2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Heart Attack


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Disa kehilangan jejak Randi, namun begitu menyadari jika kini ia berada di sebuah jalan yang tidak asing, matanya pun terbelalak. Jantungnya langsung memompa dengan cepat saat dugaannya mengarah pada suatu tempat yang mungkin dikunjungi oleh suaminya itu, yakninya rumah Fadhil.


"Untuk apa kau ke sana, Mas?" gumam Disa tidak habis pikir. Ia takut jika kedatangan Randi ke tempat itu adalah untuk mengungkap kebenaran yang selama ini disembunyikannya. Ia pun langsung menyebut sebuah alamat pada supir taksi yang tengah menunggu arahan selanjutnya.


"Mama, ini rumah siapa?" tanya Aqilla begitu mereka turun dari taksi dan telah berdiri di depan bangunan rumah bergaya minimalis.


"Rumah teman mama, Nak. Ayo kita masuk!" ajak Rina. Ia menggenggam tangan sang putri dan membawanya berjalan masuk. Kebetulan pintu rumah itu terganga lebar. Sampai di ambang pintu, langkah Disa terhenti saat mendengar sebuah teriakan dari suara yang familiar untuknya. "Mas Randi?"


"Maafkan saya, saya sudah membunuh anak anda..."


Deg


Jantung Disa berdetak cepat, ternyata apa yang ditakutkannya terjadi. Randi datang menemui Fadhil dan memberitahu tentang keberadaan Haikal yang selama ini disembunyikannya dari mantan suaminya itu. Masalah baru akan timbul sebentar lagi, wanita itu menunda niatnya untuk masuk. Dirinya belum siap menghadapi masalah yang ada di depan mata.


"Mama, kenapa kita tidak masuk?" Aqilla menatap ibunya bingung.


"Hm, sebentar ya, Nak..." Disa mencoba menetralkan deru napasnya yang tiba-tiba sesak.


"Anda pasti salah orang, anak-anak saya ada di sini." Tak lama kemudian, Disa mendengar suara berat Fadhil.


"Anak anda yang lain, saya sudah membunuhnya, maafkan saya..." Suara Randi kembali terdengar, diiringi oleh suara tangis yang menyedihkan.


"Sudah ku bilang bukan kau yang membunuhnya, Mas!" lirih Disa. Wanita itu mulai terisak saat harus mengenang kembali mendiang putranya yang telah berpulang ke pangkuan Tuhan.


"Maaf, apa yang kalian lakukan di depan rumah saya?"


Deg


Disa terperanjat, ia sontak balik badan saat mendengar suara teguran di belakangnya. Mata wanita itu membola ketika menemukan jika kini di hadapannya ada seorang wanita tua yang merupakan mantan ibu mertuanya.


"Disa!" Pekik Maryam. Wanita tua itu baru pulang melayat, ada salah satu teman arisannya yang meninggal dunia.


"I-ibu..." Disa mati kutu. Sekarang ia terjebak dan tak akan bisa melarikan diri lagi.


"Apa kabar, Nak? Sudah lama sekali kita tidak bertemu?" Maryam memeluk Disa penuh rindu. Dulu, ia sangat menyayangi mantan menantunya itu.


Tubuh Disa hanya terdiam kaku saat mendapat pelukan Maryam, ia tidak punya tenaga untuk membalasnya.


"Omaaaa...." Kei berlari keluar saat mendengar suara neneknya. Bocah manis itu kaget saat mendapati bahwa tidak hanya neneknya yang ada di depan pintu, tapi juga ada Aqilla yang merupakan teman mainnya di taman kanak-kanak.


"Qilla!" pekiknya kegirangan.


"Kei!" Aqilla yang bertemu dengan temannya pun bersorak senang.


"Qilla datang ke rumah Kei pasti mau main sama Kei, kan? Ayo kita masuk? Kei punya dedek loh, dia lucu..." ucap Kei riang. Ia mengabaikan dua orang dewasa yang ada di sana dan langsung menyeret Aqilla untuk masuk ke dalam rumah.


