
...🌷Selamat Membaca🌷...
Hari ini adalah jadwal Dira dan kawan-kawan mengunjungi Taman Nasional Komodo. Pukul 10 pagi mereka sudah sampai di tempat wisata karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh dari hotel, hanya 15 menit perjalanan darat. Rasanya liburan ke Nusa Tenggara Timur tidak akan lengkap jika belum melihat hewan eksotis asli sana, yaitu Komodo.
Perjalanan mereka hari ini masih ditemani oleh Tour Guide yang sebelumnya. Seorang pria muda berusia 24 tahun yang bernama Jordan Dagmar, yang memiliki ibu asli orang NTT dan ayah orang Australia. Wajah campuran yang lebih berat ke bule membuat Tour Guide satu itu menjadi incaran para wisatawan untuk digunakan jasanya.
Selama touring di Taman Nasional Komodo, mereka bertemu banyak sekali Komodo, tak lupa juga mereka berfoto ria bersama dengan kadal terbesar di dunia itu, tentunya ada pawang yang senantiasa mendampangi, jika tidak maka bisa saja mereka akan diterkam binatang buas itu. Selain Komodo, di sana juga terdapat binatang lainnya seperti Babi Hutan, Rusa dan Burung.
Setelah puas menjelajah di Taman Komodo, tepat pukul 12 siang, para muda-mudi itu menyambangi sebuah restoran untuk mengisi perut. Restoran yang dipilih kali ini adalah yang menyediakan makanan laut.
Sebuah meja panjang telah dipilih agar mereka semua bisa duduk bersama dalam satu meja. Satu persatu hidangan sudah diantarkan oleh pelayan menuju meja, tak pelak hal itu membuat sepuluh kepala yang ada di sana tak sabar untuk segera menyantap.
Setelah membaca do'a, semuanya langsung menyantap hidangan laut yang telah tersedia. Mereka makan dengan lahap.
"Ini, Bee..." Lingga menyerahkan daging kepiting yang sudah dikeluarkan dari cangkangnya kepada Dira. Hal itu ia lakukan agar sang kekasih lebih mudah memakannya.
"Makasih, Bee..." Dira tersenyum manis menerima perhatian kecil dari kekasihnya itu.
Hanna yang melihat kemesraan itu lantas menyenggol lengan Gio, alhasil makanan yang sedang disuap Gio bukan masuk ke mulutnya malah meleset masuk ke dalam hidung.
"Yank..." keluh Gio, kesal. Saat ini hidungnya jadi belepotan sambal akibat ulah sang kekasih.
Semua yang ada di sana tertawa, kecuali Hanna yang cemberut karena acara romantis-romantisannya jadi gagal.
"Dasar tidak peka!" sindir Yovan pada Gio.
"Apa sih?" Gio mendelik sebal ke arah Yovan yang meledeknya.
"By, bukak mulutnya, aa..." Dengan sengaja Yovan memanas-manasi Gio dengan cara menyuapkan sesendok makanan ke mulut Luna. Hal itu diterima baik oleh Luna, mereka berdua melirik dengan senyuman miring pada Gio yang berdecak malas. Sekali lagi, semua yang ada di sana tertawa karena tingkah konyol pasangan Yovan dan Luna.
"Ra, cumi goreng asem ini enak loh. Nih, cobain!" Jordan yang duduk di samping Yura, meletakkan sesendok cumi ke piring gadis itu. Dan tanpa pikir panjang Yura langsung mencobanya.
"Iya, Bang. Cuminya enak, empuk dan segar..." ucap Yura dengan mata berbinar. "Abang coba juga udang bakarnya, ini tak kalah enak loh!" Untuk membalasnya, Yura memberikan satu tusuk udang bakar kepada Jordan.
"Iya, ini juga enak..." ucap Jordan setelah memakannya.
Kedua orang yang duduk bersebelahan itu asyik berbagi makanan, mereka terlihat sangat akrab walaupun baru kenal kemarin.
Dira yang melihat keakraban Yura dan pemandu wisata itu, seketika langsung mengalihkan pandangannya pada sang kakak. Ia mendapati Reyhan yang tenang memakan makanannya. Pemuda itu tampak tidak terusik dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Tidak hanya Dira, Luna ternyata juga memerhatikan kakak sambungnya Dira itu. Terbesit sedikit kesal dalam hatinya kala mengingat kejadian semalam. Tapi walaupun begitu, ia tidak bisa membela sebelah pihak saja, karena sesungguhnya perasaan tidak bisa dipaksakan.
Flashback On
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 10 malam. Luna tengah sibuk mengunggah foto liburan mereka di laman akun media sosial miliknya, sementara Yura tampak berdiri di jendela, menatap suasana laut di malam hari.
Saat sedang asyik menikmati pemandangan malam, tak sengaja mata Yura menangkap seseorang yang keluar dari sebuah villa. Yura tahu jika itu adalah Reyhan, yang villanya hanya berjarak beberapa meter dari villanya.
Reyhan, pemuda yang disukainya itu terlihat berjalan menuju pantai seorang diri. Lama Yura termenung memerhatikan pergerakan Reyhan, hingga terbesit sebuah keinginan di dalam benaknya. Ya, di malam ini, ia ingin memberanikan diri untuk menyatakan cinta. Entah bagaimana hasilnya nanti, yang jelas ia ingin mencoba. Jika saja pemuda itu menolaknya, maka setelah liburan ini usai, maka waktunya untuk move on.
"Lun, kakak ke bawah sebentar, ya?" pamit Yura bergegas.
"Mau apa malam-malam begini, Kak?" tanya Luna heran.
Yura hanya tersenyum dan langsung pergi setelah menyambar jaketnya.
