
...🌷Selamat Membaca🌷...
Maya masih meringkuk di balik dinding penjara. Berkas perkara tahap pertama kasusnya sudah dilimpahkan ke Kejaksaan Tinggi. Dengan demikian, Kepolisian akan menyerahkan tersangka, berkas perkara, dan barang bukti kepada Kejaksaan untuk selanjutnya diproses di persidangan.
Sembari menunggu persidangan, Maya harus menginap di sel tahanan untuk waktu yang tidak ditentukan. Terhitung, sudah lima hari ia berada di sana, dan rasanya sangat menyiksa. Apalagi akhir-akhir ini ia merasa ada yang salah dengan tubuhnya.
Maya menyandarkan tubuhnya di dinding dingin sel tahanan, kepalanya pusing dengan perut yang terasa seperti diaduk-aduk. Dulu ia pernah merasakan sensasi seperti ini, tapi sudah lupa kapan dan bagaimananya. Maya mengusap-usap perutnya yang datar. "Ah... kenapa aku jadi ingin makan semur ayam, ya?" lirihnya. Membayangkan makanan itu membuat air liurnya ingin menetes saja.
"Bu Maya, ada yang ingin bertemu dengan anda." Salah seorang polisi datang dan membawa Maya menuju ruangan dimana tamunya menunggu.
"Lingga, Ibu..."
Air mata Maya langsung bercucuran ketika melihat Lingga datang bersama ibunya. Ia berlari dan mengambil putranya dari gendongan sang ibu.
"Lingga, sayang... ibu rindu sekali padamu." Maya mencium wajah anaknya bertubi-tubi. Lima hari tidak bertemu membuatnya sangat merindukan sang anak.
"Lingga terus menangis, ibu pikir dia sangat merindukan dirimu," kata Bu Desi.
"Terima kasih sudah membawa Lingga kemari, Bu."
"Iya, Nak."
Maya dan ibunya duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Bu Desi mengeluarkan kotak makanan yang dibawanya.
"May, ini ibu buatkan makanan kesukaanmu. Makan yang banyak, Nak!" kata Bu Desi sembari mengangsurkan kotak makanan itu ke hadapan Maya.
Bu Desi mengambil Lingga dari gendongan Maya agar putrinya itu bisa makan dengan lebih leluasa.
Maya membuka kotak makanan itu, saat penutupnya terbuka, langsung tercium aroma yang membuat nafsu makannya meningkat drastis. Sepasang netra wanita beranak satu itu langsung berkaca-kaca, di hadapannya kini sudah tersedia nasi dengan semur ayam kesukaannya.
"Ibu..." Maya menatap ibunya haru. "Terima kasih banyak, Bu." Setetes air bening jatuh menuruni pipinya. Ia sangat senang karena makanan yang sangat ingin dimakannya sudah tersedia di hadapan. Sangat beruntung dirinya memiliki ibu pengertian seperti Bu Desi, tapi sayang... ia seringkali membuat ibunya itu kecewa.
"Makanlah, Nak!" kata Bu Desi. Seorang ibu, sekecewa apapun dirinya pada sang anak, pasti tidak akan tega meninggalkannya. Seburuk apapun perangainya, yang namanya orang tua, pasti akan tetap menyayangi anaknya.
Maya memakan masakan ibunya dengan lahap, sesekali tangannya terangkat untuk mengusap air mata yang setia berjatuhan. Wanita itu begitu terharu, setelah sekian lama menghilang, sang ibu masih begitu peduli padanya. Maya menyesal, jika dulu ia mendengarkan nasehat kedua orang tuanya, hidupnya pasti tidak akan jadi seperti ini. Memiliki anak di luar nikah, merebut suami orang dan juga menjadi tahanan karena kasus penganiayaan. Namun, semua hal yang telah terjadi, tidak bisa diubah lagi, sekarang yang harus ia lakukan adalah memperbaiki diri agar menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan, Maya mengambil alih Lingga dari pangkuan Bu Desi. Wanita itu ingin menyusui bayinya.
Lingga menyedot sumber makanannya dengan rakus. Bayi itu seperti kehausan karena sudah beberapa hari ini tidak mendapatkan ASI. Hanya minum susu formula dan juga makan MPASI. Maya merasakan sedikit nyeri pada put*ngnya, ia beranggapan jika itu bisa terjadi karena Lingga yang terlalu kuat menyusu.
