
...🌷 Selamat Membaca🌷...
"Radi, jika papa dan mama sudah tidak ada lagi. Berjanjilah, bahwa kau akan selalu menjaga dan melindungi Ajeng."
"Tentu saja, Pa. Ajeng adalah istriku, akan selalu ku sayangi dia dengan sepenuh hati. Menjaganya dari segala keburukan dan membuatnya selalu bahagia."
"Kami percayakan Ajeng padamu."
.......
"PAPA! MAMA!" Ajeng menjerit dan langsung terbangun dari tidur siangnya. Peluh membanjiri seluruh tubuh wanita itu.
"Hiks, aku rindu kalian." Ajeng menangis. Baru saja ia bermimpi, kilasan kejadian satu setengah tahun yang lalu, saat ia dan Radi telah resmi menjadi pasangan suami istri. Papa dan mama memberikan banyak wejangan di pagi hari sebelum mereka berangkat berbulan madu. Ajeng tidak tahu jika hari itu adalah hari terakhir ia berbincang dengan orang tuanya. Bulan madu hari ketiga, ia dan Radi mendapat kabar jika Puspa dan Surya meninggal di tempat setelah mengalami kecelakaan parah.
"Pa, Ma... sekarang aku hanya sendiri. Mas Radi telah mengingkari janjinya pada kalian, pada Tuhan, dan juga padaku. Dia mengkhianatiku, dia melukai perasaanku. Andai kalian ada di sini, aku tidak akan merasa kesepian, hiks."
Deg
Ajeng terperanjat saat merasakan tendangan cukup kuat pada perutnya. Ini kali kedua bayinya menendang.
"Kau sudah bisa menendang, sayang?" tanya Ajeng sembari tersenyum, mengusap haru perut buncitnya.
Sekali lagi tendangan Ajeng rasakan, bayinya seperti menjawab 'Ya' untuk pertanyaannya.
"Apa kau mau mengatakan jika mama tidak sendiri di dunia ini karena masih ada dirimu?"
Bayinya menendang lagi. Seketika kesepian dan kesedihan Ajeng lenyap digantikan dengan keantusiasan untuk mengajak bayinya berbincang.
"Apa kau menyayangi mama, Nak?"
Deg
Ajeng kaget karena kali ini tendangan bayinya lebih kuat dari sebelumnya. Ia bisa mengartikan dari tendangan itu jika bayinya sangat menyayangi dirinya. Sekarang Ajeng sadar, ia tidak sendiri di dunia ini. Ada calon anaknya, penguatnya.
.... ...
__ADS_1
Di ruang kerjanya, Cakra menyaksikan kembali video kiriman selingkuhan Radi yang ada di dalam ponsel Ajeng. Sengaja ia membawa ponsel itu agar tak ada lagi yang bisa mengganggu ketenangan Ajeng dalam persembunyiannya.
Sudah berulang kali ia lihat dan memutar foto juga video di sana, namun tetap saja ia tidak bisa mengingat siapa wanita yang ada di dalamnya, walaupun wajah itu terlihat sangat familiar.
Tok... tok... tok...
Bunyi pintu ruangan yang diketuk, membuat Cakra segera mematikan ponsel dan menaruhnya di atas meja. Sekretarisnya masuk ke dalam membawa beberapa dokumen yang harus ditandatangani.
"Apa jadwalku setelah makan siang nanti, Dhika ?" tanya Cakra selesai membubuhkan tanda tangan pada berkas yang dibawa sekretarisnya.
"Jadwal anda siang ini adalah berkunjung ke perusahaan Winata untuk membahas masalah proyek yang sedang berjalan, Pak."
Cakra berdecih dalam hati, sesungguhnya ia sangat malas jika harus bertemu dengan Radi. Bawaannya ingin menonjok muka bajingan pria yang sering menyakiti Ajeng itu. "Apa tidak bisa diwakilkan?" tanya Cakra.
"Maaf, tidak bisa, Pak. Masalah kali ini cukup serius jadi kehadiran anda sangat dibutuhkan di sana."
"Baiklah." Terpaksa Cakra harus datang.
.......
Rapat yang berjalan alot itu berakhir dalam tiga jam. Cakra menyalahkan Radi habis-habisan karena dirasa tidak kompeten hingga masalah besar muncul dalam proses pembangunan proyek yang sedang mereka kerjakan. Hati Cakra puas, bisa mempermalukan Radi di depan bawahan dan juga rekan-rekan kerja pria itu.
