Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Episode 9


__ADS_3

Selama dua bulan disaat liburan sekolah, aku menghabiskan hari - hariku dengan bersenang - senang bersama Selena dirumahnya pada pagi sampai sore hari, berkumpul dengan keluargaku dari sore sampai malam hari, dan biasanya kak Justin akan mengunjungi ku dari jam tujuh sampai jam sembilan malam. Namun ada juga hari dimana aku dirawat inap lagi dalam dua bulan itu, namun intensitasnya tidak separah dulu.


Aku tidak tahu kenapa, namun mungkin karena hatiku mulai lepas ketika aku memutuskan untuk menikmati sisa - sisa hidupku tanpa beban. Tidak seperti saat aku masih sering kontrol kesehatan dan terapi - terapi yang menyakitkan itu... setiap hari aku selalu takut untuk melihat jam, karena aku takut hari akan berlalu dan aku harus mencium aroma kaporit khas rumah sakit pada keesokan harinya.


Di Suatu pagi tepat dimana akan menjadi hari pertama aku akan bersekolah di SMA swasta terkenal di pusat kota, aku tidak bersemangat sama sekali. Entah apa yang terjadi padaku, tapi mood ku benar - benar hancur pagi itu. Aku murung sepanjang pagi ketika aku, ayah dan ibu sarapan bersama, hingga akhirnya aku dan ayah berangkat menuju rumah keluarga Parker.


Di pelataran rumah keluarga Parker saat itu Selena sudah terlihat menungguku dan ayah, dia berlari dan masuk ke dalam mobil dengan penuh semangat yang tentu saja berbanding terbalik denganku.


"Pagi Luna! sekolah baru, pengalaman baru!" ucapnya dengan penuh semangat


"Yeey" ucapku datar meresponnya, Selena pun menutup pintu lalu menatapku dengan heran.


"Kamu kenapa?" tanya Selena padaku


"Gak tau... mood ku buruk, sendi - sendiku pun terasa ngilu, terutama bagian pinggang ke bawah" jawabku dengan sedikit merintih kesakitan


"Luna, periksa ya nanti sepulang sekolah" timpal ayahku yang mengantar kami berdua menuju sekolah


"Tidak, aku sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan terapi - terapi itu" tolak ku dengan tegas


"Obat deh, setidaknya kamu perlu untuk minum obat" ucap ayahku lagi memaksa


"Gak mau!! aku gak mau ayah!!" bentak ku padanya


Seketika suasana hening tercipta di dalam mobil sepanjang perjalanan kami, untuk sejenak aku merasa bersalah pada ayah karena aku membentaknya. Hingga akhirnya kami sampai didepan gerbang sekolah kami yang terlihat sangat megah, aku tidak pernah melihat sekolah yang memiliki gerbang yang seindah itu.


"Sekolah aja bisa sampai seperti istana begini ya" celetuk Selena saat kami berdua mengagumi keindahan arsitekturnya


"Selamat bersenang - senang" ucap ayahku ketika kami sampai di depan lobby sekolah yang dipenuhi dengan siswa dan siswi


Selena langsung turun dari mobil untuk melihat sekeliling, namun aku masih diam duduk dibelakang ayahku yang menjadi pengemudi. Kami bertatapan mata di kaca spion dalam mobil, lalu perlahan aku memeluk ayahku dari belakang.

__ADS_1


"Maaf aku membentak mu ayah... aku hanya... lelah... mood ku hari ini.." belum selesai aku berbicara, ayah memotongnya.


"Ayah mengerti sayang, semoga harimu menyenangkan" timpal ayahku, aku merasakan tangan hangatnya menepuk - nepuk tanganku dengan lembut.


Aku tersenyum lalu turun dari mobil berusaha terlihat penuh semangat dan antusias di depan ayah, ketika aku hendak menutup pintu mobil saat itu ayah sempat menoleh menatapku dengan senyuman meski aku juga melihat air matanya mengalir. Aku membalas senyumnya lalu menutup pintu secara perlahan dan langsung berbalik untuk mendekati Selena, jujur saja ketika itu aku juga ingin menangis melihat air mata ayah...


"Hei ayo berkumpul di lobby, katanya disana ada beberapa informasi yang harus kita ketahui" ucap Selena dengan penuh semangat lalu menarik lenganku, tarikan Selena membuatku kesakitan saat itu.


"Aaa.. adduuh... Selena~ Sakit!!" rintih ku, dengan segera Selena melepaskan tarikannya dan terlihat bersalah menatapku.


"Luna! duuh maaf..." ucapnya penuh penyesalan, aku tersenyum padanya dengan gestur gelengan kepala jika aku baik - baik saja.


"Kamu duluan deh, aku tiba - tiba merasa lelah" ucapku ketika itu, entah mengapa nafasku mendadak terengah - engah.


"Aku gak mungkin ninggalin kamu disini sendiri" timpal Selena


"Kalau kamu tetap disini, terus siapa diantara kita yang tahu seberapa penting informasi itu?" tanyaku meminta Selena untuk meninggalkanku, Selena pun ragu - ragu untuk pergi namun aku pastikan jika aku baik - baik saja.


