
...🌷Selamat Membaca🌷...
Sudah seminggu berlalu, semua anggota keluarga Adibrata mulai bisa menerima kenyataan bahwa saat ini tetua dari keluarga itu sudah pergi meninggalkan mereka. Namun, ada satu orang yang masih berlarut dalam dukanya, siapa lagi kalau bukan Tyas. Kehilangan suami yang begitu dicintainya, bukanlah perkara mudah. Berpuluh-puluh tahun hidup bersama dan kini harus dipisahkan paksa oleh kematian.
"Nek, makan dulu, yuk!" Eya menghampiri sang nenek yang duduk termenung di depan kolam ikan peliharaan sang kakek.
Tyas tak menggubris ajakan cucunya. Saat ini wanita tua itu tengah membayangkan sang suami yang sedang sibuk memberi makan ikan-ikannya.
"Nenek!" Eya menepuk pelan pundak neneknya.
Tyas terperanjat, bayangan Guntur yang berdiri di tepi kolam langsung buyar. Hati wanita itu mendadak sepi ketika mengingat bahwa kini ia telah ditinggalkan oleh sang kekasih hati.
Eya begitu sedih melihat keadaan neneknya saat ini. Memang berat merelakan seseorang yang kita kasihi pergi menghadap Sang Ilahi, tapi walaupun begitu, cepat atau lambat, kita semua juga akan kembali ke sisi-Nya. Hanya tinggal menunggu giliran saja.
"Yuk, Nek. Kita makan, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan nenek." Eya membantu neneknya berdiri dan membimbingnya masuk ke dalam rumah. Tyas hanya pasrah mengikuti.
Seminggu ini, Eya selalu berada di samping Tyas. Ia tidak tega meninggalkan sang nenek yang sudah sepuh itu seorang diri. Baik Cakra maupun Rama sudah mengajak sang ibu untuk tinggal bersama mereka, tapi Tyas menolak dengan alasan tidak ingin meninggalkan rumah yang penuh dengan kenangan bersama mendiang suaminya.
"Ini, Nek. Makan yang banyak!" Eya mengisi piring Tyas dengan nasi berseta lauknya. "Nenek boleh sedih, tapi jangan berlarut. Kakek pasti akan sedih jika melihat nenek seperti ini."
Tyas mengangguk lemah, sesungguhnya ia sudah ikhlas, namun rasa kehilangan itu tetap tidak bisa hilang dari hatinya. Ia sangat merindukan suaminya saat ini.
"Nenek mau aku suapi?" tanya Eya.
Tyas tersenyum tipis lalu menggeleng. "Nenek bisa makan sendiri, kamu juga makanlah!".
"Iya, Nek." Eya bersyukur jika kini Tyas sudah bisa tersenyum kembali.
Selesai makan, Eya mengantarkan Tyas ke kamar. Neneknya itu ingin beristirahat.
"Eya, kembalilah ke rumahmu! Sudah seminggu kamu libur sekolah, nenek sudah tidak apa-apa," ucap Tyas.
Eya menggeleng, bagaimana mungkin ia meninggalkan sang nenek seorang diri di rumah yang sebesar ini. Apalagi jika teringat pesan kakeknya yang meminta untuk tidak meninggalkan neneknya sendirian.
"Aku akan kembali sekolah besok, Nek. Tapi izinkan aku untuk tetap tinggal di sini untuk menemani nenek. Kalau perlu, aku pindah saja kemari." Eya memutuskan.
Tyas terharu mendengar keputusan cucunya yang ingin tinggal bersama dengan dirinya. Jujur saja, setelah kepergian sang suami, Tyas butuh teman. Dia tidak ingin hidup sendirian dan kesepian. Itu akan terasa sangat menyakitkan. Namun, Tyas tidak lantas menerima keputusan sepihak Eya begitu saja, Eya masih punya Cakra dan Ajeng sebagai orang tuanya. Tentu keputusan ada di tangan kedua orang tua Eya itu.
__ADS_1
"Pulanglah! Dan bicarakan ini pada papa dan mamamu. Jika mereka tidak mengizinkan, jangan memaksa. Nenek tidak apa-apa di sini sendirian, lagi pula ada banyak pelayan yang menemani."
Eya mengangguk. Dalam hati, ia sangat yakin jika kedua orang tuanya akan mengizinkan. "Nenek istirahatlah! Aku akan pulang menemui papa dan mama. Nanti aku kembali lagi."
Gadis itu membantu Tyas berbaring kemudian menyelimutinya. Sebelum pergi, Eya mengecup kening sang nenek.
...****************...
"Dira!"
Dira dan teman-temannya yang akan memasuki kelas dikagetkan dengan panggilan seorang cowok yang tak lain adalah Lingga.
