
...🌷Selamat Membaca🌷...
Tak terasa tiga bulan telah berlalu, semua orang menjalani kehidupannya dengan baik. Hubungan Ajeng dan Cakra sebentar lagi akan menemui titik temu. Hari ini, sidang putusan perceraian antara Ajeng dan Radi akan dibacakan. Setelah semuanya usai, maka wanita itu akan segera menyandang status janda. Sementara Cakra, pria itu sudah mendapatkan akta cerainya dua minggu yang lalu. Kini ia sudah mendapatkan gelar sebagai Duren, Duda keren. Sayangnya, Duren ini sudah ada yang punya, jika belum... pasti sudah banyak lajang yang mendekat.
"Dengan ini, saya menyatakan bahwa saudara Radi Nugraha dan Ajeng Pramesti Winata, resmi bercerai."
Tuk
Tuk
Tuk
Hakim ketua mengetuk palu persidangan, ketukan itu menandakan bahwa pasangan yang sudah membina rumah tangga selama dua tahun itu resmi berpisah.
Ajeng menghela napas lega. Walaupun ia menginginkan perpisahan ini, tapi rasanya tetap saja sakit saat menghadapinya. "Ma, Pa... maafkan aku. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahanku dengan Mas Radi. Aku tahu pasti kalian akan kecewa, tapi ku harap kalian tidak membenci kami," batin Ajeng sedih.
Di sisi lain, Radi mengusap pelan wajahnya. Semuanya sudah berakhir. Ia telah kehilangam cinta dalam hidupnya, Ajeng dan anak mereka. Tidak ingin lagi berandai, karena ini memang takdir yang harus ia jalani. Buah dari kesalahan yang sudah ia lakukan. Mau tak mau, sepahit apapun itu harus ia telan sendiri apa yang kini didapatkannya.
Dua manusia itu berdiri, Ajeng dan Radi berjalan ke depan dan menyalami para hakim yang sudah membantu menyelesaikan masalah mereka. Keduanya berharap, jika tidak akan pernah kembali ke ruangan ini dengan perkara yang sama. Semoga kedepannya, takdir baik akan menyertai kehidupan mereka.
Ajeng dan Radi berdiri saling berhadapan. Keduanya mengulas senyum tipis.
"Terima kasih karena sudah menemani hariku selama dua tahun ini. Kau sudah menjadi istri yang baik, sayangnya aku terlalu bodoh karena telah menyakiti hati wanita sebaik dirimu. Semoga tidak ada rasa dendam yang tertinggal di hatimu untukku, agar aku bisa melanjutkan hidup tanpa ada rasa bersalah yang mengganjal."
"Aku juga. Terima kasih atas dua tahun kebersamaan kita. Maaf karena selama menjadi istrimu aku pernah berbuat kesalahan. Semua yang sudah terjadi, anggaplah sebagai pelajaran agar suatu saat nanti kita tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Aku memaafkan semua kesalahanmu, dan semoga kita bahagia dengan kehidupan yang akan kita jalani kedepannya. Walaupun kita bukan suami istri lagi, tapi aku tetap menyayangimu. Kau saudaraku, Kak Radi." Ajeng tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Mereka memang bukan suami istri lagi, tapi Ajeng tetap menganggap mantan suaminya itu sebagai saudara. Radi adalah kakak angkat Ajeng, dan ia menyayangi kakaknya itu. "Ma, Pa... ku harap kalian tidak terlalu kecewa dengan jalan yang kami pilih. Kami tetap bersama, walau hanya sebagai saudara."
__ADS_1
"Terima kasih dan selamat tinggal." Radi menyodorkan tangan, ingin bersalaman dengan Ajeng untuk yang terakhir kalinya sebagai pria yang pernah mencintai wanitanya yaitu Ajeng. Setelah ini, ia hanya akan menganggap Ajeng sebagai adiknya, adik yang harus disayangi dan dilindungi.
"Selamat tinggal, Mas. Dan selamat datang, Kakakku." Ajeng membalas uluran tangan Radi dan menggenggamnya erat. Mereka berdua tersenyum dengan hati lapang. Semua beban yang menghimpit hati keduanya selama beberapa bulan ini, kini terangkat sudah.
