
...🌷Selamat Malam🌷...
Silvia menatap kalender duduk yang terletak di atas meja kerjanya. Terhitung, sudah dua bulan berlalu semenjak Cakra memberinya satu kesempatan lagi, tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda kehamilan pada dirinya. Justru yang ada ia mendapatkan tamu bulanannya tadi pagi.
"Coba pakai ini, aku ingin melihat apakah kau sudah hamil atau belum!" Pagi ini Cakra memberikan sebuah testpack pada Silvia.
Tubuh wanita itu menegang, tidak perlu alat tes kehamilan itu ia gunakan karena dirinya dipastikan belumlah hamil.
"A-aku dapat tamu bulanan pagi ini," jawab Silvia pelan.
Cakra menatap Silvia tajam, ia merasa sangat kecewa karena istrinya itu belum hamil juga. Bukannya Cakra ingin melawan kehendak Tuhan, hanya saja ini ia lakukan agar Silvia lebih sedikit berusaha.
"Kau tidak mengonsumsi pil sialan itu lagi, kan?" selidik Cakra curiga. Pil yang dimaksud adalah pil pencegah kehamilan. Sebelum masalah besar itu terjadi, Silvia memang sering mengonsumsi pil tersebut setiap kali mereka akan berhubungan.
"Tidak," jawab wanita itu datar. Tidak sekali dua kali Cakra menuduhnya seperti ini, Silvia merasa kesal dibuatnya.
"Baiklah, setelah kau selesai dengan red daymu itu, sebaiknya kita melakukan program kehamilan di rumah sakit. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama." Setelah mengatakannya Cakra langsung pergi meninggalkan Silvia yang terus mengumpat karena kesal.
"Bagaimana aku bisa hamil kalau setiap kali berhubungan, dia seperti tidak niat begitu," desahnya. Ia ingat malam-malanya bersama Cakra, pria itu akan langsung menyetubuhinya tanpa repot-repot melakukan pemanasan. Silvia sering kesakitan karena hal itu, percintaan yang harusnya menyenangkan malah membuatnya menderita. Lama-lama, hubungan itu membuatnya jenuh.
Cklekk
Pintu ruang kerjanya terbuka dari luar, seorang pria masuk begitu saja ke dalam tanpa permisi.
"Ayo kita makan siang, Baby?" ajak si pria begitu sampai di depan meja kerja Silvia.
Wanita itu menyambutnya dengan senyuman manis. "Ayo, sayang." Silvia bangkit dari bangku dan segera mengapit lengan si pria. "Makan di mana kita?" tanyanya manja.
"Aku telah mereservasi sebuah meja di restoran hotel xxx, setelah makan siang kita bisa istirahat sejenak di sana. Satu kamar hotel juga sudah ku booking untuk kita berdua menikmati siang ini." Mata pria itu mengerling nakal.
"Kau selalu bisa membuatku bahagia, tapi sayang sekali, tamu bulananku baru saja datang tadi pagi," beritahu Silvia lesu.
"Masih banyak caranya untuk bercinta, aku akan mengajarimu nanti," bisik si pria.
"Dasar! Pria lajang yang mesum. Cup." Satu kecupan diberikan Silvia di pipi pria yang satu bulan ini telah menjadi selingkuhannya.
Tidak salah kan jika ia melakukan hal ini? Cakra sudah tidak bisa menghangatkan dirinya, jadi dengan sangat terpaksa ia mencari kehangatan dari pria lain.
"Ayo, Baby..."
.... ...
Empat bulan sudah usia kandungan Ajeng saat ini. Radi setia mendampinginya setiap saat. Membelikan semua yang ia inginkan dikala mengidam, dan juga menemani setiap kali Ajeng memeriksakan kandungan. Tidak ada masalah yang berarti terjadi belakangan ini, hal itu membuat hidup Ajeng terasa aman dan nyaman. Ia hanya harus fokus pada kandungan yang semakin hari semakin besar, janinnya berkembang dengan sangat baik, membuat dirinya bahagia.
Siang ini Ajeng duduk berleha di ruang tengah, menyaksikan siaran televisi sembari menikmati camilan sehat buatan rumahan.
"Nona, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda." Seorang pelayan menghampiri Ajeng dan memberitahu jika ada tamu yang datang.
"Siapa?" tanyanya.
"Saya tidak tahu, Nona."
"Baiklah, suruh dia masuk."
Ajeng membenahi sedikit penampilannya demi menyambut tamu yang datang.
"Selamat siang ..."
Deg
__ADS_1
Ajeng mamatung mendengar suara di belakangnya. Tanpa menoleh pun ia tahu suara milik siapa itu, ia masih ingat betul walau hanya sekali mendengarnya beberapa bulan lalu.
"Mbak Ajeng ..."
