
...🌷Selamat Membaca🌷...
Selama seminggu dipingit, Ajeng terlihat sangat sibuk. Mulai dari pengepasan baju pengantin sampai perawatan diri di salon. Wanita itu tidak melakukannya sendiri, ada Tyas dan Sinta yang setia menemani. Tiga hari sebelum pernikahan, barulah Ajeng berdiam diri di rumah menunggu hari bahagianya.
Berbeda dengan Ajeng, Cakra melaluinya dengan berat. Setiap harinya, rasa rindu pada Ajeng dan Dira semakin menumpuk. Bahkan untuk melihat putri kecilnya saja, ia tidak diizinkan oleh sang ibu, padahal Dira bukanlah pengantinnya, sungguh terlalu.
.......
"Bagaimana Jeng, apa kau sudah siap?" Radi memasuki kamar Ajeng, wanita yang akan menjadi ratu sehari itu baru saja selesai dirias.
"Iya, Kak." Ajeng yang semula sibuk mematut dirinya di depan cermin pun berbalik.
Radi terpesona melihat penampilan mantan istrinya. Ajeng terlihat sangat menawan dengan kebaya pengantin yang membalut tubuhnya yang langsing. Wajah cantik berpoles make up flawless wanita itu juga tampak bercahaya, jelas sekali terlihat pancar kebahagiaan di sana. Radi turut berbahagia atas pernikahan Ajeng dan Cakra yang akan dilangsungkan sebentar lagi.
"Ayo, sekarang kita berangkat!" ajak pria itu. "Semuanya sudah menanti kehadiran dirimu."
Cakra dan keluarganya, serta para sahabat dari kedua calon pengantin sudah sampai di masjid yang menjadi tempat diadakannya akad nikah.
Hanya butuh waktu lima menit, kini Radi dan Ajeng sudah sampai di sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari kediaman Ajeng.
Semua pasang mata yang ada di dalam tempat ibadah itu memandang takjub pada si pengantin wanita yang baru saja memasuki tempat akad. Cakra yang duduk gelisah sedari tadi, segera mengalihkan pandangannya pada pintu masuk.
"Ajeng..." ucapnya. Kini, wanita yang sebentar lagi akan resmi menjadi istrinya itu sudah sampai dan perlahan duduk di sampingnya. Sepasang mata elang Cakra tak lepas memandangi wajah cantik dari wanita yang selama seminggu ini tidak ditemuinya. Tiba-tiba saja, dada pria itu berdebar. Rasa rindu yang memenuhi rongga dadanya, kini sudah menemukan obat penawarnya.
"Sayang, kau terlihat sangat menawan. Aku rindu..." bisik Cakra setelah Ajeng duduk tepat di sampingnya.
Wanita yang mendapat bisikan halus itu hanya bisa tersenyum malu.
Tak lama kemudian, acara dimulai. Sebelum ijab kabul, kedua pengantin mendengarkan nasihat dari penghulu terlebih dahulu.
Sekarang, tibalah momen yang sangat dinanti-nantikan, baik bagi pasangan pengantin maupun orang-orang yang menyaksikannya.
Cakra menjabat tangan wali hakim yang akan menikahkan mereka. Kenapa wali hakim? Karena ayah Ajeng sudah meninggal dan juga tidak ada saudara laki-laki dari almarhum ayahnya yang memang anak tunggal.
"Saya nikahkan engkau, Cakra Adibrata bin Guntur Adibrata dengan ananda Ajeng Pramesti Winata binti Surya Winata, dengan mahar seperangkat alat salat dan perhiasan emas seberat 100 gram dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ajeng Pramesti Winata binti Surya Winata dengan mahar tersebut dibayar tunai."
Cakra berhasil mengucap kabul dengan lancar dalam satu tarikan napas.
"Sah?" tanya pak Penghulu pada masing-masing saksi dan dijawab dengan kata sah oleh mereka. Kebetulan yang menjadi saksi pernikahan kali ini adalah Rama dan Radi.
SAH
Semua mengucap syukur saat kata sah berkumandang. Beberapa do'a dipanjatkan untuk sepasang insan yang sudah bersatu dalam ikatan halal bernama pernikahan.
__ADS_1
Ajeng dan Cakra saling berpandangan, keduanya menyunggingkan senyum bahagia. Ajeng meraih tangan kanan suaminya dan menciumnya takzim. Cakra membalas dengan mencium kening istrinya lama. Beberapa orang mengabadikan momen manis tersebut, pun dengan fotografer yang telah mereka sewa.
Setelah ijab kabul, Cakra dan Ajeng melakukan sungkem pada Guntur dan Tyas selaku orang tua mereka. Pada Rama dan Sinta juga, karena pasangan itu adalah kakak dari Cakra.
.......
Setelah acara ijab kabul, Cakra dan keluarganya membawa Ajeng ke hotel yang telah mereka sewa sebagai tempat diadakannya resepsi pernikahan nanti malam.
"Nak, sekarang kalian istirahat saja di kamar. Nanti malam akan menjadi waktu yang cukup melelahkan untuk kalian berdua," kata Guntur.
