
...🌷Selamat Membaca🌷...
Radi berulang kali menghidup-matikan ponsel di tangannya. Malam ini ia sedang menunggu telepon atau pesan dari seseorang. Sudah tiga hari berlalu, tapi ia masih belum mendapatkan kabar dari Rina di kampung. Bukannya rindu ataupun penasaran dengan keadaan asisten rumah tangganya itu, tapi Radi mulai sedikit kewalahan mengurus rumah besarnya seorang diri.
Drrtt... drrtt... drrtt...
Pucuk dicinta ulam pun tiba, akhirnya telepon yang ditunggu-tunggu Radi datang juga. Pria itu segera mengangkatnya.
"Selamat malam, Tuan." Suara Rina di seberang telepon menyapa.
"Malam. Kapan kau akan kembali kemari? Rumah tidak ada yang mengurus," tanya Radi tanpa basa-basi.
"Maaf, Tuan. Sepertinya saya tidak bisa bekerja lagi pada anda. Saya tidak bisa meninggalkan anak saya lagi, dia membutuhkan saya."
"Apa?" Mendengar hal tersebut, Radi menjadi galau. Kalau Rina berhenti bekerja, lalu siapa lagi yang akan mengurus rumahnya? Mungkin mudah mendapatkan ART baru, ia hanya perlu pergi ke agen penyalur tenaga kerja dan tak lama bisa membawa pulang orang yang bisa bekerja untuknya. Namun, ia sudah terbiasa dengan pekerjaan Rina, wanita itu sudah lama bekerja padanya dan ia sudah mempercayainya. Kepercayaan adalah hal nomor satu untuk saat ini.
"Tuan, apa anda masih di sana?" Karena lama terdiam dalam lamunan, pertanyaan Rina selanjutnya menyadarkan Radi.
"Ah, iya. Bagaimana keadaan anakmu?" tanya Radi. Ia masih memikirkan cara untuk bisa membujuk Rina agar tak berhenti bekerja padanya.
"Kondisinya sudah jauh lebih baik, Tuan. Ia sudah boleh pulang dan melakukan rawat jalan."
Radi yang mendengar itu turut lega, ia jadi teringat momen di mana ia menggendong anak Rina kala itu. Tubuh kecil Reyhan sangat kurus dan pipinya cekung. Seharusnya anak seumuran itu sedang lucu-lucunya, tapi anak Rina justru sebaliknya. Radi sedikit prihatin melihat hal tersebut.
"Syukurlah kalau begitu, semoga dia lekas sembuh dan bisa ceria seperti sedia kala," harap Radi.
"Iya, Tuan. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih. Jangan khawatir, uang yang sudah anda keluarkan untuk biaya pengobatan Reyhan, nanti akan saya ganti, tapi mungkin akan memakan waktu yang lama, saya harus mencari pekerjaan baru di kampung dan akan menyicil uang itu pada anda."
Tiba-tiba sebuah ide terbesit di benak Radi. Ia bisa memanfaatkan keadaan ini untuk membuat Rina tetap bekerja untuknya. Walaupun caranya ini terkesan sedikit licik.
"Rina..."
"Ya, Tuan?"
"Pekerjaan apa yang akan kau lakukan di kampung?"
__ADS_1
Hening sejenak, kemudian terdengar helaan napas dari seberang. "Saya... belum tahu, Tuan. Mungkin saya akan membantu orang tua bekerja di sawah."
Radi tersenyum miring. "Bekerja di sawah? Kau pikir dengan bekerja di sawah bisa melunasi hutangmu? Kau tahu berapa uang yang sudah ku keluarkan untuk biaya perawatan anakmu? Jumlahnya adalah... lima belas juta rupiah."
Hening... Radi yakin saat ini Rina tengah termenung memikirkan hutang yang harus dibayarkannya. Sebenarnya Radi ikhlas mengeluarkan uang itu, cuma saat ini ia harus melakukan sedikit kecurangan agar apa yang diinginkannya di dapat. Terdengar licik, bukan?
"Tu-tuan... saya-" Ucapan Rina terbata-bata. Saat ini wanita itu pasti tengah bingung.
"Dengarkan aku, Rina! Kau tidak perlu risau memikirkan hutangmu itu, aku akan melunasinya asalkan kau tetap mau bekerja padaku!"
