Aku Pinjam Dia : Diary Luna

Aku Pinjam Dia : Diary Luna
Season 2 : Episode 17


__ADS_3

"Aku adalah seorang gadis penderita leukimia.... apa kamu paham apa artinya?" tanyaku pada Peter yang masih terkejut dengan ucapanku, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali secara perlahan.


Ketika itu aku bingung kenapa aku harus katakan ini padanya, kenapa aku harus jujur pada orang yang tidak terlalu aku kenal. Aku mengalihkan pandanganku menatap ujung pantai indah di hadapanku, seketika itu aku tersadar tentang kenapa aku tiba - tiba terbuka padanya... Ya, aku masing menganggap Peter sebagai sosok pangeranku... Di bawah alam sadar ku, aku ingin mengungkapkan semua kebohonganku selama ini kepadanya namun aku tidak mampu untuk melakukan itu.


"Lunar...?" celetuk Peter padaku sembari menepuk pundakku dengan lembut, aku tertawa kecil dan seketika itu air mataku kembali membasahi pipiku.


"Ahaha... maaf, jika aku membahas ini... aku selalu tidak kuasa untuk menahan air mata" timpal ku sembari berusaha menyeka setiap tetes air mata yang sudah tidak tertahan lagi untuk keluar.


"Tidak apa, lanjutkan saja jika kamu sudah siap" ucap Peter


Kami terdiam untuk beberapa saat karena aku masih disibukkan dengan pergolakan emosiku yang tiba - tiba tidak terkontrol itu, dua tahun... selama dua tahun ini aku menipu diriku sendiri jika aku sudah tidak bermasalah dengan kisah percintaan ku, namun nyatanya aku masih saja akan menangis ketika mengingat kejadian itu.


Setelah beberapa saat akhirnya aku mampu untuk mengendalikan gejolak emosi yang begitu meletup - letup itu, aku menghela nafas sejenak dan perlahan aku kembali menatap Peter. Dia terlihat sabar menungguku berhenti menangis selama itu, aku tertawa kecil lalu kembali mengalihkan pandanganku menatap ujung garis pantai.


"Kenapa tertawa?" tanya Peter padaku


"Tidak ada, mungkin karena aku merasa lega... Aaah sudahlah jangan dipikirkan, aku tertawa karena kamu sabar menungguku selesai dengan semua tangisanku" jawabku dengan sedikit suara tawa kecil, aku kembali menghela nafas untuk bersiap bercerita padanya.


"Jester Gates... seorang anak tunggal dari keluarga Gates dengan semua kesempurnaannya, dia tampan... berani... lembut meski kadang - kadang sikap sombong dan tingginya menggangguku, tapi cara dia menunjukkan rasa cintanya padaku... membuat aku tidak mampu untuk membencinya..." ucapku mencoba mengingat sosok pangeranku


"Lalu? apa masalahnya?" tanya Peter


"Aku masalahnya... takdir yang membuat aku tidak bisa terus bersamanya..." jawabku terbata


"Dia tahu tentang penyakitmu?" tanya Peter sedikit menekan ku, aku menggelengkan kepalaku untuk meresponnya.


"Lalu darimana pemikiran tentang Jester yang tidak mau menerima keadaanmu?" tanya Peter lagi masih dengan nada yang menekan


"Itu semua pemikiranku, kamu tahu... suatu ketika aku bertengkar hebat dengannya karena alasan sepele yang aku buat, namun responnya sangat membuatku terkejut... Kak Jester mengurung dirinya dan begitu terpuruk karena ku, apa yang akan terjadi jika hubungan kami benar - benar berlanjut dan aku.... mati tiba - tiba?" tanyaku pada Peter, aku menoleh menatap Peter yang mengernyitkan dahi ketika kami bertatapan mata.


"Kamu berpikir dia akan..." belum selesai Peter berkata, aku memotongnya.