Luna yang keheranan mulai bangkit dari kasur, ia berjalan ke arah jendela untuk melihat kemana perginya Yura. Dan ya, kakak kekasihnya itu berlari menuju pantai.
"Mau apa Kak Yura ke pantai malam-malam begini?" pikirnya
Kembali ke Yura, kini ia sudah berdiri di belakang Reyhan. Diperhatikannya sejenak tubuh tinggi tegap itu dari belakang, rasanya ia ingin berlari dan memeluknya. Tapi sayang, hal itu tidak mungkin untuk dilakukan.
Perlahan, Yura berjalan mendekat hingga kini ia telah berdiri tepat di samping Reyhan. "Sedang apa?" sapanya.
Reyhan menoleh sebentar kemudian kembali menatap laut lepas. "Suntuk..." jawabnya singkat.
Yura menggelengkan kepala. Bisa-bisanya pemuda itu bilang suntuk setelah seharian menghabiskan waktu untuk berjalan-jalan. Seharusnya malam ini adalah waktunya untuk beristirahat.
"Hm..." Hanya dibalas deheman oleh Reyhan.
"Sudah berapa lama kita berteman?" tanya Yura.
"Almost 2 years..." jawab Reyhan setelah terdiam cukup lama memikirkan jawabannya.
"Kau benar, dua tahun sudah kita berteman dan seperti kata orang, pertemanan antara laki-laki dan perempuan tidak akan pernah murni, karena salah satunya pasti memiliki rasa dan itulah yang terjadi pada diriku saat ini. Dan aku tahu kau pasti menyadarinya?" Setelah selesai dengan ucapannya, Yura langsung menoleh demi melihat ekspresi pemuda di sampingnya.
Reyhan ikut menoleh. Kini mereka saling menatap satu sama lain. Organ dalam dada Yura berdentum cepat melihat wajah Reyhan yang malam ini terlihat sangat tampan walaupun menampilkan ekspresi datar.
"Maaf..."
Satu kata yang kemudian keluar dari mulut Reyhan seketika membuat debar di jantung Yura berhenti.
"Hahahaa..." Demi menutupi luka yang perlahan menggores hati, Yura coba tertawa. Meski nada getir terdengar jelas dalam tawanya yang seakan dipaksakan itu. "Santai saja... aku hanya ingin melepaskan beban di hati ini, untuk bisa melangkah dengan tenang tanpa harus terkekang dengan perasaan sepihak ini terus menerus."
"Yura..." Reyhan menatap Yura lekat, wajahnya menyiratkan rasa bersalah.
"Rey... I'm okay. Don't worry." Yura meyakinkan pada Reyhan jika dia baik-baik saja. Di mulut boleh saja ia mengatakan baik, tapi tak ada yang tahu jika hatinya merasakan sebaliknya.
"Anginnya mulai dingin, sebaiknya kita masuk. Jangan sampai sakit karena esok kita masih harus berpetualang..." ucap Yura yang kemudian berbalik pergi meninggalkan Reyhan yang termangu di tempat menatap kepergiannya.
__ADS_1
Saat berbalik menuju villa, disitulah Yura tidak dapat lagi menahan air mata yang sedari tadi mati-matian ditahannya. Cairan hangat itu perlahan mengalir tanpa henti dari kedua matanya yang memerah.
Sakit, hati perempuan mana yang tidak akan sakit manakala cintanya ditolak. Yura merasakan itu saat ini, tapi ia tidak menyesal. Karena setelah penolakan ini, ia tahu bahwa dirinya dan Reyhan tak mungkin bersama, dan waktunya untuk move on telah tiba.
"Kakak!" Luna terkejut melihat Yura berlari dengan wajah bersimbah air mata. Hanna dan Dira yang juga ada di sana ikut kaget. Mereka bertiga memang berencana menyusul Yura ke pantai karena khawatir jika dia sendirian.
"Luna..." Yura segera menghambur memeluk kekasih adiknya. Ia tumpahkan tangisannya di pelukan Luna. Isakan nyaring pun mulai terdengar.
"Lun, sebaiknya kita bawa Kak Yura ke kamar!" ajak Dira.
Mereka pun memutuskan masuk ke dalam villa.
Malam itu, Dira, Luna dan Hanna tahu kalau Yura telah ditolak oleh Reyhan.
Flashback Off
"Ehem..." Yovan berdehem melihat keakraban sang kakak dengan Jordan.
"Wah... Papi, Mami bakal dapat menantu bule, nih?" godanya.
Mendengar itu Yura dan Jordan hanya tersenyum. Sementara Luna langsung mencubit perut kekasihnya.
"Aw... kenapa sih, Beb? Sakit tahu..." keluh Yovan.
"Diam dan makan!" Luna langsung menyumpal mulut Yovan dengan sepotong cumi agar tidak bicara lagi.
"Hahaha..." Gio tertawa melihat Yovan yang ternistakan.
Setelah tawa Gio reda, suasana berubah hening. Beberapa dari mereka sudah selesai makan, termasuk Dira. Saat ini ia tengah memerhatikan sang kakak yang duduk tepat di hadapannya.
"Mas..." Baru saja Dira memanggilnya, Reyhan segera bangkit dari duduk.
"Mas mau ke toilet sebentar..." pamitnya dan berlalu pergi.
Yura yang menyaksikan itu hanya bisa menatap kepergian Reyhan dengan perasaan tak menentu.
"Ra, ayo makan lagi!" bisik Jordan melihat Yura termenung.
"I-iya..."
...Bersambung...
Jangan lupa like, vote dan comment
Terima kasih sudah membaca 🤗
__ADS_1