Ajeng menghirup napas dalam, ia harus menyiapkan hati terlebih dahulu untuk bertemu dengan tamu yang tak diundang itu. Setelah dirasa mantap, ia pun membalikkan tubuh.
"Kau rupanya ..."
"Iya, akulah yang datang. Maaf karena telah mengganggu waktu istirahatmu," ucap wanita itu basa-basi.
"Silakan duduk, Maya."
.......
Maya merasa dua bulan ini Radi berusaha menghindarinya. Pria itu jarang datang ke rumah untuk melihat sang anak. Satu minggu, hanya sekali dan itu pun sebentar saja. Hal itulah yang membuat Maya membuntuti Radi sepulang pria itu dari rumah yang ditempatinya.
Di dalam taksi, Maya melihat Radi berhenti di sebuah rumah yang sangat megah bergaya klasik. Benar seperti apa yang diucapkan pria itu, rumah yang ditempatinya tidak ada apa-apa dibandingkan dengan rumah milik Ajeng yang bak istana. Hal itu membuat Maya merasa sedikit iri. Beruntung sekali Ajeng mendapatkan suami yang tampan dan juga kaya raya. Pasti wanita itu hanya mengincar hartanya saja, pikir wanita itu.
Setelah tahu di mana Radi dan Ajeng tinggal, Maya pun mulai mempersiapkan diri untuk berkunjung ke sana.
.......
Ajeng menatap Maya dan bayi dalam gendongan wanita itu secara bergantian. Jika dilihatnya betul-betul, sama sekali tidak ada kemiripan antara Radi dan anak itu. Namun, bukan hal itulah yang penting untuk dibahas saat ini.
"Ada apa kau kemari?" tanya Ajeng langsung pada intinya.
"Aku datang kemari karena ingin menuntut hak untuk anakku!"
Alis Ajeng menyatu mendengar tuntutan wanita itu. "Hak apa yang kau maksud?" tanyanya bingung.
"Jangan pura-pura bodoh. Dua bulan ini mas Radi jarang menemui kami. Pasti kau 'kan yang sudah menghasutnya agar tidak lagi peduli padaku dan juga anak kami?"
"Ck, tidak usah berbohong. Aku tahu betul sifat wanita sepertimu ini. Bilang saja kau iri padaku karena akulah wanita pertama yang bisa memberikannya anak, makanya kau menghalangi mas Radi untuk bertemu kami, kan?"
Sialan benar wanita ini. Bolehkah Ajeng menyumpal mulut menjengkelkan Maya dengan bantal sofa yang ada di sampingnya? Tidak, itu adalah tindakan yang kampungan.
"Apa kau tidak punya cermin di rumah, hm? Apa kau sadar? Kau itu hanya seorang wanita simpanan yang beruntung karena bisa melahirkan seorang anak dari benih suami orang. Lalu, apa yang kau harapkan? Jangan membanggakan sesuatu yang telah kau dapatkan dengan cara kotor dan menjijikkan!" Ucapan telak Ajeng membuat wajah Maya merah padam.
"KAU?!" pekiknya.
Oekk ... oek ... oekkk...
Suara keras Maya telah membuat sang anak dalam gendongannya terkejut hingga menangis. "Cupb... cup sayang, tenang ya. Maafkan mama karena telah membuat Lingga kaget." Wajah Maya langsung melembut saat berhadapan dengan anaknya. Ditimangnya bayi mungil itu untuk membuatnya berhenti menangis.
Lingga? Apa Ajeng tidak salah dengar. Apa Maya baru saja menyebut sang anak dengan nama Lingga. "Siapa nama anakmu itu?" tanya Ajeng yang tak bisa menutupi rasa penasarannya.
Setelah anaknya tenang, Maya kembali menatap Ajeng. "Mas Radi memberinya nama Lingga. Lingga Nugraha," beritahu Maya dengan bangga.
Deg
Ajeng sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Tega sekali Radi memberi nama pada anak selingkuhannya dengan nama Lingga. Bukankah nama itu adalah nama yang telah dipersiapkan pria itu untuk calon buah hati mereka nanti jika berjenis kelamin laki-laki. Ajeng meremas gaun yang dikenakannya dengan kesal.
"Kenapa? Baguskan nama anakku? Tentu saja, ayahnya lah yang telah memberi nama." Maya mulai memanas-manasi saat melihat raut wajah tak senang ditampakkan Ajeng. Ia yakin, Ajeng pasti iri karena Radi memberikan nama yang bagus untuk anak mereka yang tampan.
"Baiklah. Jika kau ingin menuntut hak untuk anakmu itu, silakan bicara langsung pada Radi. Bukan padaku." Ajeng bangkit dari duduknya. Berlama-lama berhadapan dengan Maya bisa membuatnya darah tinggi. Itu akan berdampak buruk pada kandungannya, lebih baik ia menghindar saja.
"Tunggu!" Maya menghentikan langkah Ajeng yang akan pergi meninggalkannya.
