
Menjelang sore hari, kak Jester mengantarku pulang langsung ke rumah. Setelah dia berjanji akan mengikuti caraku untuk untuk saling mengenal, aku dan kak Jester terlihat lebih dekat sekarang. Setelah mengucapkan terima kasih dan melambaikan tangan mengiringi kepergian kak Jester dari rumah, aku berjalan masuk kedalam rumah.
Aku bahagia sekali saat itu, melompat kegirangan seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah impiannya. Jika aku bercermin, mungkin saja ku lihat wajahku merah merona karena perasaan berbunga - bunga. Ingin sekali hanya perasaan ini yang menemani sisa hari - hariku.
Ketika itu aku baru menyadari ternyata ibu melihatku diantar oleh kak Jester, senyum ibu yang sangat jelas sedang menggodaku membuat wajahku memerah. Aku berusaha menutupinya dengan wajah jutek sembari berjalan mendekati ibu, tapi senyum menggoda itu tidak juga kunjung hilang dari garis bibir ibu.
"Duuh anak ibu, pulang - pulang langkahnya sudah melayang... ada apa nih~?" tanya ibuku ketika aku sudah dekat dengannya
"IIih~ engga, aku berjalan seperti biasanya~" timpalku dengan nada genitku, kami pun tertawa bersama lalu ibu memelukku.
"Semoga kamu bisa bahagia sayang..." celetuk ibuku, aku pun membalas pelukannya dan...
Baju ibu terlihat berdarah, aku terkejut lalu sontak bertanya
"I..ibu terluka?" tanyaku, dengan segera ibu mendorongku sedikit agar ibu dapat menatap wajahku...
Seketika itu aku baru menyadari jika darah itu berasal dari... hidungku...
Kepalaku terasa sakit dan berat seakan tak mampu aku topang, bayangan ibu semakin kabur dari pandanganku, redup dan mulai gelap dan tak ada lagi yang mampu ku ingat selain itu.
Pingsan? benar... kembali.. untuk kesekian kalinya aku pingsan. Jangan pernah melupakan satu hal tentangku, yaitu leukimia yang menemaniku sejak usiaku tujuh tahun.
Aku terbangun ketika sudah dua minggu berjalan... lampu diatap berwarna putih menjadi pemandanganku setiap aku terbangun dari pingsanku, aku terdiam temenung dan seketika aku berpikir "Apa kak Jester tahu tentang penyakitku saat ini? entah sudah berapa hari aku pingsan dan dia pasti... mencariku kan?"
Disaat itu aku mendengar suara langkah kaki mendekatiku, aku berusaha menatap siapa orang itu dan aku mendapati Selena dengan ekspresi khawatirnya menatapku. Garis senyumnya terangkat seketika melihat aku membuka mata, lalu dia segera memelukku yang masih terbaring lemas dikasur.
"Berapa hari kali ini?" tanyaku pada Selena
Aku bertanya walau aku tahu pasti dua minggu, hampir selalu dua minggu.
"Dua minggu..." jawab Selena, aku pun menghela nafasku
"Apa kak Jester mencariku?" tanyaku lagi, Selena menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu menatapku.
"Dia mencarimu, aku katakan jika kamu sedang berpergian kerumah nenekmu bersama ayah dan ibu. Dia ingin menyusulmu tapi aku katakan jangan, dan..." belum selesai Selena menjelaskan lalu dia menekan tombol kecil disebelah kasurku untuk memanggil dokter, aku pun tertawa kecil.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Selena heran
"Tanpa berkata pun kamu tahu apa yang aku mau, terima kasih" jawabku, namun senyumku saat itu dibalas dengan ekspresi jutek Selena.
"Berobatlah!! sampai kapan kamu mau keras kepala seperti ini?!" bentak Selena kepadaku, aku menghela nafasku lalu kembali menatap langit - langit.
__ADS_1
"Selena... aku tahu kondisi tubuhku tanpa harus periksa, aku tidak..." belum selesai berkata, Selena memotongku.
"Lalu apa kata tubuhmu tentang pria idamanmu?! apa kata tubuhmu tentang pertemuan kalian?!! apa kata tubuhmu ketika kamu berkata kamu tidak berharap merasakan cinta?!!! apa dia mengatakan seperti yang kamu katakan sekarang?!!!" bentaknya padaku begitu emosional, aku termenung menatap mata Selena yang berkaca - kaca.
