
...🌷Selamat Mambaca🌷...
"Kau yakin dengan keputusanmu itu, Nak?" Ibunya Cakra- Tyas, bertanya sekali lagi pada putra bungsunya, mengenai keputusan Cakra untuk berpisah dengan Silvia.
Cakra telah menceritakan semua masalah yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya pada sang ibu. Bukannya ingin mengumbar aib pernikahannya dengan Silvia, hanya saja Cakra ingin mendapatkan beberapa nasihat dari orang tuanya, langkah apa yang harus ia ambil agar dikemudian hari tidak menyesali keputusannya.
"Iya, Bu. Untuk apa lagi aku mempertahankan pernikahan yang tujuannya saja sudah tidak jelas akan dibawa ke mana." Cakra tetap yakin pada keputusannya.
"Cobalah untuk berunding sekali lagi dengan istrimu, Nak. Semoga kalian bisa mendapatkan jalan keluarnya. Jika nanti masih tidak ada kejelasan, ibu akan mendukung semua keputusanmu."
"Ibumu benar, Nak. Ajaklah Silvia bicara dari hati ke hati. Mana tahu nanti hatinya luluh dan bersedia untuk kembali menjadi istrimu yang sesungguhnya. Ingat, jangan ambil keputusan dalam keadaan emosi!" Guntur-ayah Cakra yang sedari tadi menyimak, mulai mengambil bagian.
Cakra mendengarkan dengan baik nasihat kedua orang tuanya. "Baiklah, aku akan memikirkan ulang masalah ini."
"Syukurlah. Sejujurnya ibu sangat menyayangkan jika kalian harus berpisah. Tiga tahun itu bukanlah waktu yang sebentar. Seandainya kalian berpisah pun, belum tentu juga kau akan mendapatkan pasangan seperti yang kau inginkan. Sebaiknya kau pertahankan saja Silvia dan cobalah untuk membimbingnya agar menjadi istri yang lebih baik lagi." Tias menambahkan.
"Iya, Bu. Terima kasih atas nasihat yang telah ayah dan ibu berikan. Aku sangat bersyukur memiliki orang tua yang pengertian seperti kalian." Cakra memeluk ibunya penuh kasih.
Guntur yang melihat hal itu, beringsut duduk ke dekat istri dan putranya. Ia peluk dua orang terkasihnya itu ke dalam rengkuhan lengan tuanya.
"Ekhemm ... sepertinya di sini ada yang lupa jika masih memiliki satu putra lagi." Sebuah suara datang menginterupsi, disusul dengan suara teriakan-teriakan kecil yang melengking.
Tiga orang yang tengah berpelukan itu sontak menoleh ke asal suara. Wajah ketiganya langsung berbinar ceria kala mengetahui siapa yang datang.
"Rama/Mas?"
Mereka bertiga berdiri menyambut kedatangan sulung Adibrata beserta pasukannya.
"Kakek ... Nenek ..." Dua orang bocah seumuran berlarian dan seketika menghambur memeluk dua orang paruh baya di sana.
"Arjuna ... Anjani ..."
"Selamat siang, ayah, ibu, Cakra." Seorang wanita cantik datang, menyapa semua yang ada di sana. Kedua tangan wanita itu penuh membawa berbagai macam oleh-oleh dari Bali. Mereka baru saja pulang dari liburan.
"Sinta."
Ya, siang itu rumah mereka kedatangan tamu yang tak diundang. Memang, mereka tidak membutuhkan undangan karena merupakan penghuni rumah itu juga.
Rama adalah putra pertama pasangan Guntur dan Tyas, kakaknya Cakra. Dia memiliki seorang istri dan sepasang anak kembar yang berumur 5 tahun.
"Kenapa tidak bilang kalau mau pulang?" tanya Tyas yang tengah memangku cucu cantiknya.
"Ya kejutan dong, Bu." Rama menggiring istrinya untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Wah ... banyak ini oleh-olehnya, untuk paman ada tidak, Keponakan?" tanya Cakra seraya mencubit pipi gembil Arjuna yang berada di pangkuan kakeknya.
"Papa, oleh-oleh untuk paman ada tidak?" tanya Arjuna polos pada ayahnya.
"Hm ..." Kakak dari Cakra itu terlihat berpikir. "Ada dong, sayang," jawabnya kemudian.
