
...🌷Selamat Membaca🌷...
"Selamat Pak, Bu, saat ini ibu sedang mengandung dengan usia kehamilan 6 minggu. Janinnya sehat dan berkembang dengan baik. Nanti saya akan memberikan resep obat pereda mual juga vitamin."
Deg
Air mata Radi langsung jatuh bercucuran. Walaupun ia sudah menduga jika Rina tengah hamil, tapi mendengarnya langsung dari dokter membuat ia tidak bisa untuk tidak menangis bahagia. Tuhan begitu sangat baik dengan menitipkan anugerah secepat itu di pernikahan keduanya ini. Radi berjanji akan menjaga istrinya dengan baik, tidak seperti terdahulu yang melalaikan hingga membuat Ajeng dan Dira terluka. Ia tidak ingin mengulangi kesalahan besar itu.
"Mas..." Rina ikutan menangis melihat suaminya yang sudah bersimbah air mata.
"Terima kasih, sayang, sudah mau mengandung anaknya, Mas." Radi mengecup kening istrinya lama.
"Aku sangat bahagia bisa mengandung anaknya, Mas."
Tangis haru pasangan itu harus buyar saat Bagas masuk sembari menggendong Reyhan yang sedang menangis.
"Selamat untuk kalian berdua, tapi jangan lupakan juga jagoan kecil ini. Dia menangis sedih karena kedua orang tuanya sudah melupakannya begitu saja," kelakar Bagas.
Radi menghapus air matanya dan segera mengambil Reyhan dari gendongan Bagas. "Maafkan ayah ya, Nak." Setelah si batita tampan berada di pelukan ayahnya, Radi langsung menciumi kepala putranya itu.
Tangisan Reyhan langsung mereda, bahkan dengan polosnya bocah itu bertanya, "Kenapa Ayah dan Buna nanis?"
Bagas yang merasa sadar diri langsung pergi meninggalkan ruang pemeriksaan, ia tidak ingin mengganggu kebahagiaan keluarga itu.
"Sayang, kemarilah!" Rina yang masih duduk di ranjang pemeriksaan mengulurkan tangan demi menggapai tubuh sang putra.
Radi dengan hati-hati menyerahkan Reyhan pada sang ibu.
"Reyhan mau nggak punya adik?" tanya Rina pelan-pelan. Ia tidak ingin nantinya ada kecemburuan antara anak-anaknya.
"Mau, tapi Lehan kan sudah punya adik Dila," jawabnya.
"Mau adik lagi, nggak?" Itu suara Radi.
Reyhan tampak berpikir. "Mau, tapi laki-laki ya, Yah. Bial nanti Lehan bisa main bola sama adik," pintanya kemudian.
Radi mengacak rambut jagoannya. "Iya, Nak. Do'akan saja ya, semoga adik Reyhan nanti sesuai dengan apa yang Reyhan inginkan."
"Iya, Lehan senang punya adik." Bocah itu tersenyum lebar,menampakkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.
"Bunda sayang Reyhan..."
Cup
"Ayah juga sayang Reyhan..."
Cup
"Lehan juga sayang ayah, buna..."
...****************...
"Nyaman sekali ya, Nak, tidur di pelukan papa?" Ajeng mengusap kening putrinya yang sedikit berkeringat. Saat ini pasangan Cakra dan Ajeng tengah berbaring dengan punggung bersandar di kepala tempat tidur.
"Iya, dong. Pelukan papa adalah tempat yang ternyaman, baik itu untuk mama maupun Dira." Cakra menjawab dengan percaya dirinya.
__ADS_1
"Haha, kamu benar sekali papa sayang..." Ajeng mencubit kedua pipi suaminya dengan gemas.
"Jadi makin cinta, cup..." Cakra mengecup kilat bibir manis istrinya.
"Kalau ku perhatikan, mas sekarang gendutan, ya? Pipi mas mulai berisi dan juga semalam..." Mata Ajeng mengerling jahil. "Perut mas mulai buncit, kotak-kotaknya mulai samar," lanjutnya meledek.
Mata Cakra melotot. "Serius, Yang?"
Ajeng mengangguk. "Serius, Mas. Belakangan ini mas jarang berolahraga, kan? Makanya perut mas jadi buncit."
"Ya... mau bagaimana lagi, mas lebih suka main bersama Dira daripada ngegym," jawab Cakra dengan santai.
Ajeng memutar mata jengah. "Padahal di rumah ada ruang gym loh, Mas. Hanya perlu luangkan waktu sedikit saja untuk berolahraga!"
"Iya, sayang. Besok mas akan mulai ngegym lagi," janji Cakra.
"Harus. Mas nggak mau 'kan perutnya buncit melebihi perutku ini? Nanti disangka mas yang hamil lagi," ledek Ajeng.
Cakra tertawa lepas. "Iya, sayang."
"Mas, sebaiknya Dira ditidurkan di kasur saja, terlalu lama dengan posisi seperti itu, nanti badan mas pegal," kata Ajeng.
"Baiklah, tapi tetap biarkan aku memeluk putriku?" katanya seraya menaruh Dira dengan perlahan agar tidak membangunkannya.
Ajeng mengurut dada, berusaha menyabarkan diri karena sifat suaminya yang selalu ingin lengket dengan sang putri. "Terserah, Mas! Peluklah Dira sepuasmu, dan jangan pernah peluk aku lagi!" Suara Ajeng dibuat sedikit merajuk. Ia segera berbaring dan memunggunggi suami dan putrinya.
