2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Season 2 - 6. Niat Baik


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Siang ini Kei berada di dalam ruangan dosen pembimbingnya. Gadis itu menatap sang dosen yang tengah sibuk memeriksa skripsi yang selama beberapa bulan ini telah disusunnya.


"Baiklah, skripsimu sudah sempurna. Persiapkan diri untuk segera mengikuti sidang," ujar si dosen.


Kei merasa hatinya berbunga-bunga mendengar ucapan si dosen. Empat tahun menempuh bangku perkuliahan dan kini akhirnya ia akan menjadi sarjana. Harapan pertamanya akan segera terkabul, yakni membuat keluarganya bangga.


"Terima kasih banyak, Pak Rama." Kei memberikan senyuman termanisnya. Selama bimbingan dengan dosennya yang bernama Rama itu, Kei sudah sangat banyak dibantu. Beliau adalah tipe dosen pembimbing idaman para mahasiswa semester akhir.


"Semoga berhasil."


"Aamiin. Terima kasih sekali lagi, Pak." Kei membereskan file skripsinya lantas bangkit dari duduk. Sebelum pergi, tak lupa ia menyalami dosennya itu.


Setelah Kei pergi meninggalkan ruangan, dosen yang bernama Rama itu langsung meraih ponselnya yang bergetar di atas meja. Ada sebuah pesan masuk dari sang putra.


Arjuna


Pa, aku lulus. Aku bisa melewati sidang dengan baik, semua berkat do'a papa dan mama. Wisudanya satu bulan lagi, semoga papa, mama dan Jani bisa datang menghadiri.


Rama tersenyum bangga setelah membaca pesan dari sulungnya yang saat ini tengah menempuh perkuliahan di negara tetangga. Beginilah, jika kita memberi kemudahan kepada orang lain, maka Tuhan juga akan memudahkan jalan bagi kita ataupun orang-orang terdekat kita. Rama sendiri sudah sering merasakannya. Makanya ia tidak pernah menyusahkan setiap mahasiswa yang melakukan bimbingan dengannya. Dan lihatlah, di sana sang putra juga diberi kemudahan.


"Kami semua akan menghadiri wisudamu, Nak. Papa janji..." tekad Rama.


Bicara mengenai kelulusan, Rama jadi teringat dengan mahasiswi bimbingannya tadi, yaitu Keinnara. Menurut Rama, Kei adalah gadis yang ceria, ramah dan tak pernah malu bertanya jika ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Dengan semua sifat itu, Rama menaruh perhatian dengan gadis itu. Entah kenapa, ia jadi memiliki niat untuk memperkenalkan Kei pada putranya, Arjuna. Mana tahu, dua muda mudi itu berjodoh.


"Hm... nanti coba ku bicarakan dulu dengan Sinta."


Rama segera membereskan meja kerjanya dan bersiap untuk pulang. Kei adalah mahasiswi terakhirnya hari ini, jadi ia bisa pulang cepat untuk menemui istri tercinta, Sinta. Mereka jarang menghabiskan waktu bersama karena kesibukannya di kampus.


...****************...


Tok... tok... tok...


Arsyi yang sedang mengerjakan tugas di dalam kamar berhenti sejenak dari aktifitasnya begitu mendengar bunyi pintu kamar yang diketuk.


"Masuk!" ucapnya.


Cklekk

__ADS_1


Pintu terbuka, posisi meja belajar Arsyi yang membelakangi pintu membuat ia tidak tahu siapa yang datang.


Gadis itu mengernyit heran karena sama sekali tidak mendengar langkah kaki yang mendekat. Merasa penasaran, ia segera menolehkan kepala ke belakang.


"BAAAA!"


Deg


"Arshakaaaaaaaaa!" pekik Arsyi kesal. Ternyata ini semua akal-akalan Arsha yang ingin mengejutkannya. "Lo bikin gue jantungan tau nggak, kalau gue mati muda gimana?" protesnya kesal. Ia mengambil penggaris besi dan memukul-mukulkannya ke tubuh Arsha.


"Sakit woi!" Arsha menghindar. "Kalau lo mati muda, ya bagus dong, jadi lo bisa masuk surga karena dosa lo masih dikit," ucapnya asal.


"Oh, gitu. Kalau gue mati, lo juga harus mati. Kita lahir bareng jadi mati juga harus bareng," sahut Arsyi, menanggapi guyonan saudaranya.


