2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 9. Perubahan


__ADS_3

...🍁Selamat Membaca🍁...


Motor sport yang dikendarai Lingga akhirnya sampai juga di depan kediaman Adibrata. Hunian mewah yang dibeli Cakra saat anak-anaknya mulai memasuki bangku sekolah.


Dengan cepat Dira langsung menuruni motor, ia membuka helm dan mengembalikannya pada Lingga. "Makasih ya, Ngga, udah mau nganterin aku," ucapnya.


"Iya, sama-sama. Aku senang bisa membantu kamu."


Deg


Dira kembali berdebar, kenapa Lingga suka sekali mengatakan hal yang membuatnya terbawa perasaan. Apalagi kalau mengingat momen selama perjalanan tadi, penuh drama dan sangat memalukan bagi Dira. Bayangkan saja, saat motor mengerem mendadak karena ada orang yang melintas tiba-tiba, dengan tanpa sengaja, Dira langsung melingkarkan tangannya di perut Lingga. Dira tidak memiliki maksud apapun, itu hanya gerakan refleks karena ia takut terjatuh.


"Dira, kenapa melamun?" Lingga menyentak Dira yang terbengong membayangkan momen beberapa saat lalu.


"Ah, maaf. M-mau mampir dulu, Ngga?" tawar Dira gugup.


"Hm, lain kali aja ya, Ra. Aku harus segera pulang," tolak Lingga. Ia belum sampai sejauh itu mempersiapkan diri untuk bertemu dengan keluarga Dira.


"Ya udah, hati-hati di jalan, ya." Hanya itu yang bisa Dira ucapkan sebagai salam perpisahan.


"Ya, sampai ketemu besok di sekolah." Lingga memasang kembali kaca helmnya dan segera melaju kencang.


Dira hanya bisa menghempaskan napas lega begitu Lingga sudah pergi jauh dengan motornya. Berdekatan dengan Lingga ternyata tidak terlalu baik untuk jantungnya. Cowok itu punya beribu kata manis yang mampu membuatnya salah paham. Merasa jika hari ini Sangat melelahkan, Dira segera melangkah memasuki rumah.


"Aku pulang," ucapnya.


"Selamat datang, Nak." Ajeng yang sedang duduk santai sembari menonton tv, menyambut kedatangan putrinya.


"Eya mana, Ma?" tanya Dira karena tidak melihat penampakan adiknya itu, padahal saat ini tayangan kesukaan Eya sedang diputar di televisi.


Mendengar nama anak keduanya disebut, Ajeng pun menghela napas kesal. "Adikmu itu lagi istirahat, sedari pulang sekolah ia terus bolak balik kamar mandi. Sepertinya mulas karena kebanyakan makan pedas. Coba deh kamu nasehati adikmu itu, organ pencernaannya bisa terganggu jika terus mengonsumsi makanan pedas sementara makan sayur saja tidak suka," kata Ajeng.


Dira sendiri juga lelah menghadapi tingkah adiknya yang satu itu. "Baiklah. Nanti aku bicarakan dengan Eya. Kalau gitu aku ke kamar dulu ya, Ma."


"Tunggu dulu, Nak!" Ajeng menghentikan langkah Dira yang akan menaiki tangga.


"Kenapa, Ma?" Dira menoleh.


"Tadi kamu pulang diantar siapa? Kalau tidak salah lihat, dia cowok, kan?" tanya Ajeng. Tadi dia mengintip saat motor sport itu berhenti di pekarangan rumah mereka.


"Teman, Ma. Kebetulan tadi taksi nggak ada yang lewat, jadi dia nawarin buat anterin. Aku udah nolak, cuma ya itu..." Dira tidak melanjutkan lagi ucapannya, karena ia bingung harus mengatakan apa, ceritanya terlalu panjang dan memalukan.


"Teman? Bukan pacar kamu itu, kan?" Ajeng menyelidik.


Dira menggeleng. "Bukan, Ma. Aku udah putus sama dia dan cowok yang tadi itu adalah anaknya Om Satria, pasti mama tahu."


"Anaknya Satria?" gumam Ajeng.


"Ya udah, Ma. Aku ke atas dulu, ya. Capek, mau istirahat bentar."


"Iya, Nak." Selepas kepergian Dira, Ajeng termenung sejenak. "Anaknya Satria? Apakah Saka?" pikirnya.


... ...


...----------------...