"Ra, kita ke dalam dulu, ya?" pamit Hanna dan Luna. Mereka ingin memberikan ruang untuk kedua orang itu berbicara.
Lingga menatap Dira yang hanya menampilkan ekspresi datar. Seminggu lamanya ia menanti momen seperti ini, di mana ia bisa berbicara dengan Dira dan meluruskan apa yang sudah terjadi sebelumnya.
"Ada perlu apa? Jangan berlama-lama karena aku tidak ingin ada yang melihatnya dan salah paham." Suara Dira begitu dingin sangat mengatakannya.
Lingga kebingungan. Padahal hubungan mereka baik-baik saja, tapi semenjak pertemuan di kantin, Dira menjadi berubah. Dan hal itulah yang ingin ia perjelas saat ini.
"Bisa kita bicara di taman? Di sini banyak orang yang berlalu lalang, membuatku tidak nyaman."
Dira dan Lingga berjalan menuju taman yang terletak tak jauh dari kelas. Untung saja di jam istirahat seperti ini, taman cukup sepi karena para siswa lebih memilih mengabiskan waktu mereka di kantin.
Kini keduanya sudah duduk di salah satu bangku bercat hijau. Mereka duduk saling berjauhan, sudut ke sudut.
"Jadi?" Dira membuka perbincangan.
"Ra, apa aku punya salah padamu?" tanya Lingga langsung pada intinya.
"Tidak." Dira menyahut cepat. Memang, Lingga tidak punya salah apapun padanya, hanya hatinya saja yang saat ini tidak menentu. Terlebih saat melihat kedekatan Lingga dengan cewek berkacama itu.
"Lalu? Kenapa sikapmu jadi dingin begini? Tidak seperti Dira yang ku kenal sebelumnya."
Dira menghela napas pelan. Lalu ia menoleh dan menatap pada Lingga. "Ngga, mulai sekarang sebaiknya kita jangan terlalu dekat."
Deg
__ADS_1
Dada Lingga berdenyut nyeri begitu mendengar penuturan Dira. "Kenapa begitu?" Suaranya terdengar lirih.
"Aku tidak ingin ada kesalahpahaman nantinya. Kamu udah punya dia dan kamu harus jaga perasaannya." Dira ingat, beberapa kali ia berpapasan dengan gadis berkacamata yang ia yakini sebagai pacar Lingga, dan gadis itu menatapnya dengan pandangan tak mengenakkan. Dira tidak ingin menjadi penganggu dalam hubungan orang.
Lingga semakin binggung. "Dia? Dia siapa yang kamu maksud? Kenapa aku harus menjaga perasannya?"
Dira mendelik kesal. "Cewek berkacamata itu, Ngga! Dia 'kan pacarmu, jadi kamu harus menjaga perasaannya. Aku tidak ingin kedekatan kita membuatnya salah paham dan berakhir membenciku!"
Cowok tampan itu tersentak mendengar ucapan Dira yang sedikit emosi. Sekarang ia paham apa yang menjadi inti masalah hingga membuat gadis yang disukainya ini bersikap dingin.
"Kamu yang salah paham, Ra." Lingga menatap Dira dengan pandangan lembut. "Cewek berkacamata itu bernama Fanny. Dia adalah teman sekelasku. Waktu itu kami ada tugas kelompok dan memilih mengerjakannya di kantin untuk ganti suasana. Aku sama dia nggak ada hubungan apa-apa, Ra..." jelas Lingga.
Deg
Wajah Dira memerah, ia sungguh malu karena ternyata sudah salah paham.
"Ra, setelah mengetahui yang sebenarnya, kamu nggak akan bersikap dingin lagi padaku, kan?" tanya Lingga penuh harap.
"Hm..." Dira yang masih malu hanya bisa bedehem.
Lingga tersenyum melihat reaksi menggemaskan yang ditunjukkan Dira. Bolehkah dia berharap jika Dira memiliki perasaan yang sama dengannya? Bolehkah ia beranggapan jika sikap dingin Dira seminggu ini karena gadis itu tengah cemburu pada Fanny? Haruskah ia mengungkapkan perasaanya saat ini juga?
"Ra, aku mau mengatakan sesuatu." Lingga membulatkan tekad. Ia akan menyatakan cintanya detik ini juga.
"A-apa?" Dira tak berani menatap langsung wajah Lingga. Dadanya berdetak tak karuan.
"Bolehkah aku berharap?" tanya Lingga.
"Berharap apa?" Kini Dira memberanikan diri menatap wajah Lingga yang terlihat sangat serius.
"I want you to be my girl!"
Deg
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote & Comment
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca 🙏🏻😁