"Enak aja lo, umur gue masih 14 tahun. Belum puas menikmati dunia ini," sanggah Arsha tak terima.


"Eh, sama dodol. Gue juga masih 14 tahun. Makanya jangan asal kalau ngomong!" Arsyi tak mau kalah.


"Huh..." Arsha menghela napas lelah. Cowok itu lantas menghampiri ranjang saudarnya dan menghempaskan tubuh di sana.


"Eh, kalau lo cuma mau numpang tidur, mending keluar deh. Gue mau bikin tugas," usir Arsyi.


"Syil, gue butuh bantuan lo." Arsha bangkit duduk dan menatap kembarannya dengan wajah serius.


"Lo mau bantuin gue, kan?" tanya Arsha menatap dalam mata kakak beda menitnya.


Arsyi mengangguk. "Ok, gue bakal bantu lo, tapi nggak gratis."


Awalnya Arsha merasa senang karena Arsyi mau membantunya, tapi setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu, ia langsung mencebik.


"Jadi orang itu harus tulus, Syil. Jangan apa-apa harus ada imbalannya," sungut Arsha sok menasehati.


Arsyi memutar bola mata bosan. "Ya udah kalau nggak mau. Gue nggak rugi, kok." Ia berdiri dan bersiap kembali ke meja belajarnya.


"Iya... iya." Arsha menahan tangan Arsyi. "Lo mau apa?" tanyanya dengan nada terpaksa yang kentara.


"Tulus dong, Ar. Jangan kayak yang terpaksa gitu." Arsyi membalikkan kata-kata Arsha.


Arsha tersenyum masam. "Iya, kakakku yang paling cantik dan pintar. Kamu mau apa sebagai imbalannya?" tanyanya dengan semanis mungkin.

__ADS_1


"Kakak nggak minta banyak kok, Dek. Cuma mau album terbaru dan juga merchandisenya BTS." Arsyi pun memberitahukan keinginannya.


"Oke..." Arsha mengiyakan. Ia merogoh ponsel dalam saku celananya dan membuka salah satu aplikasi e-commerce.


"Ya ampun, mahal banget, Syil. Bisa habis uang tabungan gue!" pekik Arsha ketika melihat harga dari album terbaru BTS. Belum lagi merchandisenya.


"Lebay, Lo. Tabungan lo 'kan banyak."


"Ok deh... gue beliin, tapi lo harus bantu gue secara maksimal, ya. Nggak mau gue kalau setengah-setengah."


"Iya, jadi lo mau gue bantu apa?" tanya Arsyi semangat. Ia sudah mendapatkan apa yang diinginkannya, jadi kini saatnya ia membantu.


"Gue mau lo rubah penampilan Kila. Kasihan gue lihat dia dihina mulu. Padahal dia cantik, cuma dandanannya aja agak culun."


"Tumben lo baik banget sama orang lain?" Arsyi memandang Arsha penuh curiga. "Jangan-jangan lo suka ya sama Kila?" tebaknya.


Arsha merengut tak suka. "Apaan, sih? Masih bocah, nggak ada itu cinta-cintaan. Gue hanya kasihan lihat dia. Lo sebagai sesama cewek, bantulah. Buat dia tampil menarik seperti lo, agar nggak ada lagi yang mengejeknya!" pinta Arsha.


"Oke, karena lo udah bayar gue, maka gue akan bantu lo. Besok deh, gue akan bicara sama Kila. Semoga dia nggak salah paham sama niat lo buat ngerubah dia," balas Arsyi.


"Semoga. Terima kasih, ya." Arsha tersenyum lebar.


"Iya, sama-sama."


Cup


Sebelum pergi meninggalkan kamar Arsyi, Arsha mengecup kilat pipi putih kakak kembarnya itu.


"ARSHAKAAAA!" pekik Arsyi kesal. "Jijik tahu, nggak!" ucapnya emosi sembari menghapus bekas kecupan Arsha di pipinya.


"Hihihi..." Di ambang pintu, Arsha tertawa puas karena berhasil menjahili Arsyi.


"Eh, jangan lupa album BTS gue!" Arsyi mengingatkan.


"Iya, cerewet..." sahut Arsha sambil berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya.


Setelah pintu tertutup, cowok itu terkekeh pelan. "Ya kali gue mau ngehamburin duit buat barang unfaedah kayak gitu," lirihnya. Selain jahil, Arsha ternyata seorang pembohong besar.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Vote & Comment


Terima kasih🙏🏻😊


__ADS_2