Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 15


__ADS_3

Grece, Yohan dan bahkan tuan Jhonson memberikan komentar positif padaku, mungkin karena aku mulai menganggap kompetisi ini dengan sudut pandang yang berbeda akhirnya aku bisa mengeluarkan semua yang aku miliki. Kini aku mengerahkan semua konsentrasi ku pada kompetisi ini, aku mendengarkan semua komentar juri yang memberiku saran dan juga kritik membangun meski untuk kompetisi hari ini aku tidak mendapatkan itu terlalu banyak.


Aku meninggalkan panggung dengan perasaan senang, didalam ruang tunggu semua peserta menyambut ku dan mengatakan jika aku berkembang sangat pesat dibanding hari pertama. Aku mengucapkan terima kasih kepada mereka semua dan juga memberi semangat kepada mereka agar jangan mau kalah dariku, disaat itu Manda mendekatiku dengan wajah marahnya. Dia berkata...


"Aku akan membalas mu di penampilan ketiga!!" bentaknya padaku, aku tertawa kecil lalu memandangnya dengan sinis.


"Buktikan saja" timpal ku dengan nada sinis, peserta lain langsung memanaskan suasana dengan menimpali kata "Wuuuu"


Namun pada akhirnya kami tertawa bersama, ditengah kebahagiaanku tiba - tiba aku merasakan sakit yang teramat sangat di bagian pinggangku. "Gawat!" ucapku dalam hati, dengan segera aku berjalan dengan menyeret kakiku menuju tas yang aku letakkan di sebuah meja.


Mungkin karena melihat tingkahku yang aneh, ketika itu Peter dan Manda langsung mendekatiku dan membantuku untuk berjalan. Aku mengatakan pada Peter untuk mengambilkan obat didalam tas milikku, tanpa buang waktu saat itu Peter berlari mengambilkan obat didalam tas dan juga air mineral yang tersedia diruang tunggu. Kepanikan terjadi diruang tunggu, beberapa diantara mereka bertanya tentang apa yang terjadi.


"Ini obatmu?" tanya Peter padaku sembari memberikan enam lembar obat yang sudah terkumpul menjadi satu dalam satu kantung obat.


"I.. iya.. ter..terima kasih..." jawabku terbata karena berusaha menahan nyeri yang terus menyerang ku


Aku mengambil semua obat itu dan berusaha membukanya dengan cepat, namun karena tangan yang bergetar aku mulai kesulitan untuk membuka obat -obatan itu dari bungkusnya. Manda yang membantuku menyobek bungkus obat satu demi satu lalu segera memberikannya padaku, aku merasa sangat terbantu karena aku hanya perlu menelan obat - obatan itu satu per satu. Mereka semua terdiam dan aku merasakan kekhawatiran mereka kepadaku, dengan gestur tangan aku memberi tanda jika aku sudah baik - baik saja.


Acara tetap berlanjut namun sayang aku menghabiskan waktu untuk duduk memeluk kedua lututku dan terdiam disebuah sofa yang ada di ruang tunggu peserta, aku tidak sempat untuk menyaksikan penampilan peserta lain. Mungkin sudah berlalu tiga puluh menit dan akhirnya aku mulai merasakan nyeri itu berangsur - angsur menghilang, aku pun mulai meluruskan kedua kakiku.


"Kamu baik - baik saja Lunar?" tanya Manda padaku, dia terdengar sangat khawatir padaku.


"Membaik, terima kasih tadi membantuku" jawabku dengan senyum


"Kamu kenapa? tiba - tiba kesakitan seperti itu" tanya Manda lagi, aku tertawa kecil merespon pertanyaannya itu.


"Gakpapa, aku baik - baik aja. Maaf sudah membuat kalian khawatir" jawabku


"Hei gak ada yang baik - baik saja kalau obat yang kamu konsumsi sebanyak itu" timpal Peter padaku, aku menoleh menatap Peter dengan senyumku.


"Sebagian besar itu adalah vitamin, aku.... sering nyeri saat lagi dapat, Manda pasti paham" jawabku

__ADS_1


"Tapi aku gak sampai konsumsi obat, Lunar" timpal Manda kesal, aku kembali tertawa menanggapi kesalnya Manda padaku.