"Ada, Paman." Bocah itu lalu memberitahukannya pada Cakra. Semua orang yang ada di sana tertawa melihat tingkah menggemaskan Arjuna.
"Malam ini kalian semua menginap saja di sini, ayah sangat rindu suasana ramai seperti ini," ucap Guntur.
"Iya, Yah. Rencanaku memang seperti itu," sahut Rama cepat. "Lagi pula anak-anak sepertinya juga sangat rindu pada kakek dan neneknya."
Semenjak menikah, Rama memang memilih tinggal terpisah dengan orang tuanya. Tidak terlalu jauh, karena masih dalam kawasan kota Jakarta.
__ADS_1
.......
Malam ini Tyas dan Sinta tengah sibuk menata hidangan makan malam di meja makan. Hari ini keluarga mereka akan berkumpul setelah sekian lama dalam satu meja. Sore tadi Tyas juga sudah menghubungi menantunya, Silvia. Cuma, sampai saat ini wanita itu belum menampakkan batang hidungnya.
Setelah semua hidangan tersaji dan kursi-kursi di meja makan sudah pada terisi, barulah sang menantu bungsu datang tergopoh-gopoh.
"Selamat malam semuanya, maaf aku terlambat." Silvia menyapa semua yang berada di sana.
"Tidak apa-apa, Nak. Sekarang bersihkan dirimu dulu, kami akan menunggu," kata Guntur.
Buru-buru Silvia menuju kamar Cakra yang ada di sana.
Rama menatap wajah sang adik yang terlihat sangat cuek saat istrinya datang. Apa mereka sedang ada masalah? Sepertinya begitu.
Tidak menunggu waktu lama, Silvia datang dan makan malam pun segera dimulai.
.......
Cakra baru saja keluar dari dalam kamar mandi saat istrinya masuk ke dalam kamar.
"Mas, aku-"
"Aku keluar sebentar, mau bicara dengan Mas Rama." Cakra memotong ucapan istrinya dan keluar dari dalam kamar. Malam ini ia memang berjanji pada Rama untuk mengobrol.
"Ada masalah?" Rama langsung bertanya saat Cakra datang menghampirinya di taman belakang rumah.
Cakra mendudukkan pantatnya pada kursi di hadapan Rama dan langsung saja menyeruput secangkir kopi yang sudah tersedia di hadapan.
"Rasanya aku ingin menyerah saja." Cakra berucap setelah kerongkongannya dibasahi seteguk cairan pahit berwarna hitam itu.
Cakra mendesah pelan. "Aku membutuhkan seorang istri yang selalu ada buatku, Mas. Menyuport segala hal yang aku lakukan dan menjadi teman dikala aku merasa sepi, tapi bersama Silvia, aku tidak mendapatkan semua itu. Dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri dan aku sering terabaikan."
Rama terdiam heran mendengar ucapan adiknya. Rumah tangga macam apa yang telah dijalani Cakra hingga sang adik terlihat begitu putus asa seperti itu.
"Kau mau berpisah?"
"Entahlah, jika melanjutkan aku tidak tahu akan dibawa kemana pernikahan ini. Bagaimana menurutmu, Mas? Apakah berpisah ada jalan terbaik?" Cakra menatap Rama meminta jawaban.
"Kau tidak mencintai istrimu lagi?" Pertanyaan itu membuat Cakra tersentak. Cinta? Masihkah ada rasa itu setelah semua kesakitan yang ia dapatkan.
"Tidak bisakah diperbaiki lagi? Sayang kalau harus berpisah, tiga tahun perjalanan kehidupan rumah tanggamu akan berakhir sia-sia."
"Mas ..."
"Hm?"
"Aku akan memberitahumu satu hal, tapi berjanjilah kau tidak akan memberitahu ayah atau ibu tentang apa yang akan ku ucapkan ini." Cakra menatap serius kakaknya.
"Aku berjanji."
"Selama ini aku selalu bertahan dengan semua sikap cueknya padaku, Mas. Namun, kelakuannya kali ini sudah tidak bisa lagi ku tolerir."
Rama memperbaiki duduknya. Pembahasan kali ini akan menjadi lebih serius lagi. Ia harus mendengarkannya dengan seksama. "Apa yang sudah dilakukannya?"
