
...🌷Selamat Membaca🌷...
Sudah seminggu berlalu semenjak penolakan Rina atas lamaran Radi. Wanita itu selalu terlihat murung dan beberapa kali kehilangan fokus saat bekerja hingga menyebabkan beberapa kerugian. Contohnya, saat membuat sayur bayam kesukaan Reyhan, Rina tak sengaja memasukkan takaran garam jauh melebihi yang semestinya, alhasil putranya itu memuntahkan sayur asin yang sudah dimakannya. Tidak hanya itu, karena kelalaiannya, jari telunjuknya juga harus terluka karena teriris pisau saat ia sedang memotong bawang. Masih banyak lagi kejadian dalam seminggu ini yang benar-benar membuat Rina kerepotan. Dan semua itu disebabkan oleh sikap dingin Radi yang masih berlanjut.
Pria itu pergi ke kantor pagi-pagi sekali dan selalu melewatkan sarapan yang sudah susah payah disiapkan Rina. Saat malamnya, Radi akan pulang saat jam menunjukkan angka sebelas, yang mana saat itu adalah jadwal Rina tidur. Pernah sekali ia menanti kepulangan Radi, dan berujung tertidur di sofa ruang tengah. Paginya saat terbangun, ia mendapati pria itu tengah menikmati sarapannya yang berupa segelas susu dan roti tawar dengan selai kacang. Rina hendak menghampiri, tapi Radi langsung bangkit tanpa menyelesaikan sarapannya.
Rina merasakan sakit di hatinya karena sikap Radi yang seperti itu. Dan yang lebih membuatnya terluka adalah saat di mana Reyhan menanyakan keberadaan Radi. Sikap cuek itu tak hanya berlaku untuk Rina, tapi Reyhan juga. Sudah seminggu batita lucu itu tidak bertemu Radi dan bermain bersama, padahal mereka tinggal satu rumah.
.......
Siang ini, Rina sedang menyuapi Reyhan makan. Mereka memilih teras rumah sebagai tempat untuk makan siang. Reyhan bilang, dia ingin menunggu Om Adinya, ia berharap om kesayangannya itu pulang siang ini.
"Aaa...." Rina menyodorkan sendok berisi nasi dan secuil daging ayam beserta sayur ke hadapan mulut kecil Reyhan. Setelah satu suapan masuk ke mulut sang anak, selanjutnya Rina akan termenung beberapa saat sebelum memberikan suapan berikutnya.
Melihat sang ibu yang tak bersemangat, Reyhan pun ikut kehilangan semangat makannya. Padahal hari ini Rina telah membuatkan ayam goreng tepung dan sayur bayam, kesukaannya. Bocah itu mengunyah sangat lama dan pandangannya menerawang jauh ke depan pintu gerbang yang tertutup.
Tin... tin...
Reyhan terlonjak saat mendengar bunyi klakson mobil. Satpam yang berjaga segera membukakan pintu gerbang.
"Buna, om adi puyang..." sorak bocah itu histeris. (Bunda, Om Radi pulang). Ia turun dari kursinya dan melompat kesenangan.
Rina yang menyangka jika mobil yang datang itu memanglah Radi segera bangkit berdiri dan membenahi penampilannya yang bisa dibilang sedikit kucel. Daster yang dikenakannya kusut di beberapa bagian, bahkan ada noda-noda cipratan minyak menghiasinya.
"Utan obil om Adi..." ucap Reyhan lesu kala matanya melihat jika mobil yang memasuki gerbang bukanlah mobil milik Radi. Mobil itu berwarna putih sementara mobil Radi berwarna hitam, begitulah yang ada diingatannya. (Bukan mobil Om Radi)
Rina yang mendengar ucapan sang anak langsung melirik ke arah mobil yang kini sudah terparkir cantik di halaman rumah. Tak berselang lama, seorang wanita cantik keluar dari kursi penumpang sembari menggendong seorang bayi cantik bertubuh montok.
"Nyonya Ajeng!" gumam Rina.
"Buna, da dedek Dila!" pekik Reyhan senang. Tak ada Radi, Dira pun jadi. Yang jelas ia punya teman bermain, begitulah isi otak kecil Reyhan. (Bunda, ada dedek Dira)
__ADS_1
"Selamat siang, Rin..." sapa Ajeng yang kini sudah berdiri di hadapan Rina.
