
...🌷Selamat Membaca🌷...
Saat ini Ajeng berada di rumah orang tua Cakra. Ia, Tyas dan Sinta-istri kakaknya Cakra, baru saja pulang dari butik untuk mencari gaun yang nanti akan digunakan dalam pesta pertunangan yang tinggal sepuluh hari lagi.
"Tante, dedeknya boleh Jani bawa pulang tidak?" tanya putri Sinta yang bernama Anjani. Dia adalah keponakan Cakra yang paling cantik juga centil. Saat ini ia sedang bermain bersama Dira.
"Mana bisa dedeknya dibawa pulang, sayang. Nanti dia nangis kalau jauh dari mamanya. Sama seperti Jani dan Juna kalau jauh dari mama juga bakalan nangis." Sinta memberi pengertian.
"Juna tidak pernah nangis, Juna kan anak pintar dan kuat. Yang suka nangis itu Jani," sanggah Arjuna tak terima saat dikatakan akan menangis saat jauh dari mamanya.
"Iya, anak-anak mama pintar dan kuat." Sinta mengelus sayang kepala bocah kembarnya secara bergantian.
Ajeng tersenyum melihat keakraban ibu dan anak itu. Rasanya sudah tidak sabar menunggu putrinya tumbuh besar, dan mereka akan berbincang seperti yang dilakukan oleh kakak ipar Cakra dan kedua anaknya.
"Nak, nanti makan malam di sini, ya? Ibu sudah menghubungi Cakra untuk datang kemari sepulang dari kantor," kata Tyas.
"Iya, Bu. Nanti aku akan membantu ibu untuk memasak makan malamnya," jawab Ajeng.
Tyas mengangguk. "Tentu. Khusus malam ini kita akan masak bertiga. Ibu ingin sekali mencicipi masakan calon menantu ibu. Kalau Sinta sudah tidak diragukan lagi kehebatannya dalam membuat masakan Nusantara," pujinya.
Sinta tersenyum malu mendengar pujian sang mertua. Ajeng merasa iri karena ia tidak pernah mendapatkan hal yang serupa.
"Jeng, ibu pinjam Dira sebentar, ya?" pinta Tyas. Ia ingin membawa calon cucunya ke taman belakang untuk melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran. Kebetulan suaminya juga ada di sana, sedang memberi makan ikan Koi yang dipeliharanya di sebuah kolam khusus. Beginilah kalau sudah jadi orang tua dari anak-anak yang sukses, mereka tinggal menikmati hari tua dengan bersenang-senang.
"Iya, Bu."
Sepeninggal Tyas, Ajeng dan Sinta memilih mengobrol. Sementara anak-anak sibuk bermain dengan mainan mereka.
.......
Rina bersiap-siap untuk pergi ke supermarket. Ia ingin membeli kebutuhan dapur yang sudah menipis.
"Ayo, Nak!" Rina menggendong Reyhan.
"Buna, anti belitan tue, ya?" pinta Reyhan dengan wajah polosnya. Ini bukan kali pertama mereka ke supermarket, dan setiap kali diajak pasti Reyhan akan meminta jajanan. (Bunda, nanti belikan kue, ya)
"Iya, tapi ingat! Tidak boleh Kind*rjoy, ya?" peringat Rina. Entah kenapa semenjak ia membelikan Reyhan coklat itu untuk pertama kali, anaknya menjadi kecanduan, dan terus merengek memintnya lagi.
Selain karena harganya lumayan mahal untuk ukuran kantong ART sepertinya, makanan itu juga tidak baik dimakan terlalu sering karena berbahan dasar coklat. Rina tidak ingin anaknya sakit gigi.
"Iya, Buna." Reyhan mengangguk patuh. Padahal di otak kecilnya sudah menyusun rencana untuk bisa mendapatkan jajanan kesukaannya itu. (Iya, Bunda)
"Ya sudah, ayo kita jalan."
