2 HATI YANG TERSAKITI

2 HATI YANG TERSAKITI
First Congregation


__ADS_3

...🌷Selamat Membaca🌷...


Pagi ini, sebelum berangkat ke kantor, Radi mampir terlebih dahulu ke rumah sakit. Ia sudah sangat merindukan bayi mungilnya, padahal baru kemarin bertemu.


Sampai di ruangan di mana putrinya berada, Radi melihat ada Ajeng di sana. Istrinya itu tampak sedang menyusui bayi mereka. Satu senyuman terukir di wajah Radi melihat pemandangan indah tersebut. Namun, semua kesenangannya harus buyar kala mengingat jika dua orang perempuan terkasihnya itu sebentar lagi akan berpisah dengannya. Ya, Radi sudah menandatangani surat gugatan perceraian yang dilayangkan Ajeng padanya. Berkas itu mungkin sudah dimasukkan Robi ke pengadilan agama.


Sejujurnya Radi tidak ingin berpisah, ia pasti akan mempertahankan pernikahannya jika saja Ajeng berkata masih mencintainya, tapi sayangnya... cinta Ajeng tak lagi untuknya, wanita itu mengatakan telah mencintai pria lain. Hati Radi sakit mendengar hal itu, namun inilah balasan yang harus ia terima atas pengkhianatan yang telah ia lakukan.


"Kenapa tidak masuk?" Sebuah suara mengagetkan Radi. Ia menoleh dan mendapati Cakra yang baru datang entah dari mana.


"Aku melihat dari sini saja," tolak Radi. Ia tidak ingin membuat Ajeng tak nyaman jika harus masuk dan bergabung dengan mereka.


"Tak ingin menggendong putrimu?"


Pertanyaan itu membuat Radi terkesiap. Ayah mana yang tidak ingin menggendong putrinya sendiri.


"Dilihat dari dekat, Dira sangat cantik. Dia sangat mirip dengan Ajeng. Kau yakin tidak ingin melihat dan menggendongnya?" bujuk Cakra. Kekasih Ajeng itu merasa sedikit kasihan melihat Radi yang hanya bisa menatap sang anak dari luar dinding kaca.


Pria yang baru saja menjadi ayah itu terprovokasi, ia berpikir sejenak lantas menganggukkan kepala.


Cakra masuk ke dalam terlebih dahulu diikuti oleh Radi di belakangnya.


"Jeng, ada Radi?" bisik Cakra.


Ajeng yang sedang menyusui putrinya pun menoleh, ia melihat Radi menatapnya sambil tersenyum canggung.


"Bagaimana kabarmu, Jeng?" tanya Radi.


"Sudah lebih baik," jawab Ajeng.


Setelah pembicaraan singkat itu, suasana berubah hening. Cakra kemudian membuka suaranya, memecah keheningan.


"Jeng, aku harus pergi sekarang. Hari ini sidang pertama perceraianku dan Silvia," ucap Cakra.


"Iya, pergilah. Semoga semuanya berjalan lancar," balas Ajeng.

__ADS_1


"Ya sudah, aku pamit dulu." Cakra mengusap lembut kepala Ajeng baru setelah itu melangkah pergi.


"Radi, aku duluan..." Tak lupa Cakra juga pamit pada Radi.


Ayah Nadira itu hanya mengangguk.


Selepas kepergian Cakra, suasana di dalam ruang rawat khusus bayi itu kembali hening. Radi tidak tahu harus bicara apa, dan Ajeng masih fokus menyusui Dira.


Selang beberapa saat, terdengar suara rengekan Dira. Tampaknya bayi itu sudah kekenyangan karena telah melepas put*ng s*su sang ibu dari mulutnya, Ajeng segera menutup kembali kancing baju paisennya lalu melepas celemek yang tadi menutupi dadanya saat menyusui Dira.


Kini Radi bisa melihat dengan jelas wajah sang anak, pria itu tersenyum haru saat melihat Dira yang menggeliat di dalam pelukan sang ibu.


"Boleh aku menggendongnya, Jeng?" pinta Radi penuh harap.


Ajeng mengangguk, ia tidak mungkin melarang Radi menggendong anaknya, karena bagaimanapun juga pria itu tetaplah ayah kandungnya Dira dan memiliki hak yang sama dengannya atas bayi tersebut. Dengan hati-hati Ajeng menyerahkan Dira pada Radi.