Tidak lama peserta terakhir yang tampil hari ini sudah selesai menampilkan performnya dan kemudian dia berlari mendekatiku, dia menanyakan tentang keadaanku dan aku jawab jika aku sudah baik - baik saja. Bersamaan dengan itu panita memanggil kami semua untuk naik keatas panggung, serentak para peserta lainnya bersiap untuk memasuki panggung.


Sedangkan aku... aku masih terdiam di sofa dan menatap kedua kakiku, aku takut aku tidak mampu kembali berjalan karena aku merasakan kebas pada kakiku. Aku mencoba untuk menggerakkannya bergantian dan mereka bisa bergerak sesuai apa yang aku inginkan meski seringkali aku merasakan kesakitan, perlahan aku berdiri dan aku berhasil. Disaat itu aku bisa bernafas lega, kemudian aku berjalan berkumpul bersama peserta lain untuk menuju panggung.


Hari ini ada dua peserta yang tereliminasi, kami memberikan semangat pada peserta yang tereliminasi itu. Setelah itu acara pun selesai, seperti biasa aku menunggu ayah disebuah kursi taman diarea gedung serbaguna. Selagi menunggu ayah, aku pun berlatih mengatur nafasku yang pasti itu adalah kelemahanku sekarang. Aku seringkali kehabisan nafas ketika selesai bernyanyi, mungkin ini akan menjadi hambatan ku untuk bisa terus berjuang di kompetisi ini.


Ditengah aktivitasku saat itu, aku mendengar suara seseorang memanggilku dari kejauhan. Aku mencari sumber suara dan aku dapati Peter dan Manda yang berjalan mendekatiku, Peter melambaikan tangan padaku sedangkan Manda menunduk sepanjang jalan ketika mendekatiku. Aku cukup heran dengan sikap Manda, aku tidak pernah melihatnya menunduk seperti itu ketika aku dan dia sedang bertemu.


"Hai, sedang menunggu jemputan seperti biasa?" tanya Peter padaku dengan ramah, namun tatapan mataku lebih tertuju pada Manda yang masih menunduk dengan sedikit memiringkan kepalanya.


"Eeh.. i..iya, kalian belum pulang? aku pikir kalian sudah pulang dari tadi" timpal ku


"Tadi kami sedang mengobrol, jadi kami telat untuk pulang. Apa kamu ada waktu? kami ingin menuju kafe terbaik di desa ini, mungkin kamu akan senang berada disana" ajak Peter


"Maaf... aku sudah ada janji, kalian berdua bersenang - senanglah" tolak ku


"Aah sayang sekali, kalau begitu.. ayo Man..." belum selesai Peter berkata, Manda memotongnya.


"Hah? gimana?" tanya Peter ketika itu heran


"Aku bilang aku ingin disini bersama Lunar, kamu pergilah" agak membentak Manda mengatakannya


Aku cukup terkejut dengan apa yang terjadi, bukan kah mereka sedang merencanakan kencan berdua? bukankah itu bagus untuk Manda yang mencintai Peter? ini kesempatan kan? namun pada akhirnya ketika aku menatap sorot mata Manda... aku paham apa yang sedang terjadi, dengan segera aku mengatakan...


"Peter, aku ingin bicara dengan Manda berdua. Kamu pergilah dulu" timpal ku tegas, serentak Peter dan Manda menatapku.


"Hah? ta.. tapi.." belum selesai Peter berkata, aku tersenyum menatapnya.


"Tolong tinggalkan kami, aku mohon..." pintaku padanya

__ADS_1


Seakan tidak punya pilihan mungkin, saat itu Peter pun memutuskan untuk pergi meninggalkan aku dan Manda di taman itu berdua. Manda duduk tepat di sebelahku namun kami tidak saling memandang lalu dia menghela nafas cukup keras sampai aku dapat mendengarnya, sejenak kami terdiam dan tidak berkata apapun. Aku bingung untuk memulainya, aku hanya tahu jika Manda.... baru saja berhenti menangis.


