
...🌷Selamat Membaca🌷...
Sudah tiga hari Randi pulang dari rumah sakit. Saat ini ia tinggal di rumah kontrakan yang telah disewa Disa selama mereka di Jakarta. Kondisi pria itu sudah semakin membaik, hanya saja belum bisa untuk terlalu lelah beraktivitas. Kerjaannya sekarang cuma duduk dan menonton televisi.
"Mas, aku ke mini market di depan gang sebentar, ya. Mau membeli bahan untuk memasak makan siang," ucap Disa yang baru keluar dari kamar. Wanita itu terlihat sudah rapi.
"Mama, Qilla ikut!" pinta Aqilla. Ia turun dari sofa dan berlari menghampiri sang ibu.
"Di rumah saja ya, sayang. Kasihan papanya ditinggal sendiri?" bujuk Disa.
Aqilla langsung cemberut. Padahal ia sangat suka pergi berbelanja ke supermarket karena bisa membeli camilan kesukaannya.
Randi yang melihat putrinya merajuk, akhirnya meminta Disa untuk membawa Aqilla pergi bersamanya. "Sa, Aqilla dibawa saja. Mas tidak apa-apa 'kok sendiri di rumah.." ujarnya meyakinkan.
Disa sebenarnya tidak tega dan khawatir kalau harus meninggalkan suaminya yang notabene belum sehat betul kondisinya seorang diri di rumah, tapi melihat putrinya yang merajuk ia tak bisa abai pula. Akhirnya ia memutuskan untuk membawa Aqilla. Bocah itu bersorak senang karena permintaannya untuk ikut dikabuli.
"Aku pergi ya, Mas."
"Qilla pergi ya, Papa..." pamit dua perempuan kesayangan Randi.
"Iya, sayang. Hati-hati."
Selepas kepergiaan istri dan anaknya, Randi masuk ke dalam kamar tidur. Ia duduk sejenak di ranjang sembari menatap sendu sebuah bingkai foto.
"Haikal, maafkan papa, Nak. Andai waktu itu papa tidak mengajakmu, mungkin saat ini kau masih berada di sini bersama kami..." lirihnya pilu.
Setelah puas meratapi nasibnya yang malang, Randi segera berganti pakaian. Ia akan berkunjung ke suatu tempat, menemui seseorang untuk mengakui kesalahannya dan meminta pengampunan.
Sampai di tepi jalan, Randi segera menyetop sebuah taksi yang lewat dan memberitahukan alamat yang akan dituju pada sopir taksi tersebut. Mobil berwarna biru itu melesat ke tempat tujuan.
"Mas Randi!" panggil Disa. Wanita itu kembali ke rumah karena tak sengaja meninggalkan dompetnya di atas meja rias. Namun, ia justru melihat jika suaminya pergi dengan taksi entah kemana.
"Tunggu sebentar ya, Nak!" Disa bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil dompetnya. Ia kembali lagi dan langsung menyetop taksi yang lewat.
"Pak, ada taksi biru di depan kita. Kejar ya, Pak!" pinta Disa setelah masuk dan duduk di dalam taksi.
"Baik, Bu." Si sopir taksi mengangguk dan mulai melajukan kendaraan roda empatnya.
"Mama, kita mau ke mana?" tanya Qilla bingung.
"Kita mau menyusul papa, sayang..." jawab Disa. Ia fokus ke depan jalan, mencari di mana taksi yang tadi membawa suaminya.
... ...
Randi sampai di sebuah rumah besar bergaya minimalis. Ini adalah kali kedua ia mengunjungi rumah tersebut. Setelah memantapkan hati, tangannya pun bergerak untuk menekan bel rumah.
.......
Maya dan keluarganya saat ini sedang bersantai di ruang tengah. Akhir pekan menjadi hari mereka berkumpul, karena di hari biasa, Fadhil akan sibuk menjalankan tugasnya menjadi aparat hukum.