Dalam hati aku berkata "Mungkin aku akan pingsan disini... Selena... cepatlah kembali...". Disaat aku merasa semakin lemas, tiba - tiba aku mendengar dari kejauhan suara bentakan seseorang yang begitu menarik perhatianku. Aku menoleh menatap tiga siswa dengan seragam sekolah lengkap, "Kakak kelas..?" tanyaku dalam hati


Tiga siswa yang terlihat heboh dengan suara mereka yang lantang untuk didengar, tentu saja akan menjadi pusat perhatian bukan? Tapi bukan ketiganya yang menarik perhatianku, hanya salah satu diantara mereka. Ditengah kondisiku yang melemah, aku coba memfokuskan pandanganku pada sosok siswa dengan penampilan yang sangat mencolok disekolah elit ini, semakin jelas terlihat penampilannya, gaya bicaranya, gerak tubuhnya, ekspresi anehnya. Pria itu... aku yakin itu adalah dia, iyaaah pria imajinasiku dan pangeran berkuda putihku.


"Pria dalam mimpiku..." gumamku ketika itu


"Dasar bodoh!! kenapa harus aku yang membayar seluruh makananmu di kantin?!!" bentak pria dalam mimpi ku itu pada siswa disebelahnya yang terlihat seperti gorila.


Suaranya yang begitu keras terdengar dengan jelas di telingaku, seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagiku. Degup jantungku berdetak sangat kencang dan mungkin saja mataku berbinar melihatnya. Aah sayang sekali Selena tidak di sampingku, ingat kan aku pernah bilang akan mengatakan sesuatu pada pria imajinasiku itu saat kita bertemu? Mungkin sebentar lagi aku akan mengatakan langsung kepadanya, tapi aku malu. Mungkinkah dia akan menertawakan ku dan menganggap ku orang yang aneh?


Suara siswa lain saat itu juga terdengar di telingaku dan membuyarkan pikiranku yang mulai kacau.


"Yaah... kamu kan banyak uang, aku belum dapat jatah dari tuan Will" jawab siswa seperti gorila itu

__ADS_1


"Lalu kamu pikir aku sudah mendapatkan jatah uangku?" tanya pria dalam mimpiku itu dengan wajah masamnya, ketika itu aku semakin yakin jika pria memang yang hadir dalam mimpiku saat itu.


"hei Jester! Setidaknya kamu masih bisa makan enak di rumahmu" jawab siswa lainnya yang terlihat seperti rubah


Mereka tiba - tiba bertengkar hebat begitu heboh, jujur aku terkejut dengan pertemanan mereka. Entah kenapa aku tersenyum melihat tingkah mereka bertiga dan rasa sakit ku mendadak hilang. Tubuhku tergerak sendiri untuk berdiri dan berjalan untuk mendekati mereka, namun... tubuhku sepertinya tidak bisa dibohongi...


Aku terjatuh karena kakiku terasa begitu lemas dan nyeri.... dahiku memerah karena menatap benda keras diantara rerumputan taman... aku merintih kesakitan saat itu dan tiba - tiba ada tangan yang terlihat ingin memberikanku pertolongan...


Aku pun mendongakkan kepalaku melihat tangan siapa itu....


Ahahaha... dunia memang tidak selalu indah, jujur saja aku berharap itu adalah tangan pangeranku namun yang aku dapati....


"Hei! kamu baik - baik saja?" tanya siswa rubah yang tadi bersama dengan pangeranku


"Eeh iya.. aku baik - baik saja" jawabku lalu menyambut uluran tangannya, aku sempat melihat nama yang tertulis dalam tanda pengenal di baju seragamnya yang tertulis 'Harry'


"Kenapa kamu bisa terjatuh? siswi baru? siapa namamu? kenapa kamu disini?" tanya kak Harry padaku, aku tersenyum kecut dengan semua pertanyaan yang dilontarkannya begitu banyak dan tiba - tiba.


Ternyata masih ada ya empati disekolah yang elit ini, sikap siswa bernama Harry itu tentu saja sedikit menyingkirkan prasangkaku tentang pribadi siswa siswi disini yang hampir seluruhnya adalah orang kaya dan pasti arogan.


"Aah sudahlah, selamat datang disekolah ini. Disini banyak pembullyan jadi berhati -hatilah" ucapnya lagi dan terlihat akan meninggalkanku disana, entah kenapa saat itu tubuhku terasa bergerak sendiri lagi untuk menggenggam lengan kak Harry dan menahan langkahnya.


Kak Harry pun berbalik menatapku dengan wajah terkejutnya, seketika itu aku terasa membatu dan berkata dalam hati "apa yang aku lakukan?"


"Eeh, ada apa?" tanya kak Harry karena aku menahannya tapi aku terdiam seribu bahasa.


"Aaaa... anu, eee... aku mau bertanya... bolehkah?" pintaku padanya


"Tanyakan saja" jawabnya, aku menarik nafas panjang dan merasa inilah kesempatanku untuk dekat dengan pangeran dalam mimpiku... aku rasa...


"Siapa teman kak Harry yang berpenampilan seperti Harry Potter itu? boleh aku tahu namanya?" tanyaku dan kembali membuat kak Harry terkejut menatapku.

__ADS_1


__ADS_2