"Jika memang demi aku tidak bisa... maka berobatlah demi orang tuamu, jika itu masih juga tidak bisa... berobatlah demi kak Jester yang kamu cintai itu..." ucap Selena bersamaan dengan air matanya yang mengalir deras
"Iya... aku akan pikirkan... jangan menangis, nanti aku juga menangis..." jawabku
Aku terlalu beruntung memiliki Selena disisi ku, tapi maafkan aku Selena.. Aku masih saja angkuh untuk memilih tidak melanjutkan pengobatanku. Aku tersiksa setiap kali manjalankan terapi dan obat - obatan itu membuatku selalu memuntahkan isi perutku.
Selena pun mengusap air matanya lalu tertawa kecil mendengar jawabanku, kami tertawa bersama dan kemudian mengobrol tentang hal - hal yang terjadi selama aku pingsan. Tidak lama dokter Ellie dan dua orang perawat masuk ke dalam kamar, dokter Ellie tersenyum padaku lalu mengelus kepalaku dengan lembut.
"Bagaimana keadaanmu? apa ada yang terasa sakit?" tanya dokter Ellie, aku menganggukkan kepalaku beberapa kali.
"Pinggulku sakit, kaki bagian bawah kebas, dan kepalaku pusing" jawabku, keluhanku pun dicatat oleh salah satu perawat.
"Luna, gimana hari - harimu belakangan ini?" tanya dokter Ellie dengan senyuman
"Hari - hariku...? hmm... lumayan, aku merasakan sedih dan bahagia dalam waktu yang berdekatan" jawabku
"Apa kamu tahu tubuhmu sebenarnya sudah berteriak kesakitan beberapa hari sebelum kamu jatuh pingsan?" tanya dokter Ellie lagi namun kali ini suaranya sedikit menekan, aku termenung menatap wajahnya yang terlihat begitu serius.
"Apa... maksud dokter?" tanyaku bingung dengan pancingannya
"Aku dengar dari ayah dan ibumu kalau kamu sedang... jatuh cinta, apa benar?" tanya dokter Ellie menggodaku, aku pun merasa malu dan aku yakin wajahku merah padam.
Aku terdiam dan menundukkan pandanganku, aku tidak ingin menjawab pertanyaan itu namun... suara tawa dokter Ellie dan Selena membuatku ingin segera membantahnya, karena pada kenyataannya aku memang sedang jatuh cinta... :)
"Aaa engga!! aku gak sedang jatuh cinta!!" bantahku panik, aku malu~
"Aaah begitu ya, ya sudah... putra keluarga Gates sebaiknya dikasih tahu aja kalau Princess nya gak jatuh cinta padanya~" goda dokter Ellie
"Itu benar Dokter, aku akan dengan sangat terpaksa mengatakan itu pada kak Jester" timpal Selena berlagak sedih, padahal dia tersenyum menggoda padaku.
"AAAA~ berhenti menggoda orang sakit!!" bentakku pada keduanya, lalu mereka pun tertawa diatas rasa maluku~ teganya...
"Luna, berobat lagi ya... tunjukkan tekad dari cinta sucimu itu dengan cara berusaha untuk sembuh, kita sudah pernah bicarakan ini dan harapanmu satu per satu terkabul... kenapa tidak berharap untuk sembuh?" ucap dokter Ellie dengan lembut, aku menatap kedua matanya dengan tajam dan perlahan aku pun menundukkan pandanganku
"Tapi... pengobatan itu sangat menyiksa... aku tidak tahan dengan suntikan - suntikan itu yang kalian lakukan berkali - kali... setiap aku tidur, aku berharap malam tidak segera berganti... aku dipenuhi ketakutanku...." jawabku, lalu dokter Ellie melingkarkan tangannya dikepalaku dan menempelkannya di dadanya.
"Itulah yang disebut perjuangan, tidak akan ada perjuangan yang sia - sia. Semua pasti memiliki akhir dan aku yakin kamu akan memiliki akhir yang bahagia, ayo berjuang bersama - sama" ucapnya dengan lembut.
__ADS_1
Tidak terasa aku pun menangis terisak - isak saat itu... entah darimana rasa nekatku ketika itu dan aku memutuskan untuk kembali berobat, pada malam harinya aku berkonsultasi kepada ayah dan ibu tentang biaya yang mungkin saja akan timbul dan pasti itu tidaklah sedikit. Yaah... meski mereka mengatakan semua tidak ada masalah, namun aku tahu jika ayah saat itu langsung memutar otaknya untuk mencarikan dukungan biaya.
