2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
First Love


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


...Part khusus Radi-Ajeng, yang nggak suka, SKIP saja. Hehe😁👍🏻...


.......


"Mama!" Remaja cantik itu berlari menyambut kedatangan ibunya.


"Mama pulang. Ini mama belikan sepatu dan tas pesananmu." Wanita yang hampir berumur 40 tahun itu, menyerahkan beberapa tas belanjaan kepada putrinya.


"Kenapa terlambat sekali pulangnya, Ma?" Seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah datang dari dalam dan berdiri di belakang si remaja.


"Maaf, Pa. Tadi ada sedikit kejadian di jalan. Oh ya..." Wanita dewasa itu seperti melupakan sesuatu. "Sebentar ya!" Kemudian keluar mencari seseorang yang ikut bersamanya.


Gadis remaja itu tak lain adalah Ajeng, pria baya itu adalah ayahnya dan tentu saja si wanita merupakan ibunya.


"Ayo masuk." Ibu Ajeng yang bernama Puspa, masuk kembali ke dalam rumah dengan mengajak seorang remaja lelaki yang sangat tampan.


"Permisi..." Remaja laki-laki itu terlihat canggung begitu memasuki rumah megah bak istana milik keluarga si wanita.


Ajeng dan ayahnya saling berpandangan. Dalam pikiran mereka, siapakah gerangan sosok yang telah dibawa pulang oleh Puspa itu.


"Siapa dia, Ma?" tanya Surya, ayahnya Ajeng.


"Hm, sebelum ku jawab pertanyanmu itu. Ada baiknya kita masuk terlebih dahulu."


.......


"Kakak. Terima kasih ya, sudah membantu mama yang tadi kecopetan." Ajeng berucap tulus sembari memandang si remaja yang ternyata bernama Radi dengan senyuman manisnya. Puspa sudah menceritakan semuanya.


"I-iya, sama-sama." Radi hanya mengangguk dengan kepala tertunduk.


"Pa, mama mau bicara berdua dengan papa." Melihat raut wajah serius istrinya, Surya pun mengangguk.


Tinggallah Ajeng dan Radi berdua di ruang tengah itu.


"Ayo dimakan kuenya, Kak. Ini enak, lho." Ajeng menyodorkan sepiring cake yang sudah dipotong berbentuk segitiga ke hadapan Radi. Sedari tadi dilihatnya remaja tampan itu hanya diam menunduk.


"I-iya." Tangannya perlahan terulur, menyambut piring yang disodorkan Ajeng padanya.


"Ke-kenapa?" Radi sedikit risih kala menyadari jika Ajeng terus memperhatikannya yang tengah menikmati cake.


"Tidak apa-apa, Kak." Gadis cantik itu hanya tersenyum


... ....


"Jadi Kak Radi akan tinggal di sini?" Ajeng begitu senang saat orang tuanya memberitahu kalau mulai malam ini Radi akan tinggal bersama mereka. Menjadi anak tunggal, membuat Ajeng sering merasa kesepian.


"Iya, sayang. Mulai sekarang Radi akan menjadi kakakmu." perjelas Puspa. Ia memang sudah merundingkan hal itu dengan Surya. Mengetahui jika Radi yang sebatang kara membuat dua orang itu mengambil keputusan untuk mengadopsi Radi.


"Yeay..." senyum bahagia tak lepas dari wajah cantik remaja itu.


Melihat putri mereka bahagia, Surya dan Puspa juga turut merasakannya.


.......


"Hei, sedang apa? Kelihatannya kusut sekali?" Radi yang melintas di depan kamar Ajeng, tak sengaja melihat adiknya itu berteriak-teriak kesal, entah disebabkan oleh apa. Ia memutukan untuk masuk ke dalamnya.


"Ini, Kak. Tugas matematikanya sulit sekali. Bagaimana bisa aku mengambil kuliah bisnis jika hitung-hitungan seperti ini saja aku tidak bisa," rajuk Ajeng dengan wajah lelahnya.


Radi tersenyum, ia mengacak pelan surai lembut Ajeng sebelum ikutan duduk untuk membantu masalah adiknya.


"Coba kakak lihat."


"Ini..." Ajeng menyodorkan buku tugasnya.


Radi yang saat ini sedang menempuh semester akhir di kuliahnya, berusaha untuk menerangkan rumus matematika yang tidak dimengerti oleh Ajeng.


"Begitu caranya..." ucap Radi setelah menjelaskan panjang lebar jawaban dari soal yang tidak dimengerti oleh adiknya.


"Hei, mengerti tidak?" Radi menggoyangkan pena di depan wajah Ajeng yang melongo menatapnya.


"Eh? Hehe... bisa kakak ulangi sekali lagi!" pinta Ajeng sembari tertawa cengegesan. Ia sama sekali tidak menyimak penjelasan Radi barusan karena fokusnya teralihkan memandang wajah tampan pemuda 21 tahun itu.