Maya membelai rambut lebat Lingga dengan sayang, ia memperhatikan wajah pulas putra sematawayangnya itu. Terbesit rasa sedih karena sebentar lagi mereka harus berpisah.
"Bu Maya, waktu kunjungan sudah habis." Benar saja, seorang polisi yang berjaga di sana memberitahu.
Wajah Maya berubah sendu, ia dengan berat hati menyerahkan Lingga pada Bu Desi.
"Ibu... terima kasih karena telah mengunjungiku," kata Maya sebelum polisi membawanya kembali ke dalam sel tahanan.
"Iya, May. Ibu janji akan sering berkunjung."
Saat akan memasuki jeruji besi, tiba-tiba tubuh maya oleng. Polisi yang sedia di belakangnya segera membantu.
"Apakah anda baik-baik saja, Bu Maya?" tanya polisi wanita itu.
"Ke-kepala saya pusing dan perut saya juga kejang," lirih Maya lemas. Pandangan wanita itu mulai mengabur.
.......
Sore ini Cakra membawa Ajeng jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Wanita itu merasa suntuk karena selalu berada di dalam ruang rawatnya. Besok, Ajeng sudah diperbolehkan pulang sementara Dira masih harus dirawat karena berat badannya masih kurang walaupun sudah naik daripada saat pertama kali ia lahir.
"Mas Cakra, Bu Ajeng!"
Deg
Cakra yang sedang mendorong kursi roda Ajeng untuk kembali ke ruangan, langsung berhenti saat mendengar suara wanita yang begitu dikenalinya menyapa.
"Si-silvia?" Cakra kaget melihat calon mantan istrinya sudah berdiri di hadapannya dan juga Ajeng. Ia bertingkah seperti seorang pria yang terciduk selingkuh.
"Bu Silvia?" Ajeng yang melihat kemunculan wanita itu juga tak kalah kaget. Ia merasa tak enak karena bagaimanapun juga saat ini Cakra masih berstatus sebagai suaminya Silvia.
"A-apa yang kau lakukan di rumah sakit ini?" tanya Cakra. Setahunya, wanita yang pernah hadir dalam hidupnya itu tidak bekerja di rumah sakit ini.
__ADS_1
"Oh, hanya mengunjungi teman lama, sekalian aku juga memeriksakan kandunganku padanya," jawab Silvia. Mata wanita itu tidak lepas memandang pada wajah Cakra dan Ajeng yang terlihat canggung.
"Kau kenapa bisa bersama dengan Bu Ajeng, Mas?"
Cakra tersentak mendengar pertanyaan itu, apakah ini adalah saat yang tepat untuk memberitahu Silvia bahwa ia dan Ajeng memang ada hubungan? Lagipula, baik ia maupun Ajeng sudah akan berpisah dengan pasangan masing-masing, jadi tidak masalah 'kan?
"Apa Bu Ajeng adalah wanita pengganti diriku yang kau maksud waktu itu, Mas?"
Cakra yang masih ragu yang menjawab, mendapat pertanyaan lagi dari Silvia, kali ini lebih menjurus.
"Ya, kami adalah dua orang yang tersakiti, lalu memutuskan bersama untuk saling menguatkan," jawab Cakra.
Silvia mengangguk, tidak ada rasa marah ataupun kesal di hatinya melihat calon mantan suaminya sudah bersama wanita lain. Ia bersyukur karena Cakra bisa menemukan seorang wanita baik yang mengerti betul bagaimana rasanya dikhianati. Tentu, setelah tahu rasa sakitnya, Ajeng tidak akan mungkin mengkhianati Cakra seperti yang telah ia lakukan pada suaminya itu.
"Semoga kalian berbahagia," ucap Silvia sebelum pergi meninggalkan pasangan itu.
"Syukurlah dia tidak berkata yang macam-macam pada Ajeng," batin Cakra lega.
.......
Maya membuka mata setelah pingsan cukup lama. Saat ini ia berada di sebuah klinik yang terletak tepat di sebelah kantor polisi.
"Apa yang terjadi pada saya?" tanyanya sembari mencoba untuk duduk.
Seorang polwan yang menjaga Maya pun menjawab. "Dokter mengatakan jika saat ini Bu Maya tengah mengandung, usia janinnya sudah 6 minggu."
Deg
Jantung Maya seperti berhenti berdetak begitu mendengar kondisinya.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment😊🙏🏻...
...Terima kasih...
__ADS_1