"Mas, makan siangnya mau dimasakin apa?" tanya Maya yang tengah bersandar manja di dada suaminya. Ada setoples keripik pisang coklat di tangan wanita itu membuatnya tak berhenti mengunyah.
__ADS_1
"Apapun yang kau masak, mas pasti akan memakannya." Begitulah jawaban yang selalu Fadhil berikan jika Maya bertanya tentang pertanyaan yang satu itu. Fadhil bukan tipe orang yang pemilih dalam soal makanan, ia akan memakan apa saja yang ada dihadapannya selagi itu bersih dan enak.
"Baiklah, aku buat sup iga saja ya, Mas..." putus Maya. Ia memutuskan membuat masakan yang bahannya sudah tersedia di rumah, karena jujur saja... ia malas pergi berbelanja saat ini.
Fadhil tersenyum dan mengecup singkat pelepis istrinya. "Boleh, sudah lama mas tidak makan itu."
"Oke..." Maya mengangguk. Ia mencomot keripik di dalam toples dan memakannya. Selanjutnya, ia mengambilnya lagi dan menyuapkannya pada Fadhil.
Sementara kedua orang tua mereka tengah asyik bermesraan sembari menonton televisi, Kei justru terlihat sibuk mengejar Lingga yang sudah berlarian kesana kemari. Sejak pandai berjalan, bocah laki-laki itu sangat suka berlari, kadang ia jatuh lalu menangis dan saat itulah Kei melakukan tugasnya sebagai seorang kakak, yakni membantu dan menjaga sang adik.
Selang beberapa saat, suara bel berbunyi, memecah fokus keempat orang yang ada di dalam rumah. Kei berlari menuju ke orang tuanya. "Mama, ada orang yang datang!" beritahunya.
"Iya, sayang..." Maya bangkit hendak melihat siapa gerangan yang datang.
Cklekk
Setelah pintu terbuka, Maya menemukan seorang pria sudah berdiri di depannya. Wajah pria yang tak dikenalinya itu tampak kurus dan sedikit pucat.
"Maaf, cari siapa ya, Mas?" tanya Maya.
"Fadhil, apa dia ada?" tanya tamunya itu.
Maya mengangguk, ternyata tamu suaminya. Ia pun mempersilakannya masuk.
"Mas Fadhil, ada tamu untukmu..." ucap Maya.
Fadhil menoleh ke belakang, ia melihat istrinya berjalan menghampiri dan ada seorang pria yang mengekor di belakang wanitanya itu.
Maya menggeleng, ia berdiri di samping suaminya, kini mereka berhadapan dengan tamu yang datang. Fadhil terdiam, ia bingung karena tidak mengenali siapa tamunya itu.
"Silakan duduk!" pinta Fadhil, ramah. Tamu adalah raja, dan ia harus menyambutnya dengan baik.
Fadhil dan Maya yang ingin duduk, mengurungkan niatnya saat melihat pria yang menjadi tamunya itu bergeming.
"Maaf, apa ada yang bisa saya bantu?" Fadhil tidak jadi duduk, ia merasa ada yang aneh dengan tamunya ini. Maya pun juga merasakan hal yang sama, ia segera memerintahkan anak-anaknya untuk berhenti bermain dan mendekat padanya.
"Maafkan saya..."
Deg
Tiba-tiba pria asing itu berlutut di hadapan Fadhil, diiringi oleh suara tangis yang menyatat hati. Baik Fadhil dan Maya sama-sama terkejut atas tindakan yang dilakukan tamu mereka. Keduanya sama sekali tidak mengerti.
"Maaf, ini ada apa, ya?" Fadhil berjongkok. Ia tidak mungkin membiarkan seseorang berlutut padanya.
"Maafkan saya, saya sudah membunuh anak anda..." lirih pria itu memberitahu alasan kenapa ia meminta maaf.