"Sayang, mamamu ngambek..." bisik Cakra pada sang putri.
Ajeng segera berbalik karena merasa jika Cakra tidak ada niatan untuk membujuknya. "Semakin lama, kamu semakin menyebalkan, Mas!"
Blush
Yah... si bapak malah menggembel, read gombal.
...****************...
Seorang pria mengintip dari balik pintu Ia memerhatikan seorang wanita cantik yang tengah mendongeng demi menidurkan sepasang anak berbeda usia. Terlihat wanita itu berbaring di tengah, sementara seorang anak perempuan mulai terlelap di sisi kanannya dan anak laki-laki di sisi kirinya dengan mata yang perlahan meredup.
"Sudah seminggu dia tidur di kamar anak-anak tanpa memedulikan nasibku dan juga si junior yang sudah lama tidak dibelai," gerutu si pria yang masih setia dengan kegiatan mengintipnya.
Lama berdiri di depan pintu, pria yang tak lain adalah Fadhil itu memutuskan untuk menuju kamar. Lebih baik ia beristirahat, daripada harus pusing memikirkan hal yang tak mungkin ia dapatkan untuk saat ini.
Kembali ke kamar anak-anak, Maya sudah berhasil menidurkan kedua buah hatinya. Ia bangkit perlahan dan pergi meninggalkan dua bocah yang tertidur lelap itu. Sudah seminggu ia membiarkan suaminya tidur sendiri karena ngidamnya yang ingin tidur bersama anak-anak dan kini entah mengapa ia ingin tidur sambil memeluk suami tercintanya itu.
Cklekk
Maya masuk kamar dan mendapati Fadhil sudah tidur dengan selimut yang menutupi sampai dada. Wajah tampan itu terlihat tenang, namun saat mendekat, Maya bisa melihat kernyitan di kening suaminya.
"Haaa... aku tidak bisa tidur!" Tiba-tiba Fadhil membuka mata dan menjerit. Maya yang mendengar itu langsung kaget setengah mati.
Plak
Maya yang kebetulan duduk di bawah kaki suaminya langsung maju dan menampar pipinya suaminya karena kesal. "Apa-apaan sih, Mas, teriak-teriak tengah malam!" dumel Maya.
Mata Fadhil melotot melihat kehadiran istrinya. "Sayang? Kok ada di sini?" tanyanya heran.
__ADS_1
Maya yang mendapati pertanyaan seperti itu segera bangkit. "Ok, aku akan tidur di kamar anak-anak untuk selamanya."
"Jangan!" Fadhil dengan sigap langsung menahan tangan istrinya. Ia menarik wanita itu masuk ke dalam dekapannya. "Jangan, Yang. Mas kangen, loh..." bisik Fadhil.
Maya tersenyum. "Aku juga kangen, Mas. Kangen tidur sambil memelukmu," akunya.
"Tapi sebelum tidur, mas mau mesra-mesraan dulu, ya? Boleh, kan?" pinta Fadhil penuh harap.
"Boleh..." cicit Maya.
Mendapatkan lampu hijau, Fadhil segera menuntaskan rindunya yang sudah bertumpuk seminggu ini.
...****************...
"Radi sangat beruntung ya, baru beberapa bulan menikah, istrinya langsung hamil." Bagas berujar di saat ia dan istrinya tengah menikmati malam dengan secangkir kopi dan tayangan televisi.
Tania terdiam, ia merasa jika suaminya memiliki maksud terselubung dengan mengatakan kalimat tersebut. "Apa mas mau kita nambah anak lagi?"
Bagas tersentak dan segera menoleh ke arah istrinya. "Serius, Yang?"
Tania mengangguk. "Iya, Mas. Tidak masalah 'kan kita punya anak lagi, toh Arka juga sudah besar."
"Akhirnya, mas pikir kamu belum siap untuk punya anak lagi," ucap Bagas lega.
Tania menggeleng. "Aku siap kok, Mas. Lagi pula kasihan juga Arka sendirian tidak ada teman mainnya."
"Ya sudah, besok kita ke rumah sakit, ya? Kita lepas Kb mu?" Bagas merasa sangat antusias.
"Iya, Mas."
...****************...
Oek... oek... oek...
Satria terbangun saat mendengar suara tangisan bayinya di tengah malam. Dengan mata berat, ia mencoba bangkit dan berjalan menuju box bayinya.
"Kenapa, Nak?" Pria itu memeriksa celana putranya, dan benar saja, bayi lima bulan yang bernama Sakala itu ternyata ngompol.
"Cup... cup... cup... Kita ganti celananya, ya Nak. Jangan nangis lagi, nanti mommy bangun." Satria mengangkat bayinya dan meletakkannya di ranjang setelah sebelumnya menaruh perlak agar pipis Sakala tidak membasahi seprai tempat tidur.
Dengan telaten, Satria mengganti celana bayinya. Ini adalah rutinitasnya setiap malam semenjak memiliki seorang putra dalam hidupnya. Ia akan bergantian dengan Silvia untuk menjaga putra mereka.
"Sudah bersih, sekarang tidur bersama mommy dan daddy saja, ya." Setelah menaruh celana bekas ke keranjang kain kotor, Satria langsung membaringkan sang putra di tengah-tengah antara ia dan Silvia.
"Sekarang tidur ya, Nak."
Cup
Satria mengecup pipi bayinya dan setelah itu menepuk-nepuk pelan pantat berisi itu, agar Sakala bisa tidur kembali dengan cepat.
...Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote and Comment
Terima kasih 🙏🏻😊
__ADS_1