
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Bagaimana bisa ada makhluk Tuhan setampan ini?" Ajeng terpesona memandang wajah tidur Cakra. Ditelusurinya setiap lekukan dari mulai kening hingga dagu.
Cup
Dikecupnya mesra bibir merah nan tebal milik pria yang kini tengah tidur sambil memeluknya.
"Jangan menggodaku, ini masih pagi."
Deg
Ucapan Cakra dalam tidurnya membuat Ajeng tersentak, wajah wanita itu memerah dan dengan paksa langsung melepas pelukan Cakra.
"Sudah pagi, bangunlah!" Ajeng bangkit dari berbaringnya.
"Sebentar lagi, aku masih mengantuk." Tiba-tiba pria itu menarik tangan Ajeng untuk kembali berbaring, dipeluknya tubuh yang cukup berisi itu dengan erat.
"Mas Cakra?"
"Sebentar saja, please!" Wajah Ajeng tepat berada di perpotongan leher Cakra.
Wanita hamil itu tak berkutik, rasa nyaman yang dirasakannya membuat ia terlena dan kembali memejamkan mata.
.... ...
"Sarapannya sudah siap, ayo makan!" ajak Maya begitu melihat Radi keluar dari dalam kamar.
Tanpa menjawab, pria itu langsung duduk di meja makan. Maya dengan cekatan menyajikan makanan untuk suami Ajeng itu.
"Selamat makan."
Dua manusia itu menyantap makanannya dalam diam. Sesekali Maya melirik pria yang duduk di hadapannya, ia merasa sangat senang, karena sebulan ini Radi selalu menginap di rumah mereka.
"Apa Lingga sudah bangun?" tanya Radi selesai dengan sarapannya.
"Ya, dia sedang dimandikan oleh Rina."
"Baiklah, aku akan pergi melihatnya." Radi bangkit hendak menuju kamar sang anak.
"Tunggu, Mas!" Teriakan Maya menghentikan langkah Radi.
"Ada apa?"
"Kau tidak berangkat kerja?" tanya Maya yang juga sudah berdiri dari tempatnya.
"Apa sebulan ini kau melihat jika aku pergi bekerja?" tanya Radi dingin.
"Itulah masalahnya. Sebulan ini kau tidak pernah terlihat ke kantor. Apa ada masalah?"
Radi tersenyum miris. "Aku sudah kehilangan kepercayaan orang-orang di perusahaan, jadi sekarang anggap saja aku sebagai pengangguran."
"Apa?" Maya kaget luar biasa. Ia tak tahu jika Radi menghadapi masalah pada pekerjaannya. Apa mungkin ini karena ulah Ajeng hingga Radi kehilangan pekerjaan. "Dasar wanita jahat. Mentang-mentang kaya, seenaknya saja memecat mas Radi," gerutunya kesal.
Sampai di kamar anaknya, Radi melihat Lingga sedang dipakaikan baju oleh Rina. "Keluarlah, biar aku yang melanjutkannya!" pintanya yang ingin menghabiskan waktu dengan sang putra.
"Baik, Tuan."
Rina meninggalkan kamar Lingga, sementara Radi melanjutkan memasangkan pakaian pada putranya.
"Putra ayah tampan sekali." Radi tersenyum sambil menggendong Lingga yang sudah berusia 4 bulan. Hanya bayi ini yang sekarang menjadi penyemangatnya.
Hidup Radi berantakan setelah ditinggal Ajeng. Pekerjaannya di kantor juga sering terabaikan karena dirinya yang tak bisa fokus, alhasil para dewan komisaris sepakat untuk menangguhkan jabatannya untuk waktu yang tidak ditetapkan. Apakah nanti pemberhentian sementara itu akan dicabut atau justru dikuatkan. Jika pilihan kedua diberlakukan, maka Radi akan digeser dari posisinya sebagai direktur. Bisa jadi jabatannya turun menjadi karyawan biasa atau mungkin bisa dikeluarkan secara penuh dari perusahaan. Pria itu hanya bisa menunggu keputusan itu dikeluarkan.
"Bagaimana kabarmu sekarang, Jeng. Jujur saja aku merindukanmu dan anak kita, tapi kepergianmu ini membuatku terluka, harga diriku menjadi terhina. Jadi, maaf saja jika aku mencari kebahagiaan lain yang pasti adanya. Bukan semu, seperti menanti kembalinya dirimu yang entah kapan itu."
.......
"Jeng, ayo bangun. Sarapan dulu." Cakra berbisik di telinga Ajeng.
Wanita hamil itu menggeliat pelan dan perlahan membuka mata.
"Iya, aku juga sudah lapar sekali." Ajeng segera bangkit dari tidurnya dan duduk sejenak.
__ADS_1
"Aku tunggu di ruang makan ya, sayang?"
"Iya."
Ajeng terdiam sesaat, ia teringat apa yang sudah terjadi semalam. Semoga ini memang jalan yang tepat baginya untuk bisa meraih kebahagiaan yang selama ini ia mimpikan.
.......
"Mas!"
