
...🌷Selamat Membaca🌷...
Bagas berdiri di depan sebuah club malam yang cukup terkenal di kotanya. Kalau bukan karena seseorang yang barusan menghubunginya, tentu ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di tempat yang penuh ingar bingar seperti ini.
Baru saja satu kakinya melangkah masuk, Bagas sudah disuguhi dengan dentuman suara musik yang memekakkan telinga. Kepalanya mendadak berdenyut. "Aku harus cepat keluar dari tempat ini," gumamnya.
Pria itu berjalan menuju meja bar, ia akan mencari seseorang di sana. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya yang sedang galau karena baru berpisah dari istri tercinta.
"Cukup!" Bagas langsung merebut gelas minuman yang hampir mencapai mulut Radi.
"Hei, apa-apaan kau!" protes Radi yang belum sadar jika orang yang telah merebut minumannya adalah Bagas, sahabatnya yang ia minta datang untuk menemani.
"Cukup, Di!" bentak Bagas.
"Akhirnya kau datang juga, Gas..." Radi tersenyum begitu melihat kehadiran Bagas. Pria itu sudah terlihat teler. Entah berapa banyak minuman yang sudah masuk ke lambungnya.
"Ayo kita pulang! Kau sudah mabuk, Bung!" Bagas menarik tangan Radi, tapi pria yang baru menyandang status duda itu segera menepisnya.
"Aku tidak mau pulang, untuk apa pulang kalau tidak ada yang menungguku lagi di rumah..." racau Radi.
"Nanti aku carikan yang baru, ayo!" Bagas memaksa Radi bangkit, tapi sahabatnya itu langsung memberontak.
"Apa kau serius?" tanya Radi. Ia memandang Bagas dengan mata memicing.
"Iya, aku serius. Aku akan mencarikan seseorang yang akan menyambut kepulanganmu. Jadi sekarang kau harus pulang, ayo! Aku tidak ingin berlama-lama, anak dan istriku menunggu di rumah," bujuk Bagas.
"Ok." Radi membentuk jarinya menyerupai👌🏻, lantas bangkit. Ia pasrah saja kala tangannya ditarik oleh Bagas.
"Hei, hati-hati!" pekik Bagas. Ia kesusahan mengiringi langkah Radi yang berjalan sempoyongan, beberapa kali duda satu anak itu hampir terjerembap ke lantai.
"Hehe, ada gempa, Gas. Tanahnya bergoyang," Radi tertawa cengegesan.
"Sialan ini orang mabuk!" rutuk Bagas kesal. Mana ada gempa, tak ada tanah bergoyang, yang ada hanya Radi yang teler.
Mereka berdua telah sampai di parkiran. "Mana kunci mobilmu?" tanya Bagas pada Radi.
"Ini!" Radi merogoh sesuatu di dalam saku celananya, setelah dapat ia segera melemparkannya pada Bagas.
Bagas sedikit kesusahan menerima lemparan Radi, tapi untung saja ia bisa mendapatkannya. Namun, saat tangannya menyentuh dan melihat benda yang dikira kunci, mata Bagas seketika melotot. "Ini dompet, bukan kunci mobil, Radi sialan!" jeritnya tertahan.
"Hahahaa...." Melihat sahabatnya kesal, Radi justru terbahak. "Kasihan deh, kena tipu!" Ia menjulurkan lidah, mengejek.
Bagas mengelus dada. "Ya Tuhan, berikan aku kesabaran..." gumamnya. Setelah itu, ia berjalan menghampiri Radi yang sedang menengadah ke langit, sibuk menghitung bintang.
"Kunci mobilmu mana?" Bagas mengulurkan tangannya.
Radi tak menghiraukan permintaan Bagas, ia masih fokus dengan pekerjaan tak bermanfaatnya.
"Hoi, kunci mobilmu mana?" Bagas yang kembali emosi, berteriak tepat di telinga Radi.
"Ish, berisik! Aku jadi lupa kan hitungannya," protes Radi. "Hm... berapa tadi ya, oh ya tujuh puluh enam... tujuh puluh tujuh...." Pria mabuk itu kembali menunjuk ke langit.
__ADS_1
Bagas pun menengadah. Ia hanya melihat langit hitam yang sangat pekat, tak ada bintang maupun bulan, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Mereka harus pulang secepatnya.
"Kemarikan kunci mobilmu!" Jika bertanya tak lagi dihiraukan, Bagas memilih untuk langsung bertindak. Ia memeriksa semua kantong yang ada di celana dan kemeja Radi.
"Geli, geli... Gas. Ah... aduh geli, jangan sentuh aku!" Radi berteriak kegelian saat Bagas menggeledah tubuhnya. Teriakannya itu membuat orang-orang yang ada di halaman depan club memandang mereka aneh.
"Sialan! Jangan berteriak, orang bisa salah paham!" umpat Bagas. Ia sudah mencari kemana pun, tapi kunci mobil Radi tak bisa ia temukan.
"Kunci mobilmu di mana, Radi Nugraha Sialan!" pekik Bagas kesal. Ia merasa tengah dipermainkan saat ini.
Radi terdiam, ia meletakkan telunjuknya di pipi, wajahnya terlihat berpikir. "Tertinggal di meja bar," jawabnya kemudian.
"Shit!" Tanpa mempedulikan Radi, Bagas langsung berlari masuk ke dalam club, mengambil kunci mobil sahabatnya yang tertinggal.
