
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Jangan hubungi aku jika kau belum berhasil menemukan istriku!"
Radi membanting ponselnya ke atas kasur. Sudah tiga hari ini ia mengurung dirinya di dalam kamar. Enggan keluar, inginnya tetap berbaring di tempat tidur, menghirup aroma Ajeng yang tertinggal di sana.
Betapa ia merindukan Ajeng dan juga anak dalam kandungan istrinya itu. Andai, andai siang itu ia tidak pergi meninggalkan Ajeng, pasti saat ini wanitanya masih ada di sini, dalam pelukannya.
"Arrgghhh..." Radi memukul-mukul kasur untuk melampiaskan rasa sesak di dadanya. "Kau di mana, Jeng? Siapa yang telah berani membawamu pergi dariku?" jjeritnya frustrasi.
Sejak mula kepergian istrinya, Radi sudah mengerahkan orang-orang suruhannya untuk mencari keberadaan Ajeng. Sudah tiga hari, tapi tidak ada hasil apapun. Itu membuatnya semakin kalut, di mana dan bagaimana keadaan istrinya, Radi sakit kepala memikirkan itu semua. Harapannya hanya satu, wanitanya berada di tempat yang aman dan dalam kondisi yang baik-baik saja.
"Pak Robi..." Tiba-tiba nama asisten pribadi istrinya itu terlintas di benaknya. Pria itu, pasti tahu di mana keberadaan Ajeng.
Radi menyambar ponselnya dan mendial nomor Robi.
"Di mana Ajeng?" Radi langsung bertanya sesaat setelah Robi menyapanya di seberang sana.
"Saya tidak tahu, Tuan. Sudah tiga hari nona tidak menghubungi saya."
"Kau jangan berbohong!" bentak Radi.
"Untuk apa saya berbohong. Saat ini saya ada di perusahaan, bekerja seperti biasa." Jika Ajeng tidak memerlukannya, maka Robi akan melanjutkan kembali pekerjaannya di kantor. Pria itu memang merangkap bekerja sebagai asisten pribadi Ajeng dan juga wakil direktur di perusahaan mendiang Surya Winata.
"Sial." Radi mematikan sambungan dan kembali melempar ponselnya. Otaknya saat ini benar-benar buntu.
.......
Setelah menerima telepon dari Radi, Robi segera meninggalkan pekerjaan dan menyerahkan semua tanggung jawab di perusahaan itu pada sekretarisnya. Baginya, Ajeng lebih penting dari pekerjaannya saat ini. Sebab apa? Dia sudah berjanji pada mendiang Surya untuk ikut menjaga permata berharga keluarga Winata itu seumur hidupnya.
"Tidak tersambung..." Robi juga mulai frustrasi. Nomor ponsel Ajeng sama sekali tidak dapat dihubungi. Ia juga sudah mencari majikannya itu ke apartemen, tapi wanita itu tidak ada di sana. "Kemana kau, Nona?"
Tak habis akal, Robi mencoba menghubungi Tania. Namun, apa yang didengarnya, sama sekali tidak dapat membantu. Tania juga tidak tahu di mana keberadaan Ajeng.
"Sepertinya aku harus menyelidiki dulu hal ini."
.... ...
"Ini, minum dulu susunya." Cakr menyodorkan segelas susu hamil pada Ajeng.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot, Mas. Aku merasa sudah terlalu sering membuatmu repot dengan semua masalahku," ucap Ajeng tak enak.
Cakra hanya mengangkat bahu cuek, ia tidak merasa direpotkan sedikit pun, malah ia senang bisa membantu wanita hamil itu.
"Apa kau nyaman berada di sini?" tanya Cakra setelah Ajeng selesai meminum susunya.
Wanita itu mengangguk. "Aku senang berada di sini, sangat tenang. Pada sore hari, aku bisa melihat matahari tenggelam dengan jelas di ufuk barat. Itu sangat indah..."
"Ya. Apa kau sudah pernah main ke pantai?" ranya Cakra lagi.
"Belum. Belakangan ini aku sering merasa cepat lelah. Jadi aku takut keluar terlalu jauh. Takut terjadi apa-apa pada kandunganku." Ajeng mengelus perutnya yang sedikit membuncit. Masih empat bulan dan belum terlalu terlihat.
Cakra yang memperhatikan hal itu, merasa gatal tangannya hendak menyentuh perut Ajeng. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya menyentuh perut yang di dalamnya bersemayam sebuah janin yang nanti akan berkembang dan terlahir dalam bentuk seorang bayi mungil yang pasti akan sangat menggemaskan.
"Ada apa, Mas?" tanya Ajeng heran ketika melihat pandangan pria itu terus tertuju pada perutnya.
