
...🌷Selamat Membaca🌷...
Ajeng berjalan pelan menuju halaman belakang. Dari ambang pintu, ia bisa melihat putranya tengah duduk menyendiri di gazebo. Lantas, ia pun menghampirinya.
"Nak..." panggil Ajeng. Ia duduk tepat di sebelah Arsha yang sama sekali tidak menggubris kedatangannya, yang ada remaja tampan itu sibuk menengadah ke langit, melihat bulan yang bersinar cukup terang malam itu.
"Maafkan mama ya, Nak..." ucap Ajeng dengan suara pelan.
Mendengar itu, Arsha langsung mengalihkan pandangannya pada sang ibu. "Kenapa mama minta maaf? Mama sama sekali tidak punya salah, aku lah yang salah."
Ajeng tersenyum sembari menatap wajah putranya. Wajah itu adalah perpaduan antara wajahnya dan sang suami. Bentuk wajah yang tegas, alis tebal dan hidung mancung, itu adalah milik Cakra. Sementara bibir dan matanya turunan dari Ajeng. Perpaduan sempurna hingga menghasilkan putra yang sangat tampan.
"Mama tak menyangka jika akan diberi titipan lagi oleh Sang Pemberi. Mama pikir, wanita tua seperti mama tidak akan bisa hamil lagi," lanjut Ajeng.
Arsha langsung menggeleng. "Mama belum tua, wajah mama itu awet muda dan masih tetap cantik. Bahkan di antara semua perempuan di rumah, mama adalah yang paling cantik."
Ajeng tergelak. "Terima kasih atas pujiannya, Nak. Mama merasa tersanjung. Ngomong-ngomong belajar menggombal dari mana?" balasnya menggoda.
"Mama..." Arsha merengut, pura-pura kesal.
Setelah itu, keadaan hening sejenak. Arsha tampak berpikir.
"Maafkan aku, Ma..." Arsha akan mengutarakan alasan yang membuatnya tidak ingin memiliki adik. "Bukannya aku tidak senang memiliki adik, hanya saja..." Ia kembali mengingat kejadian heboh di sekolah saat masih duduk di tahun pertama SMP.
"Aku tidak ingin kejadian yang menimpa salah satu teman sekolahku, juga terjadi pada diriku. Aku... tidak mau kehilangan mama..." kata Arsha sendu.
"Ada apa dengan temanmu itu, Nak? Kenapa kamu takut?" tanya Ajeng yang belum mengerti kejadian apa yang sudah membuat putranya seperti trauma.
"Dia... waktu itu dia mencoba bunuh diri dengan melompat dari atas gedung sekolah. Namun, usahanya dihentikan oleh penjaga sekolah yang melihatnya. Dan mama tahu kenapa dia berniat bunuh diri?" Arsha menatap ibunya dengan sendu.
Ajeng menggeleng. Ia sama sekali belum pernah mendengar cerita ini dari putranya. Mungkin dirahasiakan untuk melindungi si anak dan juga nama baik sekolah.
"Ibunya meninggal saat melahirkan sang adik, dan ayahnya menikah lagi setelah sebulan kepergian sang ibu. Yang paling menyedihkan, dia dan adiknya dititipkan kepada nenek dari ibunya. Katanya, istri baru ayahnya tak suka dia dan adiknya tinggal bersama mereka. Hidupnya sangat menyedihkan. Aku tidak mau seperti itu. Aku takut kehilangan mama... aku takut nanti papa menikah lagi dan membuang aku juga saudara-saudarku," jelas Arsha pilu.
Ajeng terenyuh. Cerita teman putranya begitu memilukan. Ia jadi ingin mengenal anak tersebut dan memberikannya dukungan agar tetap semangat untuk menjalani kehidupan ini. Namun, sebelum itu... ia harus menenangkan Arsha terlebih dahulu.
__ADS_1
"Dengarkan mama, Nak!" Ajeng menepuk pelan bahu Arsha. "Seorang ibu akan bertaruh nyawa demi melahirkan anaknya. Ibu yang meninggal saat melahirkan, kematiannya akan dianggap sebagai mati syahid. Sebab ia telah berjuang dengan sekuat tenaga untuk bisa melahirkan buah hati tercintanya ke dunia ini. Hal ini tentu menjadi sebuah keistimewaan tersendiri bagi kaum wanita terutama yang sedang mengandung. Agar tidak takut dan menikmati segala proses kehamilan dan melahirkan dengan senang hati. Karena, segala sesuatu yang sudah menjadi ketentuan hanya Tuhan yang mengetahuinya, kita sebagai manusia hanya bisa berikhtiar dan memohon untuk selalu mendapatkan perlindungan dariNya."
"Sekarang kamu paham, Nak!" tanya Ajeng setelah penjelasan panjangnya.
"Aku mengerti, Ma... tapi tetap saja aku takut." Masih jelas tersirat kecemasan di wajah Arsha.