Besok pagi aku berkonsultasi pada dokter Richard, beberapa jadwal pengobatanku pun sudah mereka siapkan. Di bantu Dokter Ellie sebagai konsultanku dan dokter untuk mentalku, aku meyakinkan diri jika aku akan sembuh dan aku sangat berharap itu. Tapi sulit bagiku ketika aku membaca jadwal padat dari terapi penyembuhanku, mentalku sudah down duluan sebelum melakukannya.
Semua demi kak Jester... aku ingin menemanimu selama mungkin... dan aku berharap....
Aku berharap.... bisa menikah denganmu suatu saat nanti... :)
Dua hari setelahnya aku pun masuk ke sekolah, di depan pagar masuk ketika aku keluar dari mobil Selena... aku melihat kak Jester berdiri bersandar pada gapura, dia menatapku dengan wajah sedih meski aku melihat matanya begitu gembira melihatku pagi itu.
Aku mungkin juga bahagia pagi itu... atau... kangen...
Tubuhku kembali tidak dapat aku kontrol, aku tidak ingin bersikap aneh agar tidak membuatnya berpikir aku adalah cewek aneh. Tapi... sungguh.. aku tidak dapat mengontrolnya, aku berlari kearahnya dan tiba - tiba menabrakkan tubuhku ke tubuh pangeranku lalu memeluknya dengan erat sampai membuat kak Jester terkejut.
Hai pangeranku.... aku akan berjuang untukmu... aku akan berobat dan akan bertahan sekuat mungkin, kita pasti bersama dan bahagia kan?! selalu di sisi ku yah!! Ingin sekali untuk kak Jester tahu, bahwa aku sekuat itu untuk berjuang sembuh karena cintaku padanya begitu besar. Aaah tidak, jangan sampai tahu.. kak Jester tidak boleh tahu aku gadis penderita leukimia.
"Kak Jester!!" seruku padanya
"Haaah?! Eeh i..iya.. selamat pagi Luna!" timpal kak Jester
Aku mendongakkan wajahku menatap wajahnya, senyumku tidak dapat hilang dari garis bibirku dan begitu pula kak Jester. Kami saling menatap dalam keadaan berpelukan dan melupakan bahwa kami sedang ada di area sekolah sekarang, seakan dunia ini adalah... milik kita berdua... :)
"Kamu merindukanku?" tanyaku menggodanya
Wajahnya merah padam mendengar pertanyaanku, dia langsung membuang muka meski tangannya masih setia melingkar di pinggulku. Dengan wajah masamnya itu, kak Jester berusaha membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaanku. Aku tahu dia begitu gugup karena detak jantungnya terdengar ditelingaku begitu kencang, aku ingin tertawa tapi aku benar - benar menunggu jawaban jika dia rindu padaku.
"Aa.. a.. tentu... rindu..." jawabnya terbata, aku tertawa kecil dan menatapnya dengan tajam.
"Katakan yang tegas~" pintaku manja, pelukannya semakin erat menekan pinggulku dan kini tubuhnya terasa bergetar.
"Ii..iya.. aku... itu... rin.. du" jawabnya masih terbata
"Ternyata tidak rindu padaku ya, aku..." belum selesai aku berkata, kak Jester langsung memandangi wajahku dengan tatapan paniknya.
"Rindu! aku kangen sama kamu, jangan salah paham dengan rasa gugupku!!" ucapnya panik, aku pun tertawa terbahak - bahak dan seketika itu suara sindiran Selena terdengar.
"Ayolah, ini sekolah" sindir Selena, kami pun saling melepaskan pelukan kami.
Pagi itu kak Jester banyak bertanya kepadaku tentang kemana aku selama ini tidak masuk sekolah, namun aku tidak menjawabnya dengan pasti dan terus mengalihkan pembicaraan. Kak Jester terus berjalan bersamaku dan Selena sampai didepan kelas, kami pun berpisah didepan kelasku. Ketika aku masuk kelas saat itu, banyak teman sekelasku yang bertanya tentang kenapa aku tidak masuk selama ini.
Jujur aku terkejut kenapa pagi itu aku dan Selena seakan mendapatkan perhatian berlebih tidak seperti biasanya, aku hanya menjawab seperlunya dengan seramah mungkin dan Selena hanya tersenyum kepadaku tanpa memberikan alasan apapun tentang perubahan suasana kelas ini kepadaku.
__ADS_1