2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Disgraceful Daughter


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Pak Cakra." Dhika menyambut kedatangan bosnya di depan pintu masuk rumah sakit.


"Ini ada sedikit hadiah untuk anakmu." Cakra menyerahkan bungkusan besar yang merupakan hadiah kelahiran untuk anaknya Dhika.


"Saya merasa tidak enak. Anda tidak perlu repot-repot seperti ini, Pak." Dhika menerima hadiah tersebut dengan canggung, walau dalam hati ia merasa sangat senang.


"Tidak masalah. Bagaimana keadaan istri dan anakmu?" tanya Cakra.


"Mereka semua baik. Mari saya antar jika anda berkenan untuk melihatnya," tawar Dhika.


"Tentu, dengan senang hati. Sekaligus ada yang ingin ku bicarakan denganmu."


Dhika mendadak panas dingin, mulai berpikir hal apa yang akan dibicarakan oleh atasannya itu. Semoga bukan hal yang buruk, harapnya.


.......


Sampai di dalam ruang perawatan, Cakra melihat ada beberapa orang di sana.


"Pak Cakra, kenalkan ini keluargaku. Ayah, ibu dan adik bungsuku." Dhika memperkenalkan masing-masing keluarganya.


Setelah berkenalan, Cakra melihat anaknya Dhika. Sangat menggemaskan, wajah bayi itu perpaduan antara ayah dan ibunya.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang ayah?" tanya Cakra yang di hatinya terbesit sedikit rasa iri melihat bawahannya baru saja diberkati dengan seorang putri yang cantik.


"Rasanya luar biasa," jawab Dhika.


Cakra sudah tak sabar untuk melihat anak yang akan Ajeng lahirkan nanti. Saat persalinan, ia berjanji akan setia mendampingi wanita itu.


"Dhika, kedatanganku selain menjenguk anak dan istrimu. Aku juga ingin menyampaikan sesuatu," kata Cakra membuka pembicaraan mengenai Maya.


"Sebaiknya kita duduk dulu, Pak." Dhika mengajak Cakra untuk duduk di sofa besar yang ada dalam ruang rawat kelas VIP itu.


"Ayah dan ibumu juga."


Perasaan Dhika semakin tidak enak, apalagi sampai melibatkan kedua orang tuanya. Entah apa yang telah terjadi.


"Sebelumnya saya ingin meminta maaf jika apa yang akan saya katakan nanti sedikit lancang dan terkesan kurang ajar." Cakra mengawali.


Dhika, ayah dan ibunya terlihat sangat penasaran.


"Ini berkaitan dengan anggota keluarga kalian yang bernama Maya Apriliani," sambung Cakra.


"Ada apa lagi dengan anak kurang ajar dan memalukan itu!" teriak ayah Dhika dengan suara tinggi menyimpan emosi.


Cakra kaget begitu pula dengan empat orang lainnya yang berada di ruangan itu.


"Sebelum saya menjelaskan, akan lebih baik jika kalian semua melihat foto dan video ini." Adibrata bungsu itu kemudian mengangsurkan ponsel milik Ajeng ke hadapan Dhika dan keluarganya.


.......


Radi tidak bisa menolak ajakan Satria yang memintanya untuk berbincang sejenak di sebuah cafe tak jauh dari supermarket tempat mereka berbelanja. Walau Maya sudah memohon dengan wajah pucat pasi agar mereka pulang saja, tapi Radi tetap tak bisa melakukannya. Terlebih, Satria mengatakan jika ada hal penting yang mesti dibicarakan.


Kini, empat orang dewasa dengan satu anak bayi dalam pangkuan sang ibu, sudah duduk saling berhadapan di meja sebuah cafe.


"Sudah berapa lama kita tidak bersua, 20 tahun?" Satria memulai pembicaraann setelah meneguk sedikit kopi panas di depannya.


Radi hanya mengangguk dengan senyuman miris bertengger di bibirnya. Ingatan masa kecil yang sangat melukainya itu kembali hadir menusuk hati yang sudah lama sembuh. Kenangan itu kembali membuat lukanya menganga.


"Kenapa kau kabur saat itu?" tanya Satria. Pria yang berumur 30 tahun itu tidak mengerti apa yang telah terjadi sewaktu ia kecil. Umurnya baru sepuluh tahun saat pamannya, yang tak lain adalah ayah Radi, meninggal. Sehari setelah pemakaman, semua orang heboh karena Radi menghilang.


"Kabur? Hahaha, jangan bercanda. Aku sama sekali tidak kabur, aku justru pergi ke tempat di mana seharusnya aku berada," sanggah Radi dengan nada terluka. Walau diselingi oleh tawa tapi itu hanyalah sebagai bentuk pertahan diri agar tidak terlalu terlihat menyedihkan.


"Maksdunya bagaimana?"


Suasana mulai berubah serius. Dua wanita di sana hanya bisa diam menyaksikan perbincangan dua sepupu itu.