"Jangan takut, Nak!" Sebuah suara datang menginterupsi. Cakra datang menyusul karena khawatir dengan keadaan istri juga putranya.
"Papa, Arsha dan ketiga saudarimu, kita bersama akan menjaga mama dengan baik. Jangan pernah lupa berdo'a untuk keselamatan mama dan calon adikmu. Untuk hasil akhirnya, kita serahkan pada yang Maha Kuasa." Cakra memberi pengertian.
Arsha mengangguk, ia akan coba untuk menerima kehamilan sang ibu. Dan berjanji akan menjaga ibunya selama masa kehamilan ini.
"Dan untuk hal yang kamu takutkan tadi, papa sedikit tidak setuju. Tidak semua pria yang ditinggal mati oleh istrinya akan memilih menikah lagi dan mengabaikan anak-anaknya. Kalian adalah harta papa yang paling berharga, jauh dari kalian saja bisa membuat papa mati. Jadi jangan pernah risaukan hal itu. Sampai kapanpun juga, tidak ada yang bisa menggantikan posisi kalian dalam kehidupan papa. Kamu harus percaya itu. Pria yang dipegang adalah ucapannya, dan papa bukan pecundang yang akan mengingkari ucapannya sendiri," jelas bapak empat anak tersebut.
Arsha bernapas lega. Kini ia yakin jika semuanya akan baik-baik saja.
"Jadi kamu ingin adik cowok atau cewek, Boy!" celetuk Cakra untuk mencairkan suasana.
"Cewek, Pa. Cewek aja, biar aku tetap menjadi satu-satunya pangeran papa dan mama..." jawabnya.
"Jika nanti anaknya cewek lagi, maka tugasmu dan tugas papa akan bertambah lagi, Nak. Kami harus berjanji, bahwa akan melindungi saudari-saudarimu dengan baik," pinta Cakra.
"Iya, Pa. Aku akan melindungi Kak Dira, Kak Eya, Arsy dan calon baby dengan baik. Buktinya, aku pernah menghajar cowok yang sudah menyakiti hati Kak Dira sampai babak belur," balasnya pongah.
"Apa?" Cakra dan Ajeng terpekik kecil.
"Upss..." Arsha langsung menutup mulutnya yang keceplosan.
"Arsha! Kamu berantem lagi, ya?" tanya Ajeng, menatap tajam Arsha.
"Aduh... aku sakit perut Ma, Pa. Aku ke dalam duluan, ya!" Takut dimarahi karena sering berkelahi, akhirnya Arsha memilih kabur.
"Anak itu!" Ajeng hanya bisa geleng-geleng kepala. Sudah berulang kali diingatkan untuk tidak berkelahi, tapi tampaknya Arsha tidak mendengarkan peringatannya. Seperti biasa, masuk telinga kanan, keluar telinga kiri.
"Sayang, ayo masuk. Udara di luar cukup dingin, nanti kamu masuk angin..." ajak Cakra.
__ADS_1
"Ayo, Mas." Ajeng bangkit dan menggandeng lengan suaminya.
Di perjalanan menuju rumah, Ajeng berceletuk. "Kalau aku pergi lebih dulu, apa mas akan menikah lagi?" tanyanya penasaran.
"Tidak. Mas ingin bersamamu di surga nanti, jadi mas tidak akan mencari wanita lain. Lagi pula, mas sudah punya tiga bidadari cantik yang bisa merawat mas di hari tua."
"Yakin?" tanya Ajeng dengan kerlingan mata.
"Ya. Kalau boleh meminta, biar mas saja yang pergi terlebih dahulu. Mas nggak bisa hidup tanpa kamu." Cakra memeluk tubuh istrinya. Jujur, ia merasa takut kehilangan Ajeng.
"Aku juga nggak bisa hidup tanpa kamu, Mas. Aku hanya bisa berdo'a semoga kita bisa sehidup semati. Jadi tidak akan ada yang merasa kehilangan di antara kita."
"Cukup. Pembahasan ini sebaiknya kita akhiri. Ini hari yang membahagiakan, jadi jangan memikirkan hal-hal yang bisa merusak kebahagiaan itu. Ayo, kita masuk!"
Cup
Ajeng mengangguk dan mengecup sekilas pipi suaminya.
"Masih kurang. Nanti saat di kamar, mas minta lagi."
"Sudah tua, mesumnya nggak hilang-hilang."
"Kalau mas nggak mesum, perutmu nggak akan buncit lagi," godanya.
"Ini yang terakhir ya, Mas. Aku nggak mau membuat anak-anak cemas lagi," pinta Ajeng.
"Iya, sayang. Mas juga sudah cukup tua untuk memiliki bayi lagi. Nanti disangka mas kakeknya lagi," kelakar Cakra.
"Haha... kakek?" Ajeng terbahak.
"Semoga kita bisa mendengar panggilan itu suatu saat nanti," gumamnya.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote dan Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😊