
...🌷Selamat Membaca🌷...
Radi menyandarkan tubuh lelahnya di kursi kerja. Pikiran pria itu menerawang jauh, memikirkan dua orang yang ada di rumah. Seminggu sudah ia melakukan mogok, mogok bertemu, mogok bicara dan mogok tidak makan masakan Rina. Sesungguhnya ia rindu, tapi gengsinya terlalu tinggi untuk bisa melupakan penolakan Rina terhadap lamarannya malam itu.
Tok... tok... tok...
Bunyi pintu ruangan yang diketuk dari luar, terdengar.
"Masuk!" kata Radi.
Cklekk
Pintu terbuka, menampakkan sosok sekretaris Radi yang bernama Yoga. "Pak, ada tamu yang mencari anda," kata pemuda yang baru dua bulan ini bekerja di perusahaan Winata.
Radi menatap tajam sekretarisnya. "Sudah ku bilang, hari ini aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Kau mengerti, tidak?" bentaknya kesal.
Yoga menciut takut. "Ba-baik, Pak. Maafkan saya..." Perlahan pemuda itu beringsut mundur dan keluar dari ruangan, tak lupa ia juga menutup pintu.
Sayup-sayup Radi bisa mendengar suara Yoga berbicara dengan seseorang di luar sana.
"Maaf, Nyonya. Hari ini Pak Radi tidak ingin diganggu, beliau sibuk."
"Yah... Dira tidak bisa bertemu dengan ayah, dong. Ayahnya sibuk, sayang."
"Ajeng..." Radi yang mendengar suara Ajeng langsung bangkit dan berlari menuju pintu.
Cklekk
"Ajeng, Dira! Kalian datang?" Pria itu melihat Ajeng yang masih berbicara dengan Yoga.
"Kak Radi? Sekretarismu bilang kau sedang sibuk," tanya Ajeng heran.
"Aku tidak sibuk, siapa yang bilang aku sibuk?" Radi melotot ke arah Yoga. Pemuda itu hanya bisa tertunduk, serba salah.
"Oh, boleh aku masuk? Putrimu sangat berat, aku tidak sanggup menggendongnya terlalu lama..." Ajeng menunjuk Dira yang anteng dalam gendongannya. Bayi itu tersenyum lebar menampakkan gusinya, begitu melihat wajah sang ayah.
"Putri cantik ayah, ayo sini gendong." Radi mengambil alih tubuh Dira dari gendongan Ajeng. "Ayo kita masuk!" ajaknya kemudian.
"Iya, Kak." Ajeng melirik sebentar ke arah Yoga, lalu tersenyum.
__ADS_1
Yoga sempat terpesona saat mendapat senyuman manis Ajeng, tapi deheman keras dari Radi langsung membuatnya tersadar. "Ingat! Dia adalah Ajeng Winata, pemilik sah perusahaan ini. Jika dia datang kemari, tidak perlu izin untuk menemuiku, mengerti?" tekan Radi.
"I-iya, Tuan. Maafkan saya Bu Ajeng..."
"Tidak masalah, semoga betah bekerja di sini..." balas Ajeng ramah.
"Iya, Bu. Terima kasih."
.......
"Sekretaris baru ya, Kak? Aku baru melihatnya hari ini," tanya Ajeng setelah mendaratkan tubuh di sofa panjang di ruangan Radi.
"Iya, sekretaris yang lama kerjanya kurang bagus, selain itu dia juga sering menggodaku, jadi aku ganti saja," jawab Radi.
Ajeng terkekeh. "Tadi dia bilang kalau kau tidak ingin diganggu, apa terjadi sesuatu, Kak?" tanyanya berusaha mengorek masalah lamaran yang didengarnya dari Rina siang tadi.
"Hah? Ti-tidak apa-apa, kok. Tadi suasana hatiku kurang baik makanya aku tidak ingin menerima tamu, tapi saat mengetahui jika yang datang adalah mood boosterku, ya... tentu saja tak mungkin aku tolak." Radi mencium gemas pipi bakpao putrinya. Kegalauannya sejenak hilang karena kehadiran si buah hati.
Ajeng terdiam, ia masih memikirkan kata apa yang bisa ia gunakan agar Radi mau membicarakan masalah Rina.