Ajeng mendorong dada Cakra menggunakan kedua tangannya. Napasnya sesak karena pria itu sudah menciumnya hampir semenit.
"Maafkan aku, Jeng." Cakra mengambil jarak, ia merasa canggung karena telah lancang mencium Ajeng.
Ajeng terengah-engah, menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk kembali memenuhi pasokan oksigen dalam paru-parunya yang sempat menipis.
"Kenapa, Mas?" tanya Ajeng setelah dapat menormalkan laju pernapasannya. "Untuk apa ciuman itu?" tuntutnya. Ini sudah yang kedua kalinya mereka berciuman, tentu saja Ajeng ingin mendapat penjelasan dari Cakra. Apa yang sebenarnya dirasakan pria itu hingga menciumnya seperti tadi.
"Jika kau bertanya hal seperti itu, bolehkan aku juga menanyakan hal yang sama? Kenapa kau menciumku waktu itu?" Tidak hanya Ajeng, Cakra pun ingin mendengar alasannya.
Ajeng memutar kembali ingatannya pada masa dua bulan lalu. Di kamarnya, Ia tanpa ijin telah mencium Cakra. Apa alasannya? Untuk apa ia melakukan hal itu? Ajeng sendiri tidak tahu pasti. Entah alasannya karena terbawa suasana, terbawa perasaan, atau hanya pelampiasan, sebagai bukti bahwa ia juga bisa melakukan hal seperti yang Radi lakukan, dengan kata lain, balas dendam.
"Kenapa Jeng?" Kali ini Cakra menuntut jawaban. Ia ingin tahu bagaimana isi hati wanita itu. Apakah sama dengan yang ia rasakan atau sebaliknya.
"Aku tidak tahu..." lirih wanita itu menjawab.
Air muka Cakra langsung berubah kecewa mendengar hal itu. Apakah semuanya tidak berarti apa-apa bagi Ajeng, sementara dirinya merasa hal itu sangat berkesan.
"Aku melakukannya atas perintah hatiku. Aku nyaman saat bersamamu. Aku bahagia selama menghabiskan waktuku di sini bersama denganmu. Kau begitu peduli pada diriku dan juga bayi di dalam perutku ini. Aku merasa menemukan tempat baru bagiku untuk bersandar. Intinya, jika tidak ada dirimu, aku merasa kesepian." Penjelasan panjang Ajeng kali ini membuat Cakra mendongak tak percaya. Bolehkah jika saat ini ia berharap lebih?
"Aku mencintaimu, Jeng..."
Deg
Ajeng yang masih gugup setelah mengungkapkan perasaannya, dibuat menganga oleh pengakuan Cakra yang tiba-tiba.
"Alasan aku menciummu adalah karena aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu, Ajeng."
Ajeng bisa melihat ketulusan dari mata Cakra. Benarkah pria itu mencintainya? Bolehkah ia menerima perasaan itu sementara mereka masih terikat pada tali pernikahan yang sah dengan pasangan masing-masing.
Cakra meraih wajah cantik Ajeng dan merangkumnya dalam kedua telapak tangan besar miliknya. "Maukah kau sama-sama berjuang dengaku untuk menyatukan hubungan ini?" tanya Cakra serius. Matanya menatap dalam pada manik indah Ajeng yang mulai berair.
Ajeng pun berpikir. Kehadiran Cakra selama ini mampu mengobati lukanya. Membuat ia perlahan melupakan suami pengkhianat yang saat ini mungkin sudah bahagia dengan selingkuhannya. Lalu, apa lagi yang akan ia pikirkan, kalau bukan kebahagiaan untuk dirinya sendiri. Bolehkah ia membalas perasaan Cakra dan mengatakan jika ia juga memiliki perasaan yang sama dengan pria itu.
"Jeng!" Cakra sudah tak sabar menanti jawaban Ajeng.
"Iya, aku mau." Tak peduli apa yang akan ia hadapai kedepannya, yang jelas saat ini kebahagiaan lah yang Ajeng ingin rasakan.
Cakra langsung memeluk Ajeng begitu mendengar jawabannya. Ia merasa menjadi pria yang paling bahagia saat ini. "Kita akan sama-sama menyelesaikan masalah dengan pasangan masing-masing, lalu setelah itu, ayo kita menikah!"
"Ya."
Mereka sadar, setelah ini semuanya tidak akan mudah. Tetapi, baik Cakra maupun Ajeng percaya, jika cinta yang mulai tumbuh di hati keduanya mampu menghadapi semua hal yang nanti akan menghadang jalan mereka menuju kebahagiaan sejati.
"Sekarang tidur ya, aku antar ke kamar."
"Hm."
Cakra menyelimuti Ajeng yang sudah berbaring di atas tempat tidur. Satu kecupan selamat malam diberikannya tepat di kening sang pujaan hati.
"Mas!" Ajeng meraih tangan Cakra yang hendak berbalik meninggalkannya.
"Ya? Kenapa?"
Wajah Ajeng memerah. "Maukah kau menemaniku tidur?" pintanya malu-malu.
"Hanya tidur?" goda Cakra.