Kembali ke dua remaja yang sedang berada di mall. Saat ini, Kila dan Syila sudah selesai dengan kegiatan mereka di salon. Syila terus saja memandangi Kila yang terlihat sangat cantik dengan tatanan rambut barunya. Rambut panjang Kila dibiarkan tergerai lurus dan dibawahnya dibuat sedikit bergelombang.


"Jangan lihatin aku terus, Syil. Aku malu!" protes Kila sembari menutup wajahnya agar Syila tak lagi memandanginya.


"Hahaha..." Syila tertawa. "Mulai sekarang, kalau ke sekolah, seperti ini aja, ya. Rambut kamu jangan dikepang lagi, biarkan dia bebas bernapas seperti ini," ucapnya.

__ADS_1


"Tapi aku nggak pede, Syil..." balas Kila.


Syila menepuk jidat. "Nggak pede kenapa, Ki? Kamu itu cantik kalau kayak gini, cantik banget malah. Pasti cewek-cewek yang suka ngehina kamu jadi terpana. Mereka nggak bakal berani lagi ngeremehin kamu."


"Tapi, Ki?" Kila tetap belum berani berpenampilan seperti ini di sekolah. Ia tak suka menjadi pusat perhatian.


"Udah deh, Ki. Jangan banyak membantah! Sekarang ayo kita jemput kontak lens kamu."


Syila menarik tangan Kila untuk mengikutinya. Hari sudah mulai sore dan mereka harus cepat pulang sebelum dimarahi.


...----------------...


"Syil, aku nggak berani..." Kila terus merengek pada Syila karena dia yang tidak berani memasangkan lensa kontak ke matanya.


"Ya ampun, Ki. Santai aja masukinnya. Mata kamu itu buka lebih lebar dan jangan berkedip sebelum lensanya melekat di mata," jelas Syila memberi petunjuk. Sebenarnya ia sok mengajari, padahal diri sendiri tidak pernah memakai lensa kontak, dan juga merasa ngeri melihat benda itu masuk ke dalam mata. Namun, ia tidak boleh kelihatan takut, nanti Kila mengurungkan niatnya dan berujung memakai kacamata lagi.


Karyawan toko hanya bisa tersenyum melihat interaksi kedua remaja yang berkunjung ke tokonya.


"Adik mau dibantu?" tawar si karyawan.


"Nggak usah, Mbak. Aku bisa sendiri, kok." Kila lebih merasa ngeri kalau orang yang akan memasangkannya.


Dengan memberanikan diri, Kila pun memasang kontak lens itu di matanya. Masih terlihat gugup dan beberapa kali gagal, tapi setelah percobaan kesekian akhirnya berhasil juga, baru yang kanan. Lalu dilanjutkan dengan lensa mata bagian kiri.


"Syil, rasanya aneh..." ucap Kila. Ia merasa ada yang mengganjal di matanya.


"Nanti juga akan terbiasa," ucap si karyawan toko.


Setelah membayar, Syila dan Kila memutuskan untuk pulang.


"Syil, nanti uang kamu aku ganti, ya. Saat ini aku nggak bawa uang sebanyak itu."


Syila merengut tak suka mendengar ucapan Kila. "Apaan sih, Ki. Udahlah santai aja, aku yang traktir, kok. Jadi aku minta kamu harus konsisten, ya."


"Eh, sebelum masuk mobil, kita selfie dulu, yuk!"


"I-iya."


...****************...


Syila sampai di rumah sudah lumayan sore, bahkan Cakra terlebih dahulu sampai daripada putri bungsunya itu.


"Syila!" pekik Ajeng saat anak gadisnya itu muncul dari pintu masuk dengan penampilan baru.


"Mama kenapa teriak gitu?" tanyanya heran.


Ajeng segera berlari kecil menghampiri Syila. Ditatapnya gadis remaja itu dengan kesal. "Rambut kamu kenapa dipotong pendek gitu? Padahal udah bagus panjang kayak kemarin!" protes ibu empat anak itu.


"Bosan, Ma. Gerah juga," kelitnya. Awalnya ia tidak ingin memotong pendek seperti sekarang, tapi karena ingin tampil beda, alhasil ia potong sebahu.


"Ih, mama nggak suka." Ajeng merajuk. Ia merasa sangat kesal, padahal putrinya itu terlihat sangat cantik dengan rambut panjangnya.


"Ada apa sih ribut-ribut?" Cakra keluar kamar setelah mendengar suara istri dan anaknya berdebat. Kebetulan kamarnya dan sang istri berada di lantai bawah dan dekat dengan ruang tamu.