"Oh ya, tadi aku ke rumahmu. Reyhan bilang dia sangat merindukanmu, katanya sudah seminggu dia tidak bertemu denganmu. Memangnya kau kemana, Kak?" tanya Ajeng. Memang benar, tadi Reyhan sempat curhat padanya mengenai kerinduan yang dirasakan bocah itu terhadap Radi.
"Kenapa wajahmu seperti orang yang baru saja ditolak lamarannya, Kak?" ledek Ajeng.
Radi melotot. "Kok kau tahu?" pekiknya kaget.
"Eh? Aku cuma bercanda, Kak. Tapi ternyata benaran, ya? Wah... siapa wanita yang kau lamar itu, Kak?" tanya Ajeng antusias, ia berakting seolah tidak mengetahui apa-apa.
Radi menelan ludah susah payah, ia ingin sekali menampar mulutnya yang sudah keceplosan itu.
"Bu-bukan apa-apa, Jeng. Aku hanya salah ucap saja," elak Radi. Ia merasa malu untuk menceritakan hal tersebut.
Mata Ajeng memicing, menatap Radi dengan penuh curiga. Pria yang ditatap seperti itu hanya bisa tersenyum kikuk.
Beberapa saat kemudian, Ajeng menghela napas panjang. "Ah... sepertinya aku sudah tidak ada artinya lagi bagimu, Kak. Sampai-sampai kau tidak mau berbagi masalahmu denganku." Raut wajah wanita itu dibuat sesendu mungkin.
Radi menjadi serba salah, antara menjaga rahasia itu hanya untuk dirinya sendiri atau justru membaginya dengan Ajeng. Cukup lama berpikir, akhirnya Radi mengalah. Ia memutuskan untuk memberitahu Ajeng, mungkin adik angkat sekaligus mantan istrinya itu bisa membantu mengatasi masalahnya.
"Seminggu yang lalu, aku melamar Rina, Jeng."
__ADS_1
"Sudah kuduga," batin Ajeng. Ternyata dugaannya tak salah. "Lalu bagaimana, Kak? Apa jawaban Rina? Apa dia benar-benar menolakmu?" tanyanya beruntun.
Radi mengangguk lemah.
"Alasannya?"
Kemudian pria itu menggeleng. "Aku tidak tahu, dan juga tidak tanya."
Ajeng menepuk jidat. "Pinta penjelasan dong, Kak. Mana tahu Rina mempunyai alasan tersendiri kenapa waktu itu dia menolakmu."
"Aku malu, Jeng."
Ibu dari Dira itu memutar mata malas. "Malu? Kau ini pria, Kak. Bukan gadis yang cocok dengan tingkah malu-malunya. Kalau seperti ini kau terlihat memalukan jadinya!"
Radi melotot mendengar Ajeng mengatainya. "Coba bayangkan jika kau yang ada di posisiku, apa yang akan kau lakukan?" tanyanya.
"Memperjuangkannyalah, apa lagi? Jika dia tidak yakin denganku, maka aku akan meyakinkannya. Namun, jika dia sudah memiliki tambatan hati lain, baru aku memilih mundur," jelas Ajeng.
Radi terdiam sejenak. "Hm... jika kau jadi Rina, kira-kira apa alasanmu menolak lamaranku?" tanya pria itu.
"Kalau aku ada di posisi Rina, satu-satunya alasan yang membuatku menolakmu adalah karena perbedaan status sosial di antara kita. Kau berasal dari kalangan atas, sementara aku hanya seorang asisten rumah tangga. Mana berani bermimpi untuk menjadi pendampingmu. Menurutku sih begitu," kata Ajeng.
"Tapi kalau memang itu alasannya, aku sama sekali tidak mempermasalahkannya, kok."
"Itu kan menurut pemikiranmu, bagaimana dengan pandangan Rina. Jadi sekarang, tugasmu adalah meyakinkan Rina jika kau menerima dia apa adanya, tanpa peduli status sosial kalian yang berbeda," saran Ajeng.
Radi mengangguk paham. "Begitu, ya?"
"Iya, jika kau memilih melarikan diri seperti ini, kapan masalahnya akan selesai? Aku kasihan loh melihat Rina dan Reyhan yang seperti sangat merindukanmu," tambah Ajeng, mengompori.
"Apa benar Rina merindukanku?" tanya Radi dengan mata berbinar.
Ajeng mengangkat bahu. "Pulang saja dan buktikan sendiri!"
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih sudah membaca😊
__ADS_1