"Kau ini!" Radi mencubit gemas hidung bangir Ajeng. "Kalau sekali lagi kau tidak fokus, kakak tidak akan mengulanginya."


"Siap, Bos."


Radi pun mengulang kembali penjelasannya dengan menunjuk beberapa coretan yang telah dibuatnya beberapa saat yang lalu di buku tugas Ajeng.


"Bagaimana?" tanya pemuda itu setelah selesai menjelaskannya untuk yang kedua kali.


"Aku mengerti," angguk Ajeng pasti.


"Bagus kalau kau sudah paham."

__ADS_1


"Iya. Sekarang aku sudah yakin jika rasa yang ada di hatiku untuk kakak ini adalah perasaan cinta."


Deg


"Apa?"


"Aku suka kakak."


"Ta-tapi Jeng, aku...-"


"Kenapa? Apa aku tidak boleh menyukai kakak?" tanya Ajeng sendu.


"Bu-bukan begitu, tapi kau dan aku adalah..."


"Kita bukan saudara kandung, jadi apa salahnya?"


Radi menggeleng, lantas berdiri dari duduknya. "Selesaikan tugasmu!" Ia berjalan keluar setelah mengatakan itu.


"Apa aku ditolak?" gumam Ajeng sedih.


.......


"Ma, Pa, aku pergi dulu." Ajeng mencium pipi papa dan mamanya sebelum berangkat ke sekolah.


"Hati-hati, sayang.." ucap Puspa.


"Hm." Dengan gerakan lambat dan wajah lesu Ajeng melangkahkan kaki keluar dari rumah.


"Ada apa dengan putri kita? Kelihatan tidak bersemangat. Sarapannya pun tidak dihabiskan, tumben." Surya bertanya pada istrinya.


"Iya, seperti orang yang sedang patah hati."


Uhukk... uhukk...


Radi yang sedang menyeruput air minumnya tersedak seketika saat mendengar jawaban Puspa atas pertanyaan Surya.


"Hati-hati, Nak!" kata Puspa saat melihat Radi menepuk-nepuk dadanya karena tersedak.


"Pa, Ma, aku berangkat dulu. Pagi ini ada bimbingan tugas akhir dengan dosen pembimbingku." Radi berdiri dan merapikan sedikit pakaiannya.


"Iya, hati-hati."


Surya dan Puspa memperhatikan Radi yang berjalan pergi sampai menghilang dari pandangan mereka.


"Ada apa dengan kedua anak itu, aneh sekali sikapnya pagi ini," ucap Puspa heran.


Sepasang orang tua itu kembali melanjutkan sarapannya.


.......


Ajeng yang baru sampai di lantai atas hendak menuju kamarnya, tak sengaja melihat Radi yang keluar dari dalam kamar pemuda itu sendiri. Sejenak mata mereka bertemu, namun Ajeng lekas berpaling.


Buru-buru ia berjalan menuju kamarnya demi menghindari sang kakak angkat.


Saat akan membuka pintu, tangan bebas Ajeng ditarik tiba-tiba oleh Radi.


Gadis itu tak berkutik, ia hanya diam saat Radi mendorongnya hingga menghimpit daun pintu.


"Kenapa kau menghindariku?" tanya Radi menuntut.


"Si-siapa yang menghindarimu, Kak?" jawab Ajeng tanpa mau memandang lawan bicaranya.


"Ini sudah tiga bulan, Jeng. Selama itu kau tidak mau berbicara padaku. Melihatku saja, kau enggan." Radi berucap dengan suara bergetar. "Bahkan kau tidak ikut pada saat aku diwisuda, padahal itu merupakan hari bersejarah dalam hidupku," lanjutnya.


Mata Ajeng berkaca-kaca. Bukan tanpa alasan kenapa ia tidak datang pada saat Radi wisuda, tapi hari itu ia mengalami kecelakaan kecil saat hendak membelikan bunga untuk hadiah kelulusan Radi. Ketidak hati-hatiannya, membuat Ajeng diserempet oleh motor dan mengalami lecet di beberapa bagian, lutut dan siku. Ia tidak memberi tahu siapa pun akan hal itu dan memilih untuk menanggungnya seorang diri. Lagi pula itu adalah salahnya karena terlalu ceroboh.


"Aku mencintaimu..."


Deg


Ajeng mengangkat wajahnya dan menatap Radi. Apa ia tidak salah dengar? Pemuda itu mengungkapkan cinta padanya, baru saja.


"Sebelum kau merasakan cinta untukku, aku sudah terlebih dahulu mencintaimu Ajeng, bertahun-tahun lalu." Radi ungkapkan semua rasa yang selama ini disimpannya rapi di dalam hati.


