
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Aku permisi ke toilet sebentar." Maya beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju toilet.
Ajeng menatap punggung Maya yang perlahan semakin jauh. Ia tahu jika wanita itu ke toilet untuk menangis, jelas sekali tadi terlihat cairan bening menumpuk di pelupuk matanya.
"Kadang aku merasa lucu dengan lingkaran hubungan ini," celetuk Cakra tiba-tiba.
Ajeng menoleh dan menatap kekasihnya penuh tanya. "Lingkaran? Maksudnya, Mas?" tanyanya meminta penjelasan. Sesekali tangan Ajeng mengayun Dira yang ada digendongannya, bayi itu nampak mengantuk.
"Hubungan antara aku, kau, Radi, Maya, Satria dan Silvia," perjelas Cakra.
Ajeng terdiam cukup lama, ia memikirkan maksud perkataan Cakra barusan. "Oh iya, kau benar, Mas." Setelah mengerti, Ajeng pun mengiyakan.
"Entah kenapa aku merasa ini sedikit menggelikan, kita seperti berganti pasangan saja," tambah Ajeng.
"Sudah takdirnya begitu, kita bisa apa?" Jawaban santai diberikan oleh Cakra.
Ajeng merengut. "Tapi kalau dipikirkan lagi, lingkaran ini cukup menakjubkan juga loh, Mas. Jadi begini, aku punya suami yaitu Radi, Radi berselingkuh dengan Maya, Maya mempunyai mantan kekasih bernama Satria, Satria ternyata sepupu Radi dan juga selingkuhan Silvia, dan Silvia adalah istrimu. Lalu kau, jatuh cinta sama istrinya Radi yang tak lain adalah aku. Woah... ini lucu sekali, bukan? Haha..." jelasnya.
Cakra mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang benar, hubungan mereka berenam seperti lingkaran yang tidak ada putusnya. Satu sama lain saling berkaitan. Entah kenapa takdir mempermainkan mereka seperti ini, bersama orang yang salah sebelum bertemu orang yang tepat.
"Lihatlah di sana!" Cakra tiba-tiba menunjuk ke arah Radi yang sedang membawa Lingga jalan-jalan berkeliling ruangan.
"Kak Radi dan Lingga, ada apa dengan mereka?" tanya Ajeng.
"Mereka terlihat seperti anak dan ayah kandung. Lingga begitu lengket dengan Radi, dan Radi pun tampak sangat menyayangi Lingga."
"Kau benar, Mas. Semenjak lahir, Kak Radi selalu bersama dengan Lingga. Ia berperan sebagai ayah yang baik dan menyayangi bayi itu dengan tulus. Namun, pada kenyataannya mereka hanyalah paman dan keponakan, tapi sepertinya hal itu tidak membuat rasa sayang Kak Radi berkurang pada Lingga. Sama seperti kau terhadap Dira. Walaupun Dira bukan darah dagingmu, tapi sejak dalam kandungan, kau sudah bersama dengannya. Ikatan itu terbentuk dengan sendirinya karena kedekatan yang telah terjalin."
"Kau benar, aku sangat menyayangi Dira. Dia adalah permata hatiku," jawab Cakra. Matanya tak lepas memandang Dira yang sudah tidur di dalam pelukan sang ibu.
"Hem, kau bahkan lebih menyayangi Dira daripada diriku," rajuk Ajeng. Itu benar, setiap kali Cakra bertandang ke rumah, yang ia cari pertama kali adalah Dira. Waktu luangnya sering dihabiskan untuk bermain bersama bayi cantik itu. Ah... kadang Ajeng merasa tersisihkan.
Cakra terkekeh, ia mengacak pelan rambut panjang Ajeng yang tergerai. "Maaf ya, sayang. Soalnya kau kalah cantik dari Diraku." Bukannya membujuk Ajeng yang merajuk, Cakra justru menggodanya.
"Ya sudah kalau begitu, nanti kalau aku punya pria tampan, kau juga akan kalah darinya, karena aku pasti akan sangat menyayanginya lebih dari pada aku menyayangi dirimu" balas Ajeng tak mau kalah.
Wajah Cakra tiba-tiba berubah dingin. "Maksudmu kau akan mencari pria lain begitu?" tanyanya dengan suara yang terdengar menusuk.
Ajeng tertawa melihat reaksi Cakra yang berlebihan. Tidak ingin terjadi salah paham, wanita itu pun melanjutkan.
"Aku tidak akan mencari prianya, tapi aku akan melahirkannya nanti. Seorang pria kecil yang ketampanannya akan mengalahkan sang ayah."
Deg
Mata Cakra melotot. "Jadi maksudmu pria itu adalah anak kita nanti?" katanya antusias.
Ajeng mengangkat bahu. "Tergantung, dia akan menjadi anak kita kalau kau yang menjadi suamiku, tapi kalau pri-"
"Hussst..." Cakra langsung menekan bibir Ajeng dengan jari telunjuknya. Ia tidak ingin mendengar kelanjutan kata itu. "Yang akan menjadi suamimu adalah aku, tak boleh ada pria lain!"
"Bagaimana mau jadi suami kalau melamarku saja belum," gumam Ajeng yang masih terdengar jelas oleh Cakra.
__ADS_1
"Apakah itu kode?" pikir Cakra.
"Jeng!" panggilnya kemudian.
"Hm?" Ajeng tak menoleh. Ia fokus menatap buah hatinya sambil sesekali mengelap peluh di kening bayi itu.
