2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
Engagement Day


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


"Apa Kei senang? Sebentar lagi tante Maya akan jadi mamanya Kei?" tanya Bu Maryam pada cucunya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah Maya. Hanya ada Fadhil, Bu Maryam dan Kei. Kerabat lainnya tinggal di kota yang berbeda, paling hanya saat pernikahan saja mereka datang.


"Oma, apa nanti tante Maya dan dedek Lingga akan tinggal bersama kita?" Kei memastikan.


"Iya, sayang. Lingga nanti akan jadi adiknya Kei," perjelas Bu Maryam.


"Yeyy..." sorak Kei senang. Akhirnya yang diinginkannya terlabul juga, bocah itu merasa sangat bahagia.


"Bu, jangan seperti itu. Lamaran kali ini belum tentu diterima. Jangan memberi Kei harapan yang belum pasti akan terwujudnya." Fadhil yang mendengar pembicaraan ibu dan anaknya pun mengingatkan. Dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang lagi.


"Iya-iya, tapi kali ini ibu sudah yakin. Setiap selesai shalat ibu selalu berdo'a untuk kebahagiaanmu dan Kei," ucap Bu Marya.


Fadhil merasa tersentuh. Ia berharap apa yang diharapkan oleh dua tersayangnya segera menjadi nyata.


Mobil Fadhil memasuki gerbang rumah Maya dan berhenti tepat di depan halamannya. Tampak dua orang pria menunggu di teras.


Bu Maryam, Kei dan Fahdil keluar dari mobil dan menghampiri dua pria tersebut.


"Selamat datang Bu Maryam, Fadhil dan Kei," sambut Dhika, yang tak lain adalah anak sulung di keluarga itu, kakaknya Maya.


"Selamat malam," ucap Bu Maryam.


"Ayo silakan masuk!" ajak Pak Indra.


Mereka semua sudah duduk di ruang tamu rumah Maya yang cukup luas, keluarga wanita itu tergolong cukup berada karena Pak Indra dan Bu Desi merupakan pegawai negeri sipil.


Tak lama kemudian, istri Dhika datang membawa minuman juga beberapa kue tradisional.


"Maaf jika penyambutan kami ala kadarnya saja," ucap Bu Desi tak enak hati.


"Tidak masalah, Bu. Yang datang juga cuma kami bertiga," sahut Bu Marya.


Setelah menghidangkan suguhan untuk para tamu, istri Dhika yang bernama Larasati langsung ke kamar Maya untuk menjemput adik iparnya itu.


"May, ayo! Semua orang sudah menunggu," ajak Lara.


Maya berdiri dan menatap sejenak penampilannya di cermin, saat ini ia menggunakan maxi dress berlengan panjang. Maya ingin tampil sopan karena sebentar lagi ia akan menjadi menantu Bu Maryam, yang mana kita tahu bahwa ibunya Fadhil itu berpenampil syar'i. Sementara untuk bagian kepala, Maya membiarkannya tetap terbuka, entahlah kalau nanti.


"Kau siap, May?" tanya Lara memastikan. Wanita itu tahu jika adik iparnya terpaksa melakukan semua ini karena desakan kedua orang tua mereka.

__ADS_1


"Iya, Kak. Aku siap," ucap Maya yakin.


Semenjak pertemuannya dengan Radi kemarin, Maya merasa jika kesempatannya untuk bersama dengan pria itu tidak akan pernah ada. Radi terlihat sangat membenci dirinya. Akhirnya, dengan segala pertimbangan yang ada, ia memutuskan untuk menerima pinangan Fadhil. Semoga seiring berjalannya waktu, Maya dapat mencintai pria itu.


"Tente Maya!" Kei langsung bersorak riang begitu melihat kemunculan Maya. Gadis kecil itu turun dari atas sofa dan berlari menghampiri Maya dan memeluknya.


"Hei, sayang. Apa kabar?" tanya Maya.


"Kei baik, Tante."


Semua orang di sana tersenyum melihat keakraban dua orang itu.


Acara pun dimulai. Para orang tua mulai berbincang sambil sesekali menikmati hidangan yang disuguhkan. Kini tibalah pada momen inti, yaitu acara lamaran yang sesungguhnya.


Fadhil menatap kedua orang tua Maya dan ia mulai berucap.


“Bapak, Ibu... maksud dan tujuan saya datang kesini ingin meminta izin kepada bapak/ibu untuk melamar putri bapak yang bernama Maya Apriliani dan menjadikan dia sebagai istri saya. Saya berjanji akan membahagiakan dan memenuhi kebutuhan lahir dan batinnya."


Pak Indra mengangguk. "Saya sebagai orang tua Maya menerima dengan tangan terbuka lamaran dari Nak Fadhil, namun keputusannya tetap saya serahkan kembali pada putri saya yang akan menjalaninya." Pria berumur 57 tahun itu menatap tajam pada putrinya. Ia tidak ingin Maya menolak dan membuat kacau semuanya.


"Bagaimana, May?" tanya Bu Maryam.


Maya melihat semua orang yang sedang menunggu jawabannya. Wanita itu menghembuskan napas pelan dan kemudian menjawab. "Ya, saya bersedia."


.......