"Se-selamat siang, Nyonya..." balas Rina kikuk. Ia memerhatikan penampilan Ajeng yang sangat berkelas. Walaupun dandanan istri dari Cakra itu terlihat sederhana, tapi tidak memudarkan aura kecantikan dari wanita itu, justru dia terlihat sangat anggun. Rina membandingkan dirinya dengan Ajeng, bagaikan langit dan bumi. Ajeng bagaikan langit yang sulit untuk digapai sementara ia hanya bumi yang selalu dipijak. Rina meringis dalam hati, bagaimana mungkin ia yang seperti ini bisa menggantikan posisi Ajeng sebagai pendamping Radi. Mustahil!
"Rin, kenapa diam? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ajeng heran saat ia melihat Rina terdiam sembari memerhatikan dirinya.
"Ti-tidak apa-apa, Nyonya. Saya hanya melamun." Rina memaksakan senyum agar Ajeng tak curiga jika ia tengah memikirkan mantan suami dari wanita cantik itu.
"Hai, Reyhan! Apa kabar, Nak?" Pandangan Ajeng beralih pada Reyhan.
"Aik, Nte..." jawab bocah itu. Matanya tak lepas memandang Dira yang terlihat sangat menggemaskan dengan bando besar berbentuk pita. (Baik, Tante)
"Hm, Rin. Boleh aku masuk? Tanganku pegal menggendong Dira terlalu lama," kata Ajeng.
"Ya Tuhan, maafkan saya Nyonya." Rina merutuki kelalaiannya hingga membiarkan tamu berdiri terlalu lama.
"Silakan masuk!"
.......
"Rin, apa kau baik-baik saja?" tanya Ajeng. Wanita itu bisa melihat raut wajah Rina yang seperti menyimpan banyak masalah.
Rina yang sedang termenung sembari menatap Reyhan dan Dira yang sedang bermain pun terperanjat mendengar pertanyaan Ajeng.
Melihat reaksi Rina, Ajeng semakin curiga jika telah terjadi sesuatu pada wanita itu.
"Apa kau ada masalah? Kau bisa membaginya denganku, dengan begitu kita bisa mencari jalan keluarnya bersama-sama," kata Ajeng.
Huh... Rina merasa semakin minder. Tidak hanya cantik, kaya, baik, tapi Ajeng juga sangat pengertian. Apakah pantas dirinya yang seperti ini menggantikan posisi wanita itu.
"Rin!" Ajeng beringsut duduk di samping Rina. Ia menyentuh tangan wanita itu yang terasa dingin. "Kenapa, ceritalah!" Kali ini suara Ajeng terdengar menuntut.
__ADS_1
Rina menghela napas pasrah. Sepertinya ia harus membagi cerita ini dengan Ajeng, ia ingin meminta pendapat wanita itu mengenai apa yang harus ia lakukan.
"Nyonya, menurut anda apa saya pantas bersanding dengan seorang pria yang derajatnya jauh di atas saya?"
Ajeng terdiam, ia mengira-ngira apa maksud dari pertanyaan Rina. "Kenapa, apa ada pria yang melamarmu?" tanyanya.
Rina mengangguk. "Iya, Nyonya. Dia pria yang sempurna, dan saya merasa tidak pantas untuknya. Apalagi mantan istri dari pria itu juga sangat sempurna," jelasnya sembari menatap Ajeng yang merupakan objek dari apa yang dibicarakannya.
"Rin... sekarang aku tanya, apa kau mencintai pria tersebut?"
Deg
Wajah Rina langsung merona, jika boleh jujur... ia menyukai Radi, tapi kalau untuk menikah secepat itu ia masih takut, kepahitan di masa lalu masih terus membayangi.
Melihat semburat merah muda yang menghiasi pipi Rina, membuat Ajeng yakin jika wanita itu memang memiliki hati pada pria yang tengah dibicarakannya.
"Rin, dengarkan aku! Jika pria itu berani melamarmu, maka yakinlah bahwa dia sudah menerima baik itu kelebihan dan kekurangan yang ada pada dirimu. Tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi. Terima saja lamarannya," jelas Ajeng.
Rina terdiam, ia masih memikirkan ucapan Ajeng.
"Ingat satu hal, Rin. Reyhan masih kecil dan ia membutuhkan figur seorang ayah," tambah Ajeng.
"Iya, Nyonya. Saya akan memikirkannya."
Ajeng tersenyum di tempatnya. Entah kenapa, ia menduga jika pria yang telah melamar Rina itu adalah Radi. "Hm... kau hutang penjelasan pada ku, Kak..." batinnya.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih sudah membaca😊
__ADS_1