"Aku ingin mengenalkanmu juga Dira pada keluargaku..." Sesuatu yang sudah lama Cakra rencanakan akhirnya ia utarakan juga.
"A-apa, Mas?" Ajeng shock? Tentu saja. Ia bahkan belum mempersiapkan diri untuk itu.
.......
Maya berdiri di depan cermin. Ia menatap pantulan wajahnya di dalam sana. Tangannya terangkat untuk menghapus air mata yang masih setia menuruni pipi.
"Tante kenapa?"
"Eh?" Maya buru-buru membersihkan wajahnya, lalu menunduk menatap seorang gadis kecil yang entah datang dari mana.
"Apa tante sedang sedih? Kata papa, orang akan menangis saat mereka merasa sedih," ucap gadis kecil tersebut.
Maya tersenyum, lantas berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan si gadis kecil. "Tante hanya mengingat sesuatu yang sedih makanya tante menangis."
"Tante jangan menangis lagi, kata papa kalau suka menangis nanti cantiknya hilang."
"Eh, benarkah?" Maya berlagak pura-pura percaya. "Apakah sekarang tante sudah tidak cantik lagi?"
"Hihi... Tante masih cantik, kok. Cantik sekali persis seperti mama."
Maya tertawa, gadis kecil ini sungguh menghiburnya. "Oh ya, ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini, sayang? Di mana orang tuamu?" tanya Maya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar, tidak ada orang lain selain mereka di dalam toilet itu.
"Eh? Kalau begitu ayo cepat masuk..." Maya membuka salah satu bilik toilet dan menggiring bocah itu masuk.
"Tante..." panggil si bocah.
"Kenapa, sayang?"
Bocah perempuan dengan rambut dikepang dua itu menatap Maya dengan wajah malu-malu. "Tente jangan pergi, ya. Temani aku sampai selesai pipis. Aku takut..." pintanya.
Maya terkekeh. "Baik, sayang. Cepatlah masuk nanti keburu pipis di celana!"
"Iya, hihi..."
Beberapa menit kemudian, bocah itu keluar. "Sudah, Tante. Kalau begitu aku mau cuci tangan dulu." Ia langsung berjalan menuju wastafel.
"Tante..." Gadis itu kembali memanggil Maya.
"Kenapa, sayang?" tanya Maya seraya menghampiri.
"Tempatnya tinggi, aku tidak sampai untuk mencuci tangannya," katanya polos.
Maya lagi-lagi tersenyum, ia mencubit gemas pipi bulat bocah itu. "Lalu kau mau tante bagaimana, sayang?"
"Gendong..." ucapnya malu-malu.
__ADS_1
Maya mengangguk. Ia menggendong bocah menggemaskan itu agar bisa mencuci tangannya.
"Tante... kata bu guru, cuci tangan itu harus pakai sabun supaya bersih..." katanya.
"Iya, bu gurumu benar sekali, sayang. Kita harus mencuci tangan menggunakan sabun agar kuman-kuman di tangan kita mati."
"Sudah selesai, Tante. Aku mau turun."
Maya menurunkan tubuh gadis kecil itu. "Ayo kita keluar?" ajaknya.
"Iya..." Tiba-tiba gadis itu menggandeng tangan Maya keluar dari toilet.
... ....
Seorang pria mondar-mandir gelisah menunggu putrinya yang belum kembali dari toilet.
"Papa!" Seruan itu membuatnya berbalik. Ternyata putrinya sudah kembali. Dan dia bersama seorang wanita, siapa?
"Kei, sayang. Kenapa lama sekali, Nak? Papa cemas menunggumu." Pria itu meraih putrinya dan membawanya dalam gendongan.
"Maaf, Papa. Tadi aku takut, toiletnya sepi. Untung ada tante cantik, dia mau menemaniku di dalam," beritahu sang anak.
Si pria menatap wanita yang sudah membantu putrinya. Eh? Sepertinya ia kenal.
"Bu Maya?"
Maya yang dipanggil namanya mendongak. Ia menatap pria yang merupakan ayah si gadis kecil itu. "Maaf, apa aku mengenalmu?" tanya Maya.
"Aku polisi yang dulu mengantarkanmu ke rumah sakit," jawab si pria.
"Eh?" Maya coba mengingat, tapi ia tetap tidak ingat. Mungkin karena keadaannya tidak baik-baik saja waktu itu. "Ah... terima kasih atas bantuannya waktu itu, Pak." Maya tidak bisa mengingat, jadi ia mengucapkan terima kasih saja atas pertolongan pria itu dulu.
"Sama-sama. Aku juga harus mengucapkan terima kasih karena kau sudah membantu putriku," kata pria itu.
"Ah, iya. Tidak masalah, kok."
"Kei, apa kau sudah mengucapkan terima kasih pada Tante Maya?" Si pria bertanya pada putrinya yang sedari tadi asyik menyimak pembicaraan dua orang dewasa itu.
"Belum, Papa." Bocah yang dipanggil Kei oleh papanya itu tertawa cengegesan.
"Ayo sekarang katakan!"
"Tante cantik, terima kasih ya karena tadi sudah mau menemani Kei di toilet." Kei berucap imut, membuat dua orang di sana gemas.
"Iya, sama-sama sayang." Maya tersenyum dan mengusap pelan kepala Kei.
"Tante mau tidak jadi mama Kei?"
Deg
"Apa?!"
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like & Comment...
Makasih udah baca😊