"Itu anak perempuanmu, Sa?" tanya Maryam saat melihat interaksi hangat antara cucunya dengan bocah yang datang bersama Disa.


"I-iya, Bu..." Disa mengangguk lemah.


"Ayo masuk, kita lanjut bincang-bincangnya di dalam."


Disa tak berkutik saat Mayam merangkul dan membawanya masuk.


"Mama... teman Kei datang!" sorak Kei yang berlarian masuk bersama seorang anak perempuan.

__ADS_1


Semua mata yang ada di sana tertuju pada dua bocah perempuan itu.


"Aqilla!" Randi berseru kaget saat melihat kemunculan sang anak di sana.


"Papa!" Aqilla melepas genggaman tangannya dengan Kei dan berlari menubruk tubuh ayahnya. "Papa ke mana saja? Aku sama mama cari-cari dari tadi, loh..." adunya.


"Maafkan papa, Nak!" Randi memeluk tubuh mungil putrinya.


Fadhil yang terduduk lemas mulai bisa mencerna situasi. Jadi, pria yang datang dan mengaku sebagai pembunuh itu adalah suaminya Disa.


"Fadhil, lihat ini siapa yang datang?" ucap Maryam begitu sampai di ruang tengah.


Kini atensi semuanya teralih pada Maryam dan wanita di sebelahnya.


"Disa!" ucap Fadhil dan Randi bersamaan.


"Mas Randi!" Disa segera berlari menghampir suaminya yang masih berlutut di lantai. Ia membantunya bangun. "Ayo, Mas! Kita pergi dari sini!" ajaknya.


"Tapi Sa..." Randi menolak, namun saat melihat Disa yang berlinang air mata, ia jadi tidak tega.


"Aku mohon..." pinta Disa


Randi tertunduk, ia pasrah saat Disa menarik tangannya untuk pergi dari sana.


"Kalian tidak bisa pergi dari sini!" Tiba-tiba saja, Fadhil sudah berada di depan Disa dan menghadang jalannya.


"Mas Fadhil, kami ada urusan, kami harus segera pergi!" mohon Disa.


Fadhil menggeleng dengan wajah datar. "Tidak! Sebelum kalian memberitahuku siapa itu Haikal!" tuntutnya.


Disa terdiam, begitu pula Randi. Pria itu bahkan kini merutuki dirinya yang telah gegabah dalam bertindak hingga kini ia dan Disa berada di dalam situasi yang sangat sulit.


"Tolong jawab yang jujur, Sa! Apa Haikal itu adalah anakku?" tanya Fadhil.


Disa bungkam, mulutnya tak sanggup berkata-kata.


"JAWAB DISA!" bentak Fadhil.


Disa memejamkan mata perlahan, disusul dengan anggukkan kecil.


"Ya Tuhan..." Tubuh Fadhil merosot ke lantai, jatuh terduduk, lemas sudah semua persendiannya hingga tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang kekar.


Maya segera berlari dan memeluk suaminya. Ia sudah mengerti dengan apa yang kini tengah terjadi. "Sabar, Mas..." bisiknya menenangkan. Fadhil tampak sangat terpukul.


Maryam belum paham dengan situasi yang kini terjadi di rumahnya, wanita tua itu memilih mengajak anak-anak yang ada di sana untuk masuk ke dalam kamar. Tidak baik rasanya jika mereka yang masih kecil disuguhi dengan kondisi rumit para orang tua.


"Disa, kau sungguh tega!" ucap Fadhil pilu. Perlahan pria itu bangkit dan berjalan lemah menghampiri Disa. Maya mengikuti di belakangnya.


"Hiks, ma-maafkan aku..." Disa terisak di pelukan Randi.


"Kenapa kau tidak memberitahuku jika dulu kau itu hamil? Bagaimana bisa kau baru memberitahuku sekarang disaat aku tidak bisa bertemu lagi dengan anakku, kenapa?" teriak Fadhil.


"Hiks... hiks..." Hanya isak tangis Disa yang terdengar.