Ajeng mencari keseriusan dalam pancaran mata Radi, dan ia bisa melihat hal itu. "Tapi kenapa kakak tidak membalas perasaanku saat itu?"


"Aku merasa tidak pantas, aku hanya laki-laki beruntung yang telah dipungut oleh orang tuamu. Rasanya serakah sekali jika aku yang rendah ini dicintai oleh gadis sempurna seperti dirimu."


Ajeng kesal dan mendorong Radi menjauh. "Aku tidak suka kakak bicara seperti itu. Bukankah cinta tidak memandang harta dan kedudukan?"


"Aku..." Radi tertunduk, tak mampu lagi berkata-kata. Entah bagimana lagi menjelaskan pada Ajeng jika mereka itu berbeda. Ia yakin, Ajeng akan mendapatkan pasangan yang sepadan dengannya suatu hari nanti.


"Kakak tidak benar-benar mencintaiku, hiks."


Cup

__ADS_1


Radi menyerah, melihat air mata Ajeng ia tidak sanggup menahannya lebih lama lagi. Ditempelkannya bibirnya pada bibir gadis itu sebagai pertanda jika kali ini ia akan berjuang.


Hanya menempel, tanpa ada gerakan lainnya.


"Jadilah kekasihku!"


Mata berair Ajeng membulat, baru saja ia dikejutkan dengan ciuman yang tiba-tiba, sekarang dirinya malah diajak berpacaran. Tentu, ia tidak akan melewatkan kesempatan ini.


"Aku mau," angguk Ajeng dengan senyum mengembang. Ia sungguh bahagia. Sudah lama sekali ia menantikan momen seperti ini.


"Terima kasih..." Radi ikut tersenyum. Ia hendak mencium Ajeng kembali, tapi suara dingin seseorang menghentikannya.


"Papa, Mama?!" ucap Ajeng dan Radi serentak. Mereka kaget karena telah dipergoki oleh Surya dan Puspa saat akan berciuman.


Sepasang orang tua itu menghampiri anak-anaknya. Ajeng yang ketakutan memilih bersembunyi di belakang tubuh tegap Radi.


"Pa, Ma, aku bisa jelaskan," ucap Radi.


"Kalau begitu, jelaskan!" titah Puspa.


Melihat wajah dingin orang tuanya membuat nyali Radi menciut, namun demi Ajeng ia akan berusaha menghalau ketakutannya.


"Aku dan Ajeng saling mencintai, ku mohon restuilah hubungan kami." Radi berteriak lantang sembari membungkukkan badan, memohon.


"Ok."


"Eeehhhh?" Ajeng dan Radi bersorak tak percaya mendengar kata 'ok' yang berarti bahwa hubungan mereka direstui.


"Semudah itu?" tanya Ajeng tak percaya.


"Apa kalian mau ku berikan tes terlebih dahulu?" canda Surya.


"Tidak!" tolak Ajeng dan Radi bersamaan.


"Ternyata ini yang membuat anak-anak mama galau belakangan ini? Drama sekali sih, kalian." Ledekan Puspa membuat dua muda-mudi itu merona malu.


"Jadi, kapan kalian menikah?" seloroh Surya.


"Ishh, aku kan masih kecil, Pa. Belum lulus sekolah, jadi belum boleh menikah," kata Ajeng.


"Masih kecil sudah bisa cinta-cintaan."


"Papa..." rengeknya.


"Sudah, sekarang kalian tidurlah. Sudah malam." Puspa menengahi.


"Iya..."


"Selamat malam."


"Selamat malam."


Surya dan Puspa pun masuk ke dalam kamar mereka meninggalkan Ajeng dan Radi yang masih berdiri di tempatnya.


"Kak!" panggil Ajeng.


"Kita itu sepasang kekasih, jadi jangan panggil kakak lagi. Panggil nama saja, ya?" pinta Radi.


"Radi, begitu?"


"Ya..."


"Rasanya kurang sopan, kakak 'kan lebih tua dariku. Bagaimana kalau mas Radi?"


"Boleh juga, aku suka."


"Maaf ya, Mas. Aku tidak datang saat kau wisuda. Waktu itu aku mengalami kecelakaan..." Ajeng akhirnya memberitahu alasannya.


"Apa?" Radi langsung terlihat panik. Ia memeriksa tubuh Ajeng satu persatu.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Lagi pula kejadiannya sudah satu bulan yang lalu. Lukaku juga sudah sembuh."


"Kenapa tidak bilang?"


"Aku tidak ingin membuat kalian khawatir."


"Kau ini." Radi membawa Ajeng ke dalam pelukannya. "Maafkan aku karena sudah salam paham."


"Hm."


"Love you..."


"Love you too.."


...Bersambung...

__ADS_1


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...


...Terima kasih...


__ADS_2