"Tidak apa-apa. Aku hanya iri pada orang yang dianugerahi anak oleh Tuhan, karena sampai saat ini, Tuhan belum memberikan anugerahnya itu padaku."
Ajeng merasa ikut prihatin, ia sendiri juga lama mendapatkan anugerah ini. Kuncinya hanya sabar dan terus berusaha.
"Aku berdo'a semoga kau dan Silvia segera diberkahi seorang anak oleh Tuhan."
Ajeng tersenyum dan kembali fokus mengelus perutnya dengan sayang. Jujur saja, mengingat janin dalam kandungannya, mau tak mau ia jadi teringat akan Radi. Bagaimana keadaan suaminya itu kini, apakah sudah bahagia dengan Maya dan juga anak mereka? Kadang dada Ajeng terasa sesak jika membayangkan hal itu. Ia hanya sendiri di sini mencoba bertahan dan melindungi calon anaknya sementara Radi, adakah pria itu peduli padanya? Minimal, peduli pada anak dalam rahimnya.
"Jeng..." Cakra menyentuh bahu Ajeng. Dilihatnya wanita itu termenung dengan pandangan kosong.
"Y-ya?" jawab Ajeng setelah tersadar.
"Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Fokus saja pada kehamilanmu, itu yang paling penting untuk saat ini." Nasihat Cakra hanya diangguki oleh Ajeng.
"Besok pagi aku harus kembali ke Jakarta. Mungkin setelah ini, hanya sekali seminggu aku bisa mengunjungimu," ucap Cakra.
"Tidak apa-apa, di sini ada perawat yang menjagaku. Kau harus fokus pada kehidupanmu, ada Silvia juga yang harus kau perhatikan. Maaf, sudah membuang banyak waktumu untuk masalahku."
Cakra berdiri dari duduknya, lalu berlutut tepat di hadapan Ajeng, ia meraih dan menggenggam erat tangan wanita itu. "Jangan bicara seperti itu lagi. Aku tulus membantumu. Bukankah, itu gunanya teman? Tempat kau bersandar jika tak ada lagi yang bisa kau harapkan."
Air mata Ajeng meleleh mendengar ucapan Cakra. Kenapa ada pria sebaik Cakra di dunia ini, yang begitu peduli pada seorang wanita lemah yang bukan siapa-siapa untuknya.
"Hei, kenapa menangis? Aku merasa gagal menjadi teman jika aku tidak bisa membuatmu berhenti menangis. Tenanglah! Apa kau tidak malu, jika anakmu tahu jika ibunya seseorang yang cengeng?" Ledek Cakra sembari jemarinya menghapus buliran yang menetes dari mata indah Ajeng.
__ADS_1
Wanita itu memukul pelan lengan Cakra. Ia merasa sedikit kesal karena pria itu mengatainya cengeng.
"Pukul aku sebanyak yang kau inginkan jika itu bisa membuatmu tenang."
Bukannya memukul, Ajeng malah menghambur memeluk Cakra. Dilingkarkannya kedua tangan di leher pria itu. Di sana, ia kembali menangis.
"Beruntungnya diriku memiliki teman sebaik dirimu hiks..." isaknya.
Cakea terdiam di belakang Ajeng, ada rasa aneh dalam dada saat wanita itu memeluknya. Jantungnya berdetak hebat dan aliran darah mengalir dengan cepat. Ia pernah merasakan hal ini, yaitu saat dirinya jatuh cinta untuk pertama kali. Apa ia kembali merasakannya?
"Jeng..." Cakra segera melepas pelukan Ajeng dan mendorong pelan tubuh wanita itu. Ia tidak bisa berlama-lama dalam situasi seperti tadi karena rasanya aneh.
"Kenapa?" tanya Ajeng sambil mengusap air matanya.
"Aku punya satu permintaan..."
"Apa?"
Cakra menelan salivanya susah, matanya sesekali melirik bergantian pada mata Ajeng dan juga perut wanita itu.
"Hm?"
"Boleh aku menyentuh perutmu?"
"Heh? Hahahaaa..." Ajeng menyembur tawa mendengar permintaan Cakra.
"Kenapa? Ada yang aneh?" sungut Cakra dengan wajah merah padam menahan malu.
"Tidak apa-apa, kok." Ajeng meraih tangan Cakra dan meletakkannya di perut.
Deg
Cakra merasa berdebar saat tangannya mendarat di perut Ajeng. Rasanya begitu menakjubkan. Jika Ajeng adalah istrinya, ia akan membelai perut itu dan juga menciuminya setiap hari.
"Ah... aku begitu merindukan hadirnya seorang anak."
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...