"Maafkan aku, ini semua salahku." Randi membuka suara.


"Kau?" Fadhil menunjuk Randi tepat di depan wajahnya. "Apa karena dia anak tirimu makanya kau membunuhnya, hah?" tuduh Fadhil.

__ADS_1


"Maafkan aku, aku bersalah..."


BUGHH


Kalap, Fadhil meninju kuat wajah Randi hingga membuat pria yang belum sembuh total itu jatuh terjengkang.


"Mas Randi!" pekik Disa. Ia membantu suaminya itu untuk bangun.


"Itu belum seberapa, aku akan membunuhmu seperti kau yang telah membunuh anakku!" Fadhil maju hendak menghajar Randi, tapi Disa langsung menjadi tameng bagi suaminya.


"Mas Randi tidak bersalah!" ucap Disa lantang.


"Bohong! Dia sendiri yang mengatakan jika telah membunuh anakku!" sanggah Fadhil.


"Itu semua tidak benar!"


Fadhil terdiam, Maya memeluk lengan suaminya itu. Menahan agar Fadhil tidak kembali menyerang Randi.


"Mas Randi dan Haikal mengalami kecelakaan saat akan pergi ke rumah sakit. Ada sebuah minibus yang mengalami rem blong hingga tak sengaja menabrak mobil yang dibawa Mas Randi. Suamiku tidak bersalah, saat ditemukan justru dia sedang memeluk Haikal, melindunginya agar tidak terluka." Disa membeberkan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Ia mendengar semua itu dari polisi dan para saksi yang melihat langsung kejadian kecelakaan itu.


Fadhil tertawa remeh. "Melindungi? Jika dia melindungi Haikal, lalu kenapa anakku itu bisa mati?"


"Jantung," jawab Disa singkat dan padat.


"Semenjak lahir, Haikal memiliki jantung yang lemah. Kecelakaan itu membuatnya shock hingga mengalami serangan jantung dan meninggal saat sampai di rumah sakit. Kau tahu? Bahkan di tubuh mungil putraku itu sama sekali tidak ditemukan luka sedikit pun. Kenapa? Karena papanya melindunginya! Mas Randi melindungi anaknya, hingga rela terluka dan berakhir koma!" jelas Disa dengan emosi yang meluap-luap.


Randi terhenyak, ia baru tahu kalau ternyata kematian Haikal disebabkan oleh serangan jantung.


"Mas!" Maya menjerit saat tubuh Fadhil limbung dan hampir jatuh. Untung ia segera menahannya.


"Pergilah! Aku tidak ingin melihat wajah kalian berdua!" usir Fadhil. Pria yang biasanya gagah itu, kali ini terlihat sangat rapuh. Tertatih ia berjalan meninggalkan ruang tamu dan masuk ke dalam kamar.


Maya membiarkan suaminya sendiri untuk sekarang, ia tahu jika Fadhil membutuhkan waktu untuk menerima semua kebenaran yang memilukan ini.


"Sebentar, aku akan memanggil Aqilla..." kata Maya.


Akhirnya, Disa dan Randi beserta anak mereka pergi meninggalkan kediaman Fadhil.


"May, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" Maryam menuntut penjelasan, jujur... ia sudah penasaran sedari tadi.


"Begini Bu..." Mengalirlah cerita Maya.


Maryam menangis pilu begitu mengetahui jika ternyata dia memiliki cucu yang lain, tapi mereka tidak akan bisa bertemu karena cucunya sudah dipanggil yang kuasa.


"Sabar ya, Bu..." Maya memeluk mertuanya, memberi kekuatan.


"Fadhil pasti sangat terpukul, hiks..." isak Maryam.


Saat ini Maya juga cemas memikirkan nasib suaminya itu. Semoga pria itu tabah dan menerima semua yang telah menjadi suratan takdir.


...Bersambung...


Jangan lupa Vote, Like & Comment


Terima kasih sudah membaca😊


No Edit

__ADS_1


Momen Radi-Rina, di chapter mendatang ya...😊


__ADS_2