"Aku pergi dulu..." Radi pamit terlebih dahulu. Sebelum meninggalkan ruang sidang, ia menghampiri Cakra yang sedari tadi menyaksikan adegan mereka berdua dari jarak beberapa meter.
"Cakra, ku mohon jaga adikku dengan baik. Jangan sampai membuatnya bersedih ataupun terluka. Jika sampai kau melakukannya, kakaknya ini akan membuat perhitungan denganmu!" ancam Radi. Wajahnya tidak terlihat seram seperti orang yang mengancam pada umumnya, justru Radi tengah tersenyum.
"Iya, jangan khawatir. Aku akan membuat Ajeng bahagia, aku bersumpah!" kata Cakra mantap.
"Terima kasih, sampai bertemu lagi."
Mereka bersalaman sebentar, lalu Radi kembali melanjutkan langkah.
Saat keluar dari ruang sidang, saat itu pula lah air mata yang sedari tadi berusaha dengan sekuat tenaga ditahan oleh Radi akhirnya jatuh juga. Ia menghapus air mata itu menggunakan ibu jarinya.
Di balik sebuah pohon yang rindang, tampak seorang wanita berambut panjang tengah mengintip. Tidak tahu siapa dia karena saat ini wajahnya ditutupi masker. "Maafkan aku, Mas Radi..." lirihnya parau.
.......
Ajeng sudah berada di rumahnya, Cakra juga ada di sana menemani. Seharian ini pria itu sengaja tak datang ke kantor karena ingin menemani dan menghibur Ajeng. Niatnya memang ingin menghibur Ajeng, tapi ia justru sibuk bermain dengan si kecil Dira yang semakin hari kian menggemaskan.
Kini bayi cantik itu sudah berusia 14 minggu. Tubuhnya montok dengan berat badan mencapai 5.5 kg. Pipi bulatnya yang kemerah-merahan sering menjadi bulan-bulanan ciuman Cakra yang merasa sangat gamas. Saking gemasnya, ia seperti ingin memakan pipi pulat macam bakpau itu. Sering kali Dira menangis karena ulah iseng papanya.
"Dira sayang, lihat Papa, Nak!" kata Cakra. Ia berusaha keras mengambil atensi bayi yang saat ini tengah sibuk dengan mainan barunya, yaitu sebuah kerincing yang mengeluarkan bunyi berisik, menurut Cakra, tapi justru menjadi kesenangan baru bagi Dira.
__ADS_1
"Sayangnya Papa..." Cakra yang cemburu karena diabaikan, memilih untuk merebut kerincing kecil dari tangan Dira. Hal itu membuat si bayi langsung menangis.
"Mas!" Cakra langsung mendapat cubitan di pinggangnya dari Ajeng. "Suka sekali bikin Dira nangis, ayo kembalikan mainannya!" titah wanita itu.
"Iya-iya..." jawabnya pasrah. Cakra membunyikan kerincing dan mengembalikannya ke tangan Dira. Bayi itu langsung diam dan kembali bermain dengan mainannya.
"Awas ya, Papa tidak akan mau menggendongmu lagi!" ancam Cakra, pura-pura merajuk.
Dira memandang Cakra dengan mata bulatnya yang indah. Bayi itu tiba-tiba tersenyum, seperti mengejek papanya yang sudah tua tapi masih merajuk seperti anak kecil.
"Anak ini membuatku gemas saja!" Cakra membatalkan niat merajuknya, ia sungguh tak bisa mengabaikan segala keimutan sang putri.
Dari tempat duduknya, Ajeng tersenyum haru. Ia bersyukur karena Dira mendapatkan dua orang ayah yang sangat menyayangi dirinya. Tak ada lagi yang diinginkannya di dunia ini selain melihat orang-orang yang disayanginya bahagia.
"Oh ya, Jeng!" panggil Cakra.
"Ada apa, Mas?"
"Tiga hari lagi Silvia menikah, dia mengundang kita untuk datang."
"Tentu, kita akan datang."
Cakra tersenyum, ia menatap Ajeng lama. Sebenarnya, Cakra sudah sangat ingin memperkenalkan Ajeng pada orang tuanya, tapi ia tak ingin terburu-buru karena wanita itu baru saja lepas hari ini. Mungkin beberapa hari lagi ia akan mengutarakan niatnya itu, semoga Ajeng tidak menolak, harapnya.
...Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih sudah baca...
Jangan lupa Like & Comment😊