2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Hospital


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Fadhil dan kedua anaknya tengah menunggu di luar ruang pemeriksaan. Dokter baru saja masuk untuk memeriksa keadaan Maya.


"Pa, mama pasti baik-baik saja, kan?" tanya Kei cemas. Soalnya, saat baru sampai di rumah sakit tadi, Maya jatuh pingsan.


"Do'akan biar mama baik-baik saja," ucap Fadhil yang juga diliputi rasa cemas. Ia memeluk kedua tubuh anaknya.


Tak lama kemudian, dokter yang memeriksa Maya keluar dari ruangannya. "Keluarga pasien..." panggil si dokter.


Fadhil langsung bangkit sembari menggendong Lingga, sementara Kei berdiri di sebelahnya. "Saya suaminya, Dokter. Bagaimana keadaan istri saya?"


"Istri anda terserang diare cukup parah hingga ia kehilangan terlalu banyak cairan tubuh. Hal itu membuatnya lemas dan tak bertenaga. Kami sudah memberikan cairan infus untuk membantu menambah cairan di tubuhnya," perjelas dokter wanita itu.


"Apa istri saya sudah sadar, Dok? Dan apa dia perlu dirawat untuk sementara waktu?" tanya Fadhil lagi.


"Ya, istri anda sudah sadar. Setelah pemberian infus selesai, istri anda sudah diperbolehkan pulang. Kami juga akan memberikan resep obat untuk mengurangi diarenya, silakan ditebus nanti di apotek rumah sakit."


Mendengar penjelasan dokter, Fadhil mengangguk paham. "Baik, terima kasih banyak, Dok."


"Sama-sama, Pak. Kalau begitu saya pamit dulu."


Setelah dokter pergi, Fadhil membawa anak-anaknya masuk ke ruangan untuk melihat keadaan Maya.


"Mama..." Kei langsung berlari ke ranjang pesakitan ibunya. Gadis kecil itu memanjat kursi dan duduk tepat di samping tubuh Maya yang terbaring lemas. Dipeluknya tubuh wanita itu dengan tangis yang mulai timbul.


"Mama tidak apa-apa, sayang. Jangan nangis, ya!" Maya mengelus kepala Kei yang rebahan di perutnya.


"Kei sedih lihat mama sakit..." isaknya.


"Sekarang mama sudah sembuh, kok. Kan ada dokter yang mengobati mama..." bujuk Maya.


"Hm..." Kei hanya berdehem. Ia masih setia memeluk tubuh ibu sambungnya itu.


Fadhil yang melihat pemandangan itu begitu terenyuh. Ia tidak menyangka jika Kei akan sangat menyayangi Maya seperti ini, begitu pun sebaliknya. Pria itu bersyukur bisa kenal dan menjadikan Maya sebagai pendampingnya.


"Sudah jauh lebih baik?" Fadhil meletakkan Lingga di samping ibunya. Tangan pria itu kemudian menuju kepala sang istri dan mengelusnya.


"Iya, Mas. Badanku rasanya tidak selemas tadi." Maya tersenyum, meyakinkan suaminya jika ia sudah baik-baik saja.


"Syukurlah..." Fadhil menunduk dan memberikan satu kecupan di kening Maya. "Cepat sembuh, aku dan anak-anak membutuhkanmu," bisik Fadhil tepat di telinga Maya.


Wanita itu mengangguk. Ia sangat terharu mendapati Fadhil yang begitu perhatian padanya. Ia pikir, pernikahan yang dimulai tanpa adanya cinta akan berakhir dengan menyedihkan, tapi ternyata... Tuhan memberi kebahagiaan yang tak ternilai. Kadang Maya merasa Tuhan terlalu baik padanya, mengingat semua keburukan yang sudah dilakukannya di masa lalu. Namun, ia sudah berubah dan berjanji akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi setiap harinya.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas."


Beberapa menit berlalu, seorang perawat masuk ke dalam ruangan Maya. Ia mengecek sebentar keadaan wanita itu sebelum memberikan secarik kertas kepada Fadhil.


"Ini resep obat yang perlu ditebus, Pak..." katanya.


"Baiklah, terima kasih, Sus."


"Sama-sama, Pak." Setelah melakukan tugasnya, perawat itu pergi meninggalkan ruangan.


"May, aku menebus obat sebentar, ya..." ucap Fadhil dan diangguki oleh sang istri.


"Anak-anak, jaga mama ya, papa kelaur sebentar."


"Iya, Pa." Hanya Kei yang menjawab. Sementara Lingga sudah tertidur di sebelah ibunya. Bayi itu mengantuk karena belum sempat tidur siang.


.......


Fadhil sudah selesai menebus obat Maya, ia kembali menelusuri lorong menuju kamar rawat istrinya. Di perjalanan, tak sengaja ia mendengar suara keributan. Penasaran, ia pun berhenti dan menyaksikan sejenak. Mana tahu ada sebuah kerusuhan/tindak kriminal yang terjadi, jika ada ia bisa langsung membantu. Kebetulan seragam kepolisian masih membalut tubuh gagahnya.


