2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 1. SMA Garda Satya


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Kantin sekolah menengah atas Garda Satya saat ini terlihat ramai dipadati siswa-siswi yang mengisi perut maupun menongkrong.


"Ra, kamu lapar apa doyan?" Seorang siswi melongo melihat temannya sudah menghabiskan tiga mangkok bakso dalam waktu seperempat jam saja.


"Doyan," jawab siswi yang tak lain adalah Dira, disela kunyahannya. Semasa diet, ia tidak pernah leluasa memakan makanan cepat saji seperti bakso ini, jadi kini ia ingin menebus semuanya. Masa bodoh dengan berat badannya yang akan naik, ia sudah tidak peduli dengan penampilan karena pacar sudah tidak punya. Jadi untuk apa menahan selera dengan berdiet.


"Mau aku pesankan lagi, Ra?" tanya temannya yang lain. Ia melihat jika napsu makan temannya itu masih ada.


"Oh, boleh. Satu mangkok bakso lagi ya, Han, terus tambah satu es jeruk. Makasih sahabatku..." Dira tersenyum manis dengan pipinya yang gembung berisi makanan. Ah... terlihat menggemaskan.


"O-oke, Ra. Lun, temani gue pesan, yuk!" ajak Hanna pada temannya yang lain.


"Iya. Ra, kita pesan makanan dulu, ya? Lo nggak apa 'kan ditinggal sendiri?" tanya Luna.


"Iya, nggak apa 'kok."


Kedua teman Dira pun pergi meninggalkan gadis yang masih asyik mengunyah makanannya itu.


"Si Alvin chipmunk itu benar-benar keterlaluan, dia membuat sahabat kita patah hati sampai jadi doyan makan seperti itu," ucap Hanna kesal.


"Itu lebih baik. Lo nggak ingat apa betapa ketatnya Dira berdiet hanya untuk menjaga badannya agar tetap langsing supaya terlihat menarik di mata si Alvin? Kadang gue sedih, di saat kita makan enak, dia hanya bisa liatin. Mudah-mudahan mereka putus deh, biar Dira bisa bebas," jelas Luna panjang lebar.


"Iya, semoga deh. By the way, gue belum lihat tuh penampakan si chipmunk dari pagi. Dia nggak sekolah ya?" tanya Hanna kemudian.


"Ish, bodoh amat. Nggk ngurusin gue." Luna mendengus malas.


...----------------...


Di sebuah bangku yang terdapat di sudut kantin, ada seorang cowok yang duduk memerhatikan kegiatan Dira sedari tadi. Kadang ia tersenyum gemas melihat tingkah gadis yang beberapa tahun ini telah menarik perhatiannya.


"Bro, lihatin apa sih, sampai segitunya?" seorang cowok lainnya datang menghampiri dan menepuk pundak si cowok yang tengah memerhatikan Dira sampai ia terperanjat kaget.

__ADS_1


"Saka!" Si cowok pertama langsung menoleh dan mendapati sang adik yang ternyata telah mengganggu kesenangannya.


"Lihatin apa sih, Bang? Asyik benar nampaknya." Cowok bernama Saka itu langsung mengikuti arah pandang dari saudaranya. Wajahnya berubah jahil dengan sebuah senyuman miring tercipta di bibirnya. "Lo lihatin Dira, kan? Lo suka ya bang sama sepupu kita itu?" tebak Saka.


"A-apaan sih lo?" Cowok bernama Lingga itu langsung salah tingkah. Wajahnya sedikit memerah. "Gue cuma lihatin doang, nggak punya maksud apa-apa," elaknya. "Lagi pula, dia juga sudah punya cowok. Ngapain gue suka sama cewek orang," tambahnya supaya lebih meyakinkan.


Mata Saka memicing curiga melihat gelagat aneh yang ditunjukkan saudara beda ibunya itu. Namun, walaupun begitu, ia tidak lagi menggodanya, karena ada hal lain yang lebih penting baginya untuk dibicarakan.


"Bang, gue butuh bantuan lo?" ucap Saka serius.


"Bantuan apa?" jawab Lingga.


"Gue pinjam motor lo, ya?" pinta Saka.


Lingga mengerutkan kening. "Motor lo ke mana?"