"Dia telah menggugurkan calon anak kami dengan sengaja, Mas."
Deg
__ADS_1
"Apa? Ma-maksudmu bagaimana?" Rama belum mempercayai pendengarannya.
"Selama tiga tahun ini, aku sudah memimpikan untuk memiliki buah hati. Hanya saja, karena lebih mengutamakan karirnya Silvia memilih untuk menundanya. Aku sudah bersabar selama ini, Mas." Mata Cakra mulai berkaca-kaca.
"Dhik ..." Rama menyentuh pundak adiknya, menguatkan.
"Tapi, beberapa minggu yang lalu, dia keguguran karena terpeleset di toilet rumah sakit."
Tangan Rama berpindah mengelus punggung Cakra yang baru kali ini terlihat sangat rapuh di matanya.
"Malamnya, aku baru tahu kalau dia berbohong, Mas. Dia tidak keguguran, tapi dia dengan sengaja menggugurkan kandungannya. Aku menemukan pil laknat itu di dalam tasnya. Aku harus bagaimana, Mas? Aku sudah lama menunggu kehadiran seorang anak, tapi kenapa dia tega melenyapkannya. Apa salahku, Mas?" jelas Cakra dengan isak tangis yang begitu menyayat hati.
Deg
Rama berdiri dan menghampiri Cakra, ia peluk adik yang sangat disayanginya itu. "Tenanglah!" Hanya itu yang bisa diucapkannya. Jujur saja, ia sangat kecewa dengan apa yang telah diperbuat oleh adik iparnya itu, tapi kini bukanlah saatnya untuk saling menyalahkan. Ia harus membantu Cakra untuk mencari jalan keluar.
Tanpa sepengetahuan mereka berdua, ternyata Tyas sudah lama berdiri di ambang pintu tak jauh dari sana. Wanita tua itu berdiri kaku setelah mendengar semua kepedihan yang telah dirasakan putra bungsunya. Ia pikir, ini hanyalah masalah kurangnya komunikasi antara Cakra dan Silvia, ternyata ada masalah berat yang disembunyikan putra bungsunya itu.
"Pantas saja, sudah tiga tahun mereka menikah tak kunjung mendapatkan anak. Ternyata itulah alasannya." Mulai malam ini, pandangan Tyas pada menantu bungsunya itu sudah berubah. Ia sungguh kecewa.
... ....
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 9 malam, tapi Radi belum juga pulang. Ajeng sudah beberapa kali menghubunginya, tapi panggilannya sama sekali tidak diangkat, bahkan nomor suaminya sudah tidak aktif. Ia merasa khawatir.
"Ya Tuhan, kau kemana Mas ..." Ajeng hanya bisa menunggu dengan gelisah. Ia mengelus perutnya yang terasa kram. Pikirannya yang tidak tenang ternyata sangat berpengaruh pada kehamilannya. Wanita itu mencoba rileks, tidak ingin hal yang buruk terjadi pada janin dalam kandungannya.
.......
Radi sampai di sebuah rumah kecil yang terletak cukup jauh dari pemukiman warga. Di depan rumah, sudah ada tiga orang yang berjaga.
"Di mana dia?" tanya Radi pada ketiga pria berbadan besar itu.
"Di dalam, Tuan." Satu pria menuntunnya ke dalam dan dua lagi tetap menunggu di luar.
Seorang pria duduk pada sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat. Mulutnya juga dilakban dengan plester hitam. Radi menghampirinya.
"Jadi kaulah yang telah mencoba menghancurkan rumah tanggaku, hah?" tanya Radi begitu sampai di hadapan si pria yang terikat itu.
Pria yang tidak ia ketahui namanya itu mendongak, menatap lekat pada Radi dengan mata hitamnya yang menghunus tajam.
Deg
Radi terhenyak. Ia merasa tidak asing dengan tatapan itu. Dengan gerakan lamban, ia mencoba untuk membuka lakban yang menutup mulut si pria. Ia penasaran, siapa pria yang ada di hadapannya ini.
Saat lakban terbuka, mata Radi melotot melihat keseluruhan wajah si pria yang ternyata sangat dikenalinya itu.
"Lama tidak bertemu, sahabat."
Bagas menatap Radi dengan senyuman miringnya yang sangat meremehkan.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......
...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1