2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Crestfallen


__ADS_3

... 🌷Selamat Membaca🌷...


"Apa yang telah terjadi, Pak Robi?" tanya Tania pada Robi yang duduk di depannya.


Pria yang ditanya hanya diam sembari menghela napas pelan. Ia dan Ajeng baru saja sampai. Majikannya itu minta diantarkan ke apartemen, ia belum ingin pulang ke rumah karena tidak siap bertemu dengan sang suami.


"Apa mereka bertengkar?" Kembali Tania bertanya. Kata 'mereka' yang diucapkannya merujuk pada Ajeng dan juga wanita simpanan Radi.


Robi mengangkat bahunya. "Saya tidak tahu. Nona menemui wanita itu sendirian, sementara saya menunggu di mobil. Tidak sampai setengah jam, Nona kembali dan langsung menangis," jelasnya.


Tania mengangguk paham. Ia merasa khawatir mengingat kondisi Ajeng saat pulang tadi. Wajah wanita itu terlihat pucat dan kuyu, seperti orang yang sudah kehabisan energi. Ia takut hal itu berdampak buruk pada kandungan Ajeng. Bagaimana pun juga wanita hamil itu sangat sensitif dan tidak boleh stress.


"Kau tenang saja, Ajeng aman di sini bersamaku. Aku akan menjaganya," ucap Tania.


"Baiklah. Saya harus pergi sekarang, masih ada hal yang harus dilakukan." Robi pamit undur diri.


.... ...


"Jadi kau sudah mengambil keputusan?" tanya Rama. Siang ini ia mengajak Cakra makan siang bersama di salah satu restoran dekat perusahaan. Rama yang merupakan seorang dosen tidak bisa sering bertemu dengan sang adik karena kesibukannya mengajar.


"Aku akan melanjutkan pernikahan ini," jawab Cakra setelah pria itu menyudahi suapan terakhirnya.


"Aku akan mendukung apapun keputusanmu, tapi kusarankan agar kali ini kau bisa lebih tegas pada istrimu itu."


"Sudah ku lakukan. Jika sekali saja dia berulah lagi maka tanpa banyak berpikir aku akan langsung menceraikannya."


Rama menatap wajah adiknya yang datar. "Apa memang semudah itu kau mengucap kata cerai? Kau tidak mencintai istrimu lagi? Tidakkah kau ingat semua kenangan yang telah kalian habiskan bersama?" tanya Rama kemudian.


Otak Cakra mencoba memutar kembali semua kenangan yang sudah dihabiskannya bersama Silvia. Namun, entah kenapa ingatan yang berbekas dibenaknya hanyalah di saat dirinya yang selalu merasa kesepian. Serta yang lebih menyakitkan adalah saat ia kehilangan calon anaknya.


"Di otakku hanya tersimpan semua ke nangan buruk."


Rama tidak bisa berkata apa-apa lagi, mungkin adiknya itu sudah kelewat kecewa hingga sulit untuk menerima kembali Silvia sepenuhnya.


"Hm... baiklah, aku harus pergi sekarang. Setengah jam lagi aku ada jadwal mengajar." Rama bangkit dari duduknya. "Kalau kau butuh teman cerita, hubungi saja kakakmu ini," ucapnya sambil menepuk bahu adiknya.


"Hm."


"Aku pergi."


Selepas Rama pergi, Cakra masih setia duduk di tempatnya. Pria itu menatap kosong pada piring-piring bekas makan yang ada di atas meja. 


"Sendiri saja, Pak Cakra?" Seseorang menghampiri dan menyapa Cakra.


Pria itu mendongak dan menemukan sosok Radi berdiri di hadapannya. "Oh, Pak Radi." Ia menyapa balik.


"Habis makan siang?" tanya Radi basa-basi. Suami Ajeng itu langsung mengambil tempat di kursi yang sebelumnya diduduki Rama.


Cakra sedikit dongkol saat pertanyaan tak bermutu itu ditanyakan oleh Radi. Sudah jelas piring bekas makan masih ada di meja, masih juga bertanya "Ya," jawabnya singkat.


"Aku juga baru selesai makan siang bersama client. Apa kau keberatan jika kita minum kopi sejenak sembari mengobrol?" ajak Radi.


Cakra melirik jam mahal di pergelangan tangannya, masih tersisa waktu sebelum kembali bekerja. "Tentu."


Setelah mendapat anggukan dari Cakra, Radi langsung memanggil pelayan dan memesan dua cangkir kopi hitam.


Melihat Radi, Cakra jadi teringat pada istri dari pria itu, yakni Ajeng. Saat ini wanita itu tengah hamil, pasti mereka senang sekali menjalani hari dengan menyaksikan tumbuh kembang si janin dalam kandungan. Andai ia yang berada di posisi itu, tentu kebahagiaan juga akan menghiasi hari-harinya, tidak merana seperti yang ia rasakan sekarang ini.