Saat Dira telah berada di dekapannya, Radi langsung menitikkan air mata haru. Ia sangat bahagia karena mendapat kesempatan untuk memangku darah dagingnya sendiri. Teringat kejadian yang telah lalu, hatinya teriris sembilu. Demi anak orang lain, ia telah lalai dan menelantarkan istri yang tengah mengandung benihnya. Dan kini, benih yang sempat terlupakan olehnya itu sudah menjelma menjadi seorang bayi cantik yang bisa memikat hati siapa saja yang melihatnya. Berapa banyak waktu yang sudah ia lewatkan untuk melihat perkembangan sang anak dalam kandungan? Sungguh... hal tersebut menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya sampai saat ini.


Ajeng hanya diam memperhatikan Radi, wanita itu merasa sedikit sedih kala mengingat hubungannya dengan sang suami yang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Harusnya, hari kelahiran Dira adalah momen yang membahagiakan bagi mereka berdua, tapi takdir berkata lain. Anak tidak bisa membuat mereka bertahan, karena ada hati yang tak bisa lagi bersama.


"Mas, Dira belum boleh terlalu lama berada di luar. Ia masih harus berada di dalam inkubator sampai berat badannya normal." Ajeng memperingati Radi. Bukannya ingin membatasi, ia hanya khawatir jika terlalu lama diluar akan berdampak buruk bagi kesehatan Dira.


"Iya..." Radi yang paham pun mengangguk.


Sebelum menyerahkan Dira pada perawat yang berjaga, Radi mengecup lembut kening putrinya itu lama. Ia menyalurkan semua rasa sayangnya pada bayi mungil duplikat Ajeng tersebut.


"Ayah sangat menyayangimu, Nak..." bisiknya lirih.


Dira sudah tidur di dalam tempat hangatnya, Ajeng dan Radi memandang putri mereka itu sebentar.


"Aku antarkan kau ke kamar?" tawar Radi.


Ajeng mengangguk. Tubuhnya sedikit lelah, dan bekas jaitan di perutnya juga masih terasa sedikit nyeri. Ia butuh istirahat.


.......

__ADS_1


Saat ini Cakra dan Silvia sudah berada di ruang pengadilan. Pada sidang pertama ini agendanya adalah pemeriksaan gugatan perceraian, yang biasa disebut dengan sidang perdamaian. Di sini, hakim tidak langsung memutus cerai antara Silvia dan Cakra, namun pada sidang pertama ini, hakim berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak.


Cakra menjelaskan pada hakim bahwa pernikahannya sudah tidak bisa diselamatkan lagi, ada dua alasan kuat yang menjadi pertimbangannya. Pertama, sering terjadi perselisihan juga pertengkaran antara dirinya dan Silvia sehingga tidak ada harapan akan hidup rukun lagi, dan yang kedua, yang paling fatal adalah Silvia telah berbuat zina dengan lelaki lain hingga benih lelaki itu tumbuh di rahimnya.


Mendengar alasan yang diutarakan Cakra, hakim pun mengerti.


Sidang pertama itu memakan waktu yang cukup lama, banyak sekali penjelasan juga nasihat yang diberikan oleh hakim. Baik Cakra maupun Silvia, mendengarkannya dengan seksama.


"Sidang kedua akan digelar dua minggu lagi, diharapkan bapak dan ibu untuk hadir, jika berhalangan hadir tolong digantikan oleh kuasa hukum yang bersangkutan." Hakim menutup agenda sidang hari itu.


"Terima kasih banyak, Pak." Silvia dan Cakra berucap serentak.


.......


Pasutri yang akan berpisah itu keluar bersama dari gedung pengadilan.


"Sudah berapa bulan usia kandunganmu?" tanya Cakra.


"Sudah dua bulan," jawab Silvia sembari mengelus perutnya yang sedikit membuncit, hanya sedikit.


"Sepertinya sidang perceraian ini akan memakan waktu tiga bulan paling cepat, dan saat akta cerai di dapat, kandunganmu sudah masuk lima bulan, apa itu tidak masalah?"


Silvia mulai berpikir, jika sudah lima bulan, tentu perutnya akan semakin membesar. Saat ia menikah dengan Satria nanti, semua orang akan tahu jika ia telah hamil sebelum menikah. Ah, rasanya pasti akan sangat berat menghadapi gunjingan orang.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Cakra.


"Hm, apa kita bisa menunda sidang perceraiannya sampai anak ini lahir?" pinta Silvia setelah berpikir jika ia tidak cukup sanggup untuk menerima gunjingan orang nantinya mengenai kehamilannya ini.


Cakra melotot marah. "Tidak bisa. Pokoknya kita harus segera bercerai dan kau menikah dengan Satria. Bertanggungjawablah pada pilihan yang telah kau pilih itu!


Setelah mengatakannya, Cakra pun berlalu pergi terlebih dahulu.


...Bersambung...


...Jangan lupa Like & Comment🙏🏻😊...

__ADS_1


...Terima kasih...


__ADS_2