
...π·Selamat Membacaπ·...
"Lulus..." Dira dan teman-temannya bersorak senang setelah mendapatkan pengumuman kelulusan yang diberitahukan secara online. Setelah saling berpelukan dengan kedua sahabatnya, gadis itu melangkah menghampiri sang kekasih yang tengah berkumpul bersama dengan teman-teman sekelasnya.
"Bee, aku lulus..." beritahu Dira dengan wajah sumringahnya.
"Selamat, Bee..." Lingga mengusap lembut puncak kepala gadisnya.
"Makasih, Bee." Dira menatap ponselnya. Ia akan memberitahukan kabar ini pada kedua orang tuanya.
"Kamu nggak tanya aku, Bee?" celetuk Lingga ketika melihat Dira mulai sibuk dengan ponselnya.
Dira mendongak dan tersenyum miring. "Ish, kamu ini, Bee..." Disenggolnya lengan berotot cowok itu. "Siswa yang selalu menempati urutan pertama di sekolah, mana mungkin nggak lulus."
Lingga tergelak dan kembali mengacak gemas rambut Dira.
"Oh ya, bagaimana kabar seleksi masuk perguruan tinggimu? Sudah ada pengumuman?" tanya Lingga kemudian.
"Belum, tiga hari lagi hasilnya akan keluar. Do'akan ya, Bee... semoga aku lulus di universitas terbaik di kota ini!" ucap Dira. Gadis itu mendaftar masuk fakultas kedokteran di universitas nomor satu di Indonesia melalui jalur seleksi berdasarkan nilai akademik rapor.
"Selalu..." Lingga mengusap lembut pipi kemerahan kekasihnya.
Setelah mengirim berita bahagia akan kelulusannya di grup chat keluarga, ekspresi Dira yang semula ceria langsung berubah murung. Lingga yang menyadari itu lantas bertanya.
"Wajahmu mendadak murung, kenapa Bee?" tanya Lingga khawatir.
"Sebentar lagi kita akan berpisah. Aku hanya sedih karena nggak bisa bertemu kamu kalau lagi kangen," ujarnya sedikit merajuk.
Lingga terhenyak, ia baru sadar kalau sebentar lagi mereka akan menjalani hubungan jarak jauh. Dira akan tetap stay di Jakarta sementara Lingga harus melanjutkan pendidikannya ke Semarang. Jarak yang lumayan jauh, tapi itu tidak menghalangi niat mereka jika ingin bertemu. Dengan pesawat hanya membutuhkan waktu satu jam lebih sedikit.
"Aku janji, Bee... setiap liburan akan pulang dan kita akan menghabiskan waktu bersama untuk membayar rindu yang menumpuk," ucap Lingga memberi pengertian agar Dira tak sedih lagi.
"Janji..." Dira mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji!" Tanpa pikir panjang Lingga langsung menautkan jari kelingking mereka.
...****************...
"Ma, ini susunya..." Arsha datang dari arah dapur membawa segelas susu untuk sang ibu tercinta.
"Terima kasih, Nak..." Ajeng mengelus sayang kepala putranya yang beberapa bulan ini begitu sangat perhatian padanya.
Semenjak malam itu, Arsha bertingkah sedikit protektif terhadap Ajeng. Remaja yang biasanya menghabiskan setengah harinya dengan bermain itu, kini lebih memilih untuk menemani sang ibu. Tak jarang, ngidamnya Ajeng justru Arsha yang memenuhinya. Cakra sebagai seorang ayah, tidak mendapatkan bagian sama sekali.
"Hari ini adik nggak nakal 'kan, Ma?" tanya Arsha sembari mengelus perut buncit Ajeng. Usia kandungannya kini sudah lima bulan.
"Nggak dong, adik tahu kalau dia nakal pasti abang akan marah," sahut Ajeng.
"Hehe... adik pintar!"
Cakra yang duduk tak jauh dari dua orang tersayangnya itu hanya bisa mendengus. Dirinya yang merupakan ayah dari si jabang bayi sama sekali tidak dianggap keberadaannya. Dikehamilan Ajeng kali ini, Cakra lebih santai karena tidak harus menuruti ngidam istrinya, tapi jujur saja ia sama sekali tidak menyukai hal itu. Ia rindu direpotkan seperti kehamilan-kehamilan Ajeng terdahulu, tapi apa daya, tugasnya sudah digantikan oleh Arsha yang sama sekali tidak ingin mengalah.
"Boy, kamu sekarang lengket banget sama istrinya papa. Selalu saja mengambil kesempatan papa untuk berdua dengan mama dan adikmu," ucap Cakra sedikit cemburu.
__ADS_1
Arsha yang mendengar protesan sang ayah langsung menoleh. Melihat wajah Cakra yang merajuk, membuat ide jahil seketika muncul di benaknya.
"Ma, bapak itu siapa, ya? Kok dia bisa ada di rumah kita?" Dengan wajah polosnya, Arsha bertanya kepada Ajeng.