"Ada apa lagi?" tanya Ajeng lelah. Ia menjawab tanpa menoleh.
__ADS_1
"Bisakah kau lepaskan mas Radi untukku?"
Deg
Ajeng membalik tubuh dengan cepat. Matanya nyalang menghunus netra Maya. "Kau masih waras? Lancang sekali mulutmu itu!" teriak Ajeng.
"Apa yang salah? Aku meminta mas Radi baik-baik padamu." Maya menyahut kemarahan Ajeng dengan santai.
"Sungguh tidak tahu malu sekali kau, Maya. Setelah kau merebut perhatian suamiku sekarang kau juga ingin miminta dirinya padaku?"
"Iya. Aku rasa kau tidak membutuhkan mas Radi lagi. Berbeda denganku, aku dan anakku sangat membutuhkannya."
Ajeng tertawa. "Kau ini benar-benar sudah gila. Kau meminta seorang suami dari istri sahnya. Kau pikir aku tidak butuh mas Radi, hah? Aku membutuhkan SUAMIKU dan anakku juga membutuhkan AYAHNYA.." Ajeng menunjuk perutnya yang nampak membuncit.
Maya turut bangkit, ia berjalan mendekat ke arah Ajeng. "Kau jangan serakah! Kau sudah mendapatkan harta yang sangat banyak dari Radi. Lihatlah, rumahmu juga sangat mewah. Sedangkan aku tidak butuh harta, aku hanya butuh mas Radi."
PLAKK
Ajeng menampar Maya, tidak terlalu keras karena ia masih ingat jika wanita itu sedang menggendong anaknya. "Kau pikir semua yang aku punya ini adalah milik mas Radi?"
Maya memegang pipinya yang baru saja ditampar. Tidak sakit, tapi cukup membuatnya merasa kesal. "Apa maksudmu?"
"Dengar baik-baik, wahai wanita selingkuhan suamiku yang tidak tahu diri. Rumah ini dan semua harta yang aku miliki adalah warisan dari kedua orang tuaku. Perusahaan tempat mas Radi bekerja juga adalah milikku. Jadi kau tidak ada hak untuk mengatur-atur hidupku. Aku tidak akan pernah menyerahkan mas Radi padamu!"
Maya terkejut setengah mati. Ia pikir Ajeng adalah wanita matre yang hanya menginginkan harta Radi. Ia kira akan gampang merebut pria itu dengan menukarkannya dengan harta, tapi ternyata ia salah. "Ma-mas Radi tidak punya hak apa-apa terhadap semua hartamu?" tanya Maya gagap.
"Tidak. Asal kau tahu, mas Radi hanyalah seorang anak yatim piatu yang beruntung karena dipungut dan dibesarkan oleh kedua orang tuaku." jelas Ajeng. Ia sangat marah saat ini hingga mengeluarkan kalimat yang sesungguhnya sangat menyakiti hatinya. Jujur, Ajeng tidak pernah menganggap Radi sebagai anak pungut. Dulu, pria itu adalah kakak baginya dan sekarang pria itu adalah suaminya.
"Jadi hanya segitu hargaku di matamu, Ajeng?"
Deg
Ajeng tersentak, suara itu membuat tubuhnya bergetar. Perlahan, ditolehkannya kepala ke samping. Ada Radi berdiri tak jauh dari sana, tengah memandangnya nanar.
"Ma-mas Radi?" Suara wanita itu tercekat.
"Anak pungut yang beruntung ..." lirih Radi sendu.
"Ma-maafkan aku, Mas. Aku tidak bermaksud-"
Radi bergerak mundur saat Ajeng menghampirinya. "Selama ini aku sadar. Aku sadar jika aku bukanlah siapa-siapa. Hanya orang yang kebetulan menumpang padamu dan ikut menikmati semua harta yang kau milikki."
Ajeng menangis. Ia menyesal mengatakan semua itu. "Mas ..."
Maya menyunggingkan senyum senang melihat situasi yang ada. Ajeng secara sengaja telah menjatuhkan harga diri Radi sebagai seorang suami. Ia yakin, pasti Radi akan membenci Ajeng karena hal itu.
"Ayo pergi, Maya!" Radi meraih tangan Maya dan menggandengnya pergi meninggalkan istana megah keluarga Winata.
Tubuh Ajeng jatuh terduduk di sofa empuk. Ia sudah membuat kesalahan yang sangat fatal, sekarang Radi telah pergi meninggalkannya. Apakah suaminya akan lebih memilih wanita itu dari pada dirinya?
"Ya Tuhan ..."
Masih Ajeng ingat, betapa manisnya senyum Maya saat melihat ia terpuruk karena Radi lebih memilih wanita itu dibandingakan dirinya.
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment ya...🙏🏻😊...
...Terima kasih...
__ADS_1