
...🌷Selamat Membaca🌷...
Hari ini Maya resmi menjadi istrinya Fadhil. Akad nikah dilangsungkan pagi tadi di masjid yang ada di kompleks perumahan tempat mempelai wanita tinggal, sementara malam ini pesta diadakan di sebuah aula hotel ternama di kota itu. Orang tua Maya menyarankan untuk mengadakan pesta karena memang ini adalah pernikahan pertama untuk putri mereka.
"Sepuluh hari lagi, kita yang akan menjadi raja dan ratu sehari," bisik Cakra. Pria itu memohon kepada orang tuanya untuk mempercepat hari pernikahannya dan Ajeng. Alasannya, karena Cakra sudah tidak kuat menahan diri untuk tidak berjauhan dengan Ajeng dan Dira. Alhasil, Guntur dan Tyas terpaksa menerima permohonan putranya yang terus merengek seperti anak kecil itu.
"Iya, Mas..." sahut Ajeng bosan. "Dari kemarin kau terus menghitung mundur hari pernikahan kita, apa kau tidak bosan?" Ajeng menatap Cakra yang terlihat sangat antusias.
"Tidak, aku justru semakin bersemangat." Cakra meraih tangan Ajeng dan meletakkannya di Dada. "Kau bisa merasakan sendiri kan? Bagaimana antusiasnya diriku menanti hari sakral kita?" tanyanya sembari menatap tunangannya penuh cinta.
Tangan Ajeng yang berada di dada Cakra bisa merasakan dentuman hebat dari jantung pria itu. Hal tersebut menular hingga membuat organ dalam dada Ajeng turut berdetak cepat.
"Aku bisa merasakannya, Mas..." lirih wanita itu.
"Di sini, dia juga berdetak cepat karenamu." Ajeng menyentuh dadanya sendiri yang kini berdebar-debar.
"Boleh aku merasakannya?" pinta Cakra yang langsung dihadiahi pelototan tajam serta cubitan cinta di pinggangnya dari Ajeng.
"Ih, Mas!" Ajeng merona kesal. Ia tidak mungkin membiarkan Cakra menyentuh dadanya. Saat ini mereka belum resmi.
"Huh..." Cakra menyandarkan tubuhnya di kursi. Pria itu menghela napas pelan.
"Kenapa? Apa kau marah karena aku tidak mengizinkanmu untuk merasakannya, Mas?" tanya Ajeng melihat raut wajah Cakra yang seketika tidak bersemangat.
Pria itu menggeleng. "Tiga hari lagi kita akan dipingit. Aku tidak bisa bertemu denganmu dan Dira. Apakah aku sanggup?" tanya Cakra seraya membayangkan jika selama seminggu mereka tidak akan bertemu.
Ajeng terkekeh. "Kau tahu sendiri 'kan Mas kalau tradisi pingitan itu memiliki tujuan yang baik. Jadi, kita harus menjalaninya dengan ikhlas agar kita dapat mempersiapkan diri sebaik mungkin sampai hari bahagia itu tiba," jelasnya.
"Iya, tapi tetap saja-" Cakra mengerti, tapi membayangkan seminggu tidak bertemu, berapa banyak rindu yang harus ia tahan.
"Mas, kita hanya seminggu tidak bertemu, tapi setelah itu, kita akan bersama selama-lamanya!" potong Ajeng.
"Ya sudah, aku pasti kuat!" ucap Cakra semangat.
"Haha, umurmu sekarang berapa sih, Mas? Kok aku lihat jika belakangan ini kau sering merengek dan bersikap manja seperti anak-anak?" tanya Ajeng. Bukan bermaksud mengejek, ia hanya tak habis pikir saja. Cakra yang ia kenal dulu adalah seorang pria gagah, berwibawa dan tegas, tapi seiring berjalannya waktu semua berubah.
"Kenapa, sayang? Kau tidak suka, ya?" tanya Cakra.
"Bukan begitu, Mas. Aku hanya heran saja..." balas Ajeng.
"Ya, beginilah aku. Kau tahu 'kan, jika calon suamimu ini adalah anak bungsu. Dari kecil sebenarnya aku selalu dimanja, ya walaupun terkadang ayah sesekali bersikap keras padaku, tapi tetap saja, sisi manjaku itu akan keluar saat bersama dengan orang yang ku sayangi," jelas Cakra.
__ADS_1
"Oh, manisnya! Sini sayang, Mama akan memanjakanmu," canda Ajeng seraya merentangkan tangan.
Cakra merengut. "Kok kesannya aku seperti brondong peliharaan tante-tante kesepian," gerutunya.
Tawa Ajeng menyembur. "Kau ini ada-ada saja sih, Mas!"
.......
Radi tengah bermain bersama putrinya di rumah, kapan lagi ia bisa menghabiskan waktu berdua saja bersama Dira. kebetulan Ajeng dan Cakra sedang menghadiri pesta pernikahan Maya, dan lebih memilih menitipkan Dira pada ayahnya daripada harus dibawa ke pesta yang banyak orangnya.
Sebenarnya, Maya mengundang Radi dan Rina ke pestanya, hanya saja pria itu tak bisa datang karena Rina tak bisa menemaninya. Reyhan mengalami diare sejak siang dan terus rewel karena perutnya sakit. Sepertinya batita itu salah makan. Reyhan sudah dibawa ke rumah sakit dan diberi obat, tapi dia harus banyak istirahat karena badannya yang lemas. Rina setia menemani sang anak di sampingnya. Radi malas kalau harus pergi seorang diri.
