
...🌷Selamat Membaca🌷
...
Pantai Waecicu, di sanalah Dira dan teman-temannya berada siang ini. Pantai yang dikenal dengan pasir putihnya itu menjadi tempat wisata terakhir yang mereka kunjungi, karena besok sore adalah jadwal untuk kembali ke Jakarta.
Siang yang cukup terik ini membuat semua pengunjung pantai memilih untuk memasuki air.
Berenang mengayun kaki dan tangan, serta menyaksikan dari jarak dekat ikan-ikan kecil yang berwarna-warni seakan-akan berlomba-lomba dengan mereka.
Berada di pantai, tidak membuat Dira dan teman-teman perempuannya serta merta menggunakan bikini seksi yang mengundang banyak mata untuk melihat. Mereka sengaja menyiapkan swimwear jenis Burkini agar tidak terlalu mencolok dan juga bisa melindungi kulit dari paparan panasnya sinar matahari.
Saat ini Dira dan semua teman-temannya berada di dalam air, termasuk Jordan. Entah mengapa, kini pemuda itu sudah menjadi bagian dari liburan mereka. Apalagi jika melihat kedekatan yang terjalin antara Jordan dan Yura, membuat siapa saja yang melihatnya pasti berpikiran jika mereka adalah pasangan kekasih.
Dira dan Lingga berenang bersama, sesekali mereka menyelam sejenak untuk melihat panorama bawah laut yang menakjubkan, begitupula dengan pasangan lainnya.
"Ra, ayo kita berenang lebih ke tengah, di sana pemandangan bawah lautnya lebih bagus!" ajak Jordan.
"Aku belum terlalu jago berenang, Bang. Takut kelelep..." Yura menggeleng.
"Ada aku. Aku akan menjagamu. Selagi ada di sini, rugi kalau tidak menikmati keindahannya..." bujuk Jordan. Ia mengulurkan tangannya pada Yura bermaksud mengajak.
Yura akhirnya mengangguk, bagaimanapun juga ia ingin menikmati semua keindahan di pantai itu. "Jangan lepaskan tanganku ya, Bang!" pintanya setelah tangan mereka saling bertautan.
Jordan tersenyum. Ia perlahan menarik tangan Yura untuk bergerak lebih ke tengah.
Momen manis antara Yura dan Jordan tak luput dari panglihatan Reyhan. Tiba-tiba mood pemuda itu untuk berenang menjadi sirna. Ia memilih keluar dari air dan kembali ke darat. Berjalan menyusuri tepian pantai dengan berjalan kaki seorang diri rasanya lebih baik daripada menyaksikan gadis yang tadi malam menyatakan cinta padanya bermesraan dengan lelaki lain.
Entahlah, Reyhan sendiri tidak mengerti dengan perasaannya. Ia yakin jika dirinya tidak memiliki rasa pada Yura yang dianggapnya hanya sebatas teman, tapi kenapa ketika melihat gadis itu dengan yang lain, hatinya menjadi terusik. Ada perasaan tidak rela kala melihat gadis yang selalu mengekorinya bak anak ayam sekarang berganti akrab dengan laki-laki baru. Tidak mungkin dia yang sudah berteman selama dua tahun akan kalah dengan orang yang baru dua hari kenal, pikirnya.
"Menyebalkan!" Reyhan menendang pasir di depannya.
...****************...
"Bee, kita lomba berenang ke sana, Yuk!" ajak Dira sambil menunjuk sebuah batu karang cukup besar.
"Boleh..." angguk Lingga.
__ADS_1
"Siapa yang menang boleh minta hadiah, ya?" usul Dira.
"Ok!" balas Lingga. Ia yakin bisa menang, dan nanti pastinya akan menagih hadiah pada kekasihnya itu.
Mereka berdua langsung mengambil ancang-ancang. Dan dalam hitungan ketiga, keduanya langsung mengayuhkan tangan dan kaki dengan cepat.
Lingga yang memiliki lengan panjang, otomatis lebih cepat dalam mendayung. Dia sudah sampai lebih dulu di batu karang yang dimaksud, sementara Dira masih tertinggal tidak jauh di belakangnya.
Saat menunggu sang kekasih sampai, tak sengaja telinga Lingga menangkap suara-suara asing dari balik batu karang di belakangnya. Penasaran, ia mengintip apa yang ada di balik batu tersebut.