"Iya, hanya tidur. Aku ingin dipeluk olehmu."
Pria itu tersenyum. "Baiklah. Lebih dari peluk juga boleh."
Ajeng mencubit perut Cakra yang sudah berbaring di sebelahnya. "Jangan mesum!"
__ADS_1
"Tidak-tidak. Aku akan melakukannya saat nanti kita resmi menjadi suami istri. Semoga itu tidak akan lama lagi."
"Hm..." Ajeng hanya bergumam karena dirinya yang sudah mulai mengantuk.
"Selamat malam." Cakra memeluk tubuh Ajeng dari belakang. Sesekali dibelainya perut buncit itu dengan sayang.
.......
"Satria!"
Silvia berteriak nyaring dari dalam kamar mandi hotel yang ia tempati. Si pria yang dipanggil namanya pun lantas masuk dengan tergesa-gesa menemui kekasih hatinya atau sebutan lainnya, penghangat ranjangnya.
"Ada apa, Baby? Jangan berteriak seperti itu, kau mengagetkanku saja." Satria berkata santai membuat Silvia kesal.
"Lihat ini!" Silvia mengangsurkan satu benda pipih ke hadapan Satria.
"Kau hamil?" tanya Satria yang masih dalam mode santainya.
"Iya, aku hamil. Ini semua karenamu yang tidak pernah mau menggunakan pengaman saat melakukannya," omel Silvia.
Satria masih memandang benda pipih yang tak lain adalah testpack itu, yang menunjukkan dua garis merah. "Kenapa kau jadi cemas begitu?" tanyanya kemudian.
"Bagaimana aku tidak cemas, aku hamil Sat. Aku hamil!" perjelas Silvia mulai emosi.
"Ya, apa salahnya? Kau kan punya suami."
"Gila. Aku ini mengandung anakmu Sat, bukan anaknya mas Cakra."
Lalu dengan malas Satria menatap Silvia yang wajahnya merah padam. "Lalu kau mau apa? Mau aku tanggung jawab? Yang benar saja, kau itu istri orang!"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Terserah padamu. Mau kau gugurkan, silakan. Mau kau pertahankan juga tidak masalah."
"Enak sekali mulutmu bicara. Apa yang harus ku katakan pada mas Cakra, dia pasti akan langsung menceraikanku begitu tahu aku hamil anak pria lain," racau Silvia panik.
"Kau ini bodoh atau tolol, huh? Bilang saja pada Cakra jika kau sedang mengandung anaknya. Bukankah itu yang selama ini dinanti-nantikan olehnya, seorang anak."
"Masalahnya, kami sudah lama tidak berhubungan intim. Mana percaya dia jika aku mengatakan jika ini adalah benihnya," jelas Silvia.
Satria menghela dan menghembuskan napas sejenak, baru kemudian menatap Silvia serius. "Kapan terakhir kali kalian berhubungan?"
Silvia terlihat berpikir. "Dua bulan lalu, dan itu hanya sebentar."
"Tidak masalah. Kita akan memeriksakan kandunganmu, sudah berapa bulan usianya. Nanti kita akan menyesuaikannya dengan hari terakhir kau berhubungan dengan suamimu. Setelah itu semua beres."
"Apa bisa seperti itu?" tanya Silvia yang masih tidak yakin akan rencana Satria.
"Tenang saja. Semuanya pasti akan berjalan sesuai dengan yang kita inginkan. Tapi jangan lupa, jika nanti Cakra kembali peduli padamu karena kehadiran janin itu, kau harus tetap mau menemuiku dan bercinta denganku. Jika tidak, aku akan mengatakan kejujurannya pada suamimu," ancam Satria.
"Sure, Baby. Aku juga tidak akan bisa berpisah lama dengan 'kesayanganku ini..." Silvia sengaja menyentuh bagian intim Satria untuk menggodanya.
"Terimalah hukumanmu ini!" Pria itu segera memojokkan tubuh Silvia ke dinding. Membuka bathrobe wanita itu dan segera menyatukan tubuh mereka berdua.
... ....
Ajeng dan Cakra duduk berdua di tepi pantai, di atas pasir beralaskan tikar dan beratapkan payung besar. Mereka menikmati pemandangan laut biru dengan ombak yang bergulung menuju pantai. Kepala Ajeng bersandar nyaman di bahu kekar Cakra. Kedua tangan mereka saling bertautan.
"Aku jadi mengantuk..." ucap Ajeng.
"Tidurlah, aku akan menjagamu."
Cakra mengelus kepala Ajeng untuk membuat wanita itu nyaman. Benar saja, suara dengkuran halus langsung terdengar dari mulut Ajeng.
Cakra perlahan ikut memejamkan mata. Menikmati semilir angin yang bertiup sepoi di sore hari yang sangat cerah.
Tiba-tiba dari belakang terdengar sebuah suara. Cakra membuka mata dan menoleh. Matanya melotot melihat beberapa orang yang berdiri di belakang sana.
"Bisa kau jelaskan apa maksud semua ini, Pak Cakra Adibrata?" yanya salah satu dari mereka.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...