Deg
Fadhil terlonjak, ia segera menatap istri dan anak-anaknya. Maya yang mendengar kata 'membunuh anak' pun langsung mendekap Kei dan Lingga. Ia khawatir jika pria itu memiliki maksud tak baik pada keluarganya.
"Anda pasti salah orang, anak-anak saya ada di sini." Fadhil menjawab tak yakin, ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan pria yang tidak ia ketahui namanya itu.
__ADS_1
"Anak anda yang lain, saya sudah membunuhnya, maafkan saya..." Kini pria itu bersujud di kaki Fadhil. Suami Maya itu langsung bergerak mundur.
"Saya hanya punya dua anak, tidak ada yang lain!" sahut Fadhil. Ia merasa sedikit takut dengan tingkah aneh tamunya itu.
"Ada, namanya Haikal. Anak anda dengan mantan istri anda yang bernama Disa."
Deg
Fadhil jatuh terduduk, badannya lemas seketika.
.......
Jika di rumah Fadhil sedang dilanda ketegangan, maka di tempat lain saat ini seseorang juga sedang merasa tegang. Dia adalah Rina, yang sudah sah menjadi istri Radi sejak dua jam yang lalu. Kini ia berada di dalam kamar hotel, sedang menunggu suaminya yang belum keluar dari kamar mandi.
Kenapa Rina merasa tegang? Jawabannya adalah karena sebelum masuk ke kamar mandi, Radi membisikkan sesuatu di telinganya.
"Mas ke kamar mandi sebentar. Bersiaplah, sayang!"
Rina merinding kala mengingat kata-kata yang dibisikkan oleh suaminya tadi. Pikirannya langsung menjurus ke arah yang tidak-tidak. Mereka memliki beberapa jam lagi sebelum resepsi pernikahan digelar. Apakah suaminya itu akan meminta haknya di siang bolong seperti ini? Itulah yang membuat Rina tegang.
Cklekk
Radi keluar dari kamar mandi, ia menemukan Rina yang duduk gelisah di atas ranjang pengantin mereka. Dihampirinya wanita yang masih lengkap memakai baju pengantinnya itu, sementara dirinya sendiri sudah berganti pakaian dengan baju kaos putih dan celana pendek selutut.
"Lagi memikirkan apa sih, sayang?" tanya Radi. Ia duduk di samping istrinya. "Kenapa belum ganti baju?" tanyanya lagi.
Rina menoleh dengan wajah memerah. "Mas sudah selesai? Kalau begitu aku ke kamar mandi dulu, ya. Mau ganti baju." Ia bangkit berdiri namun tangannya langsung ditahan oleh Radi.
"Ganti di sini saja!" pinta Radi dengan nada menggoda.
Rina meneguk salivanya susah payah. "A-aku kegerahan, Mas. Mau mandi dulu..." Ia menarik tangannya sampai terlepas dari pegangan Radi.
"Mau mas mandikan?" Lagi-lagi Radi menggoda wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu.
"A-aku bisa sendiri, Mas..." tolak Rina. Saat ini wajahnya sudah seperti tomat masak, merah sekali.
"Baiklah, mas tunggu. Jangan lama-lama ya, sayang..." bisik Radi yang entah kapan sudah berada di belakang Rina.
"I-iya, Mas..." Pinggang Rina terasa seperti digelitik saat suara bisikan Radi memasuki gendang telinganya. Radi tersenyum mendengar suara gugup istrinya. Hal itu membuatnya ingin menggodanya lagi.
"Arghhh..." rintih Rina saat merasakan gigitan di daun telinganya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Radi.
"Maaf, sayang. Mas gemas..." bisik Radi.
Rina yang sudah tidak tahan lagi berada di sana langsung berlari masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
"Ah... tidak sabar menunggu malam tiba." Radi menghempaskan tubuhnya di ranjang. Malam ini, ia tidak akan melewatkan kesempatan untuk bermesraan dengan istrinya.
...Bersambung...
Jangan lupa Vote, Like and Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca😊