
...🌷Selamat Membaca🌷...
Pagi menjelang siang, sepasang manusia saling mencinta tampak bersantai di ruang tengah rumah mereka. Si wanita duduk di sofa sambil membaca sebuah novel, sementara si lelaki tiduran manja berbantalkan paha si wanita.
"Sayang..." panggil si lelaki yang tak lain adalah Cakra. Ia baru membuka mata setelah tidak lagi merasakan elusan di kepalanya.
"Hm..." sahut si wanita, yakni Ajeng. Mata wanita itu masih fokus pada bacaan di tangannya.
"Mas lapar..." Si pria mengadu. Pasalnya dari beberapa menit yang lalu, ia merasakan gemuruh di perutnya. Apalagi pagi tadi, seluruh asupan yang masuk telah keluar kembali dalam bentuk muntahan. Ya, ia menggantikan sang istri mengalami morning sickness.
"Mau ku ambilkan makan?" Kali ini Ajeng mengalihkan perhatiannya dari novel. Kepalanya sedikit menunduk demi melihat wajah suaminya.
"Mas mau makan pempek!" pinta Cakra, mengidam.
"Pempek? Hm... sepertinya mas mengidam. Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk membelikannya." Ajeng bersiap untuk memanggil pelayan, namun Cakra menghentikannya.
"Mas tidak mau pempek yang dibeli, mas maunya pempek yang dibuat oleh tanganmu!" sanggah Cakra.
"Hah?" Ajeng melotot mendengar permintaan suaminya. Seumur-umur dia belum pernah membuat makanan khas Palembang tersebut. "Tapi aku belum pernah membuatnya 'loh, Mas dan aku juga tidak tahu bagaiaman cara membuatnya!"
Cakra cemberut, padahal ia sangat ingin memakan makanan kenyal berkuah itu. Air liurnya seakan menetes saat membayangkan betapa lezatnya makanan yang berbahan dasar tepung tapioka tersebut.
Ajeng yang tidak tega melihat Cakra sedih karena keinginannya tidak bisa dipenuhi akhirnya menemukan ide. "Baiklah, Mas. Aku akan membuatnya," putus Ajeng.
Cakra bangkit dari rebahannya. "Benarkah, sayang? Tapi tadi kau bilang, tidak bisa membuatnya," tanyanya heran.
"Memang tidak bisa, tapi aku akan berguru pada Yout*be. Di sana pasti banyak tutorial memasak pempek yang bisa jadi panduan."
"Oh, iya. Pintar sekali istri mas ini!" puji Caktra. Ia mencium sekilas pipi kekasih halalnya.
"Berlebihan!" sungut Ajeng. Wanita itu kemudian menutup novelnya dan menaruh buku cukup tebal itu di atas meja. Selanjutnya, ia meraih ponsel yang tergeletak di meja kecil di samping sofa yang didudukinya.
Jemari lentik Ajeng mulai berselancar di aplikasi berikon merah. Setelah beberapa lama, akhirnya ia menemukan sebuah video tentang cara membuat pempek yang enak, penontonnya juga banyak, jadi ia memilih video tersebut sebagai panduan.
"Ya sudah, aku ke dapur dulu, ya. Mas istirahatlah lagi!" pamit Ajeng.
"Iya ,terima kasih, sayang..."
"Nanti saja terima kasihnya, sekarang pesanan mas belum jadi."
__ADS_1
"Siap, Bu Bos!" Selepas Ajeng pergi, Cakra kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Ia merasa lemas setelah muntah tadi pagi. Tak disangka jika justru ia lah yang mengalami sindrom Couvade. Tak masalah, biar saja ia yang menderita, yang penting Ajeng nyaman menjalani kehamilannya, dan janin di perut Ajeng bertumbuh dengan baik dan sehat. Hanya itu yang ia harapkan untuk saat ini.
Di dapur, Ajeng memeriksa semua persediaan makanannya. Ia membuka kulkas dan menemukan hanya satu jenis ikan yang ada di dalamnya, yaitu Tuna. Ia mengeluarkan Tuna itu dan nanti akan mengolahnya menjadi pempek. Walaupun di resep yang ia tonton menggunakan ikan Tenggiri, tapi setelah di search kembali, ikan Tuna juga bisa menjadi bahan untuk membuat pempek. Selanjutnya tepung terigu, tepung tapioka, bawang merah, bawang putih dan bahan-bahan lainnya ia kumpulkan menjadi satu.
Ajeng mulai mengeksekusi semua bahan yang ada, tak lupa ia berpedoman pada video yang saat ini sedang diputar di ponsel pintarnya.
Hanya butuh waktu satu jam, akhirnya Ajeng selesai dengan masakannya. Ia tidak membuat banyak, makanya cepat selesai.
