipaksakan untuk bicara.
"Kau tuli? Tidakkah tadi kau dengar jika dia sudah mengusirku?" bentak Silvia sewot.
"Kalau begitu kembali saja ke rumah orang tuamu!" suruh Satria seenaknya.
"Kau gila? Kau tahu berapa jauhnya kampung halamanku? Kau mau aku ke sana tengah malam begini?" semprot Silvia.
Satria mengacak rambutnya kesal, ia tidak pernah membayangkan jika semuanya akan jadi seperti ini. Bersama Silvia, niatnya hanya ingin main-main saja karena wanita itu tampak begitu menyedihkan diabaikan sang suami. Tak ada keinginannya untuk membawa wanita itu ke jenjang yang lebih serius. Setelah ini, Satria harus mencari cara agar bisa terlepas dari jerat Silvia.
"Malam ini kau boleh menginap di apartemenku, tapi besok kau harus pergi dan jangan ganggu aku lagi!"
Silvia tertawa miris, ia pikir dengan bersama Satria bisa membuatnya bahagia, tapi ternyata pria itu jauh lebih buruk dari pada Cakra. Menyesal, sudah tidak ada gunanya lagi. Saat ini, ia akan mengamankan posisinya di samping Satria. Akan ia buat pria itu bertanggung jawab dan menikahinya.
"Kau memanfaatkanku untuk kepuasan pribadimu, jadi sekarang terimalah semua akibatnya." silvia membatin.
Jika Cakra tidak bisa lagi kembali kepadanya, maka Silvia bertekad tidak akan pernah melepaskan Satria, sekali pun pria itu tidak lagi menginginkannya.
...๐๐๐...
Cakra baru saja menyudahi panggilan videonya dengan Ajeng ketika pintu ruangannya diketuk dari luar.
Sekretarisnya yang bernama Dhika masuk dengan membawa beberapa map dokumen.
__ADS_1
"Setelah ini tolong hubungi pengacaraku dan katakan jika aku memintanya datang ke kantor ini besok siang," pinta Cakr selesai membubuhi tanda tangan pada dokumen yang diserahkan Dhika.
"Baik, Pak."
"Ok. Sekarang kau boleh pergi," kata Cakra. Pria itu selanjutnya membuka laptop dan membaca beberapa laporan yang masuk ke emailnya.
"Maaf, Pak. Ada sesuatu yang harus ku katakan."
Tatapan Cakra beralih dari layar laptopnya. "Ada apa?"
"Saya ingin mengambil cuti yang waktu itu pernah saya katakan."
"Cuti? Oh... apa istrimu akan melahirkan?" tanyanya.
"Iya, saat ini dia sudah berada di rumah sakit. Karena kandungannya lemah, terpaksa harus menjalani operasi sesar."
"Baiklah. Kau ku beri ijin cuti selama seminggu."
"Terima kasih banyak, Pak."
"Sama-sama dan ya, ini ada sedikit rezeki untukmu dan keluargamu. Semoga anakmu lahir dengan sehat tanpa kurang suatu apapun. Jika sempat, aku akan menjengguk kalian nanti." Cakra menyerahkan amplop berisi uang pada Dhika.
Mata pria seusia Cakra itu berkaca-kaca, terharu dengan kebaikan yang ditunjukkan oleh bosnya.
"Jangan sungkan. Jika kau butuh bantuan, hubungi saja aku."
"Ya, terima kasih sekali lagi, Pak Cakra."
"Ya."
"Saya permisi."
Sampai di ambang pintu, Cakra memanggil kembali nama Dhika.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Bertanya soal apa?"
"Hm, apa kau memiliki saudara perempuan?"
"Ya. Saya memiliki dua orang adik perempuan."
"Apa mereka berdua tinggal bersama orang tuamu?"
Dhika mengernyit heran, untuk apa bosnya bertanya hal seperti itu. Namun, sebagai bawahan yang baik, ia tetap menjawabnya.
"Yang kecil tinggal bersama ayah dan ibu, tapi yang besar, aku tidak tahu di mana dia sekarang berada." Wajah Dhika berubah muram saat mengatakannya.
"Oh, baiklah. Kau boleh pergi."
"Permisi."
Sebenarnya Cakra masih ingin menggali informasi lebih dalam lagi mengenai adik Dhika yang katanya tidak diketahui di mana keberadaannya itu, tapi begitu melihat ekspresi yang ditunjukkan sekretarisnya, ia urung melakukannya.