"Iya, Ayah." Cakra dan Ajeng menyahut bersamaan.
"Pergilah! Ayah dan ibu harus memastikan jika persiapannya sudah sempurna," tambah Tyas. Sepasang orang tua itu berlalu pergi.
Cakra menggandeng tangan istrinya menuju kamar pengantin mereka.
Cklekk
Ajeng dan Cakra terkesima begitu melihat penampakan ruangan cukup luas yang akan menjadi kamar pengantin mereka. Terlihat temaram dan dipenuhi oleh aroma Lavender dari lilin aromaterapi yang tersebar di beberapa titik. Ajeng melangkah masuk, sementara Cakra mengunci pintu.
"Huh... untung saja tidak ada taburan kelopak mawar di ranjang ini," batin Cakra. Jujur saja, ia tidak suka sesuatu yang berlebihan.
"Ah, baju ini membuatku sulit bergerak. Apa aku boleh melepasnya?" tanya Ajeng meminta persetujuan Cakra.
Ajeng mendelik. "Apa sih, Mas. Aku hanya ingin ganti baju bukan meminta yang aneh-aneh, ya!"
"Iya, sayang. Pergilah ganti baju."
"Hm..." Ajeng mengangguk. Ia berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian yang memang sudah disiapkan Tyas untuk mereka.
"Eh? Kenapa hanya ada gaun malam yang seksi, sih?" gerutu Ajeng. Mau tak mau, ia memilih satu yang menurutnya tidak terlalu minim dan membawanya ke kamar mandi untuk berganti, sekaligus membersihkan diri.
Saat Ajeng sibuk di kamar mandi, Cakra berjalan menuju jendela kamar dan menyingkap tirai agar cahaya terang bisa masuk. Ia juga mematikan beberapa lampu menyala yang tidak diperlukan cahayanya.
Setelah ruangan berubah terang, Cakra melepas jas juga kemeja yang dikenakannya, menyisakan kaus dalaman tipis berwarna putih. Ia merasa sedikit gerah walaupun pendingin ruangan menyala.
Pria itu berdiri di depan jendela dan menyaksikan pemandangan di luar sana. Tak berselang lama, ia dikagetkan dengan sebuah pelukan tiba-tiba dari arah belakang. Sepasang tangan ramping dan mulus telah melingkar erat di perutnya yang keras. Cakra tahu benar siapa yang kini tengah memeluknya.
"Kau sudah selesai?" Cakra membalik tubuhnya.
"Hm..." Ajeng mengangguk. Ia membenamkan wajahnya di dada sang suami.
"Kenapa, hm?" Cakra menyisir rambut Ajeng yang tergerai dengan jemarinya.
"Aku bahagia..." Ajeng semakin mengeratkan pelukannya. Bersandar di dada Cakra sangatlah nyaman, membuatnya terlena.
__ADS_1
"Eh...." Ajeng menjerit ketika tubuhnya terangkat tiba-tiba. Cakra menggendongnya menuju ranjang, lalu merebahkan tubuh itu di sana.
"M-mas..." ucap Ajeng gugup. Pasalnya kini tubuh Cakra berada di atas menghimpit tubuhnya.
"Apa sayang?" tanya Cakra sembari menatap lekat wajah istrinya. Tangannya terangkat dan merapikan beberapa helai rambut yang menutupi wajah cantik itu.
"Mas mau apa?" tanya Ajeng.
"Memakanmu."
Jawaban Cakra membuat pipi Ajeng bersemu. "Bukankah tadi Mas mengatakan jika ini masih terlalu siang untuk melakukannya," ucapnya mengingatkan.
"Hm..." Cakra hanya berdehem. Jemarinya mulai merayap, membelai wajah Ajeng.
"Mas, geli!" protes Ajeng. Wanita itu terkiki kecil sambil menggelengkan kepalanya, menghindar dari keusilan jemari Cakra.
"Sayang..." panggil Cakra.
"Hm, apa?" Ajeng menatap wajah tampan suaminya.
"Boleh cium?" pinta pria itu penuh harap.
"Hahaha..." Tawa Ajeng menyembur. "Kau lucu sekali, Mas! Mau cium saja harus minta izin dulu padaku. Lakukan saja, Mas. Hari ini dan selamanya, aku adalah milikmu."
Deg
Cakra tersenyum. "Ya, mulai hari ini kau adalah milikku dan aku adalah milikmu."
Cup
Cakra mendaratkan bibirnya pada bibir Ajeng. Awalnya hanya berupa kecupan ringan, lambat laun berganti dengan lum*tan kecil, dan kini ciuman sepasang pengantin baru itu semakin panas dan liar.
Beberapa saat kemudian, Cakra menyudahi ciumannya. Ia memandang wajah memerah sang istri yang terlihat sangat menggairahkan di matanya.
Cup
Satu kecupan di kening ia berikan sebagai penutup. "Sekarang kita istirahat, malam nanti akan menjadi malam yang panjang."
Cakra berguling dan merebahkan tubuh di samping Ajeng. Mereka berdua tertidur sambil berpelukan.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih
__ADS_1