"Kau baik-baik saja?" sentak Radi heran melihat Cakra yang termenung cukup lama.


"Hm? Tidak apa-apa," jawab Cakra setelah tersadar dari diamnya.


"Oh ya, bagaimana keadaan istrimu?" tanya Radi.


"Baik," jawabnya singkat. "Istrimu?" Cakra balik bertanya. Sudah lama ia tidak bertemu Ajeng, jadi penasaran bagaimana keadaan wanita itu saat ini.


"Dia baik-baik saja, cuma terkadang merasa cepat lelah karena kehamilannya."


"Oh begitu." Cakra kembali diam.


Tak lama kemudian, pesanan kopi keduanya tiba. Mereka menyeruput kopi panas itu sambil berbincang masalah pekerjaan.


.... ...


Tania memasuki kamar yang ditempati Ajeng. Ditangannya, ia membawa nampan berisi makanan, minuman dan juga vitamin.


"Jeng..." Tania memanggil nama wanita yang kini tengah duduk berselonjor kaki di atas tempat tidur. Diletakkannya nampan tadi di atas nakas dan beringsut menghampiri Ajeng yang tak merespon panggilannya.

__ADS_1


"Jeng..." Ditepuknya pundak wanita hamil itu, membuat Ajeng tersentak dan segera menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" Suara itu terdengar parau.


"Makan siang dulu." Tania ingin meraih makanan yang dibawanya tadi, tapi suara Ajeng menghentikannya.


"Aku tidak lapar," jawabnya datar.


Tania menatap Ajeng yang wajahnya masih pucat. "Jangan egois. Kau boleh saja tidak lapar, tapi anak di dalam perutmu butuh asupan makanan."


Ajeng tersadar setelah mendengar ucapan Tania. Ibu dari Arka itu benar, saat ini ia makan tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan untuk janin dalam kandungannya juga. "Maafkan Mama, nak."


Tania menyerahkan segelas air pada Ajeng dan langsung diminum oleh wanita itu hingga tandas. Setelah itu, gantian dengan sepiring nasi beserta lauknya.


"Makanlah. Aku keluar sebentar untuk mengambil minum lagi."


Ajeng mencoba melupakan sejenak masalahnya dan fokus pada makanan yang ada di tangan. Beberapa saat kemudian, Tania masuk kembali ke dalam kamar membawa seteko air. Wanita itu tersenyum saat melihat nasi di piring Ajeng tinggal setengah. Ia yakin, sebenarnya wanita itu lapar cuma nafsu makannya turun karena masalah yang tengah dihadapinya.


"Di mana Akra?" tanya Ajeng disela suapannya.


"Dia tidur."


Tak lama setelah itu, Ajeng selesai dengan makanannya. Tania mengambil alih piring bekas makan temannya itu.


"Sekarang minum vitaminnya."


"Iya."


Tania mengumpulkan kembali semuanya ke dalam nampan, hendak dibawa ke dapur.


"Terima kasih banyak, Tan." Ajeng terharu, Tania begitu baik padanya.


"Jangan sungkan, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku."


.......


Tepat pukul 5 sore, Radi sampai di rumah. Ia membawa beberapa jenis makanan untuk sang istri.


"Di mana nona Ajeng?" tanyanya pada salah seorang pelayan.


"Apa? Pergi ke mana?"


"Maaf, saya tidak tahu, Tuan."


Radi menggerutu karena Ajeng tidak mematuhi perintahnya, berani-beraninya pergi tanpa minta izin terlebih dahulu padanya. Pria itu merogoh ponsel di saku jasnya dan menghubungi sang istri.


"Kau ke mana, Ajeng?" gumam Radi. Ponselnya tidak aktif. "Apa dia ada di toko kue?" Tanpa berpikir panjang pria itu kembali masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju toko kue milik sang istri .


.... ...


"Maaf Pak, Bu Ajeng sudah lama tidak kemari." Kata itulah yang didapat Radi begitu sampai di toko kue Ajeng.


"Baiklah." Radi masuk kembali ke dalam mobil.


"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif..."


"Sayang, kau ke mana?" Radi membanting ponselnya ke dashboard saat nomor Ajeng masih tidak aktif. Pria itu mengacak pelan surainya. Saat ini ia benar-benar cemas, entah di mana keberadaan istrinya itu.


Drrrrtt ... drrrt ... drrrttttt ...


Radi melonjak dari duduk saat mendengar getaran pada ponsel miliknya. Secepat kilat ia menyambar benda pipih berharga mahal itu. Namun, saat melihat nama yang tertera di layar membuatnya mengumpat. Ia berharap Ajeng menghubunginya balik, tapi ternyata Maya lah yang menelepon. Walau enggan, ia tetap mengangkatnya.


"Halo...."


"............"


"Apa? Kenapa bisa?"


"........."


"Baiklah, saya akan ke Bandung sekarang."