"Dasar wanita pembawa sial! Semenjak bersamamu, putraku selalu mendapat kemalangan. Pergi kau dari sini dan jangan pernah datang kemari lagi!" Seorang wanita tua dengan dandanan cukup 'wah' berteriak pada seorang wanita yang tengah berlutut sembari memeluk seorang anak perempuan.


"Bu, izinkan kami melihat keadaan Mas Randi. Qilla kangen sama papanya, Bu!" Wanita berambut panjang itu sampai bersujud di kaki si wanita tua yang terlihat sangat angkuh.


"Tidak akan ku izinkan! Bisa-bisa putraku langsung mati setelah kau jenguk nanti!" tolak si wanita tua.


"Aku tidak menyumpahi anakku cepat mati, tapi anakku bisa mati jika kau terus berada di sekitarnya. Lebih baik sekarang kau pergi dan jangan pernah perlihatkan lagi wajahmu di hadapanku!" usirnya.


Fadhil yang mendengar perdebatan itu pun merasa geram. Langsung saja ia menghampiri orang-orang di depan ruangan tersebut.


"Ada apa ini?" Suaranya yang berat dan tegas langsung menginterupsi.


Semua orang yang ada di sana terkejut melihat kemunculan seseorang berseragam polisi. Wanita tua yang sombong itu sampai menciut takut dengan wajah memucat.


"Disa..." lirih Fadhil. Ia terkejut ketika melihat jika wanita malang yang terusir itu adalah Disa. Aqilla juga ada bersamanya.


"Maaf, Pak. Ini masalah keluarga kami. Jadi, saya harap anda tidak ikut campur!" Seorang pria berkemeja biru melangkah ke depan Fadhil dan berujar.


Fadhil mengangkat satu alisnya ke atas. Lancang sekali mulut pria ini, pikirnya. "Apa saya terlihat ikut campur? Saya hanya bertanya!" tekan Fadhil.


"Tidak ada yang perlu anda ketahui, sekarang sebaiknya anda pergi!" suruh pria itu lagi.


"Baik, saya akan kembali ke kantor dan melaporkan jika ada yang berbuat keirbutan di rumah sakit ini." Fadhil berbalik dengan senyuman licik.

__ADS_1


Baru beberapa langkah berjalan, suara wanita tua tadi terdengar kembali. Fadhil berbalik.


"Pak, silakan bawa wanita ini! Dia yang sudah membuat keributan!" Dengan teganya wanita itu mendorong menantunya, yang tak lain adalah Disa ke arah Fadhil.


Disa yang oleng, langsung jatuh ke dalam pelukan Fadhil.


"Mama!" teriak Qilla. Bocah perempuan itu hendak berlari menghampiri ibunya, namun seorang wanita lainnya yang terlihat cukup muda, menahan tubuhnya agar tak bergerak.


"Qilla, biarkan mama mu pergi. Sekarang Qilla tinggal sama nenek, om dan tante!" kata si wanita muda.


"Qilla nggak mau! Qilla benci nenek! Qilla benci om dan tante. Kalian semua jahat sama mama!" pekik Qilla histeris. Ia memberontak agar terlepas dari kurungan tantenya.


"Qilla, sini sama mama, Nak!" Disa segera merebut sang anak dari tangan keluarga suaminya. Mereka berdiri tepat di belakang Fadhil, meminta perlindungan.


"Sebaiknya kalian pergi, tidak ada gunanya berurusan dengan orang-orang yang tidak punya hati seperti mereka ini!" kecam Fadhil dengan mata menatap tajam tiga orang yang sok berkuasa di hadapannya. Ia malas meladeni masalah ini, jadi lebih baik menghindar saja.


"Ayo!" Fadhil menggiring Disa dan Qilla untuk pergi menjauh.


.......


Saat ini Fadhil, Disa dan Qilla sudah berada di kantin rumah sakit. Fadhil menyodorkan air mineral untuk Disa dan sekotak susu rasa strawberry untuk Qilla.


"Minumlah dulu!" katanya.


"Terima kasih, Mas!" Disa membuka minumannya dan langsung menegak isinya. Ia merasa sangat haus setelah berdebat panjang dengan sang ibu mertua.


"Qilla, minum dulu, sayang." Disa membantu membuka minuman untuk sang anak.


Wajah gadis kecil itu terlihat murung. "Qilla kangen sama papa, Ma..." celetuknya.


Disa menghela napas lemah. "Maafkan mama ya, Nak. Mama belum bisa membawa Qilla bertemu papa."


Fadhil yang penasaran pun, bertanya. "Apa yang terjadi, Sa?"


"Suamiku di rawat di rumah sakit ini, Mas. Dia koma setelah mengalami kecelakaan sebulan yang lalu."


Deg


Fadhil terhenyak, ia turut sedih mendengar kemalangan yang menimpa mantan istrinya itu.


...Bersambung...


Jangan lupa Vote dan Comment

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca


Kisah Ajeng dan Cakra, Inshaa Allah besok akan dilanjut...


__ADS_2