Rina keluar dari gerbang kediaman Radi, ia ingin mencari angkutan yang bisa dinaiki.
"Rina!" Tiba-tiba dari sebuah mobil, terdengar seseorang memanggil.
"Tuan?" serunya saat kaca mobil terbuka. Ternyata yang memanggilnya adalah Radi.
"Mau ke mana, Rin?" tanya Radi setelah menepikan mobilnya.
"Mau berbelanja, Tuan. Barang-barang dapur sudah hampir habis."
"Masuklah! Aku akan mengantar kalian!" kata Radi.
"Tapi, Tuan-"
"Masuk!" titah Radi, mutlak.
__ADS_1
"I-iya..." Mau tak mau, Rina menurut. Ia membuka pintu mobil bagian belakang.
"Hei! Kau pikir aku ini sopirmu sehingga kau memilih duduk di belakang!" protes Radi.
"Eh?" Rina yang baru saja akan melangkah masuk, jadi membatalkan aksinya.
"Pindah ke depan!"
"I-iya, Tuan."
"Om Adi..." sapa Reyhan begitu ia dan sang ibu sudah duduk di kurisi samping kemudi. (Om Radi)
"Hei, Nak! Mau ke mana kita?" tanyanya pada anak batita itu.
"Au beli Kind*ljoy," jawabnya semangat. (Mau beli Kind*rjoy)
Rina melotot, sementara Radi terkekeh.
"Kau membuat bunda malu saja, Nak!" rutuk Rina dalam hati.
Mobil pun akhirnya melaju menuju supermarket terdekat.
.......
Maya mendorong troli belanjaannya dengan tidak bersemangat. Besok malam lamaran akan dilangsungkan, dan sampai saat ini ia belum memiliki cara untuk membatalkannya.
"Apa aku kabur saja?" pikir Maya, pendek akal.
"Tidak-tidak, itu bukan jalan keluarnya." Maya menggeleng akan rencana yang terbesit di otaknya itu. Orang tuanya akan malu jika ia melakukan hal tersebut. Sudah cukup selama ini ia membuat keluarganya kecewa.
"Andaikan Mas Radi mau bersamaku, tentu aku tidak harus bertunangan bahkan menikah dengan Pak Fadhil. Pria itu benar-benar mengambil keuntungan dari kelemahan diriku," gerutunya.
Saat Maya menuju rak yang memajang berbagai macam makanan ringan, tak sengaja matanya menangkap sesosok pria yang baru saja ada dipikirannya. "Mas Radi..." lirihnya. Jarak mereka memang tidak dekat, ia di ujung dan pria itu ada di ujung lainnya, namun Maya tahu jelas jika pria itu memanglah Radi.
"Anak siapa itu?" gumamnya.
Tak berselang lama, seorang wanita datang bergabung dengan Radi dan anak laki-laki tadi.
Deg
Jantung Maya berdentum cepat. Ia mengenali wanita yang bersama Radi. "Rina..."
Penasaran, Maya berjalan mendekat.
"Om, au Ind*ljoy..." rengek Reyhan pada Radi. Batita itu merengek karena sang ibu tidak membolehkannya untuk membeli makanan kesukaannya. "Om, mau Kind*rjoy)
"Reyhan, bukankah sudah ibu bilang tidak boleh meminta makanan itu, nanti gigimu sakit, sayang." Rina memberi pengertian.
"Tidak apa-apa, Rin. Belikan saja, kasihan dia merengek terus." Radi tak tega melihat mata bening Reyhan mulai berkaca-kaca.
"Ah, baiklah... tapi cuma satu, ya!"
"Iya, Buna." Reyhan tertawa cengengesan. Radi yang melihat itu hanya bisa mengacak pelan surai lebat si batita. (Iya, Bunda)
"Ini!" Maya menghampiri, ia sudah berdiri di depan tiga orang itu sembari menyodorkan satu buah Kind*rjoy ke hadapan Reyhan.