"Panti asuhan, itulah tempat pulangku yang sebenarnya."


Jantung Satria mencelos mendengar semua itu. "Kenapa kau berpikir demikian? Padahal kau masih punya aku, ayah, ibu dan nenek. Kami masih keluargamu," katanya.

__ADS_1


"Itu menurut pendapatmu, kan? Bagaimana dengan pemikiran ayah, ibumu. Oh, maksudku paman dan bibi, apakah mereka sependapat denganmu. Huh... kurasa tidak."


Satria menggeram. "Apa maksudmu? Jangan menjelek-jelekkan orang tuaku. Mereka tidak seperti itu. Kau saja yang terlalu perasa hingga memilih kabur dari rumah."


"Aku hanya seorang anak keci berumur 7 tahun saat Tuhan dengan begitu kejamnya memisahkan aku dari orang tua satu-satunya yang aku punya. Ayah pergi meninggalkan aku seorang diri. Ku pikir, bersama kalian aku bisa merasakan lagi kebersamaan dalam sebuah keluarga yang hangat. Tapi malam itu, aku mendengarnya sendiri. Paman dan bibi keberatan merawatku, dengan entengnya mereka memutuskan untuk menitipkanku ke panti asuhan. Lalu apa lagi yang bisa ku harapkan? Tidak ada!" Radi meluapkan seluruh emosi yang hampir dua puluh tahun sudah ditahannya.


Semua yang berada di sana termangu di tempat. Turut merasakan kepahitan yang diraskan oleh Radi.


"Ma-maaf. Aku tidak tahu semua itu," lirih Satria.


"Sudahlah, lagi pula semua sudah berlalu. Aku tidak lagi mempermasalahkannya."


"Terima kasih. Ku harap kau tidak membenci ayah dan ibu."


"Tidak," jawab Radi.


Tiba-tiba bayi dalam pangkuan Maya merengek. Radi meminta Lingga untuk ditenangkannya.


"Hei, kenapa anak ayah menangis?" Radi memangku Lingga di depan dadanya.


Satria menatap interaksi Radi dengan anaknya. Diperhatikannya bayi itu secara seksama. Jantungnya langsung berdebar tak karuan ketika mata bulat itu menatap ke arahnya. Ia seperti melihat dirinya sendiri dalam versi mini. Selanjutnya, tatapannya beralih pada wanita yang tertunduk di samping Radi. Maya, ia harus meminta penjelasan pada wanita itu nanti.


"Anak ini lebih mirip dengan Satria daripada Pak Radi," celetuk Silvia yang tiba-tiba membuat tiga orang di sana menjadi tegang. Terlebih Maya dan Satria.


"Oh ya, kalau tidak salah tadi aku juga dengar kalau Satria menyebut nama Maya. Apa kau yang bernama Maya?" Silvia menunjuk ke arah wanita yang berada di samping Radi.


Maya semakin gelisah di tempat duduknya. Pertanyaan Silvia bahkan tidak sanggup dijawab olehnya.


"Iya, dia Maya. Kau kenal dengan Maya, Sat?" tanya Radi.


"Y-ya, teman lama?" jawab Satria gugup.


Silvia memicing curiga melihat gelagat Satria dan Maya yang terlihat aneh di matanya. Dua orang itu seperti tengah menyembunyikan sesuatu.


"Oh ya, kenapa anda bersama wanita ini, Pak Radi? Bukankah istrimu itu Bu Ajeng?" pancing Silvia.


"Anda juga, kenapa bersama Satria. Suami anda kan Pak Cakra." Radi membalikkan pertanyaan.


Deg


Maya menegakkan kepala dan menatap nanar pada Satria yang juga sedang menatapnya.


"Pisah? Sejak kapan?" tanya Radi tak percaya.


"Hm... sejak aku mengandung anaknya Satria," jawab Silvia tanpa malu.


Deg


Sekali lagi Maya dibuat shock dengan berita yang didengarnya. Tiba-tiba kepalanya menjadi pusing.


"Bisakah kita pulang sekarang, aku merasa tidak enak badan." Maya meremas baju Radi, napasnya terlihat tak beraturan.


"Baiklah kita pulang."


Radi dan Maya berpamitan pada dua orang di sana untuk pulang. Sebelum benar-benar pergi, Satria sempat meminta nomor ponsel sepupunya.


Silvia dan Satria masih duduk di cafe. Dua orang itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.


"Aku heran, setahuku istri pak Cakra itu adalah Bu Ajeng, tapi kenapa tadi ia bersama wanita yang bernama Maya, mereka punya anak pula. Apa wanita itu adalah simpanannya Pak Radi? Berarti dia selingkuh dong dari Bu Ajeng? Dasar lelaki brengsek, padahal istrinya sangat cantik, bisa-bisanya dia mencari wanita lain." Silvia mengomel tidak jelas.