TIT


"Sial!" umpatnya kesal.


Mengenyampingkan sejenak tentang hilangnya Ajeng, kini Radi melajukan mobilnya menuju Bandung.

__ADS_1


.......


"Jeng, apa kau tidak ingin pulang?"


Ajeng yang sedang bermain dengan Arka, langsung menoleh pada Tania. Mata bening wanita itu menatap Tania tajam. "Apa kau mengusirku?"


"Bu-bukan maksudku begitu, aku takut nanti Radi mencarimu," jelas Tania. Ia takut Ajeng salah paham. Lagi pula apa haknya mengusir Ajeng dari apartemen milik wanita itu sendiri.


"Ck, biar saja dia mencariku. Aku tidak peduli." Ajeng melanjutkan acara bermainnya.


Ibu Arka itu tak bicara lagi. Ia hanya memperhatikan sang putra yang tengah tertawa karena digoda oleh Ajeng


.......


Radi sampai di sebuah rumah sakit yang ada di Bandung. Ia langsung menuju ke ruangan di mana Maya berada. Benar, pelayan yang disewanya untuk menemani wanita itulah yang tadi menghubunginya. Si pelayan mengatakan jika Maya terpeleset di kamar mandi dan mengalami pendarahan.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Radi panik begitu memasuki sebuah ruang rawat yang di dalamnya ada Maya yang terbaring lemah.


Si pelayan yang duduk di kursi samping ranjang nonanya, bangkit berdiri saat mengetahui jika Radi sudah datang.


"Tuan..." sapanya sembari menunduk.


"Bagaimana?" tanya pria itu lagi.


"Nona Maya mengalami pendarahan yang cukup parah, jadi dokter memutuskan untuk mengeluarkan bayinya demi keselamatan keduanya."


Radi kaget mendengar penjelasan wanita muda yang menjadi pelayan itu, bagaimana mungkin anaknya sudah lahir sementara kandungannya belum genap sembilan bulan. "Sekarang di mana bayi itu?" tanyanya kemudian.


"Ada di ruang bayi, mari saya antar." Pelayan bernama Rina itu menunjukkan jalan ke ruang yang akan dituju.


Sampai di depan sebuah ruangan yang didominasi oleh dinding kaca, Radi dapat melihat beberapa crib yang berisi bayi di dalamnya. Matanya menjelajah, yang manakah di antara bayi-bayi itu yang menjadi miliknya.


"Bayi nona Maya yang ada di dalam inkubator, Tuan." Rina memberitahu.


Radi segera menajamkan pandangannya pada satu-satunya inkubator yang ada di dalam ruangan. Mata pria itu berkaca-kaca begitu melihat bayi merah nan mungil darah dagingnya sendiri.


"Anakku..." lirihnya terharu. Radi tak menyangka akan menjadi ayah secepat ini. Saking bahagianya dengan status baru itu, ia sampai lupa jika saat ini ada istri sahnya yang juga tengah mengandung.


Si pelayan hanya memandang ambigu pada majikannya yang tengah menangis haru.


Tak jauh dari sana ada pria bermasker yang menyaksikan semua itu.


.......


Malam ini Ajeng tidak bisa tidur. Diliriknya ponsel yang ada di atas kasur, tepat di sampingnya. Siang tadi ia menonaktifkan benda itu. Kini, mendadak ia ingin mengaktifkannya kembali.


Layar yang semula hitam itu mulai menyala. Ia melihat ada dua panggilan tak terjawab dari suaminya. Hanya dua?


Wajah itu kembali murung. Apa Radi sama sekali tidak mencarinya, padahal ini sudah malam.


Ting


Bunyi notifikasi membuat Ajeng menatap layar ponselnya. Sebuah pesan dari Robi, ternyata. Ia pikir dari suaminya.


Ajeng membuka pesan yang berupa sebuah foto itu.


"Foto apa ini?" gumamnya bingung. "Seperti ruangan khusus bayi di rumah sakit," pikirnya.


Tak lama kemudian, pesan lain pun masuk. Masih dari orang yang sama.


Bang Robi


[Saat ini tuan Radi ada di Bandung, wanita itu terpaksa melahirkan sebelum waktunya karena pendarahan. Bayi yang ada di dalam inkubator itu adalah anaknya]


Hati Ajeng remuk setelah membaca pesan dari Robi. Jadi Radi saat ini berada di Bandung, bahkan pria itu tidak memedulikan dirinya yang tak pulang.


"Papamu sudah memiliki anak lain, sayang. Kau bukan lagi menjadi satu-satunya." Berurai air mata, Ajeng mengelus perut tempat bersemayam janin yang bakal menjadi anaknya.


"Kau membuatku kecewa lagi, Mas."


...Bersambung...


...Jangan lupa Vote & Comment ya, Readers......


...🙏🏻😊...


...Terima kasih...

__ADS_1


__ADS_2