Hanya lima menit, Bagas kembali dengan membawa kunci mobil. "Ke mana tu orang?" tanyanya heran begitu tak melihat penampakan Radi di samping mobilnya.
Huekk... huekk... huekk...
Tak berselang lama, Bagas mendengar suara orang muntah. Ia menelusuri dimana sumber bunyi menjijikkan tersebut. Ternyata, pada salah satu pohon yang tumbuh di depan club, Radi tengah mengeluarkan isi perutnya di sana.
"Iyuhh..." Bagas merinding jijik melihat Radi yang terus muntah. Ia membalikkan tubuh supaya tidak melihat adegan tersebut.
Setelah tak terdengar lagi suara Radi yang muntah, Bagas segera berbalik. "Ini, lap mulutmu!" titahnya sembari menyodorkan sapu tangan miliknya.
Radi mengambil sapu tangan itu dan membersihkan mulutnya. Setelah selesai ia mengembalikannya pada Bagas.
"Iyuhh, simpan saja sapu tangan itu untukmu. Aku tidak butuh lagi!" kata Bagas sambil menutup mulutnya, ia meras mual. Jujur saja, ia termasuk ke dalam orang yang mudah sekali jijik. Bahkan saat Tania hamil dan muntah-muntah dulu, Bagas tak jarang memilih menghindar, karena ia benar-benar tak sanggup menghadapinya.
"Ayo, ku antar kau pulang!" Bagas berjalan terlebih dahulu
"Iya..."
BRAAKK
Radi yang masih sempoyongan jatuh tersungkur karena tidak berhasil menyeimbangkan tubuhnya.
Bagas yang melihat itu rasanya ingin menangis saja. Ia terpaksa membantu Radi bangkit dan memapahnya masuk ke dalam mobil. Suami Tania itu harus mati-matian menahan diri karena perutnya yang bergejolak saat mencium bau tubuh Radi yang sangat busuk, menurutnya. Sepertinya muntahan Radi mengenai kemeja yang dikenakannya.
... ....
Setelah sampai di rumah, Bagas segera memencet bel dengan tak sabaran. Ia sudah tidak betah berlama-lama berada di dekat sahabatnya ini.
Hanya beberapa detik, pintu kayu bercat coklat itu terbuka. Nampaklah Rina, gadis yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah Radi.
"Antar aku ke kamar majikanmu ini!" titahnya.
"Baik, Tuan."
Rina segera menuntun Bagas menuju kamar Radi, sementara Radi badannya sudah begitu lemah. Bahkan matanya m terpejam saat Bagas memapahnya masuk ke kamar.
"Arghhhh... akhirnya." Bagas berucap lega begitu tubuh Radi sudah berhasil ia baringkan di atas tempat tidur.
__ADS_1
"Rina, tolong ambilkan aku handuk basah dan juga baju kaus baru untuk Radi!"
"Baik, Tuan." Rina segera menjalankan perintah.
.......
Bagas pamit pulang, Rina mengantarkannya sampai ke depan pintu. Sebelum pergi, Bagas sempat memperhatikan penampilan asisten rumah tangga Radi itu dengan seksama. Dari atas sampai ke bawah. Jika diperhatikan, Rina memiliki wajah yang manis khas gadis desa, badannya mungil dan ia juga tampak lugu. Bagas takut jika nanti sahabatnya kembali khilaf.
"Rina, dengarkan aku baik-baik!" Bagas hendak memberi wejangan.
"Iya, Tuan. Ada apa?" Rina menatapnya serius.
"Jika pekerjaanmu sudah selesai, langsung ke kamar dan tidur. Jangan lupa kunci pintu kamarmu, jika tengah malam Radi mengetuk pintu memintamu bangun, abaikan saja. Apa kau mengerti?" tanya Bagas.
"I-iya, Tuan. Saya mengerti." Rina jadi bergidik.
"Baiklah, saya pulang dulu."
"Iya, Tuan."
Setelah Bagas pergi, Rina langsung menutup pintu. Gadis itu langsung melesat ke kamar dan menguncinya. Peringatan Bagas tadi membuatnya sedikit cemas.
"Sebaiknya aku tidur saja, lagipula semua pekerjaan sudah beres." Gadis itu meraih selimut, lalu menutupi seluruh badannya.
.......
Tok... tok... tok...
Rina terjaga saat mendengar ketukan di pintu kamarnya. Gadis itu melirik jam yang saat ini menunjukkan pukul satu dini hari.
"Rina, bangun! Ayo buka pintunya!" Terdengar suara Radi di luar.
"Tuan Radi. Apa yang harus aku lakukan?" Tubuh Rina langsung panas dingin, ia jadi teringat pesan Bagas sebelum pergi.
"Rina!"
Tok... tok... tok...
"Lebih baik aku tidur saja." Rina segera menyembunyikan tubuhnya di balik selimut. Ia mengabaikan panggilan Radi, hingga beberapa menit kemudian, suara itu tak lagi terdengar.
"Syukurlah..." Gadis itu mendesah lega.
Di dapur...
Radi tengah memasak mi instan, perutnya sangat lapar karena sedari siang memang belum diisi. Ia ingin meminta Rina memasakkan sesuatu, tapi gadis itu tak kunjung bangun dari tidurnya. Alhasil, ia harus menikmati makanan cepat saji itu di pagi buta ini.
...Bersambung...
Intermeso sejenak....
Jangan lupa Like & Comment, terima kasih....😊
__ADS_1