"Mas, lihat anakmu ini!" Ajeng menunjukkan penampilan baru Syila setelah potong rambut.


Cakra tersenyum. "Cantik, terlihat lebih fresh!" pujinya.


"Mas!" Ajeng melotot mendengar pujian suaminya.


"Makasih papaku yang ganteng..." Syila menghampiri sang ayah dan memeluknya. "Mama nggak asyik." Gadis itu menatap Ajeng dan tersenyum meledek.

__ADS_1


"Huh... kalian sama saja!" Ajeng cemberut dan langsung pergi ke dapur.


"Haha... cintanya papa ngambek tuh," ujar Syila.


"Udah biasa, sekarang kamu bersihkan diri dan istirahat sebentar sebelum nanti makan malam."


"Ok, Pa."


Syila menaiki tangga menuju lantai atas. Sebelum masuk ke dalam kamarnya, ia terlebih dahulu singgah di kamar Arsha. Diketuknya pintu itu beberapa kali. Tak ada sahutan.


Cklekk


Syila langsung membuka pintu yang kebetulan tidak dikunci. Terlihat Arsha yang sedang duduk di depan layar monitor sambil bermain game. Kedua telinganya disumbat menggunakan headphone, pantas dia tidak mendengar suara pintu diketuk. Timbul ide jahil dibenaknya, sebagai bentuk balas dendam karena kemarin malam Arsha sudah mengagetkannya.


Syila melangkah diam-diam mendekati Arsha, saat akan mengagetkan kembarannya itu, tiba-tiba Arsha berbalik dan lebih dulu membuatnya terkejut.


"BAAAAA!"


"Arsha!" pekik Syila kesal. Lagi-lagi ia keduluan. Kenapa susah sekali untuk balik mengerjai Arsha.


"Ngapain Lo ngendap-ngendap masuk kamar orang?" selidik Arsha. Namun, saat melihat penampilan baru saudarinya, ia tersenyum menggoda. "Wiih, rambut baru ni?"


"Iya... cantik, kan?"


"B aja!" Arsha tak ingin mengakui kalau sebenarnya Syila terlihat cocok dengan rambut pendek.


Syila mencebik. "Buta mata Lo? Papa aja bilang gue cantik."


"Lo 'kan anak kesayangan papa, pantaslah!" sindirnya. "Eh, jadi gimana? Udah Lo lakuin?" tanya Arsha.


"Udah, Lo mau lihat fotonya, nggak?" Syila mengeluarkan ponsel.


"Mana?"


"Eitts, tunggu dulu!" tahan Syila. Ia lalu mengambil beberapa nota dari tas sekolahnya. "Bayar dulu, nih! Biaya membeli kontak lens sama ke salon, plus duduk santai di St*rb*cks." Disodorkannya tagihan itu ke hadapan Arsha.


"Apa? Kenapa gue yang harus bayar?" Arsha tidak terima, apalagi setelah melihat jumlah uang yang dikeluarkan.


"Lo gimana, sih? Itu semua pakai uang gue tahu, nggak! Padahal 'kan Lo yang minta gue buat bantu perubahan Kila!" Wajah Syila terlihat marah, marah yang dibuat-buat lebih tepatnya.


"Iya-iya, gue bayar." Arsha mengalah, daripada harus dimusuhi saudara kembarnya sendiri. Ia mengambil ponsel dan mentransferkan sejumlah uang ke rekening Syila.


"Nih, udah gue transfer. Puas?" Arsha mendelik. Ia memperlihatkan bukti transferan pada Syila.


"Puas. Makasih Arsha. Senang berbisnis denganmu."


"Dasar mata duitan!" umpat Arsha. "Mana fotonya?"


"Nih!" Syila menyodorkan ponsel mahalnya.


"Cantik..." gumam Arsha begitu melihat potret terbaru Kila.


"Gue memang cantik, Lo aja yang terlambat nyadar," sahut Syila kegeeran.


"Bukan Lo, tapi Kila!" sanggah Arsha.


"Oh... gue bilang sama mama kalau Lo suka sama anaknya Om Bagas!" Syila langsung berlari keluar sebelum terkenal amukan Arsha.


"SYILA! Bukan begitu maksud gue!" pekik Arsha dari dalam kamar. Serba salah kalau sudah berurusan dengan Syila.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote & Comment


Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊


__ADS_2