"Disita mommy..." Saka tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi. "Gue ketahuan ikut balapan liar jadi disita itu motor kesayangan gue sampai waktu yang belum ditentukan."


"Jadi lo pinjam motor gue untuk apa? Mau lo pakai buat balapan lagi? Kalau iya, sorry... gue nggak bisa. Entar mommy lo marah sama gue!" tolak Lingga.


Lingga dan Saka memiliki motor sport masing-masing. Motor itu dibelikan oleh ayah mereka, Satria, sebagai hadiah ulang tahun. Pria itu berubah menjadi ayah yang baik dan adil bagi kedua putranya.


"Bukan, Bang. Mau gue pakai buat kencan, kok, bukan buat balapan." Saka memohon.


"Kencan? Kalau kencan kenapa harus pakai motor? Di garasi rumah lo 'kan ada mobil yang nggak kepakai, bawa itu aja!" balas Lingga yang masih kekeuh tidak ingin meminjamkan motornya.


Saka mengacak rambutnya kesal. "Kencan naik mobil itu nggak asyik, Bang. Nggak bisa pelukan!"


"Pelukan aja yang ada di kepala lo!"


"Ayolah, Bang. Sekali ini aja, pinjami gue motor lo!" Kali ini Saka sedikit merengek membuat Lingga lelah dan akhirnya mengiyakan saja permintaan sang adik.


"Oke. Nanti pulang sekolah, lo ikut gue ke rumah dan setelah itu lo bisa bawa motor gue. Tapi, kalau gue tahu lo berbohong, gue akan minta daddy buat jual motor lo!" ancam Lingga.

__ADS_1


"Yess..." Saka bersorak senang. "Thanks, Bro!" Ia memeluk Lingga sebentar lalu segera melesat pergi entah ke mana.


"Kencan... kencan..." Di lorong menuju kelasnya, Saka terus bersenandung riang. Besok weekend dan dia berencana ngedate dengan pacarnya yang baru. Ya, habis putus kemarin dan pagi tadi ia jadian lagi dengan yang lain. Cewek mana yang bisa menolak ketampanannya, hanya cewek bodoh yang melakukan itu.


"Udah gila lo!" Kesenangan Saka sirna begitu mendengar ejekan dari seseorang yang kini berada tepat di sampingnya. Seseorang itu baru saja keluar dari toilet yang ia lewati.


Saka langsung menoleh dan menemukan adik kelasnya yang paling cantik dan ganas. Ia pun tersenyum manis.


"Eh, neng Eya. Makin cantik aja sih, Neng, bikin akang semakin jatuh cinta sama Neng Eya," ucapnya gombal.


Orang itu adalah Eya. Ia yang baru keluar dari toilet langsung disuguhi oleh tingkah absurd kakak kelasnya, membuat mulutnya tak tahan untuk tidak menghujat.


"Neng... neng, gigi lo boneng!" balas Eya yang enek melihat tingkah tidak jelas seniornya.


Melihat Eya yang sangat ketus kepadanya, membuat Saka semakin semangat untuk menggoda gadis cantik namun bar-bar itu.


"Ih, Neng nggak boleh gitu, nggak baik ngomongnya kasar. Akang nggak suka, Neng gelis itu ngomongnya harus sopan dan lembut, apalagi sama orang yang lebih tua," kata Saka, sok memberi nasihat.


Eya mengernyit jijik. "Apaan sih, Lo! Nggak jelas. Minggir sana!" Tidak ingin berurusan lebih lama dengan Saka, Eya pun beranjak pergi.


"Neng Eya, tunggu akang!" teriak Saka. Tak ingin melewatkan kesenangan, Saka pun segera berlari mengejar Eya. Menggoda Eya adalah suatu hiburan yang menyenangkan bagi Saka di sekolah.


"Dasar playboy gila!" Eya langsung mengambil ancang untuk berlari ketika menyadari jika Saka justru mengejarnya.


...Bersambung...


Test...


Jangan lupa Like, Vote & Comment


Terima kasih sudah membaca🙏🏻😊


Karena kisahnya menceritakan karakter yang masih ABG, jadi bahasanya sedikit gaul.

__ADS_1


__ADS_2