"Apa maksudmu? Siapa itu Ajeng?" tanya Satria penasaran.


"Ajeng itu adalah istrinya sepupumu. Dulu aku pernah di undang makan malam di kediaman mereka," jelas Silvia.


"Lalu Maya itu siapanya Radi?" tanya Satria bingung.


"Kau ini aneh. Dia kan sepupumu, kenapa tidak kau tanyakan saja tadi!"


"Bagaimana mau bertanya, toh dia baru-buru pamit. Mereka berdua seperti orang ketakutan saja."


Silvia menatap Satria lekat, kemudian senyuman miring tercetak di bibir merahnya. "Ku lihat kau juga ketakutan."

__ADS_1


Deg


"Matamu salah lihat!"


"Oh."


Silvia mengambil barang-barangnya dan pergi meninggalkan Satria.


"Hei, kalau mau pergi itu bilang, jangan main tinggal saja!"


"Lama..."


"Pantas saja Cakra menceraikanmu, sifatmu kurang ajar!" rutuk Satria sembari berlari mengejar kekasihnya.


"Maya, kau berhutang penjelasan padaku. Akan ku tagih suatu saat nanti!"- Satria.


"Akan ku cari tahu, ada hubungan apa Satria dan wanita bernama Maya itu di masa lalu. Dan anak itu, dia sangat mirip dengan Satria. Apa jangan-jangan itu adalah anak mereka. Sial, ada apa ini sebenarnya. Membuat pusing saja." - Silvia.


.......


"Anak kurang ajar, video mesum apa yang telah dibuatnya ini." Ayah Dhika yang bernama Indra itu tersandar lemah pada sofa yang didudukinya. Tampaknya ia sangat kecewa melihat kelakuan putrinya yang terekam dalam video yang Cakra perlihatkan.


"Pak Cakra, dari mana anda mendapatkan video ini?" tanya Dhika. Pria itu sendiri juga sangat terkejut melihat isi dari video tersebut.


"Dari pelakunya sendiri. Maksudku, Maya."


"Dia masih berhubungan dengan si brengsek itu ternyata. Pantas saja, dia tidak lagi mempunyai urat malu," umpat Dhika. Baru kali ini Cakra melihat sekretarisnya semarah itu.


"Si brengsek itu? Apa kau mengenal pria yang ada dalam video?" tanya Cakra. Ia ingin tahu, sejauh mana keluarga Maya tahu hubungan gelap wanita itu dengan suami orang.


"Ya. Dia adalah kekasih Maya. Ayah dan ibu tidak merestui mereka karena pria itu bukan pria baik-baik. Dia seorang player yang suka bergonta-ganti wanita. Tapi, wanita bodoh itu tidak mendengarkan kami dan lebih memilih pergi bersama si brengsek itu," jelas Dhika. Saat ini hanya pria itu yang sepertinya sanggup bicara. Indra masih duduk lemas bersandar, sementara istrinya sudah menangis pilu di bahu sang suami.


"Player? Jadi Radi seorang player? Tak ku sangka..." batin Cakra.


"Sebenarnya kami sudah tidak peduli lagi dengan wanita itu. Apapun yang dilakukannya di luar sana, kami sudah angkat tangan," tambah Dhika putus asa.


"Tidak bisakah kalian menasehatinya? Dia sudah merusak rumah tangga teman saya!"


Deg


"Jadi bajingan itu sudah punya istri?" Dhika semakin emosi.


"Iya dan saat ini istrinya sedang mengandung. Hubungan mereka tengah renggang."


"Ya Tuhan, kenapa anak kita menjadi seperti itu." Ibu Dhika meraung memeluk suaminya.


"Maya juga sudah memiliki anak dengan pria itu."


"Ya Tuhan..." Indra dan istrinya semakin tak berdaya.


"Sekarang di mana wanita murahan itu berada, biar aku yang turun tangan untuk mengajarinya. Benar-benar sudah membuat malu keluarga!" Dhika bangkit dengan napas menggebu. Ia siap menyerang.


"Aku tidak tahu di mana sekarang mereka tinggal," kata Cakra. Setahunya Radi sudah lama tidak pulang ke rumahnya bersama Ajeng.


"Akan ku cari tahu. Besok pagi akan ku labrak bajing*n itu di rumah sakit tempatnya bekerja."


"Tunggu? Rumah sakit?" tanya Cakda heran. Sejak kapan Radi bekerja di rumah sakit.


"Iya. Bajingan itu adalah seorang dokter, tapi moralnya sangat buruk, tidak sebanding dengan otaknya yang cerdas," jawab Dhika berapi-api.


"Bajingan itu, kalau saya boleh tahu, siapa namanya?" tanya Cakra. Sekarang ia merasa bingung, siapa pria yang tengah mereka bicarakan sebenarnya.


"Satria Dewangga. Cih... lidahku sampai gatal saat mengucap namanya."


Deg


"Apa?"


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment... 🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2