
...🌷Selamat Membaca🌷...
Cakra memasuki kamar tidur Ajeng untuk membangunkan wanita itu. Jam sudah menunjukkan pukul 7 dan saatnya untuk makan malam. Baru saja makanan yang dipesan Cakra secara online, sampai.
"Jeng, bangun!" Cakra duduk di samping tubuh Ajeng yang berbaring telentang. Pipi bulat wanita itu ditepuknya dengan pelan, coba membuatnya terjaga.
Tak lama, tubuh itu menggeliat. Cakra melihat jika saat ini Ajeng berusaha untuk membuka mata. Terlihat sedikit kepayahan karena siang tadi wanita itu lama menangis, pasti saat ini matanya terasa berat untuk dibuka.
"Makan, yuk! Baby pasti lapar." Cakra mengelus lembut perut buncit Ajeng.
"Hmm..." Ajeng mengucek sebentar matanya sebelum mengulurkan tangan pada Cakra. "Bantu aku bangkit!" pintanya manja.
Cakra tersenyum lantas menggenggam tangan Ajeng dan membantunya bangkit. Bagi wanita hamil memang sedikit kesulitan untuk bangkit apalagi jika perut sudah membesar.
"Aku memesan makanan di luar, tidak masalah, kan?" tanya Cakra seraya merangkul bahu kekasihnya.
"Iya..." Wanita itu mengangguk. Ia dibimbing Cakra berjalan menuju meja makan.
Sampai di tempat yang dituju, mata Ajeng langsung berbinar melihat makanan yang tersaji di sana.
"Ramen?" Ia bertanya sembari menatap Cakra.
"Iya, cepat dimakan sebelum mie-nya mengembang." Cakra menarik salah satu kursi dan menuntun Ajeng untuk duduk di atasnya. Setelahnya ia juga ikut duduk tepat di samping kekasihnya.
Mereka berdua menikmati makan malam dengan sesekali bercanda. Dalam hati Cakra bersyukur karena sepertinya Ajeng sudah melupakan apa yang terjadi tadi siang. Ia sempat cemas kalau Ajeng terlalu berpikir berat akan masalah itu, takutnya akan berpengaruh pada kandungannya.
.......
Silvia baru sampai di apartemen saat jam menunjukkan pukul 8 malam. Ada sedikit pekerjaan yang membuatnya harus pulang terlambat. Dia melangkah masuk setelah membuka pintu apartemen. "Kemana semua orang?" pikirnya. Suasana terasa sepi.
Wanita yang berprofesi sebagai dokter itu memasuki ruangan lebih dalam. Saat sampai di ruang tengah, ia terperanjat begitu melihat adegan yang tersaji di depan matanya. Maya sedang menindih tubuh Satria yang setengah berbaring di sofa panjang ruang tamu. Bibir keduanya bertemu dan saling berpagut.
"APA-APAAN INI?!" Silvia berteriak lantang hingga membuat dua orang di sana terkejut. Ia berjalan cepat menghampiri keduanya.
"Dasar jalang, apa yang sedang kau lakukan, huh?" bentak Silvia begitu sampai di hadapan Maya.
Mata Maya mendelik tak suka pada Silvia. "Dasar pengganggu!" gerutunya.
"Apa kau bilang, aku pengganggu? Tidak salah? Justru kau lah yang pengganggu!" Silvia membalas ucapan Maya yang menghinanya.
"Jika kau tak datang, mungkin aku dan Satria sudah akan bercinta..." Wanita beranak satu itu masih terus menggerutu. Menyayangkan kemunculan Silvia yang membuat rencananya gagal total.
"Dasar wanita murahan!" Silvia begitu geram. Ingin rasanya ia menjambak rambut panjang Maya, tapi tak ia lakukan karena itu bukanlah gayanya.
"Dan kau juga, dasar brengsek!" Kini mata Silvia menatap tajam pada Satria. Ia sungguh kecewa dengan pria itu.
"Via, aku bisa jelaskan!" Satria bangkit dan meraih tangan Silvia, tapi keburu ditepis oleh kekasihnya itu.
"Jangan sentuh aku!" Setelah mengatakan itu, Silvia langsung berlari masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Silvia!" Satria hendak mengajar kekasihnya tapi gagal karena tangannya ditahan oleh Maya.
"Untuk apa mengejarnya, lebih baik kita melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi!" Maya mencoba kembali merayu Satria.