"Apa!" Cakra memekik heboh. Bisa-bisanya sang putra menganggapnya orang asing yang lancang masuk ke rumah mereka. "Sayang, putramu sungguh keterlaluan!" kadunya pada sang istri.
Ajeng menahan tawa melihat ekspresi lucu suaminya, bukannya membela ia justru ikut menjahali.
"Bapak siapa, ya? Kenapa bisa masuk ke dalam rumah kami? Itu tidak sopan loh, Pak, masuk rumah orang tanpa izin..." Ajeng menambahkan dengan raut wajah dibuat serius.
Cakra melotot, bisa-bisanya dua orang itu sekongkol mempermainkannya. Daripada meladeni dan berujung kesal sendiri, Cakra memilih untuk masuk ke dalam kamar.
"Bapak mau ke mana?" seru Ajeng saat melihat Cakra bangkit dan mulai melangkah pergi.
"Nggak usah kepo sama urusan orang asing!" ucap Cakra ketus.
Arsha dan Ajeng tertawa setelah melihat Cakra sudah menghilang di balik pintu kamar.
"Papa marah, Ma. Sebaiknya malam ini mama tidur bersamaku saja," pinta Arsha mengambil kesempatan.
"Hm..." Ajeng berpikir sejenak. Ia mau saja tidur dengan sang putra, tapi mengingat jika setiap malam ia harus dipeluk dan diusap-usap perutnya oleh Cakra terlebih dahulu baru bisa tidur, membuatnya ragu. Apalagi tadi Cakra meninggalkannya dalam keadaan kesal, membuat ia tidak enak hati.
"Ya, Ma...?" Arsha menatap dengan wajah memohon.
"Nak, mama..." Ajeng menjadi dilema.
Tap... tap... tap...
Belum selesai Ajeng menjawab, Cakra kembali datang dengan tergesa-gesa.
"Tapi, Pa..."
"Tidak ada bantahan!" Cakra menghentikan sang putra yang hendak protes. Kemudian, segera menghampiri Ajeng dan mengendongnya. Membawanya masuk ke dalam kamar.
"Maaf ya, Nak. Besok-besok mama pasti akan menemanimu tidur," seru Ajeng sebelum memasuki kamar.
Sepeninggal kedua orang tuanya, Arsha hanya bisa menghela napas berat. Susah kalau harus bersaing dengan pria yang dicintai oleh mamanya itu.
...****************...
Lain dengan Arsha yang kesal, Dira justru tengah berbunga-bunga hatinya karena baru saja selesai video call dengan Lingga. Dua remaja yang mulai beranjak dewasa itu begitu dimabuk cinta hingga ingin selalu menatap dan berbagi cerita.
Tak lama setelah video call dengan Lingga selesai, sebuah notifikasi masuk di grup chat Dira dan para sahabat.
Laluna. S : Guys... π
K. Hanna : Oi, ada apa nih?
Yovan. A : Oi
Giovano. Z : Ada apa?
Lingga Putra: Hm...
__ADS_1
Melihat semua sudah hadir di grup chat, Dira segera mengetikkan balasannya.
Nadira D.N : Kenapa, Lun?"
Laluna. S : Guys, kita jadi liburan nggak, nih?
K. Hanna : Boleh-boleh... Selama libur suntuk banget di rumah terusπ
Lingga Putra: Gimana, Bee? @Nadira D.N
Nadira D.N : Boleh aja, rencananya mau kemana?
Yovan. A : Gue dan Luna udah bahas di telepon mengenai tempat-tempat yang bisa kita jadikan destinasi liburan, gimana kalau besok kita ketemuan di cafe biasa dan membahasnya?
Giovano. Z : Ok, Bro...ππ»
Lingga Putra : ππ»
Laluna. S : Jadi sekarang yang harus kalian lakuin adalah minta izin sama ortu masing-masing.
K. Hanna : Siap!
Nadira D.N: Oke...
Lingga Putra: Bee, besok aku jemput, ya?π€@Nadira D.N
Nadira D.N: Ok, Bee...π @Lingga Putra
Laluna. S : Oi, mesra-mesraannya di chat pribadi ajaπ€
Yovan. A : Sabar, Beb. Kamu juga mau mesra-mesraan. Kuyy!π
Giovano. Z : Najis Lo @Yovan. A
Yovan. A : Syirik aja yang zombloπ
Giovano. Z : Gue punya ayang, bego! Nih... @K. Hanna
K. Hanna : Kalian kekanak-kanakan! π
SKIP
Melihat obrolan terus berlanjut, Dira memilih untuk menutupnya.
"Hm... apa papa mama akan mengizinkan aku untuk pergi liburan, ya?" pikirnya galau. Apalagi kalau mengingat betapa protektifnya sang papa. Ia sanksi akan diijinkan untuk pergi.
...Bersambung...
Jangan lupa Vote, Comment dan Follow ππ»
Terima kasih sudah membaca π
Setelah hiatus berbulan-bulan, aku datang lagi, nih. Kangen sama cerita ini...
__ADS_1
Masih ada yang nungguin nggak, ya?π