
...🌷Selamat Membaca🌷...
Setelah lima hari dirawat di rumah sakit, Ajeng dan baby Azka akhirnya diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Ajeng merasa sangat senang karena selama berada di rumah sakit, ia merasa amat bosan. Wanita itu sebenarnya belum sembuh total karena pemulihan pasca operasi pengangkatan rahim membutuhkan waktu 4-8 minggu, tapi dia sudah bisa menjalani perawatan di rumah saja.
Di hari keempat Ajeng dirawat, saat itu lah Cakra baru memberitahukan pada istrinya bahwa wanita itu sudah tidak memiliki rahim lagi. Awalnya Ajeng shock, ia merasa sedih karena rahim di mana dulu menjadi tempat kelima anaknya tumbuh sudah tidak ada lagi di dalam tubuhnya, tapi wanita itu hanya bisa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk hidup.
"Kita pulang bertiga saja, Mas? Kok tumben anak-anak nggak ikut?" tanya Ajeng heran. Pasalnya, setiap hari selama ia dirawat, anak-anaknya tidak pernah absen untuk menjenguk, tapi kenapa saat kepulangannya, tidak ada satupun yang menjemput.
"Mereka bilang sedang menyiapkan kejutan untukmu dan baby..." jawab Cakra.
"Benarkah? Aku sudah tidak sabar..." lirih Ajeng.
.......
Sesampainya di hunian megah keluarga Adibrata, Cakra meminta sopirnya untuk mengeluarkan kursi roda dari dalam bagasi, kemudian ia menggendong Ajeng keluar dan mendudukkannya di atas kursi roda, baru setelah itu ia mengambil baby Azka yang sebelumnya dibaringkan di kursi mobil.
"Ayo sayang, kita masuk..." Cakra mulai mendorong kursi roda Ajeng untuk masuk ke dalam. Kebetulan, pintu rumah sudah terganga lebar menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
"WELCOME HOME MAMA DAN BABY."
Sampainya di dalam, Ajeng disambut heboh dengan teriakan semua anak-anaknya minus baby Azka tentunya.
Ajeng tersenyum bahagia, ia tersentuh melihat semuanya berkumpul menyambut kepulangannya. Ada ibu mertua dan iparnya, beserta anak-anak mereka. Ruang tamu juga sudah disulap sedemikian rupa, sudah seperti pesta ulang tahun saja.
Dira segera menghampiri ibunya dan mengambil alih untuk menggendong sang adik. "Biar Azka aku gendong ya, Ma. Mama mengobrol santai saja bersama yang lain, biar aku dan adik-adik yang menjaga Azka."
"Terima kasih ya, sayang..." Ajeng tersenyum haru. Syukurlah, ia memiliki anak-anak yang perhatian.
"Ayo, sayang ... kita duduk di sana." Cakra kembali mendorong kursi roda istrinya ke arah sofa.
"Makasih ya, Mbak..." Hanya itu yang bisa Ajeng ucapkan.
"Mbak, Mas... jika merasa kesepian, minta saja si kembar untuk menikah, dengan begitu masing-masing dari mereka akan memberikan kalian cucu..." celetuk Cakra.
Mendengar kata menikah, Rama pun jadi teringat sesuatu. "Dik, nanti mas ada yang ingin dibicarakan denganmu berdua saja..." kata Rama.
__ADS_1
Cakra terdiam sebentar, tumben kakaknya itu mengajaknya bicara berdua. Sepertinya ada hal serius. "Baik, Mas..." jawabnya kemudian.
Sementara orang tua berbincang, anak-anak sibuk bermain dengan baby Azka yang kebetulan terbangun, tapi dia tidak menangis karena Dira dengan setia menimangnya.
"Kak, aku juga mau gendong!" rengek Arsy.
"Kamu belum bisa, Dek..." Dira menggeleng. Sejujurnya, ia belum rela melepas adik kecilnya dari dekapan.
"Kakak curang, keenakan sendiri..." protes Arsy.
"Biarin, wee..." Dira sedikit mencibir.
Interaksi antara Dira dan adik-adiknya tak luput dari pandangan seorang pemuda tampan yang juga merupakan bagian dari keluarga itu. Dia adalah Arjuna, yang diam-diam sudah lama menaruh perasaan pada putri sulung Ajeng. Ia berharap, suatu saat nanti bisa menjadikan gadis itu sebagai pendamping hidupnya.
...Bersambung...
Terima kasih sudah membaca 😊
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan comment 🙏🏻