"Maafkan aku, May. Aku salah karena sudah membuat gadis polos sepertimu menjadi wanita murahan. Maaf." Satria melepas tangan Maya yang menahannya, lalu berlari menyusul Silvia ke dalam kamar.
Maya termangu, tubuhnya mendadak kaku. Ucapan Satria barusan, membuat hatinya begitu sakit. Ia telah diberi gelar 'murahan' oleh pria yang merupakan cinta pertamanya.
.......
"Sudah jam sepuluh, aku pulang, ya. Lanjutkan istirahatmu!" Cakra mengelus kepala Ajeng sembari pamit untuk pulang.
Wajah cantik itu terlihat cemberut, ia seperti tidak rela jika Cakra pergi meninggalkannya.
"Ada apa, hm?" tanya Cakra lembut.
"Aku tidak mau sendirian di sini, temani aku, ya?" pinta Ajeng. Ia menatap Cakra dengan mata kucing minta dipungut.
Cakra yang gemas langsung mencubit pelan pipi gembil milik Ajenh. "Baiklah..." Lagi pula ia juga merasa berat meninggalkan Ajeng sendirian di apartemen. Jika terjadi sesuatu siapa yang akan menolong.
Ajeng bersorak senang, tinggal di apartemen seorang diri itu sangat menyeramkan. Untungnya Cakra mau menemani.
"Ayo, tidur!"
Cakra mengangkat tubuh sang kekasih ke dalam gendongan lalu dibawanya ke dalam kamar.
.......
Masih teringat dengan jelas di benak Satria, pertemuan pertamanya dengan Maya. Saat itu Maya adalah gadis manis nan polos yang merupakan pasiennya. Melihat gadis cantik dengan tubuh sintal membuat naluri lelaki Satria bergejolak. Ia ingin memiliki Maya. Segala cara ia lakukan untuk menjerat gadis itu ke dalam pelukannya, sedikit sulit karena Maya sedikit jual mahal. Sampai hari itu tiba, ia menjebak Maya dengan mencekokinya dengan minuman keras. Membawa gadis yang sudah mabuk itu ke apartemen lalu menidurinya.
Saking brengseknya kala itu, Satria sama sekali tidak merasa bersalah ketika paginya melihat Maya meraung begitu mengetahui dirinya terbangun dengan tubuh polos dan penuh bercak merah. Justru Satria merasa bangga karena bisa mendapatkan kesucian gadis itu.
Mulai saat itu, Satria tidak lagi mencari pelampiasan dengan meniduri wanita murahan di luar sana. Bila sewaktu-waktu ia menginginkannya, selalu ada Maya yang bersedia menampung gairahnya. Gadis yang sudah naik tingkat menjadi wanita itu terpaksa melakukannya karena Satria memiliki video mesum mereka yang akan disebarluaskan jika tak menuruti perintahnya. Begitu seterusnya sampai Satria mendapatkan kabar mengenai kehamilan Maya. Pria itu murka dan meminta Maya untuk menggugurkan kandungannya. Namun, dengan tegas wanita itu menolak.
Suatu hari, Satria tak menemukan Maya di apartemen. Ia menduga jika wanita itu pulang ke rumah orang tuanya. Maka dari itu, Satria tidak lagi mencari Maya. Mengenai kehamilannya, Satria pikir Maya pasti menggugurkannya. Lagi pula, siapa yang sanggup membesarkan anak tanpa seorang suami.
Praduga Satria ternyata salah besar, di malam ia bertemu dengan sepupunya, di situ pula ia berjumpa kembali dengan Maya, ditambah dengan seorang anak laki-laki yang sangat mirip dengan dirinya.
Semuanya menjadi kacau, kini ia harus bertanggung jawab pada dua orang wanita. Satu, ibu dari anaknya dan satu lagi, ibu dari calon anaknya. Apakah ini balasan atas semua kesalahan yang sudah dilakukannya selama ini?
"Argghh... kepalaku sakit."
...💮 💮 💮 ...
Ajeng merasa bosan sendirian di rumah, sementara Cakra sudah berangkat bekerja. Wanita itu memutuskan untuk berbelanja ke supermarket, membeli bahan makanan untuk mengisi kulkasnya yang kosong. Ia mendorong troli yang sudah setengah penuh itu menuju ke rak susu. Semua bahan sudah ia dapatkan, tinggal susu hamil yang belum. Saat akan mengambil sekotak susu, seseorang menyapanya. Ia segera menoleh dan menemukan wanita penghancur rumah tangganya tengah tersenyum sembari memegang sekotak susu ibu menyusui.