"Ta-tapi, Tuan... aku tidak bisa meninggalkan anakku..." Inilah satu-satunya alasan yang membuat Rina tak dapat lagi bekerja jauh dari kampung.
"Kau tak perlu meninggalkan anakmu di kampung, bawa saja dia kemari. Kau bisa mengurusnya sembari bekerja, kan?"
"Be-benarkah, Tuan?" tanya Rina. Suaranya terdengar antusias dan Radi bernapas lega mendengar hal itu. Sepertinya tawaran ini akan diterima oleh Rina.
"Iya, kau bisa mengajak anakmu."
"Ba-baiklah, Tuan. Aku akan membahas hal ini dengan orang tuaku terlebih dahulu. Nanti aku kabari lagi. Terima kasih, Tuan. Selamat malam."
TIT
Radi meletakkan ponselnya di atas nakas. Akhirnya masalahnya terselesaikan juga, malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak.
.......
Di kampung
Setelah memutuskan sambungan telepon dengan majikannya, Rina segera keluar kamar untuk menemui kedua orang tuanya yang sedang berada di luar.
"Ibu, Bapak..." panggilnya.
Dua paruh baya itu serentak menoleh. "Ada apa, Nak? Apa Reyhan baik-baik saja?" tanya pak Dadang.
"Iya, Pak. Reyhan baik-baik saja. Aku ingin membicarakan masalah lain."
__ADS_1
"Duduk dulu di sini, Nak!" Bu Tuti menggapai tangan sang anak dan memintanya duduk di sampingnya.
"Pak, Bu, sepertinya aku tidak jadi berhenti bekerja di kota," beritahu Rina.
"Tapi, Nak... apa kau tega meninggalkan Reyhan lagi? Kasihan anakmu, dari kecil ia tidak pernah merasakan kasih sayang penuh dari orang tuanya.." kata Bu Tuti.
"Iya, apalagi bapaknya yang edan itu. Tidak bertanggungjawab sama sekali," rutuk pak Dadang. Ia masih kesal kalau harus mengingat mantan menantunya yang brengsek itu.
"Pak, Bu. Tuan Radi membolehkan aku membawa Reyhan bekerja. Jadi aku dan Reyhan akan hidup bersama lagi," bujuk Rina. Hanya ini satu-satunya cara agar Rina bisa melunasi hutangnya, tidak hanya hutang pada Radi, tapi juga hutang yang ditinggalkan oleh suaminya pada seorang rentenir di kampung.
"Baiklah, Nak. Kalau memang itu yang terbaik, bapak dan ibu mengizinkan."
"Terima kasih, Pak... Bu." Rina memeluk tubuh ringkih kedua orang tuanya.
.......
Setelah makan malam di keluarga Adibrata usai, Cakra mengantarkan Ajeng pulang ke rumahnya. Tyas sedikit merajuk saat Dira akan dibawa pulang, ibunya Cakra itu merasa sudah sangat dekat dengan calon cucunya dan tidak ingin dipisahkan. Namun, Ajeng berjanji akan sering mampir dan membawa Dira bertemu Tyas.
"Masuklah dan setelah itu beristirahat!" kata Cakra saat mereka akan berpisah.
"Iya, Mas. Aku masuk dulu."
Sebelum Ajeng keluar dari mobil, Cakra menarik pelan tangannya. Pria itu mendaratkan kecupan singkat di kening kekasihnya.
"Selamat malam, sayang..." ucapnya. Cakra tidak lupa pula untuk mengecup kening bayi kecilnya yang telah lelap tidur di gendongan sang ibu.
"Selamat malam, Mas. Hati-hati di jalan."
Mobil Cakra masih parkir di depan rumah Ajeng, walaupun wanita itu sudah menghilang di balik pintu.
Hari ini pria itu begitu bahagia, jalannya untuk bersatu dengan Ajeng tinggal selangkah lagi. Restu orang tua juga sudah didapat, dan besok mereka berencana akan berziarah ke makam orang tua Ajeng. Orang tua Cakra menyarankan agar bulan depan mereka bertunangan dulu, baru dua bulan setelahnya mengadakan pernikahan. Awalnya Cakra sempat menolak usulan tersebut, karena terlalu lama baginya untuk bisa mengikat Ajeng dalam tali pernikahan, tapi mengingat Dira yang masih kecil, ia hanya bisa bersabar.
...Bersambung...
Jangan lupa Like& Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti cerita ini😊