Deg
Mata Lingga langsung terbelalak ketika melihat sepasang kekasih tengah berciuman mesra. Suara decapan bibir keduanya yang tengah beradu begitu nyaring terdengar. Lingga tidak akan sekaget ini jika pasangan itu adalah orang asing yang tak dikenalinya, tapi ini sebaliknya, ia mengenal baik kedua orang itu.
"Kamu lihat apa, Bee?" Dira yang sudah sampai menjadi heran melihat tingkah mencurigakan kekasihnya. Ia yang penasaran, ikut mengintip.
"Jangan, Bee!" bisik Lingga sambil menarik tangan Dira agar tidak melihat apa yang terjadi di balik batu itu.
"Kenapa? Ada apa?" Melihat Lingga bersuara pelan, Dira pun memelankan suaranya.
"Sebaiknya kita pergi saja!" ajak Lingga.
"Tunggu, aku mau lihat dulu, Bee!" Dira dengan cepat bergerak dan mengintip ke balik karang.
"Biarkan saja mereka, ayo kita kembali ke darat!" Lingga langsung menarik tangan Dira menjauh dari sana.
...****************...
Senja datang lagi menyapa. Sama seperti sebelumnya, mereka kembali menantikan sunset di kota yang terkenal dengan kota seribu sunset itu. Semuanya sudah berada di tepi pantai, berfoto dan berjalan-jalan santai sambil menunggu matahari tenggelam.
"Jangan dilihat terus!" bisik Lingga pada Dira.
"Eh? Nggak kok, Bee..." Dira jadi salah tingkah karena ketahuan melirik pada pasangan di balik batu karang siang tadi. Ia hanya tidak menyangka jika kedua temannya bisa melakukan hal sejauh itu.
"Daripada terus memikirkan hal yang tidak jelas, lebih baik kita jalan-jalan saja!" Lingga menggenggam tangan Dira dan membawanya pergi menyusuri pantai.
...****************...
Lingga dan Dira menghadap ke laut saat matahari perlahan mulai kembali ke peraduannya.
__ADS_1
"Lupakan saja kejadian tadi, lagi pula mereka adalah pasangan kekasih, jadi hal seperti itu sudah lumrah terjadi..." ucap Lingga kembali mengungkit.
"Kita juga pasangan kekasih, tapi tidak pernah melakukannya..." celetuk Dira tanpa sadar.
Deg
Baik Dira maupun Lingga sama-sama kaget mendengarnya.
"Eh?" Dira langsung menutup mulutnya begitu sadar atas apa yang baru saja ia ucapkan. "Ma-maksudku..." Ia jadi gelagapan, ingin memberi alasan, tapi tidak tahu harus berkata apa.
"Bee..." Lingga menyentuh kedua pundak Dira, membuat mereka kini saling berhadapan.
Pipi Dira memerah, ia sama sekali tidak berani menatap wajah Lingga. Ia sungguh malu karena seolah berharap bahwa mereka juga akan melakukannya.
"Boleh?" tanya Lingga lembut.
Dira mendongak. Wajahnya yang menengadah ke atas begitu menggemaskan di mata Lingga. Terlebih saat pandangannya tertuju pada bibir merah muda yang sedikit terbuka itu, membuat nalurinya sebagai lelaki memberontak. Tanpa menunggu jawaban, Lingga langsung mengikis jarak di antara mereka.
Cup
Dira hanya diam mematung saat bibir Lingga hinggap di bibirnya. Rasanya hangat dan lembut. Hanya beberapa detik, kemudian wajah keduanya kembali berjarak.
"Manis..." bisik Lingga.
Dira yang tersadar tidak bisa menyembunyikan senyumannya.
"Boleh aku minta hadiahnya?" tanya Lingga sembari menatap Dira penuh cinta.
"Hadiah?" beo Dira.
"Hm..." Tangan Lingga terangkat dan membelai pipi Dira. "Hadiah lomba renangnya, aku ingin ini..." Jempol jari pemuda itu mengusap pelan bibir Dira.
Jantung Dira berdentum hebat. Ia tidak kuasa menolak godaan itu dan pada akhirnya ia hanya bisa memejamkan mata.
Lingga yang mendapatkan lampu hijau, segera bergerak. Ia meraup bibir kekasihnya dan menciumnya dengan mesra. Kedua insan itu larut dengan romantisme ciuman pertama yang manis dan tak terlupakan.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like vote dan comment 🙏🏻
Terima kasih sudah membaca 🤗