"Kau!" Raut wajah Ajeng terlihat sangat tidak ramah kala menyapa selingkuhan suaminya itu.
"Lama tidak bertemu, ya?" kata Maya berbasa-basi.
__ADS_1
"Kalau bisa, aku tidak ingin bertemu lagi denganmu, selama-lamanya." Ajeng membalas ucapan Maya, ketus.
Wanita yang sedang menggendong anaknya ala kangguru itu tertawa sumbang. Dahi Ajeng mengkerut mendapati wanita sinting yang dalam keadaan tegang, justru tertawa.
"Jangan begitu, aku ingin memberitahumu jika suamimu tidak lagi bersama dengan kami. Kau pasti sudah tahu, kan?" tanya Maya.
"Ya, aku tahu. Aku juga tahu, kalau kau menjebak mas Radi dan mengatakan jika anakmu itu adalah anaknya. Ternyata? Oh tidak, berapa banyak pria yang telah menidurimu, hm?" ejek Ajeng.
Maya merasa panas, jujur saja ia tidak semurahan itu. Selama hidupnya, hanya Satria dan Radi yang pernah menyentuhnya.
"Tidak banyak, hanya ayah kandung dari anakku dan juga suami bodohmu itu."
Ajeng tidak suka saat Maya menghina Radi dengan sebutan bodoh. "Radi tidak bodoh, hanya saja ia terlalu baik hingga bisa ditipu oleh wanita ular macam dirimu ini!"
"Terserah, aku tidak peduli. Sekarang, aku kembalikan suamimu itu balik kepada dirimu. Selamat menikmati pria bekasku, ya?" ucap Maya mencoba memanasi. "Oh ya, sekedar informasi, Radi pernah mengatakan bahwa aku lebih memuaskan dari pada dirimu di atas ranjang. Makanya, jadi wanita itu belajarlah menjadi agresif, supaya prianya tidak direbut oleh wanita yang lebih berani."
Rahang Ajeng mengeras mendengar penuturan Maya. Wanita itu juga menjadi semakin membenci Radi karena telah membanding-bandingkan dirinya dengan wanita murahan seperti Maya.
"Maaf, aku wanita terhormat. Punya adab dan sopan santun. Aku diciptakan tidak untuk mengangkangkan kaki di depan pria-pria bernafsu tinggi seperti pria yang sering menidurimu itu. Kelas kita berbeda, jadi sadar dirilah!" balas Ajeng telak.
Emosi Maya sampai diubun-ubun. "Dasar wanita sialan!" umpatnya.
"Kau, wanita murahan!" serang Ajenh. Saking kesalnya bertemu dengan Maya, Ajeng tak lagi mengontrol ucapannya, padahal saat ini ia sedang mengandung. Semoga anaknya nanti tidak mencontoh kelakuan mamanya yang satu ini.
"Brengsek!"
BRAKK
Terlanjur sakit hati, Maya mendorong tubuh Ajeng dengan kuat, sampai tubuh wanita hamil itu terdorong membentur rak dan jatuh terduduk kesakitan di atas lantai dingin supermarket. Banyak juga kotak susu yang jatuh menimpa tubuh Ajeng di bawah sana.
"Rasakan!" Maya tersenyum puas. Sebelum ketahuan, wanita itu memilih melarikan diri. Ia meninggalkan belanjaannya begitu saja.
"Arghhhh..." Ajeng mengaduh kesakitan. Punggungnya yang membentur rak dengan kuat terasa begitu nyeri dan sekarang rasa sakit itu merambat ke area perutnya.
"Tolong, sakit..." Ia berteriak meminta tolong.
Ajeng terbelalak saat melihat darah mengalir di pahanya. Gaun putih yang ia gunakan kini sudah dipenuhi oleh noda merah. Wanita itu menjadi panik, takut terjadi apa-apa pada anaknya.
"Tolong!"
"Tolong!"
Beberapa orang yang mendengarnya langsung mengerubungi Ajeng. Mereka terlihat panik. Pegawai supermarket yang ada di kerumunan itu segera menghubungi ambulans.
"Mas Cakra..." Ajeng terus merintih sembari memanggil-manggil nama kekasihnya. "Mas, anakku...." Setelah mengucap dua kata itu, kesadaran Ajeng hilang. Ia pingsan.
...Bersambung...
...Jangan lupa Vote & Comment...🙏🏻😊...
__ADS_1
...Terima kasih...