"Mas, ini makanan pesananmu sudah siap..." Ajeng membawa nampan berisi sepiring pempek, ada dua bentuk, lenjer dan kapal selam, masing-masingnya ada tiga. Lalu, ada juga satu mangkuk yang berisi kuah cuka dan terakhir ada sepiring kecil timun yang sudah dipotong kecil-kecil.
Mendengar makanan yang diinginkannya sudah selesai, Cakra dengan sigap bangkit dari rebahannya. Ia duduk manis di sofa, sementara Ajeng sudah menghidangkan masakannya di atas meja.
"Woah... terlihat sangat menggiurkan!" Cakra berbinar melihat tampilan dari pempek buatan sang istri.
"Cobalah, Mas! Semoga tidak mengecewakan." Ajeng harap-harap cemas, sebelumnya ia sudah mencobanya sedikit, dan rasanya lumayan enak. Ia berharap semoga rasanya juga cocok di lidah Cakra.
Cakra mengambil piring kosong yang memang sudah disediakan Ajeng. Ia memasukkan satu buah pempek berbentuk lenjer dan satu buah pempek berbentuk kapal selam, ke dalam piringnya. Selanjutnya, ia menyendok potongan timun dan menaburkannya di atas pempek, terakhir mengguyurnya dengan kuah cuka.
"Kau tidak makan?" tanya Cakra pada istrinya.
"Mas duluan saja!" jawab Ajeng.
Ajeng tak melepaskan matanya dari wajah Cakra. Ia ingin melihat dengan jelas bagaimana reaksi suaminya itu setelah memakan pempek buatannya. Ia menanti dengan dada berdebar.
Sekarang Cakra terlihat sedang mengunyah, beberapa kali kunyah kemudian menelannya. Terlihat jakunnya naik turun saat melakukan hal tersebut.
"Bagaimana, Mas?" tanya Ajeng.
Cakra tersenyum lebar, matanya menatap sang istri dengan pancaran puas. "Ini sangat enak, pempeknya kenyal dan rasa kuahnya juga gurih!"
Ajeng menghela napas lega. Ia bersyukur karena sang suami menyukainya. "Kalau begitu habiskan, Mas!"
"Tentu." Cakra menyuap kembali makanannya. Pria itu juga tak lupa untuk menyuapi istri tercintanya.
Mereka makan dengan lahap sampai pempek buatan Ajeng habis tak bersisa. Ternyata laku juga.
.
"Kita sudah sampai." Mobil Radi berhenti tepat di jalan menuju rumah Rina. Mereka berangkat dari jam sembilan dan sekarang akhirnya sampai juga.
__ADS_1
"Jagoan ayah kangen sama kakek dan nenek, tidak?" tanya Radi pada bocah yang berada di gendongannya.
"Angen..." angguk Reyhan. Batita itu terlihat sangat bersemangat semenjak pagi tadi. Ia tidak sabar untuk bertemu kakek dan nenek yang sudah lama tidak dijumpainya.
Mereka bertiga berjalan menyusuri pematang sawah, sedikit lagi sampai di rumah sederhana orang tua Rina.
"Bapak, Ibuk!" sorak Rina saat melihat kedua orang tuanya ada di tengah ladang milik seseorang.
Kedua paruh baya itu menoleh. Senyum merekah di wajah lelah keduanya begitu mengetahui jika sang putri pulang.
"Nak, kau pulang?" tanya Tuti sembari menghampiri sang anak. Wanita tua itu memeluk anak sematawayangnya penuh rindu.
"Iya, Buk. Aku pulang..." Rina balas memeluk tubuh ringkih ibu yang sudah melahirkannya.
Pak Dadang yang baru sampai langsung menyapa Radi. "Apa kabar, Tuan?" ujarnya.
"Baik, Pak. Bapak sendiri sehat?" Radi balik bertanya, ramah.
"Iya, begini lah keadaan bapak, Nak." Dadang menjawab.
"Kakek, nenek!" panggil Reyhan. Bocah lucu itu mrngulurkan tangan pada Dadang. Ia ingin digendong kakeknya.
"Kakek capek, jagoan. Sama ayah saja, ya?" bujuk Radi. Ia tak tega saat melihat tubuh berkeringat dan lelah dari ayahnya Rina.
Dadang dan Tuti sontak menoleh saat mendengar Radi menyebut dirinya sebagai ayah pada cucu mereka.
"Rin, apa ada yang ingin kau jelaskan pada bapak dan ibuk?" tanya Tuti, menatap tajam putrinya.
"Iya, Buk. Sebaiknya kita pulang dulu. Aku akan menjelaskannya di rumah."
"Baiklah..."
Mereka bersama-sama berjalan pulang. Radi mulai menyiapkan hati untuk segera melamar kekasih hatinya.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih sudah membaca
__ADS_1
Maaf telat update dan juga sedikit, jujur saat ini kondisi saya belum fit betul pasca sakit beberapa hari kemarin. Semoga masih ada yang menunggu kelanjutan cerita ini.