"Aku tidak akan bisa mati dengan tenang karena itu..." timpal ku dengan senyuman

__ADS_1


Peter mungkin kehabisan kata - kata ketika mendengar ucapanku, kami pun sama - sama mengalihkan pandangan menatap garis pantai dalam keheningan. Entah apa yang sedang Peter pikirkan saat itu, namun aku merasa apapun yang akan dia katakan hanya akan mengulang dari perkataan Selena, kak Justin, ayah dan ibu. Bagiku... semua itu sudah berlalu, aku seperti hanya ingin meluapkan semua yang masih mengganggu hatiku pada Peter tanpa mau untuk menerima apapun nasihatnya.


"Aku setuju denganmu" celetuk Peter tiba - tiba, aku pun terkejut dengan celetukannya saat itu karena tidak satupun dari orang yang tahu tentang posisiku akan setuju dengan apa yang aku pilih.


"Hah?!" ucapku sembari menoleh menatap Peter yang masih menatap garis pantai didepan kami


"Aku katakan aku setuju dengan pilihanmu, jika aku di posisimu... aku pasti akan melakukan hal yang sama" jawab Peter, mendengar jawaban itu membuat aku tersenyum bingung.


"Kamu... orang pertama yang langsung setuju dengan pilihanku, biasanya orang lain akan mengatakan hal - hal tidak masuk akal tentang harus bertahan, harus jujur, dan lain - lain yang seperti itu" ucapku pada Peter dengan nada heran, namun aku juga merasa senang mendapatkan dukungan dari Peter.


"Tapi ada satu hal yang tidak aku pahami darimu..." celetuk Peter lagi sembari menoleh menatapku dengan ekspresi begitu serius, aku memiringkan kepalaku sedikit ketika mata kami bertatapan.


"Kenapa kamu.... selalu berpendapat jika semua akan berjalan seperti apa yang kamu pikirkan?" tanya Peter padaku, aku sedikit tersentak dengan pertanyaannya.


"Kenapa? ya karena... pasti akan seperti itu kan?" aku tanya balik pada Peter, aku merasa jika dia akan kembali memahami alasanku namun Peter malah menggelengkan kepalanya beberapa kali.


"Tidak, itu tidak selalu benar" jawab Peter tegas, aku mengernyitkan dahiku dan memandangnya dengan heran.


"Kamu masih hidup sampai sekarang, seharusnya kamu bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bisa bersamanya. Jika boleh aku katakan... kamu hanya membuang - buang kesempatan agar bisa bersamanya" jawab Peter, sebuah jawaban yang membuat aku merasa tertampar.


"Ta.. tapi siapa yang tahu aku akan mati dengan cepat ketika bersamanya? aku tidak akan sempat untuk meninggalkannya kan?!" tanyaku lagi dengan sedikit bentakan


"Kamu berpikir akan mati dengan cepat namun nyatanya kamu bertahan sampai saat ini, apa kamu memandang semua itu dengan sudut pandang seburuk itu?" tanya Peter padaku


"Aah.. ii.. itu... tidak, aku bukan seperti itu. Maksudku..." belum selesai aku berkata, Peter lalu memotong perkataanku.


"Kalau aku jadi kamu tentu aku akan meninggalkannya namun sebelum itu terjadi, aku pasti akan memanfaatkan semua waktuku yang tersisa untuk bersenang - senang dengannya dan membentuk kenangan yang indah sebanyak mungkin" timpal Peter


Aku terdiam dan memandang Peter dalam lamunanku, kata - kata Peter sebenarnya kurang lebih sama dengan apa yang Selena katakan di pertemuan terakhir kami. Namun entah mengapa saat dikatakan oleh Peter.... seakan dia menunjukkan padaku bagaimana sudut pandang pria dengan permasalahanku, "Mungkinkah itu yang juga diinginkan kak Jester? Bagaimana jika saat itu aku jujur padanya lalu aku katakan padanya jika aku ingin membangun kenang - kenangan yang indah bersama sampai ajal menjemput ku?" tanyaku dalam hati


"Kematian... bagiku setiap manusia itu memiliki dua kali kematian..." celetuk Peter memecahkan lamunanku


"Dua... kematian...?" tanyaku bingung

__ADS_1


"Kematian pertama ketika roh kita terpisah dari jasad dan kematian kedua ketika tidak ada satu orang pun yang menyebut nama kita lagi ketika kita sudah mati... karena itu aku berusaha untuk terus membekas di hati seseorang agar kematianku memiliki arti bagi orang - orang yang aku cintai" jawab Peter, lalu dia tersenyum kepadaku.