"Yeeyy..." Reyhan langsung bersorak. "Acih..." katanya pada Maya.
"Sama-sama, Nak." Maya tersenyum. Kemudian ia menatap pada Radi dan Rina bergantian.
__ADS_1
"Kau!" seru Radi tak santai.
"Apa kabar, Mas?" tanya Maya.
Radi hanya diam dan melengos, ia malas jika harus berurusan dengan Maya.
"Nak, kita ke sana sebentar, yuk!" Rina yang mengerti situasi langsung mengajak anaknya menjauh.
Radi turut melangkah, tapi suara Maya menghentikannya.
"Ada hubungan apa kau dengan Rina, Mas?" tanya Maya. Seingatnya Radi tak pernah bersikap baik kepadanya, tapi kenapa jika pada Rina, pria itu tampak ramah.
Radi menatap tajam Maya. "Aku tidak memiliki kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu!"
"Mas, tak bisakah kita bersama. Aku sangat mencintaimu, Mas!" mohon Maya. Jika ia berhasil membujuk Radi, maka otomatis lamaran besok malam akan dibatalkan.
"Kau gila? Seandainya wanita di dunia ini hanya tinggal kau seorang, aku tetap tidak sudi bersama denganmu. Camkan itu!" Radi berbalik pergi.
Deg
"Mas!" Maya hanya bisa meratapi kepergian Radi.
.......
Berbagai hidangan sudah tersedia di meja makan. Tiga jenis makanan khas Nusantara yang lezat tersaji hangat, membuat siapa saja yang mencium aromanya akan merasa lapar seketika.
"Woah, apa malam ini kita makan besar?" tanya Guntur, selaku tuan rumah yang dituakan.
Pria itu dan dua jagoannya langsung menarik kursi untuk duduk.
"Ada makanan kesukaanku," kata Cakra kala melihat lauk kesukaannya terhidang di meja makan. Sudah lama ia tidak makan Ayam Betutu khas Bali itu.
"Iya, itu Ajeng yang membuat, khusus untukmu katanya," ucap Tyas.
Cakra melirik Ajeng dan tersenyum. "Terima kasih, sayang..." katanya tanpa suara. Namun, Ajeng mengerti karena membaca dari gerak bibirnya. Ia pun membalasnya dengan senyuman.
"Untuk Rama, Sinta juga sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Tyas menunjuk makanan berwarna coklat berbahan dasar daging dan santan, yaitu Rendang.
"Berarti, Gulai Ikan Patin ini adalah buatan Ibu khusus untuk Ayah dong?" tanya Guntur begitu melihat lauk favoritnya juga ada di atas meja.
"Hehe, bukan, Yah. Gulai kesukaan Ayah itu, calon menantu kita yang buat. Ibu hanya menonton saja tadi, semua ini Sinta dan Ajeng yang memasak," jabar Tyas.
Khusus untuk Arjuna dan Anjani, Sinta membuatkan mereka sup telur puyuh dan nugget daging. Anak-anak tidak mungkin ikut makanan orang dewasa karena masakannya cenderung pedas.
"Ya sudah, sekarang ayo kita makan!" ajak Guntur semangat.
"Ingat loh, Yah! Tidak boleh kalap, nanti kolesterol Ayah naik," peringat Tyas.
"Ibu ini, sekali-kali tidak apa-apa, kok. Makan saja sepuasnya, Yah. Nanti aku akan menemanimu kontrol ke rumah sakit," ucap Rama
"Anak yang pengertian!" Guntur menepuk pundak sulungnya bangga.
"Sudah-sudah, sekarang Arjuna pimpin do'anya!" pinta Tyas. Anak berumur 6 tahun itu mengangguk lantas membaca do'a sebelum makan.
Setelah membaca do'a, mereka semua langsung menyantap makanan di hadapan masing-masing.
Semua orang memuji masakan Sinta dan Ajeng. Dua wanita itu memang tipe menantu ideal.
...Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like & Comment
Terima kasih😊