"Bagaimana cara menjadi wanita penuh daya tarik sepertimu?" celetuk Manda tiba - tiba padaku, aku pun tersentak lalu mengalihkan pandanganku menatap Manda yang masih memandang jauh ke depan.


"Apa maksudmu?" tanyaku


"Kamu tahu apa maksudku!" jawab Manda dengan bentakan, aku pun terdiam ketika kami saling bertatapan mata.


"Aku... aku sudah menyukai Peter sejak kami masih SMP, aku mengejarnya dengan semua yang aku miliki namun semua sia - sia... dia bahkan tidak memandangku sama sekali, mungkin dia menatapku sebagai temannya saja dan tidak lebih dari itu" ucap Manda, kini aku tahu kearah mana pembicaraan ini.


"Apa kamu... menyatakan cintamu padanya tadi?" tanyaku padanya untuk memastikan jika apa yang aku pikirkan adalah benar, wajah terkejut Manda ketika itu menjawab semua rasa penasaranku.


"Baik... aku paham, apa yang Peter katakan ketika menolakmu?" tanyaku lagi padanya, Manda terdiam sejenak lalu perlahan tatapannya kini beralih pada tanah dibawahnya.


"Dia bilang... dia tidak bisa menerimaku karena tidak ingin merusak hubungan baik antara aku dan dirinya, baginya cinta tidak bisa dipaksakan meski aku merubah semua apa yang ada di diriku" jawabnya, aku pun mengernyitkan dahiku dan terus ku tatap wajah Manda.


"Kamu tahu? aku tidak seharusnya berpenampilan seperti ini, aku tidak seharusnya bersikap seperti ini... aku adalah wanita yang bebas sebelum pada akhirnya aku mengenal... cinta" ucapnya lagi, seketika aku teringat tentang Selena...


Manda tidak ubahnya seperti Selena, dia terbiasa hidup seperti yang dia inginkan dan dengan egoisnya aku memintanya untuk menjadi diriku dan mencintai kak Jester. "Apa saat ini Selena menderita karena ku? apa ini seperti teguran kepadaku tentang apa yang aku lakukan pada Selena?" tanyaku dalam hati


"Aku menderita dengan cintaku.... aku ingin lepas dari kutukan ini...." ucap Manda dengan nada yang bergetar karena menangis, seketika itu hatiku terasa sakit. Aku tidak tahu harus mengatakan apa disaat seperti ini, aku bahkan memaksakan sahabatku sendiri untuk masuk dalam suatu kondisi yang tidak akan pernah Selena harapkan.


"Katakan padaku... gimana caranya menjadi dirimu... sepertinya dia tertarik padamu, Lunar.." ucap Manda memaksaku, dia bahkan sampai berbalik menatapku dan menggenggam kedua bahuku.


"Manda... aku... aku tidak tahu..." jawabku terbata


"Bohong!!! katakan padaku!!! apa yang harus aku lakukan?!! toh kamu tidak menyukainya kan?!! biarkan aku mendapatkannya!!!" bentaknya lagi padaku


"Manda tenang dulu.... ayo kita bicara..." belum selesai aku berkata, Manda memotong perkataanku.


"Aku tidak butuh tenang!!! aku butuh mengejar cintaku!!!" bentaknya lagi, kini air mata Manda keluar begitu deras.

__ADS_1


Aku langsung memeluknya dengan erat, aku masih tidak tahu harus berkata dan menjawab apa... kepalaku pun kini dipenuhi rasa khawatirku kepada Selena, Aku hanya ingin menenangkan tangisan Manda yang semakin menjadi didalam pelukanku. Tidak lama ayah pun datang menjemput ku, ayah menawarkan tumpangan kepada Manda dan Manda menerimanya.


Setelah mengantar Manda kerumahnya, aku dan ayah pun pulang ke rumah kami. Di dalam kamar aku mulai memikirkan semua hal tentang persamaan Selena dan Manda, aku tidak tahu apa Selena bahagia atau tidak dengan kehidupannya yang baru.... terbelenggu oleh cinta yang aku paksakan kepadanya, "Selena... apa kamu bahagia sekarang? atau kamu menderita seperti apa yang terjadi pada Manda?" gumamku


__ADS_2