Hari yang dinanti pun tiba, malam ini adalah pesta pertunangan Cakra dan Ajeng. Pesta akan dilaksanakan di rumah orang tua Cakra, tepatnya di halaman belakang yang telah disulap sedemikian rupa dengan dekorasi bertema rustic.


Semua tamu yang diundang sudah duduk di tempat yang disediakan, kini mereka tengah menanti kemunculan pasangan yang akan bertunangan.


Di bangku tamu, terlihat Radi yang datang bersama Rina dan juga Reyhan. Radi sengaja membawa Rina dan Reyhan karena ia yakin semua orang yang datang akan membawa pasangan. Ia tidak ingin merana seorang diri. Radi, Rina dan Reyhan menggunakan batik seragam yang sengaja dibeli khusus untuk acara ini. Sebelum berangkat, Radi juga membawa Rina ke salon untuk didandani, kini wanita satu anak itu terlihat sangat cantik, jauh dari image seorang asisten rumah tangga.


Bagas yang duduk di samping Radi beberapa kali menggoda sahabatnya itu dengan mengatakan jika Radi dan Rina adalah pasangan yang serasi. Radi hanya mengangap angin lalu apa yang diocehkan oleh Bagas.


Di bangku belakang, Maya dan Fadhil juga ikut serta. Ajeng yang mengundangnya. Entah apa yang dipikirkan ibunya Dira itu hingga ia mau mengundang wanita yang sudah merusak rumah tangganya.


"Sepertinya keputusanku untuk menerima Mas Fadhil adalah benar. Lihatlah! Mas Radi dan Rina terlihat bahagia, bahkan baju mereka saja serasi," batin Maya.


"Kenapa, May?" tanya Fahdil yang heran melihat tatapan Maya tertuju pada satu arah.


"Tidak apa-apa kok, Mas." Maya menjawab sambil tersenyum paksa. Ia tidak ingin Fadhil melihat kesedihan di wajahnya.

__ADS_1


Fadhil mengangguk saja. Pria itu sadar jika sedari tadi perhatian Maya tertuju pada Radi. "Jadi, dia lah pria yang kau cintai, May. Namun sayang, sepertinya dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri," pikir Fadhil. Ia melihat jika saat ini Radi tengah bercanda ria dengan seorang anak laki-laki, yang tak lain adalah Reyhan.


Sepuluh menit kemudian, pasangan berbahagia memasuki tempat acara. Ajeng terlihat sangat memukau malam ini. Ia mengenakan kebaya lengan panjang dengan sentuhan payet bunga kecil 3D berwarna hijau. Penampilannya juga dipermanis dengan hairdo sanggul, anting kecil, dan hiasan bunga di bagian tengah. Sementara Cakra memakai kemeja berbahan satin yang memiliki warna senada dengan kebaya Ajeng. Mereka berdua terlihat sangat serasi.


Keluarga lainnya juga memakai baju berwarna senada. Guntur, Rama dan Arjuna memakai baju batik dengan warna dan motif yang sama. Lalu, Tyas dan Sinta mengenakan kebaya modern sederhana dengan tatanan rambut yang disanggul rendah. Sementara dua putri kecil, Anjani dan Dira menggunakan baju dress kembang dengan motif bunga-bunga.


Tanpa membuang waktu, setelah acara sambutan, tibalah acara yang ditunggu-tunggu, yakninya tukar cincin.


Kedua insan yang akan bertukar cincin sudah berdiri di depan, mereka saling berhadap-hadapan. Guntur dan Tyas maju ke depan. Tyas mengambil kotak yang berisi sepasang cincin yang akan dikenakan oleh Ajeng dan Cakra.


"Giliranmu dulu, Nak!" Tyas menyerahkan cincin emas putih berhias berlian pada Cakra.


Ajeng langsung mengulurkan tangannya agar Cakra bisa memasangi cincinnya.


Setelah memasangkan cincin pada Ajeng, selanjutnya jari Cakra yang dipasangi cincin.


Semua orang bertepuk tangan setelah acara tukar cincin itu selesai.


"Mas Cakra terlihat sangat bahagia," ucap Silvia.


"Ya, begitulah kalau kita bisa bersatu dengan orang yang kita cintai," sahut Satria di sebelahnya.


"Mas, kau tidak menyesal menikah denganku, kan?" Silvia menatap Satria tajam.


Satria tersenyum dan menggenggam tangan istrinya. "Tidak, sayang. Aku bahagia bisa memiliki istri sepertimu dan sebentar lagi kita juga akan memiliki buah hati."


"Terima kasih, Mas." Silvia bersyukur, Satria sudah banyak berubah.


Di tempat duduk lain, terlihat Robi menatap nonanya dengan senyum mengembang. Kali ini, ia tidak akan membiarkan nonanya itu menderita. Akan ia pastikan Ajeng untuk selalu bahagia.


"Kita kapan seperti itu, Mas?" tanya seorang wanita cantik yang duduk di sebelah Robi.


Deg


Robi menatap wanita yang hampir setahun ini menemani dirinya. "Kapan kau siap? Aku akan datang melamarmu."


Wajah wanita bernama Gina itu merona. "Kapanpun aku siap, Mas."


Kebahagiaan dirasakan oleh semua orang yang berada di pesta.


...Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like & Comment


Terima kasih😊


__ADS_2