"Kau mengantuk, sayang?" tanya Radi ketika melihat mata Dira sudah berat untuk tetap dibuka. "Ayo kita ke kamar dan tidur!" ajaknya.
Di dalam kamar, Radi meninabobokan Dira hingga akhirnya bayi lima bulan itu tertidur pulas di pelukan sang ayah. "Malam ini tidur di sini saja ya, Nak. Ayah kengen..." Radi mengecup kening sanga anak penuh sayang. Lalu merebahkan tubuh mungil itu ke atas tempat tidur dengan hati-hati, tak lupa menyelimutinya.
Radi keluar kamar setelah memastikan jika Dira tidak akan terjaga. Ia akan menghubungi Ajeng dan mengatakan jika putri mereka telah tidur dan tidak usah dijemput. Besok pagi ia janji akan mengantarkannya.
Tiba-tiba Radi teringat akan Reyhan. Bagaimana kabar jagoannya itu kini. Pria itu kemudian berjalan menuju kamar Rina. Sekian lama bersama, membuat rasa sayang Radi pada bocah laki-laki itu tumbuh di hatinya. Reyhan anak yang baik, ceria dan pintar, tak ada hari terlewati tanpa melihat kelucuan dan polah meggemaskan dari batita itu.
Tok... tok... tok...
"Iya, Tuan..." Rina membuka lebar daun pintu.
Radi melongok ke dalam dan melihat jika saat ini Reyhan tertidur lelap di atas tempat tidur. "Bagaimana keadaan Reyhan?" tanyanya.
"Sudah jauh lebih baik, Tuan. Setelah minum obat, diarenya berhenti," jawab Rina.
"Syukurlah..." ucap Radi lega.
"Kau sudah mengantuk?" Radi menatap wajah Rina yang tampak lelah.
"Belum, Tuan. Aku tidak bisa tidur kalau Reyhan sakit seperti ini," kata Rina lirih.
"Ya sudah, kalau begitu apa kau mau menemaniku minum kopi?" tanya Radi.
"Baiklah, Tuan." Rina tidak bisa menolak, karena ini adalah permintaan majikannya.
.......
Maya menatap kamar pengantin yang telah disulap semeriah mungkin. Ini pasti pekerjaan Bu Maryam. Setelah pesta usai, Fadhil langsung memboyong isrinya ke rumah mereka. Wanita itu duduk di tepi ranjang, masih dengan menggunakan gaun pengantinnya.
__ADS_1
Sekarang, ia sudah menjadi seorang istri, tapi tidak ada rasa bahagia sama sekali di hatinya. Semua terasa hampa.
Cklekk
Pintu kamar terbuka, Fadhil masuk setelah sebelumnya berbicara empat mata dengan sang ibu.
"Kau belum berganti pakaian?" tanya pria itu.
"Be-belum, Mas. Aku harus melepas aksesoris dan membersihkan wajahku dulu," ucap Maya tanpa menatap lawan bicaranya.
"Baiklah, kalau begitu aku mandi duluan." Fadhil membuka lemari dan mengambil pakaiannya. Selanjutnya pria itu masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Maya bangkit dan bergerak menuju meja rias. Ia menatap dirinya yang terlihat menawan malam ini, tapi tetap saja ada yang kurang, karena tidak ada senyum bahagia di wajahnya.
Tangan wanita itu terangkat dan melepas satu per satu atribut yang melekat di tubuhnya. Kini tersisa gaunnya saja. Setelah semua terlepas, Maya mengambil kopernya yang terletak di belakang pintu. Ia mengambil baju ganti, perlengkapan mandi, beserta alat-alat kosmetiknya.
Maya menatap nanar sebuah lingerie hitam yang dihadiahkan oleh ibunya. Wanita yang telah melahirkannya itu memintanya memakai pakaian kurang bahan itu di malam pertama pernikahannya dengan Fadhil. "Tidak ada gunanya!" Ia tersenyum miris lantas menutup koper dengan kasar.
Setelah Maya selesai membersihkan wajahnya, Fadhil keluar dari kamar mandi. Pria itu sudah berganti baju dan ada handuk kecil di kepalanya.
"Mandi lah, May. Setelah itu beristirahat." Fadhil berkata sembari mengeringkan rambutnya yang basah.
"I-iya, Mas."
Wanita itu berlalu masuk ke dalam kamar mandi, sementara Fadhil langsung merebahkan diri di tempat tidur.
"Nak, saat ini Maya sudah menjadi istrimu. Perlakukan dia dengan baik selayaknya seorang istri. Jangan kau beranggapan jika dia ada di sini hanya untuk menjadi ibu Kei. Dia adalah istrimu, dan kau harus menghargainya. Berikan haknya dan tunaikan kewajibanmu. Apa kau paham?"
Fadhil teringat pesan sang ibu. "Tidak malam ini, aku lelah."
Mata pria itu terpejam dan mimpi langsung menyambutnya.
Setengah jam kemudian, Maya keluar dari dalam kamar mandi. Rambutnya tidak basah, karena memang ia tidak terbiasa keramas malam hari, ia akan sakit kepala jika melakukannya.
Wanita itu memandang Fadhil yang sudah tidur membelakanginya. Beginilah jadinya, jika menikah tanpa ada rasa cinta. Semanya akan terasa hambar.
...Bersambung...
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih
__ADS_1