"Di kehidupan kita yang singkat ini, aku ingin semua yang mengenalku tetap mengingatku meski itu sudah berlalu seratus tahun" ucap Peter dengan senyum penuh makna


Aku terasa tertampar saat itu, aku mengerti jika dia senang menyindirku atas keputusan yang sudah aku pilih walau diawal seakan dia menyetujui apa yang sudah aku putuskan. Aku menatap pasir putih dibawah kakiku dengan perasaan malu dengan sindiran yang terlontar dari Peter, sudah beberapa kali ini aku merasa tertampar karena aku selalu memandang segala sesuatu dari sudut pandangku.


"Seratus tahun? mungkin hanya tersisa cucu dari anakmu disaat itu, kamu pasti sudah terlupakan..." sindir ku padanya


"Itu tidak benar!! meski sudah generasi cucu dari anak - anakku kelak, tapi mereka pasti akan tetap mengingatku!!" ucap Peter tidak terima dengan sindiran ku, aku tersenyum sinis menatapnya meski tanpa kata.


Kami saling serang kata - kata saat itu, penuh canda tawa pun terjadi diantara kami. Untuk pertama kalinya sejak dua tahun berlalu, aku bisa tertawa lepas seperti itu. Hatiku terasa lega setelah meluapkan semua isi dalam hatiku yang terasa mengganjal kepada Peter, mungkin itu sebab aku terasa lega dan bisa mengeluarkan semua ekspresi diri yang telah lama terkubur.


Menjelang sore, Peter dan aku pulang dari pantai itu. Ditengah perjalanan kami saat itu aku melihat Manda dan dua orang wanita temannya sedang mengobrol di pinggir jalan, Manda melihatku dengan sangat jelas sedang jalan bersama Peter. Aku sangat ingat wajah kagetnya ketika melihatku jalan bersama Peter, aku yakin dia sedang cemburu padaku.


Jadi aku aku katakan saja pada Peter jika aku ingin dia berhenti dan menemui Manda untuk menjelaskan apa yang terjadi, Peter setuju dengan ideku lalu kami pun berhenti tidak jauh dari posisi Manda yang berdiri dipinggir jalan bersama dua teman wanitanya. Aku segera turun dari mobil untuk mendekati Manda, namun Manda terlihat menghindari ku.


Aku berusaha terus mengejarnya sampai pada akhirnya langkah Manda terhenti ketika Peter berlari melewati ku dan menjadi penghalang Manda untuk terus berjalan, aku semakin yakin jika aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini.


"Manda! tunggu, dengarkan aku dulu!" ucapku sembari terus berjalan mendekati Manda


"Jelaskan apa lagi?!! aku tidak butuh penjelasanmu!!" bentak Manda padaku


"Ini tidak seperti yang kamu bayangkan, aku dan Peter hanya mengobrol dan itu ada sangkut pautnya dengan hubunganmu dengan Peter" timpal ku


"Apa maksudmu?" tanya Manda heran


"Peter, bantu aku jelaskan pada Manda tentang isi pembicaraan kita" pintaku pada Peter, namun Peter saat itu hanya terdiam dan menatapku.


"Peter?" tanyaku mencoba menanyakan apa yang dia lakukan disaat seperti ini, Peter lalu menghela nafasnya dan berkata...


"Manda... aku tidak mencintaimu, aku jatuh cinta pada... Lunar...." ucap Peter ketika itu


Mataku terbelalak mendengarnya mengatakan jika Peter jatuh cinta padaku, kupingku langsung berdenging cukup keras sampai aku tidak dapat mendengar hal lain saat itu kecuali suara dengung yang muncul entah darimana. Mungkin karena aku emosi kepadanya, atau karena... aku tahu ini akan menjadi masalah baru untukku.

__ADS_1


__ADS_2