"Apa mungkin adik Dhika yang hilang itu adalah selingkuhan Radi?" pikir Cakra.
"Ah... sepertinya aku harus menyelidiki hal ini."
Cakra mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
"Gi, tolong cari informasi lengkap tentang Dhika Januar beserta keluarganya."
TIT
.......
__ADS_1
Satria melajukan mobilnya dengan cepat. Tujuannya saat ini adalah rumah kedua orang tuanya. Baru saja, ayahnya menelpon dan menyuruhnya pulang, dari nada suara sang ayah, terdengar seperti sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Ia memutuskan pulang karena merasa khawatir.
Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, dokter muda itu segera berlari masuk ke dalamnya.
"Aku pulang..."
Tuan Hendra sudah berdiri di ruang tamu menyambut kedatangan putranya. Wajah pria paruh baya itu terlihat merah, seperti tengah memendam amarah. Satria lantas berjalan menghampiri sang ayah.
"Ayah, apa semuanya baik-baik saja?" tanya Satria begitu sampai di hadapan tuan Hendra.
PLAKK
Bukan jawaban yang didapatnya, melainkan sebuah tamparan keras di pipi.
"Dasar anak memalukan!" umpat sang ayah.
Satria memegang pipinya yang panas, ia menatap tak percaya pada ayahnya yang baru kali ini menamparnya. "Ke-kenapa ayah menamparku?"
"Lalu apa yang harus ku lakukan? Meninju wajah pengecutmu itu, huh?" balas tuan Hendra sengit.
"Suamiku, tenangkan dulu dirimu." Ibu Satria datang dari dapur dan menenangkan kemarahan suaminya.
Deg
Satria terbelalak begitu melihat siapa yang datang bersama sang ibu.
"Silvia?"
"Iya.., ini aku. Maaf, aku harus datang kemari karena kau tidak ingin bertanggung jawab." Silvia pura-pura menangis untuk mengambil simpati ayah dan ibu Satria.
"Ayo kita semua duduk dulu," pinta nyonya Asti.
Satria menatap tajam pada Silvia, ia tidak menyangka jika wanita itu akan melakukan hal ini. Datang dan mengadu kepada orang tuanya. Satria pikir, peringatannya tadi pagi akan didengarkan oleh Silvia tapi ternyata, ah... dia sudah ditipu oleh wanita licik itu.
"Ayah tidak mau tahu, pokoknya kau harus menikahi Silvia. Saat ini dia tengah mengandung calon cucu ayah, jika kau menolaknya, maka kau tidak akan ku anggap anak lagi."
Deg
"Tapi dia itu istri orang, Yah."
"Bukankah dia sedang dalam proses perceraian dengan suaminya. Jadi setelah semua selesai, kau harus segera menikahinya."
"Bagaimana jika anak itu bukanlah anakku?"
"Silvia sudah menunjukkan semua bukti dari hubungan gelap kalian. Jadi jangan mengelak lagi. Kau harus menikahi Silvia. Titik."
"Tapi, Ayah..."
"Salah kau sendiri, selingkuh dengan istri orang." Tuan Hendra pergi setelah mengatakannya.
"Ibu, tolong aku..."
"Ibu kecewa padamu, Sat. Kau meminta Silvia menggugurkan calon cucu ibu. Tega sekali kau, sudah berbuat dosa malah berniat menambah dosa lagi. Seperti yang ayahmu katakan, kau harus menikahi Silvia. Ibu tidak bisa menolongmu kali ini."
Satria mematung, berakhir sudah hidup bebas yang selalu diagungkannya. Ia tidak pernah bisa melawan keinginan sang ayah. Jika ayahnya menginginkannya menikahi Silvia maka itulah yang akan terjadi.
"Sial hidupku berurusan denganmu," umpat Satria menatap sengit Silvia.
Wanita itu hanya tersenyum manis, rencananya berhasil.
Tidak apa kehilangan Cakra, toh ia mendapatkan Satria. Walaupun tidak sekaya keluarga Cakra, tapi Satria bisa terbilang cukup mapan. Apalagi jabatannya di rumah sakit juga tinggi. Ia tidak akan menyia-nyiakan lagi semua itu.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... ๐๐ป๐...
__ADS_1
...Terima kasih...