"Ok." Cakra yang sudah berdiri, kembali menduduki kursinya. Wajah tampan pria itu terlihat datar. Pancaran matanya menyorot dingin pada wajah Radi yang terlihat letih.
"Apa yang mau anda bicarakan?" tanya Cakra yang mulai bosan melihat Radi hanya diam, sepertinya pria pengkhianat itu tengah menimbang apa yang akan diucapkannya. "Saya tidak punya banyak waktu. Saya sibuk," lanjutnya dengan penekanan.
"Saya hanya ingin meminta maaf karena waktu itu sudah menuduh anda berselingkuh dengan istri saya. Saya terlalu cemburu," ungkap Radi. Ia sadar, sedari rapat dimulai, Cakra sudah menunjukkan raut tak suka padanya, dan ia yakin hal itu disebabkan oleh kejadian dua bulan lalu.
Cakra tersenyum miring lantas menjawab. "Setiap pria yang memiliki istri cantik seperti Ajeng, pasti juga akan melakukan hal yang sama jika mengetahui istri cantik mereka itu berduaan dengan pria lain. Saya memaklumi."
Wajah Radi terlihat tak senang saat mendengar Cakra begitu memuji kecantikan Ajeng, terlebih... pria itu juga dengan seenaknya menyebut nama istrinya tanpa embel-embel apapun, sudah sedekat apa hubungan mereka sebenarnya, pikir Radi.
Melihat ekspresi pria di depannya, Cakra semakin bersemangat untuk memanas-manasi pria itu. "Oh ya, bagaimana kabar Ajeng sekarang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Cakra dengan wajah berubah serius.
GOTCHA!
__ADS_1
Radi gelagapan, ia bingung harus menjawab apa. Bagaimana keadaan Ajeng? Huh... mana ia tahu. Sudah sebulan wanita itu menghilang. "Ba-baik. Ajeng baik-baik saja." Ia terpaksa berbohong untuk menyelamatkan harga dirinya di hadapan Cakra.
Lagi-lagi Cakra menyunggingkan smirk andalannya. Bermain-main dengan Radi, sepertinya asyik juga, pikirnya. Kembali ia goda pria yang dua tahun lebih muda darinya itu.
"Pasti saat ini kandungan Ajeng sudah besar. Apa kalian sudah tahu apa jenis kelamin anak kalian?" tanya Cakra pura-pura antusias.
Radi mati kutu. Dalam hati ia benar-benar kesal karena Cakra begitu lancang ingin tahu urusan pribadinya. Ingin protes, tapi takut jika hal itu akan berimbas pada pekerjaan mereka. Bisa dilihatnya jika Cakra adalah tipe orang yang tidak suka dibantah dan dikoreksi. Akhirnya Radi pun menjawab.
"Calon anak kami berjenis kelamin laki-laki."
"Woah..." Cakra berdiri dari duduknya. "Selamat ya, Pak Radi. Anda akan memiliki anak laki-laki yang nanti akan meneruskan kepemimpinan anda. Semoga anak anda nanti, kelak bisa jadi seorang pria yang baik hati, cerdas, jujur dan Se.Ti.A."
Radi tertohok mendengar harapan yang diutarakan Cakra untuk calon anaknya. Pria keturunan Adibrata itu terdengar seperti tengah menyindirnya. "Terima kasih, Pak Cakra." Mau tak mau ia harus mengucapkannya.
"Sama-sama." Cakra mengangguk. "Apa aku, bisa pergi sekarang?"
"Te-tentu. Terima kasih karena sudah meluangkan waktu anda. Semoga hari anda menyenangkan. Selamat sore."
"Hm. Selamat sore." Cakra tersenyum sekilas lantas meninggalkan Radi terlebih dahulu.
"Sandiwara anda boleh juga." Baru saja kakinya menginjak luar ruangan, Cakra disambut oleh kehadiran Robi.
"Anda menguping?" Cakra balik bertanya.
"Itu hobi saya," jawab Robi santai.
Cakra tertawa. "Hari ini saya sangat puas bisa mengerjai pria pengkhianat itu."
"Ya, selanjutnya giliran saya."
Cakra menatap Robi kaget, kemudian senyum miring kembali terbit di wajah tampannya. "Kau berani juga."
...Bersambung...
...Jangan lupa Like & Comment...🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...
Semakin banyak yang like & comment saya akan rajin up😁